Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
23. Basah


__ADS_3

“Kau pasti paham apa yang sedang aku bicarakan ... katakan, kenapa kau meninggalkan penginapan tanpa membangunkanku?”


Bibirnya mengembang, Gia tersenyum sinis. “Maaf, tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang kau bicarakan.” Senyumnya menghilang, ekspresi wajahnya berubah serius.


“Gia aku sedang tidak bercanda!” geram Lian. Punggungnya bergerak maju, beruntung dia tak dapat menjangkau Gia yang berada di seberang meja.


“Maaf mengganggu,” sahut Nyonya Luciella yang tiba-tiba muncul. “Oh Maaf, apa terjadi sesuatu?” Nyonya Luciella merasa suasana di ruang tengah sangat tegang.


“Tidak, Ibu. Semua baik-baik saja.”


“Uhm ... baiklah. Tuan Lian, kebetulan ini sudah waktunya jam makan malam, aku juga sudah memasak lebih hari ini ... sudikah kiranya Tuan Lian mencicipi masakan saya?”


Lian tersenyum senang, merasa di terima baik oleh orang tua Gia. Namun dalam sekejap saja senyumnya menghilang.


“Maaf, Bu. Tapi Tuan Lian sepertinya harus segera pergi. Beliau banyak pekerjaan,” ucap Gia memotong pembicaraan.


Ghm! Dehemnya, Lian beranjak dari sofa. “Tenang Nyonya Luciella, meskipun aku banyak pekerjaan ... aku bisa menyelesaikannya nanti. Dari pada itu, aku lebih ingin mencicipi masakan Anda.”


“Waah, aku senang mendengarnya. Baiklah kalau begitu, mari.” Luciella mengajak Lian ke belakang.


Matanya melirik sengit, mengikuti gerakan Lian yang menghilang di balik pintu. Lelaki itu tersenyum senang penuh kemenangan karena Gia tak berhasil mengusir dirinya.


“Hah, apa sebenarnya yang lelaki itu inginkan?” gumam Gia, mengambil berkas perjanjian kontrak kerja di atas meja lalu membacanya sekilas. “Benar-benar! Ini sama sekali tidak masuk akal!”


Setelah melempar berkas ke meja, Gia beranjak berdiri menyusul ke pantry.


Matanya langsung melirik Lian yang tengah dilayani oleh ibunya.


“Tuan Lian, kau harus mencoba sup buatan ibuku. Aku yakin kau pasti menyukainya, apa lagi di makan saat masih panas,” sahut Demian penuh semangat.


“Apa-apaan ini, bahkan mereka berdua seperti lupa bahwa akulah di sini keluarga mereka,” gumam Gia kesal.


“Uhm, benarkah ... kalau begitu aku akan mencicipi supnya terlebih dulu.”


“Ibu duduk saja, biar aku yang menyiapkan sup utuk Tuan Lian.” Nada bicaranya terdengar santai tapi ekspresi wajah Gia mengisyaratkan sesuatu.


Entah mengapa Lian pun merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap Gia saat itu.


“Uhm, Tuan Lian ... bolehlah aku meminta sesuatu padamu,” ucap Nyonya Luciella.


“Tentu, silakan.”


“Bisakah kau tidak memanggilku Nyonya Luciella? Aku rasa umurmu tidak beda jauh dengan putriku. Lalu ... bagaimana jika kau memanggilku Ibu, apa kau keberatan?”


Lian terdiam, bibirnya mengembang. “Tentu, aku sama sekali tidak keberatan. Aku justru merasa sangat tersanjung. Sebagai gantinya kau bisa memanggilku Lian.”


“Aaah, senangnya.” Luciella tersenyum lebar.


“Aku, aku,” sahut Demian. “Bagaimana dengan aku? Bolehkah aku memanggilmu Kakak?”


Hahahah .... Meja makan pun ramai.


Bola mata Gia berputar malas, tak rela kedua keluarganya itu cepat akrab dengan Lian. “Ini supmu!” ketus, Gia meletakkan mangkuk penuh dengan sup di depan Lian.


Ekspresi Lian sungguh menyebalkan, terlihat jelas dia sangat bangga karena berhasil menarik perhatian keluarganya.


Lian kemudian menikmati sup yang masih panas.


Slurup.


Suapan pertama nyaris membuat Lian tersedak, beruntung dia tak menyemburkan kuah dari dalam mulutnya setelah merasakan keanehan pada kuah sup tersebut.


