
Oh Lian hendak menciumnya lagi tapi terhenti karena ponsel Gia yang ada di atas meja bergetar.
Gia mendapat pesan masuk dari Park Juan. “Oh tidak, manajer pasti melihatnya,” batin Gia. Perhatiannya beralih ke Oh Lian yang ternyata juga sedang menatap ke layar ponselnya.
“Kau tidak ingin membalasnya dulu?” ucap Lian seketika.
“Aku bisa membalasnya nanti,” ucap Gia seolah memberi sinyal kepada Oh Lian untuk melanjutkan apa yang baru saja terhenti.
“Kau yakin?” Tangannya menyelusup antara sela rambut dan leher.
Gia menganggukkan kepala.
Wajah mereka berdekatan sampai hidungnya saling menempel, berbagi hawa panas saat berucap.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Matanya terpejam, menikmati aroma wangi sampo dan sisa sabun dari tubuh Gia.
“Kau bisa menanyakan apa pun manajer.”
“Kau berkencan dengannya?” ucap Oh Lian mengacu pada Park Juan.
“Tidak, tapi ....”
Perlahan mata Lian terbuka, menatap mata Gia yang berada tepat di depannya. “Tapi?”
“Dia ... mantan kekasihku,” ucap Gia ragu.
Oh Lian terdiam, kedua tangannya menguat sampai ototnya menyembul dari permukaan kulit. “Mantan?” ucapnya lirih, bibirnya tersenyum penuh misteri. Oh Lian kemudian mencium bibirnya, lembut.
Dreeeet, dreeet!
“Sial!” umpat Lian dalam hati. Keningnya berkerut mendengar getaran yang tak kunjung berhenti.
Dreeet, dreeet!
Oh Lian melepaskan bibirnya, menghela napas panjang.
Park Juan memanggil.
“Aku akan mematikan ponselku.”
“Angkat,” sahut Lian.
“He?” Gia terkejut saat mendengar Lian justru memintanya mengangkat panggilan dari Park Juan.
“Angkat dan bicaralah ... aku ingin mendengarnya.”
Deg!
Gia ragu, entah apa yang akan dikatakan oleh Juan. Berharap kalau mantan kekasihnya itu tak mengatakan hal aneh.
Ponsel telah melekat di pipi. “Halo Jua– mmmmh~” ucapnya terhenti karena Oh Lian mencium bibirnya.
Sengaja karena ingin membuat Park Juan mendengar apa yang sedang mereka lakukan.
“Halo, Gia?” Suara Park Juan samar-samar terdengar. “Halo?”
Tanpa melepaskan pagutan bibirnya, Oh Lian mendorong tubuh Gia hingga terbaring di atas karpet.
Mmm~ ungh~
Gia kehilangan kekuatan, tangannya melemah membuat ponsel tergeletak tepat di samping kepala.
Smoch~
Ungh~
Mmm~ mmm~
Sementara itu di seberang sana Park Juan merasa aneh. Menatap layar dan melihat detik panggilan masih berjalan tapi tak ada sahutan dari Gia.
“Gia?” Juan kembali melekatkan ponsel ke telinga. “Halo? Gia, kau baik-baik saja?”
Ngh~
Samar-samar Juan mendengar suara rintihan dari ujung ponsel.
“Gia apa kau sedang sakit?
Mmm~
Park Juan yakin itu adalah suara rintihan, namun dia belum yakin karena suaranya terlalu jauh.
Sementara itu Gia sedang dibuat kualahan mengatasi Oh Lian yang semakin Liar. Bibirnya sampai kebas, mati rasa karena Oh Lian menyesap bibirnya kuat.
Gia bahkan tak diberi kesempatan untuk bernapas. Sesak, dadanya terasa berat. Kedua tangannya mencengkeram lengan Oh Lian.
“Dia mantan kekasihku.”
Pengakuan Gia meracau pikiran Oh Lian. “Sial!” umpatnya dalam hati sebelum akhirnya menghentikan ciuman. Hah, hah, hah! Punggungnya melengkung di atas tubuh Gia.
Mereka saling menatap intens, saling berlomba memenuhi dada dengan oksigen.
Tangannya bergerak, mengusap bibir Gia menggunakan ibu jari. “Tidurlah ... ini sudah malam. Aku harus pulang.” Oh Lian beranjak berdiri, mengambil jasnya lalu melangkah pergi.
Gia duduk di atas karpet, bersandar di sofa menatap kepergian Oh Lian. “Apa ada yang salah?” batin Gia melihat Oh Lian tiba-tiba pergi begitu saja.
Vvrrooooommmm!
Oh Lian mengendarai mobilnya menerobos hujan, entah apa yang dia pikirkan tapi tak lama setelah itu mobilnya berhenti di tepi jalan.
__ADS_1
Setelah mengambil korek, Oh Lian keluar dari mobil mengambil mantel milik Gia yang berada di kursi belakang.
Hujan mulai reda, Oh Lian membuang mantel itu lalu membakarnya.
