Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
14. Mokbang Ramyeon


__ADS_3

Jantungnya serasa mau meledak melihat Oh Lian sedang berdiri menatap kearahnya masih dengan ponsel yang menempel di telinga. “M–manajer?” gumamnya.


Oh Lian masih berdiri diam di tempat, meski tahu Gia sedang memeluk lelaki lain dia tetap tidak memutuskan panggilan.


Gia justru di kejutkan dengan sikap Lian. Lelaki itu tersenyum meski sorotnya matanya susah untuk diartikan. Oh Lian bahkan melambaikan tangan dengan ponselnya di sana dan terlihat menyala layarnya.


“Gia.” Park Juan melepaskan pelukannya. “Kau yakin tidak ingin aku antar pulang?”


“E–“ Fokus Gia pecah.


“Kenapa denganmu?”


“Tidak, aku baik-baik saja.” Sesekali matanya tertuju ke Lian.


“Kau tidak apa-apa aku tinggal sendirian?”


Uhm! Gia mengangguk cepat.


“Baik, kau hati-hati pulangnya.” Park Juan mengusap lembut ujung kepalanya.


Vroooooommm!


Langkahnya ragu saat ingin mendekati Oh Lian. “Manajer?” sapa Gia.


Lian menyimpan ponselnya. “Mau aku antar pulang?”


Aneh, itulah yang sedang dipikirkan oleh Gia. Tak ada ekspresi marah atau pun kecewa di wajah Oh Lian. Lelaki itu justru tersenyum bahkan membuka pintu mobil untuknya.


“Silakan.”


Matanya tertuju ke Lian, Gia melihat senyumnya semakin lebar ketika melangkah masuk ke mobil.


“Apa yang aku harapkan ... manajer akan marah? Atau cemburu? ... jelas-jelas di sini hanya aku yang menyatakan perasaan padanya,” racau Gia dalam hati.


Tak lama, Oh Lian menyalakan mobilnya.


Tik, tik, tik!


Zzzzzzzzaaaahhh!


Cuaca berubah, tiba-tiba hujan. Membuat suasana di dalam kabin mobil semakin dingin.


Hingga mobilnya berhenti di lampu merah, Oh Lian berucap memulai pembicaraan. “Aku ingin mengajakmu makan tapi aku yakin kau pasti sudah kenyang.”


“E, manajer kau belum makan?” Gia khawatir.


“Uhm.” Lian menggelengkan kepala.


“Kalau begitu kita berhenti saja, aku akan menemanimu makan.”


“Tidak perlu, aku bisa makan nanti di rumah. Sudah bisa melihat wajahmu saja ... ini sudah cukup bagiku.” Lian tersenyum.


“Bukankah kau sedang bersama Sara Lee tadi ... apa kalian tidak makan bersama?” Gia meremas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.


“Tidak, setelah dari kantor kami pulang ke rumah. Dia tidur di kamar sementara aku sibuk dengan pekerjaan.” Ujung matanya melirik, mengawasi ekspresi Gia. Bibirnya tersenyum melihat reaksinya.


“Pulang ke rumah?” batin Gia. “Jadi mereka tinggal bersama, ah ... apa ini? Dadaku tiba-tiba terasa sesak.”


Tangannya terulur membelai pipi Gia. “Kau baik-baik saja?” tanya Lian lembut.


“Uhm, iya.” Gia meraih tangannya, menggenggam tangan Lian yang masih bertahan di pipi. “Manajer kau tidak marah?”


“Hm?” Alisnya menyatu. “Marah? Marah kenapa?”


“Bodoh kenapa aku bertanya seperti itu?” batin Gia. ”Jelas saja dia tidak akan marah, entah bagaimana perasaannya padaku saja aku tidak tahu,” lanjutnya.


“Ooh, apa ini karena kau berpelukan dengan lelaki itu?”

__ADS_1


Gia terdiam, lagi-lagi Lian tersenyum tapi sorot matanya menyiratkan hal lain yang tak mampu Gia jabarkan.


“Manajer?” gumam Gia.


“Kau ingin aku bersikap bagaimana?” senyumnya mengilang, ekspresi wajahnya berubah datar. “Mengetahui bahwa kau menyukaiku saja itu sudah lebih dari cukup.”


“Tapi ....”


“Apa Gia?” tanya Lian lembut. “Katakan, jangan di simpan sendiri dalam otakmu.”


“Tidak, lupakan.”


Melihat wajahnya berubah murung, Oh Lian mengetahui apa yang sedang Gia pikirkan. “Gia?”


“Ya?” Menoleh menatap Lian setelah memandangi hujan di luar sana.


“Apa kau keberatan melepas mantelmu?”


“He, mantel ... kenapa?”


“Tidak, aku hanya ingin kau melepasnya saja.” Dahinya berkerut kala mencium bau wangi yang berasal dari Gia tapi Oh Lian yakin jika aroma yang menempel di tubuh Gia berasal dari Park Juan.


“Uhm, baiklah.” Setelah melepas mantelnya, Oh Lian mengambil alih dan meletakkannya di kursi belakang.


Tak lama merekap sampai di tempat tinggal Gia yang baru, Oh Lian menghentikan mobilnya.


“Jadi kau pindah di sini?”


“Iya, uhm ... manajer kau yakin kau tidak ingin aku temani makan malam?”


“Tidak perlu, aku sudah kehilangan selera makan.”


