
Hanya bisa menyaksikan Juan mencium bibir Gia, meski rasanya ingin sekali menghampiri mereka lalu menyeret Juan dan menghadiahi pukulan keras di pipi.
Kedua tangannya meremas setir mobil, mungkin jika hilang kendali bisa jadi Lian sudah menabrakkan mobilnya kearah mereka.
Mmmhh~
Gia mendorong dadanya, ciuman terhenti. “Juan!”
“Maaf, aku tidak bisa menahannya lagi. Gia ... kembalilah padaku.” Menggenggam erat tangan Gia.
“Juan, aku–“ huk! Ucapnya terhenti, Gia merasa mual ada yang tidak beres dengan perutnya.
“Kenapa? Kau baik-baik saja?”
“Uhm, sepertinya aku salah makan tadi pagi.” Gia menutupi mulut dengan tangannya.
“Kau butuh sesuatu, atau aku akan mencarikanmu obat?”
“Tidak Juan, nanti juga membaik. Pulanglah ... ini sudah malam.”
“Tapi, Gia ....” Terdiam sesaat. “Baiklah, masuklah ke dalam di luar anginnya dingin. Uhm, oh ya ... besok malam kau ada waktu?”
“Besok, kenapa?” Gia penasaran.
“Aku ada undangan pesta makan malam dari perusahaan rekan kerja ayahku, kau ... mau menemaniku datang ke pesta?”
Gia terdiam sesaat. “A–aku?”
“Iya.”
“Uhm, aku akan memikirkannya nanti.”
“Baiklah, hubungi aku jika kau bersedia. Aku pergi.” Park Juan mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu
Sementara Lian masih berada di tempat semula, hanya menyaksikan dari kejauhan. Bahkan tak bergerak sedikit pun. Sengaja menunggu Gia masuk ke dalam rumah, setelahnya Lian baru menyalakan mobilnya.
Vrrooooommmm!
Di rumah, di kamar mandi. Lian menyiram wajah dengan air di wastafel. Menatap bayangan diri di cermin.
Bayangan saat Juan mencium bibir Gia melintas jelas di benaknya. “Bodoh! ”umpatnya pada diri sendiri.
~♤~
“Terima kasih karena kau bersedia menemaniku datang ke pesta ini,” ucap Juan, mempersilakan Gia turun dari mobil.
“Sama-sama.”
“Kau terlihat sangat cantik malam ini.”
Gia tersenyum tipis, menyambut uluran tangan Juan.
Mereka melangkah masuk ke dalam gedung, di sambut hangat oleh pemilik acara tersebut.
“Selamat datang Park Juan,” ucap lelaki paruh baya, membawa segelas Wine yang kemudian diberikan kepada Juan.
“Terima kasih.” Juan menerima Wine tersebut dengan hati.
“Terima kasih karena sudah menyempatkan hadir ke pestaku, uhm ... ngomong-ngomong siapa wanita cantik di sampingmu? Sepertinya aku baru kali ini melihatnya?”
“Perkenalkan, dia Gia Luciella ... mantan kesayanganku.”
Hahaha .... lelaki itu tertawa. “Kau ternyata bisa bercanda, Juan. Masuklah dan bergabung dengan yang lain.”
“Terima kasih.”
“Juan, kenapa kau bilang seperti itu?” Gia merona malu.
“Kenapa memangnya, bukankah apa yang aku katakan memang benar? Kau memang mantan kesayanganku ... kecuali, kau ingin kembali menjadi kekasihku.”
“Kau mulai lagi,” sahut Gia.
__ADS_1
“Tapi aku serius, Gia.” Mengambil segelas Wine dari meja, memberikannya kepada Gia. “Aku ingin kita kembali seperti dulu.”
Gia terdiam, membalas tatapan Juan.
“Minum?”
“Tidak, aku tidak sedang selera.”
“Oh ya, bagaimana denganmu semalam ... kau benar tidak apa-apa, kan?” Juan memastikan.
“Iya, setelah istirahat semalam keadaanku sudah membaik.” Tanpa sengaja perhatian Gia teralihkan ke sosok lelaki tinggi yang berdiri lumayan jauh darinya.