Ekspresi datar membuat siapa pun tak mampu menebak apa yang sedang di pikirkan oleh Oh Lian.
~♤~
Tin!
Suara klakson mobil tiba-tiba berhenti di depan Gia. Dia tengah menunggu bus datang untuk berangkat ke kantor.
“Juan, apa yang kau lakukan di sini?”
Park Juan melangkah turun. “Menjemputmu ... aku akan mengantarmu berangkat kerja, ayo.” Juan membuka pintu mobil.”
Gia masih diam, kebingungan dan ragu. “Bagaimana jika manajer melihat? Tapi ... kenapa juga harus memikirkannya, lagi pula hubungan di antara kami juga tidak ada kejelasan.”
“Gia, kau bisa terlambat nanti.” Juan membuyarkan lamunannya.
“Uhm, baiklah.” Gia melangkah masuk ke mobil.
Park Juan mengemudikan mobilnya. “Semalam kau baik-baik saja, kan?”
“Semalam?”
“Hmm, kau mengangkat panggilanku tapi kau tidak menyahut.”
Gia terdiam, teringat semalam Oh Lian memaksa menciumnya.
“Kau baik-baik saja, kan?” Juan memastikan.
“Oh, iya. Aku ... baik-baik saja.”
Mereka akhirnya sampai di tujuan. Juan membantu Gia membuka pintu dan mempersilakan dirinya turun.
Tepat saat itu bersamaan dengan Oh Lian yang keluar dari lift dengan rekan kerjanya. Dia menyaksikan pemandangan yang tak sedap pagi itu.
“Juan, terima kasih.”
“Sama-sama, aku akan menghubungimu nanti. Aku pergi dulu.” Juan masuk ke dalam mobil lalu pergi.
Gia berjalan menaiki anak tangga namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Oh Lian. “Manajer?” gumamnya.
Oh Lian hanya menatapnya sekilas bersamaan dengan langkahnya menuju ke mobil melewati Gia begitu saja.
Ekspresi wajahnya yang sangat datar membuat Gia tak mengerti dengan apa yang sedang lelaki itu pikirkan.
“Dia bahkan tidak menyapaku ... apa manajer marah, kenapa? Padahal semalam baik-baik saja.” Gia menatap kepergian Oh Lian bersama rekan kerjanya.
~♤~
“Tidak apa-apa?” Gia terlihat lesu di meja kerjanya.
“Kau seperti kehilangan semangat. Oh iya, aku pikir kau ikut dengan manajer rapat keluar kota. Bukankah biasanya kau yang mendampingi manajer?”
“Benarkah ... aku malah tidak tahu dia ada rapat di luar kota.”
“Kalian sedang menggosipkan manajer?” sahut Tuan Oh. “Mana mungkin manajer mengajak Gia dalam rapat penting ini, minim pengalaman. Lagi pula manajer pergi dengan Sara Lee yang sudah menguasai banyak materi dan memiliki banyak pengalaman. Aku dengar rapat kali ini mereka sedang menemui para investor, jadi manajer tidak ingin melakukan kesalahan dengan mengajak Gia,” ucapnya panjang lebar lalu pergi.
“Hah! Apa-apaan dia ini!” Jenni kesal. “Mentang-mentang kepala divisi kalau bicara seenaknya saja.”
Gia tak peduli lagi dengan ucapan Tuan Oh yang meremehkan dirinya karena kini pikirannya tengah fokus kepada Lian.
Dreeeet! Gia menyambar ponselnya secara cepat, mengira ada pesan masuk dari Oh Lian. Raut wajahnya langsung murung mengetahui ternyata Pari Juan yang mengirim pesan.
“Manajer bersama Sara Lee di luar kota?” batin Gia. “Kenapa aku merasa kesal? Ahhh ... ini membuatku frustasi. Sepertinya aku benar-benar sangat menyukai manajer.”
Tak menghiraukan pesan masuk dari Juan, Gia lebih memilih mengirim pesan kepada Oh Lian.
“Manajer?” Isi pesan itu.
Pesan baru saja terkirim tapi langsung dibaca Oh Lian, Gia terkejut berdebar menunggu balasan.
Lima menit terlewati, tak ada balasan pesan masuk.
“Apa-apaan ini, kenapa dia tidak membalas pesanku?” Gia kesal, jarinya sibuk mengetik kalimat.
“Manajer apa kau sibuk?” Pesan terkirim.
Tetapi kali ini Oh Lian belum membacanya.
Lumayan lama menunggu, Gia menggunakan waktu untuk menyelesaikan laporan. Hingga empat jam lebih dan sudah waktunya untuk pulang, pesan juga belum dibaca.
“Menyebalkan!” geram Gia. Meremas kertas laporan di meja.
“Halo manajer, baiklah aku baru saja meletakkan laporannya di meja kerjamu.”
Mendengar karyawan dari divisi lain berbicara dengan Oh Lian melewati ponsel, Gia segera mendekati.
