
“Kita menyebar!”
Beberapa orang itu akhirnya berpencar ke segala arah.
Perlahan mata Lian terbuka, hendak menyudahi ciumannya tapi melihat mata Lea terpejam seolah sangat menikmati membuat Lian enggan menyudahi.
Sampai pada akhirnya, Lea sadar dan menghentikan ciumannya. “E, maaf.”
Lian tersenyum. “Mmm, sepertinya kata terima kasih lebih cocok dari pada kata maaf.”
“O, i–iya ... terima kasih.”
“Sepertinya sudah aman, mereka sudah pergi.” Lian mengusap bibir Lea yang basah karena sisa ciuman. "Apa aku melakukanya dengan kasar, bibirmu jadi merah." Lian sangat pandai membuat Lea merona.
"Tidak, kau melakukannya dengan lembut." Kepalanya tertunduk malu.
Jelas terlihat, Lian merona senyumnya tertahan. Mendengar ucapannya Lea seperti sebuah sanjungan baginya. Ghm! "Ayo, kita harus kembali sebelum mereka menemukanmu." Lian menggenggam tangannya, membawa Lea kembali ke hotel bersama.
~♤~
Mereka baru saja tiba di hotel. Lea terkejut karena Lian tak main-main dengan ucapannya.
Kamar itu penuh dengan paperbag berisi pakaian yang tadi di coba olehnya. “Ini semua ....”
“Untukmu,” sahut Lian.
“Apa ini tidak termasuk pemborosan?”
“Selama semua itu untukmu, tidak ada kata pemborosan bagiku.”
Lea terdiam sesaat. “Lian ... terima kasih, jika aku sudah bekerja nanti aku pasti akan membayar semua ini.”
Pfffftttt! Lian tertawa lirih. “Bagaimana jika kau bekerja untukku?”
“B–bekerja untukmu?”
Uhm! Lian menganggukkan.
“Apa yang harus aku lakukan?” Lea masih kebingungan.
“Aku akan memikirkan nanti. Sekarang bersihkan dirimu dan tidurlah.” Lian mengusal ujung kepalanya.
__ADS_1
Sebelum tidur Lea mencuci wajah di kamar mandi, terdiam menatap bayangan diri di cermin. Tangannya bergerak mengusap air di wajah tapi terhenti di bibir.
Ingatan saat Lian mencium bibirnya kembali melintas. Kepalanya bergidik menyadarkan diri dari lamunan.
Tak lama, Lea keluar dari kamar mandi. Uhuk! Uhuk! Terbatuk karena menghirup asap rokok. Setelah ditelusuri ternyata Lian tengah menikmati rokoknya di balkon.
Ghm! “Kau sepertinya perokok berat,” ucap Lea seketika.
“Tidak, aku hanya penikmat ... merokok saat aku menginginkannya. Kau belum tidur?”
“Aku belum mengantuk. Uhm ... tidak apa-apa jika kau ingin tidur di ranjang. Aku akan tidur sofa.”
Lian tersenyum setelah membuang asap rokok dari mulut. “Mana mungkin aku membiarkan perempuan tidur di sofa? Santai saja ... jangan pernah merasa sungkan padaku.”
Uhuk! Lagi-lagi Lea terbatuk saat asap putih terbang terbawa angin melewati dirinya.
“Maaf,” ucap Lian sembari mengibaskan tangannya, seolah berusaha membuang asap putih agar tidak terhirup oleh Lea.
“Merokok tidak baik untuk kesehatan.”
“Itu yang dikatakan mereka para pembenci rokok.” Lian menoleh, menatap wajah Lea yang berdiri di sampingnya. “Kau tidak suka bau rokok ... atau tidak suka jika aku merokok?”
Sesaat Lian terdiam, menatap lekat mata Lea. “Bagaimana jika aku mengatakan kalau itu ada hubungannya denganku?” Tak lama setelah itu, Lian mematikan bara merah diujung batang rokok menggunakan kedua tangannya.
