
“Ayo, kita kembali kamar. Aku akan mengobati lukamu.” Lian mengulurkan tangannya.
Karena hubungan masih canggung, Lian tak membawa Gia ke kamarnya.
Langkah mereka terhenti di depan kamar Gia.
“Masuklah, aku akan mengambil obat terlebih dulu,” pinta Lian. Setelah Gia masuk, Lian bergegas pergi ke kamar.
Tak lama Lian kembali membawa salep serta kompres instan.
Tok, tok, tok
Setelah mengetuk, Lian membuka pintunya.
“Ooh, Presdir. Silakan masuk.” Sangat canggung, bahkan sikap Gia terlihat salah tingkah.
Ghm! Hanya Lian yang terlihat santai, melangkah menuju ranjang duduk di tepian. “Kemarilah.”
Gia menurut, duduk di sampingnya.
“Lihat kemari.” Lian telah menyiapkan kompres dingin yang kemudian dia tempelkan ke ujung bibir Gia. “Sakit?”
“Tidak terlalu.”
“Besok lukanya mungkin akan membiru.” Bahunya merendah, Lian dipaksa membungkuk karena posisi Gia lebih pendek.
“Tenang saja, saat pertemuan besok aku bisa menutupi lukanya dengan corrector makeup.”
Matanya bergerak mengarah ke mata Gia. “Aku lebih suka melihat wajahmu tanpa makeup. Tapi jika memang itu diperlukan, kau bisa memakainya.”
Deg, deg!
Dadanya langsung berdebar. Pipi Gia merona. Ditambah lagi kedekatan wajah mereka yang lebih dari sejengkal.
Meski beberapa kali Gia berusaha mengalihkan pandangan, tetap saja wajah tampan Lian yang berada tepat di depan mata sangat menarik hati.
“Sakit?” suaranya lembut, sangat sopan saat masuk ke dalam telinga.
Uhm, Gia menggelengkan kepala. “Hanya sedikit perih.”
Lian tengah sibuk mengoles salep ke bibirnya yang terluka.
“Sara Lee, adalah keponakanku.”
Ucapan Lian terngiang jelas di telinga. “Bodoh, jadi selama ini Presdir sengaja membuatku salah sangka? Why?” batinnya.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” sahut Lian, setelah menyadari kerutan di wajah Gia.
“Uhm, mengenai Sara ....”
“Kenapa?” Lian menoleh.
“Kenapa kau tidak bilang sejak dulu kalau Sara adalah keponakanmu, Presdir?”
“Kau tidak bertanya padaku.”
__ADS_1
“Tapi–“
“Kau marah, cemburu dan mengambil keputusan sendiri. Selalu mengatakan kalau Sara adalah kekasihku.” Lian menghela napas panjang, sebelum melanjutkan kalimatnya. “Apakah kau pernah dengar dari mulutku sendiri jika Sara adalah kekasihku?”
Glek! Gia menelan saliva. Ghm! “Presdir, ada yang ingin aku bicarakan denganmu ... apa kau sibuk?”
“Tidak. Katakan saja, aku mendengarkanmu.”
Mereka duduk di tepi ranjang, bersisian tak saling memandang.
“Mengenai malam itu, saat kau mengatakan ... bahwa kau tak akan lagi mengejarku, apa itu hanya ancaman?”
Lian terdiam sesaat. “Kenapa dia tiba-tiba membicarakan hal itu?” batin Lian. “Tidak, itu bukan ancaman. Itu adalah pilihan yang aku berikan padamu. Tapi ternyata kau lebih memilih Park Juan.”
“Jadi kau menyerah?”
Pfft! Lian terkekeh. “Kau berucap seolah-olah tidak rela jika aku berhenti mengejarmu.” Menatap mata Gia lekat. “Asal kau tahu, aku tidak pernah menyerah. Tapi aku tidak bisa memaksamu.”
“Presdir ... ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu mengenai malam itu di penginapan.”
“Hmm, kau ingin mengelak lagi?”
“Bukan itu ....”
Dreeet
Perhatian mereka teralihkan ke ponsel milik Gia di atas ranjang.
Park Juan memanggil. Namanya jelas terlihat di layar. Mereka saling melirik kemudian.
“Angkat saja, aku tidak akan menguping.” Lian beranjak berdiri menjauh, menuju ke koridor kamar di mana kaca sebagai pembatas.
Lian sengaja berdiri, bersedekap setenang mungkin. Bersandar di kaca seolah tak peduli, padahal telinganya bekerja keras mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Iya, aku sedang ada di Milan.” Sesekali perhatiannya mengarah ke Lian. “Mengenai hal itu ... aku yang harus aku katakan padamu. Tapi kita bicara nanti saja setelah aku kembali.” Gia menutup panggilan.