Wajahnya langsung merah, urat halus sampai terlihat di pelipis. Kedua bola matanya bergerak mengarah ke Gia yang tengah tersenyum kearahnya.


“Selamat menikmati,” ucap Gia tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


Lian tidak salah, dia yakin itulah kalimat yang diucapkan oleh Gia. Tak mau terlihat kalah di depan Gia, Lian dengan santai menyantap sup yang terasa sangat pedas itu hingga habis tak tersisa.


Gia terdiam, terkejut tidak menyangka bahwa Lian akan tahan dengan sup yang sengaja dia beri bubuk cabai super pedas.


~♤~


“Lian, ini sudah malam dan jarak ke kota juga lumayan jauh. Apa tidak bahaya jika kau mengemudi sendiri?” Luciella sangat khawatir.


Gia baru saja membereskan meja makan, dahinya berkerut setelah berhasil mencerna ucapan ibunya. “Apa maksudnya ibu berkata seperti itu? Jangan bilang kalau ....”


“Apa tidak sebaiknya kau menginap saja malam ini? Besok pagi-pagi kau bisa kembali ke kota sebelum matahari terbit.”


Dan sesuai dugaan, Gia langsung bereaksi keras. “Ibu!” Belum sempat berucap, Luciella langsung memotong pembicaraan.


“Gia, Lian akan tidur di kamar Demian. Jadi kau tenang saja. Lagi pula kasihan Lian kalau sampai terjadi sesuatu di jalan. Apa lagi ini sudah malam.”


“Tapi dia sudah terbias menyetir meski tengah malam sekalipun, Bu!”


“Keputusan Ibu sudah bular.” Perhatian Luciella beralih ke Lian. “Lian, kau bisa istirahat di kamar Demian, aku akan mencari pakaian ganti yang pas untukmu.” Melangkah pergi.


“Ibu!” Gia tak bisa berkata, niat hati kembali ke desa untuk menjauhi Lian tapi nyatanya sekarang mereka malah terkurung di dalam satu atap. Bola matanya melirik kesal ke Lian.


Pffftt! Lelaki itu terkekeh melihat reaksi Gia.


“Tunggu!” Gia menarik lengannya. Mendorong Lian hingga membentur tembok. “Apa yang sedang kau rencanakan?”


“Aku, tidak ada,” jawab Lian santai.


“Bohong! Kau masih belum puas sudah mempermainkanku ... apa lagi yang kau inginkan, aku tidak akan tinggal diam kalau sampai kau melukai ibuku!” Gia masih khawatir jika Lian belum puas mempermainkannya dan akan beralih mempermainkan keluarganya.


Punggungnya membungkuk, mendekatkan wajahnya sampai nyaris mencium bibir Gia jika gadis itu tak menghindar. “Kau tanya padaku apa yang aku inginkan?” bisik Lian. Kepalanya menoleh membuat ujung hidungnya menempel ke pipi. “Kau ...,” ucapnya lembut kemudian melangkah pergi.


Deg! Deg! Deg!


“Kau bertanya apa yang aku inginkan?”


Gia mengingat kembali ucapan Lian.


“Kau.”


Kesal, Gia meremas rambutnya frustasi.


~♤~


“Jadi ini kamarmu?” Lian melepas jas lalu duduk di bibir ranjang ketika Demian sibuk merapikan meja belajar.


“Iya. Santai saja, anggap seperti rumah sendiri meski rumah kami sangat sederhana.”


Pffttt. Lian terkekeh mendengar ucapan Demian.


“Tapi ... kak, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” Demian sangat antusias, mendekati Lian duduk di sampingnya.


“Apa itu?”


“Uhmm, apa kau menyukai kakakku?”


Hahahah ....


Lian seketika tertawa mendengar pertanyaan Demian. “Anak kecil, kenapa kau bisa berpikir seperti itu ... mandilah, bersihkan dirimu setelah itu tidur.”


Sementara itu, Gia baru saja keluar dari kamar mandi. “Astaga ... apa yang mereka bicarakan sampai suara tawanya terdengar kemari?” gumam Gia.


Di luar, Luciella membawa setelan bekas suaminya yang ukurannya pas untuk Lian. “Lian, aku membawa pakaian untukmu. Aku tidak yakin ini muat atau tidak karena tubuhmu sangat besar dan tinggi.”


“Terima kasih, aku akan memakainya.”