“Tunggu!” sahut Gia menarik lengannya.
“Iya?”
“Kau baru saja bicara dengan manajer, bukan?” Gia penasaran.
“Iya, kenapa?”
“Kebetulan aku juga harus melaporkan sesuatu padanya mengenai laporan hari ini, tapi baterai ponselku habis. Jadi, bisakah kau katakan padanya juga?” Gia hanya ingin memastikan apakah Oh Lian akan membalas pesan jika itu bukan darinya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan memberitahu manajer.” Pegawai itu mulai mengetik sesuatu lalu mengirimkan ke nomor Oh Lian. “Aku sudah memberitahunya.”
“Oh, oke. Terima kasih.”
Dreeet!
“Oh, manajer sudah membalas,” ucap pegawai itu.
“Di–dia membalas pesanmu?” Gia menahan kesal.
“Uhm, kau mau membacanya?” Memberikan ponsel kepada Gia.
Ragu, Gia akhirnya mengambil alih ponsel dan membaca pesannya.
“Baik, katakan padanya aku akan memeriksa laporannya besok.” Isi balasan pesan dari Oh Lian.
“Apa ini, dia bisa langsung membalas pesan orang lain. Tapi ... dia bahkan tidak membaca pesan dariku?” batin Gia, memberikan ponsel pada pemiliknya.
Gia kembali ke meja kerja, menatap layar ponselnya. “Aku akan membicarakan ini besok pagi saat bertemu dengannya. Ah, tidak ... aku tidak sabar menunggu sampai besok.”
“Manajer, kenapa kau tidak membaca pesanku?” Gia mengirim pesan lagi.
Masih sama, Oh Lian tidak membaca pesannya.
“Ada apa dengannya? Apa dia bosan padaku ... atau, dia sedang bersenang-senang dengan Sara Lee. Ah apa yang aku pikirkan! Aku sepertinya sudah gila.”
~♤~
“Ayooo, kita habiskan malam ini dengan minum soju!” Gia mengajak Jenni dan Eichi minum-minum di kedai tepi jalan.
“Hei, kenapa dengan sahabatmu?” ucap Eichi.
“Entah, sejak pagi aku perhatikan moodnya sedang tidak baik.”
“Apa ini soal percintaan?”
“Tidak mungkin, Gia tidak mungkin stres karena memikirkan Park Juan.”
“Siapa yang sedang membicarakan lelaki itu? Ini mengenai lelaki lain.”
“Eichi, sejak kemarin kau selalu bicara sembarangan.”
“Aku tidak bicara sembarangan.”
“Lalu, siapa lelaki yang sedang kau bicarakan? Apa dia salah satu dari divisi kita?” Jenni penasaran.
Brak!
“Astaga!” Eichi dan Jenni terkejut saat Gia menggebrak meja.
“Hick! Ke–kenapa kau ... kau sangat hick, meny–ebalkan!” Gia sudah tak bisa mengendalikan diri, pingsan sampai kepalanya jatuh di meja.
Jenni dan Eichi akhirnya membawa Gia keluar dari kedai.
“Aku tidak mau pulaaaang!” racaunya, Gia kehilangan keseimbangan, hampir jatuh jika kedua sahabatnya itu tak menahan tubuhnya.
“Gia kita harus pulang!” Jenni keberatan menopang tubuhnya.
“Astagaa, kau berat sekali!” sahut Eichi
Tin!
Sebuah mobil berhenti di depan mereka. Park Juan melangkah turun.
“Kau yang memanggilnya?” bisik Eichi.
“Tidak, aku saja tidak menyimpan nomornya.”
Mereka berdua kemudian melirik ke Gia yang sudah pingsan.
“Kalau kalian tidak keberatan aku akan mengantar Gia pulang,” ucap Juan.
Eichi dan Jenni saling melirik.
“Tenang saja, aku tidak bermaksud jahat. Aku akan mengantar Gia pulang.”
“Memangnya kau tahu di mana tempat tinggalnya yang baru?” Jenni menatap ragu.
“Iya, Gia sudah memberitahuku.”
“Bagaimana?” Eichi bertanya kepada Jenni.
Jenni mengangguk, menyetujui tawaran dari Juan.
Setelah Park Juan membawa Gia pergi, Eichi yang merasa khawatir pun menghubungi Oh Lian.
~♤~
“Gia, kita sudah sampai.” Juan melepas sabuk pengaman. Keluar dari mobil lalu membantu Gia turun.
Dari kejauhan sebuah mobil tampak berhenti. Oh Lian mengawasi dari dalam.
Awalnya terlihat biasa, lama-lama mulai geram karena sikap Gia. Mulai dari memeluk lalu menarik kerah kemeja Park Juan.
Oh Lian tak tahan lagi melihat sikapnya, melangkah turun lalu menghampiri Gia yang hampir mencium Juan dengan menarik lengannya.
Brugh!
Wajah Gia membentur dadanya. “Tinggalkan dia!” ucap Oh Lian.
__ADS_1