Beranjak berdiri mendekati koridor, niat hati hendak melanjutkan pembicaraan dengan Lian tapi ternyata lelaki itu sedang menjawab panggilan.
Gia akhirnya menunggu, duduk di sofa, memandangi punggung Lian dari kejauhan. Bibirnya tersenyum tipis, merasakan kenyamanan setiap kali melihat sosok lelaki tersebut.
Pintu yang menghubungkan ke koridor terbuka lebar, angin berhembus dari luar masuk ke dalam. Membawa aroma wangi feromon dari tubuh Lian berhamburan ke dalam kamar.
Secara bebas, Gia menghirup aroma wanginya. Memenuhi dada dengan wangi feromon yang membuat moodnya semakin bagus.
Membuat pikiran tenang serta perasaannya semakin nyaman. Rencana untuk mengg_urkan kandungan seketika terlupakan.
“Baik. Tuan Lee ... siapkan berkasnya saja jika memang dia serius.”
“Tapi, Tuan ....”
“Aku tahu, dia pasti memiliki rencana dengan tiba-tiba bergabung ke perusahaan. Tapi dia tak memiliki keahlian dalam bidangnya.”
“Saya dengar, Tuan Lee Dae Hyun akan merekrut seseorang mewakilinya di rapat nanti.”
Lian terdiam sesaat. “Biarkan saja, aku ingin melihat ... apa yang dia rencanakan kali ini.”
__ADS_1
Panggilan terputus, Lian kembali ke dalam hendak melanjutkan pembicaraan tapi langkahnya justru terhenti di ambang pintu.
Pemandangan di depan mata sangat memanjakan hati. Gia tertidur pulas di sofa.
Lian tersenyum tipis, mendekati Gia. Menggendong tubuhnya membawa ke ranjang. “Maaf, aku pasti sudah membuatmu menunggu.” Menatap wajah Gia sesaat, mendaratkan kecupan di kening setelah itu melangkah pergi.
~♤~
Sepanjang malam Gia tak bisa tidur nyenyak, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit. Keningnya basah karena keringat dingin.
Seperti mimpi buruk, Gia tak bisa tenang. Sekujur tubuhnya terasa lemas.
Hingga pagi menjelang, Lian telah siap untuk melakukan pertemuan. Keluar dari kamarnya menuju ke kamar Gia.
Tok, tok, tok!
Hening, tak ada sahutan. Lian melirik jam di tangan. Waktu pertemuan hampir tiba, Gia tak kunjung keluar.
Tok, tok, tok!
Tangannya meraih hendel, hendak membuka pintunya tapi Lian mengurungkan niatnya. Mengambil ponsel dari saku jas untuk menghubungi Gia.
Tuutt ....
Panggilan tersambung tapi tak ada jawaban.
Tok, tok, tok! Ketukan yang semula biasa saja berubah menjadi gedoran.
“Gia!” seru Lian
Masih tak ada sahutan. Merasa ada yang tidak beres, takut terjadi sesuatu pada Gia, Lian akhirnya membuka pintu kamarnya.
Deg!
Lian terkejut saat mendapati pintu kamar itu tidak terkunci. Itu artinya Gia tidak beranjak dari ranjang semalam. “Gia?
Mendapat Gia masih berada di atas ranjang, Lian langsung mendekat, memastikan.
“Gia, kau baik-baik saja?”
Wajahnya pucat, tubuhnya basah karena keringat.
Lian berinisiatif menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
Deg!
Jantungnya serasa mau meledak, melihat bercak merah berada di bawah tubuh Gia tepat di sela kakinya.
“Apa ini?” gumam Lian, pikirannya mulai kacau melihat darah mengalir keluar dari tubuh Gia.
Tanpa berpikir panjang, Lian membawa Gia ke rumah sakit.
“Maaf, Tuan. Bisa ikut dengan saya ke ruangan?” Dokter mengajak Lian ke ruang kerjanya.
“Dokter, katakan ... apa yang terjadi pada Gia?” Lian mulai gelisah setelah melihat ekspresi dokter.
__ADS_1
“Sebenarnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Beruntung Anda segera membawa Istri Anda kemari. Saya sudah menyuntikkan antibiotik. Saya juga sudah menyesuaikan obatnya sesuai kebutuhan ibu hamil. Saya juga tidak menyangka jika kandungannya sangat kuat. Anda sangat beruntung karena janin di dalam perut Istri Anda selamat.”
“Tunggu!” sahut Lian. “Dokter, biarkan aku berpikir sebentar.” Lian terkejut setengah mati mendengar penjelasan dari dokter. “Hamil? Janin? Kandungan ... apa maksud semua ini?”