Pssszzt!
“Astaga!” Lea terkejut, menyambar tangan Lian. Kedua jari, Ibu jari dan jari telunjuk yang terkena bara rokok langsung dikulum olehnya.
Deg! Lian terpaku, terkejut setengah mati. Tak mengira reaksi Lea akan sejauh itu.
Dadanya berdetak tak karuan, darahnya berdesir saat rasa hangat dan basah menjalar dari jari ke seluruh tubuhnya.
Tak sampai di situ, Lea bahkan menggunakan lidahnya menjelajah jari bagian dalam yang sempat terkena puntung rokok.
“Lea ... apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya lembut, sorot matanya tajam.
Setelah menarik kedua jari Lian dari mulut, Lea pun berucap. “Tanganmu bisa terluka, ayo. Kita harus mencuci jarimu dengan air dingin.”
Lian menurut, patuh seperti anak kecil. Mereka berjalan beriringan menuju kamar mandi, berdiri di depan cermin saat mencuci tangan di wastafel.
“Lihatlah tanganmu jadi merah, besok pasti melepuh.” Lea terus mengomel.
__ADS_1
Lian tak terlalu peduli dengan apa yang diucapkan oleh Lea, dia justru melamun senang, bibirnya tersenyum menatap wajah Lea di cermin.
“Aku sedang bicara denganmu kenapa kau ti–“ ucapan Lea terputus ketika menyadari di cermin Lian tengah menatap dirinya. Bahkan posisi mereka yang begitu dekat membuat dadanya lagi-lagi berdebar. Ghm! Dehemnya sengaja mencairkan suasana.
Lea mengambil handuk yang kemudian digunakan untuk mengeringkan tangan Lian. “Kau harus menggunakan salep agar besok tidak melepuh.”
Punggungnya merendah, Lian berbisik di telinga. “Terima kasih, aku akan mengingatnya.” Bibirnya tersenyum lebar melihat wajah Lea merona malu.
~♤~
Klik!
Lian memetikan lampu utama dan membiarkan lampu kecil menyala membuat ruangan di kamar meremang. “Tidurlah.” Mengusap ujung kepala Lea.
Perempuan itu masih duduk di ranjang bersandar dengan sebagian tubuh tertutup selimut.
Dreet!
Ponsel Lian bergetar, dia mendapat panggilan dari Lee.
“Aku akan mengangkatnya sebentar,” ucapnya pada Lea. Lian melangkah menjauh dari ranjang saat berbincang dengan Lee melalui telepon. “Halo, Tuan Lee?”
“Selamat malam, Tuan ... maaf mengganggu istirahat Anda.”
“Katakan ada apa?” Ekspresi Lian langsung menegang setelah mendengar ucapan Lee. Kepalanya menoleh, menatap penuh keraguan kepada Lea yang berada di ranjang sana.
Mereka saling melempar pandang, menatap kebingungan.
“Iya ... baiklah, mungkin besok aku akan kembali ke Seoul. Lian mematikan ponselnya. Melangkah mengitari ranjang mendekati Lea lalu duduk di tepian. “Lea ... dengar, besok aku harus kembali ke Soul.
“Ha?” Lea terkejut. “Besok? Lalu ... bagaimana denganku?”
Entah mengapa Lian merasa sangat senang, seolah Lea telah menggantungkan hidup pada dirinya. “Kau bilang kau tidak mengenal siapa pun di sini apakah itu benar?”
Uhm! Lea mengangguk. Matanya merah berkaca, Lea sudah merasa ketakutan jika Lian akan meninggalkan dirinya. “Hanya Hae Su yang aku tahu tapi ... jika aku kembali ke rumah itu dia pasti akan mengatakan pada Ju–“
“Kau mau ikut denganku?” sahut Lian memotong pembicaraan.
He? Lea semakin terkejut, air mata yang nyaris menetes seketika tertahan.
“Ikutlah denganku ke Soul.”
__ADS_1