__ADS_1


“Oh, Demian masih di kamar mandi?” Luciella mendengar suara gemercik air. “Lian, kau bisa menggunakan kamar mandi di kamar Gia, sepertinya dia baru saja selesai mandi.”


Mendengar ucapannya, ekspresi Lian langsung berubah. Cerah, seolah telah mendapat kesempatan emas untuk menemui Gia.


“Uhm, kau tidak keberatan, kan?”


“Tentu, aku sama sekali tidak keberatan.” Lian beranjak berdiri, sangat bersemangat saat melangkah keluar menuju kamar Gia.


Langkahnya terhenti di depan pintu, setelah memastikan bahwa Luciella masuk ke dalam kamar, Lian kemudian membuka pintu.


Ceklek!


“Ada apa lagi, Bu? Aku ingin tidur.” Gia menutup pintu almari. “Astaga!” Terkejut saat melihat Oh Lian masuk ke dalam kamarnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Mengambil sikap waspada. “Keluar!”


Lian sangat tenang, dia bahkan berucap dengan santai. Namun tak bisa dipungkiri penampilan Gia saat mengenakan pakaian santai terlihat sangat menawan.


Bukan kaos dan bukan celana, melainkan gaun tipis berwarna putih dengan corak bunga. Gaun minim, panjang sepaha dan tak memiliki lengan.


“Damn!” umpat Lian dalam hati, jika hubungan mereka masih baik mungkin saja Lian sudah menerkam Gia yang membawanya ke atas ranjang.


Glek!


Lian menelan saliva kesusahan, pandangannya menyapu menyelusuri setiap lekukan tubuh Gia.


Aaah~


“Pelan-pelan, perutku terasa penuh ngh~ ini terlalu dalam.”


Suara rintihan Gia malam itu kembali terngiang jelas di telinga. Pipi Lian merona. “Kenapa aku sangat yakin jika perempuan itu adalah kau, Gia,” gumamnya dalam hati.


Deg!


Dadanya berdegup kencang kala melihat banyak bekas merah di leher, dada serta kedua paha Gia yang terekspose. Lian tersenyum, karena itu menguatkan dugaan bahwa perempuan yang tidur dengannya malam itu memang benar-benar Gia.


Melihat senyum mencurigakan, kedua tangannya langsung menyilang di dada. “Kenapa masih berdiri di sana, cepat keluar!” Gia mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Ibumu menyuruhku memakai kamar mandi. Karena Demian menggunakan kamar mandinya.” Kedua alisnya terangkat. Sialnya meski mata Lian berusaha menghindar tapi paha Gia yang tak tertutup selimut itu menarik perhatian. Apa lagi bekas merah dan bekas gigitan itu terlihat jelas.


Dalam hati, Lian tersenyum senang.


Hah! “Sial, aku tidak percaya ini!” gumam Gia, kesal. “Kalau begitu cepat ... dan setelah itu keluar dari kamarku.”


“Oke, tenang Gia ... relaks. Aku tidak akan menyentuhmu. Jadi kau tidak perlu khawatir. Atau ... kau ingin membantu menggosok punggungku?” Lian mengedipkan satu matanya.


“Kau!” Gia mengambil bantal lalu melemparkannya ke Lian. Tetapi lelaki itu terlanjut masuk ke dalam kamar mandi.


Hah, hah, hah!


Napas memburu, Gia habis kesabaran. “Menyebalkan!” Saat hendak melangkah keluar, Gia terpaku ketika mengingat ada sesuatu di kamar mandi yang tak boleh dilihat oleh Lian. “Sial!” umpatnya, mempercepat langkah menuju kamar mandi.


Beruntung Lian tidak mengunci pintunya. Di sana, dia tengah berdiri mematung menatap pakaian dalam milik Gia yang basah tergantung di depan mata.


Ceklek!


“Lian, tunggu!” Gia menerobos masuk, mendorong tubuh Lian sampai membentur tembok hingga tanpa sengaja keran shower pun menyala.


Zzzzhhhhh ....


Air shower menghujam keduanya.


Lian terpaku mendapati pemandangan yang sangat indah di depan mata. Gaun tipis yang dikenakan Gia basah kuyup hingga memperlihatkan jelas penampakan bentuk tubuhnya.


Deg!


Detak jantungnya tak mampu dia kendalikan, Lian merona pakaian dalam yang dikenakan Gia tampak jelas di depan mata.

__ADS_1


__ADS_2