Lelaki itu mengenakan tuxedo hitam. Dari punggungnya, Gia merasa tidak asing dengan aura yang dibawa lelaki itu. Dan jelas saja saat lelaki itu menoleh, berbincang dengan orang lain di sekitarnya, Gia terkejut melihat wajah tampan dan berseri Oh Lian.
“Bodoh! Lagi pula pesta orang kaya seperti ini mana mungkin tidak dihadiri oleh Lian?” batin Gia, sebelumnya sempat berharap kalau Lian tidak akan muncul di pesta tersebut.
“Kenapa?” tanya Juan penasaran, melihat Gia terus melamun sejak tadi.
“Tidak ada.” Gia menundukkan kepala, tak lama saat kembali menoleh ke Lian dia dikejutkan dengan kehadiran Sara Lee, memeluk lengan Lian bahkan bersandar di dadanya.
Siapa pun yang melihat pasti akan iri, mereka berdua sangat cocok. Cantik dan juga tampan.
Hal itu membuat Gia semakin yakin bahwa tak ada kesempatan baginya untuk kembali bersama dengan Lian. “Sial, kenapa aku bisa berpikir seperti itu?” batinnya. “Lupakan, lupakan! Lupakan dia, Gi!” tambahnya dalam hati.
Melihat ekspresi Hia berubah muram, Juan mengalihkan perhatian kearah di mana Gia sempat melihat. Di ujung sana, Juan melihat Lian dan Sara Lee sedang berbincang dengan pemipik acara.
“Gia, ayo ... ikut denganku.”
“Eh, ke mana?” Gia ragu.
“Ikut saja.” Juan menggandeng tangan Gia.
Kekhawatiran yang Gia rasakan akhirnya terjadi, Juan mengajak dirinya bertemu dengan Lian dan Sara.
“Hai, Sara Lee,” sapa Juan, mengulurkan tangan.
“Oh, Tuan Park. Senang bertemu denganmu di sini.” Membalas uluran tangannya.
Ghm! Juan menarik tangannya, tersenyum kecut. Dia senang karena tahu kalau Lian pasti cemburu dengannya karena telah mengajak Gia ke pesta itu.
“Aku jarang melihatmu datang ke ....” Juan dan Dara Lee melanjutkan pembicaraan.
Sementara itu, Lian yang berdiri di sana melirik ke tangan Gia yang sejak tadi digenggam oleh oleh Juan.
Gia menyadari hal itu, tapi tak peduli meski Lian mengatakan secara gamblang bahwa dia cemburu, pun Gia tak akan bereaksi.
Bola matanya bergerak ke atas menatap mata Gia. Pandangan mereka bertemu, saling menatap tajam seolah meminta penjelasan.
Hingga pada akhirnya, Gia mengalah dan mengalihkan perhatian kearah lain. Bahkan dengan sengaja membuat Lian semakin kesal dengan memeluk lengan Juan seperti apa yang dilakukan Sara.
“Juan, apa kau tidak ingin mengajakku berdansa?” ucap Sara, melihat ketegangan di antara mereka Gia dan Lian semakin mengental.
“Oh, please. Aku sangat tersanjung jika kau tidak keberatan.” Juan menoleh, menatap Gia seolah meminta ijin.
Gia tersenyum, mengangguk pelan melepaskan lengan Juan.
“Aku janji hanya sebentar saja, kau tidak keberatan, kan?” bisik Juan, sengaja melakukannya di depan Lian.
“Uhm, aku akan menunggumu di sini.”
“Mari ....” Juan mengajak Sara turun ke lantai dansa.
Gia semakin canggung karena kini hanya berdua dengan Lian.
“Terima kasih,” ucap Lian setelah mengambil segelas Wine dari atas nampan yang dibawa oleh seorang pelayan. “Kau tidak minum?” ucapnya kemudian kepada Gia.
“Aku tidak suka mabuk,” sahut Gia, ketus.
Mereka berbincang tanpa saling menatap karena perhatian mereka kini sedang tertuju pada Juan dan Sara yang sedang asyik berdansa.
“Benarkah? Aku lupa ... kalau beberapa waktu lalu ada seorang perempuan mabuk karena merindukan kekasihnya,” ucap Lian merujuk kepada Gia.
__ADS_1
Ghm! Dehemnya, menetralisir rasa gugup seolah tertangkap basah. “Urus saja urusanmu sendiri!”
“Benar ... dan kini aku sedang mengurusnya.”