“Oh ... kalau begitu terima kasih karena sudah mengantarku pulang. Manajer, hati-hati di jalan.”


Oh Lian hanya diam, tertunduk menatap setir mobil. Membiarkan Gia melangkah keluar di derasnya guyuran hujan.


“Astaga, dingin sekali. Oh mantelku?” Gia lupa mengambil mantel yang masih di kursi belakang, tapi saat hendak mengambilnya, Oh Lian terlebih dulu menghampiri sembari melepas jasnya.


“Cepat masuk, nanti kau demam.”


“Manajer tapi kau basah semua.”


“Gia, aku bilang cepat masuk!”


Gia meraih tangannya. “Manajer ... kau, mau makan di tempatku? Aku akan memasak untukmu.”


Sesaat terdiam, Oh Lian terpaku mendengar ajakannya.


~♤~


“Manajer kau bisa menggunakan handuk ini untuk mengeringkan rambutmu. Tenang saja ... handuk ini bersih kok.”


Oh Lian tersenyum, menggunakan handuk putih itu untuk mengeringkan tubuhnya.


“Aku akan membersihkan tubuhku sebentar.” Gia melangkah ke kamar mandi.


Menunggu Gia keluar, Oh Lian menggunakan waktunya untuk memeriksa sekitar.


Tak lama kemudian Gia keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan pakaian dan handuk yang melingkar di kepala.


“Astaga!” Gia terkejut Oh Lian sudah telanjang dada.


“Kenapa?”


“Tidak, uhm tunggu sebentar manajer ... aku sepertinya memiliki baju yang pas untukmu.” Beruntung Gia memiliki beberapa kaos over size di almari. “Kau bisa menggunakan ini, sepertinya ini muat untukmu. Kau bisa menggunakan kamar mandinya, aku akan menyiapkan makanan untukmu.” Langkahnya cepat menuju pantry, pipinya merona karena malu melihat dada Oh Lian terekspose bebas di depan mata.


Makanan telah siap, Gia menatapnya di atas meja depan TV.

__ADS_1


Ceklek!


Oh Lian keluar dari kamar mandi.


“Ah syukurlah kaos itu muat, tapi kenapa jadi terlihat kecil ukurannya di tubuhmu manajer?”


“Tentu saja ... ukuran tubuhku saja lebih lebar dan besar darimu.”


“Ah iya, kemarilah manajer ... makanannya sudah siap.”


“Apa ini?” Oh Lian melangkah mendekati meja, lalu duduk di atas karpet.


“Maaf, hanya ini yang tersisa. Aku belum belanja lagi. Tapi ... ada beberapa irisan daging, kau bisa memakannya manajer.”


“Ramyoun?”


“Iya, ini masih panas ... cepat makan agar perutmu hangat.”


“Kau tidak makan?”


“Aku masih kenyang.”


“Kau tidak keberatan ramyounnya aku habiskan?”


“Uhm!” Gia mengangguk cepat. Oh Lian mengecup pipinya “Terima kasih untuk makanannya.”


Gia merona, pipinya terasa panas hingga merah.


Sluruuuppp!


Mendengar Oh Lian menyantap ramyeonnya, air liur Gia mengalir deras. Mencium aroma panas dari kuah membuat perutnya keroncongan.


“Ini.” Oh Lian memberikan sumpit kepada Gia. “Kau juga harus makan.”


Meski ragu, Gia mengambil alih sumpit dari tangannya. Mulai menikmati ramyeoun yang tak mampu ditolak.


Pffffttt! Oh Lian terkekeh melihat pipi Gia mengembang penuh dengan mie.


Malu, Gia lalu meletakkan sumpit ke meja. “Akhaa hang ucu anker?” (Apa yang lucu manajer?)


“Jangan bicara saat mulutmu penuh dengan makanan.” Oh Lian mendekat, mengusap bibir Gia yang basah karna kuah ramyeoun.


Sialnya, Oh Lian tak bisa mengalihkan perhatian dari bibirnya.


Tangan Gia terangkat meraih tangan Lian yang terpaku di bibirnya. Gia tak dapat berucap karena mulutnya masih penuh dengan ramyeon.


“Gia ... tiba-tiba aku merasa lapar lagi.” Tanpa aba-aba Oh Lian menarik dagunya, mencium bibir Gia.


Mmh~ Gia hendak mengelak takut tersedak karena mie belum seluruhnya tertelan.


Gia mendorong dadanya tapi percuma karena kedua tangan Oh Lian mengunci leher dan kepalanya sehingga Gia tak bisa menghindar.


Matanya membulat saat Oh Lian memaksa membuka bibirnya. Gia tak dapat berkata, kelihaian lidah Lian yang menyelusup masuk lalu mengambil alih semua mie dari dalam mulutnya membuat Gia syok.


Smoch!


Slurup!


Mmmhh~


Ciuman terhenti, perlahan Oh Lian menarik kepalanya menjauh. Tetapi melihat ada sisa mie yang menempel di area bibir Gie, Oh Lian seakan tak ingin menyia-nyiakannya. Bibirnya terbuka, melahap habis seluruh bibir Gia dengan rakus.


Smoch! Suara khas saat Oh Lian melepaskan bibirnya.


Oh Lian tersenyum melihat ekspresi terkejut di wajahnya.


“M–manajer ... bukankah itu kotor?” ucapnya terbata.

__ADS_1


“Tidak ada kotor selama itu berasal dari tubuhmu,” bisik Lian.


Deg!


__ADS_2