Gia semakin kesal, merasa percuma bicara kepada Lian. Tangannya terangkat, memberi isyarat kepada Juan kalau dirinya harus pergi ke toilet.
Dari kejauhan, Juan menganggukkan kepala.
Itu adalah rencana Gia untuk menghindari Lian. Bahkan tanpa berucap, dia langsung pergi seolah menganggap Lian tak ada di sana.
Tatapannya lurus ke depan, tangannya meremas gelas yang telah kosong. Hingga pada akhirnya, Lian pun melangkah pergi meninggalkan pesta.
Dia berjalan melewati lorong. Dengan raut wajah serius, Lian menghampiri Gia yang berada di dalam toilet.
Byurr!
Gia menyiram wajahnya dengan air di wastafel. Hah, hah! “Menyebalkan! Kenapa dia sangat menyebalkan. Kenapa dia senang sekali menggangguku.” Menatap bayangan diri di cermin.
Kedua matanya membulat, melihat bayangan Lian di cermin. Lelaki itu tiba-tiba muncul lalu mengunci pintunya.
Hah? Secepat mungkin Gia memutar tubuhnya, mengambil sikap waspada. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Hening, Lian diam tak menjawab. Kedua tangan bersedekap bersandar ke pintu. “Kenapa kau terkejut melihatku seperti itu?”
“Menyingkir, aku harus keluar.” Gia menyahut tisu, mengusap wajahnya yang basah.
“Kalau aku menolak, apa yang ingin kau lakukan?”
“Kau sudah gila, Lian!” Gia membuang tisu sembarangan.
“Kau bahkan tahu jika aku memang gila, lalu kenapa kau menguji kesabaranku.”
Kening Gia berkerut, berusaha mencerna ucapan Lian yang sulit dipahami.
“Bagaimana rasanya?” tanya Lian, bibirnya tersenyum sinis.
“Apa yang sedang kau bicarakan?” Gia semakin kebingungan.
“Kau pasti paham apa yang sedang aku bicarakan, bagaimana menurutmu ... alu atau Juan yang lebih lihai dan berpengalaman?”
Hah! “Kau membuatku semakin pusing.” Gia melangkah mendekat, kebetulan pintu terhalang oleh tubuh Lian yang besar. “Kau bisa menyingkir, kau menghalangi jalanku.”
“Jawab dulu pertanyaanku!” sahut Lian, mencengkeram lengan Gia.
Glek! Gia menelan saliva kesusahan. Jantungnya berdebar keras. Bukan karena apa, melainkan takut jika Lian marah, karena terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam menusuk dipenuhi amarah yang tak mampu Gia pahami. “Kenapa denganmu?”
“Bagaimana rasa bibirnya?” geram Lian dengan suara rendah. Pertanyaannya membuat Gia berpikir keras.
“Apa?” Gia kebingungan.
“Bibirnya, bagaimana rasa bibirnya. Kau pasti sangat menyukai bibir Juan, bukan?” Lian membungkuk, membuat Gia merasa terintimidasi.
Deg!
Gia tak menyangka sebelumnya jika Lian mengetahui kejadian malam itu. “Da–dari mana kau–“
“Aku mengetahui semua apa pun yang kau lakukan! Kau pasti sangat menyukai ciuman darinya, kan?” Matanya menyipit tajam.
“Lian, lepas! Kau menyakitiku.” Lengannya terasa sakit karena Lian mencengkeramnya kuat.
“Jawab pertanyaanku!” Menarik dagu Gia, mengangkat wajahnya mendongak hingga Lian dengan mudah bisa melihat ekspresi wajahnya. “Haruskah aku menghilangkan bekas bibirnya?”
“Ha?” Punggung Gia terdorong karena Lian semakin dekat. “Lian pasti sufah gila!” batinnya. “Lepas!” Menepis kasar tangan Lian. Gia hendak membuka pintu setelah mendorong Lian yang menghadangi jalan.
Akan tetapi Lian menarik lengan Gia, mendorongnya ke pintu yang belum sempat di buka.
Brugh!
Tubuhnya membentur pintu.
Secepat kilat, Lian mengambil kuasa akan tubuh Gia. Menahan pinggangnya, mencengkeram tengkuknya, Lian menyambar bibir Gia tanpa permisi.
__ADS_1
Nggh~