
Detak jantungnya tak mampu dia kendalikan, Lian merona melihat pakaian dalam yang dikenakan Gia tampak jelas di depan mata.
“Wait!” Lian meraih tangannya saat Gia hendak mengusap matanya yang basah. Setelah mengambil handuk, Lian menggunakannya untuk mengusap mata Gia.
Gia terdorong hingga membentur pintu di belakangnya. Matanya masih tertutup rapat karena pedih. “Aku bisa melakukannya sendiri!” Rencananya ingin menyambar handuk dari tangan Lian tapi lelaki itu terlebih dulu menjauhkan handuk dari jangkauan.
Karena tak bisa melihat jelas, tangan Gia bergerak sembarangan hingga tanpa sengaja menyentuh dada Lian.
Deg!
Keras dan terasa hangat. Di tambah lagi ada bekas merah cakaran, membuat pipi Gia merona. Hal itu mengingatkan akan kejadian malam itu, di mana Gia dipaksa naik dan duduk di atas tubuh Lian.
Hah~ mmmh~ aaah~ aaah~
Rintihan semakin sering kala Lian mengangkat panggulnya kuat dengan tempo yang sangat cepat.
Aaaah!
Tubuhnya bergetar, merasakan level kenikmatan di atas kenikmatan yang tak terkira ketika milik Lian menyundul bagian perut terdalam. Tanpa sadar cengkeramannya melukai dada Lian, meninggalkan jejak kuku yang lumayan dalam.
Brugh!
Tubuhnya dibiarkan jatuh di atas tubuh Lian. Panas karena suhu tubuh mereka meningkat di tambah napas mereka yang bersahutan membuat permukaan kulit berkilau basah, berkeringat.
Hah, hah, hah ....
Lian memejamkan mata sesaat, menikmati lava panas yang masih terus menyembur ke dalam perut Gia.
Ugh~ ngh~ hah ....
Perlahan matanya terbuka, tangannya bergerak menarik wajah Gia yang terbenam di dada. Melihat wajah seorang perempuan tak berdaya di atas tubuhnya, Lian tersenyum tipis. “Kau menikmatinya?” Suaranya sangat berat dan parau.
“Nghm ....” Gia mengangguk pasrah, matanya terasa berat, sayu.
“Tapi aku belum puas.” Ekspresi Lian semakin beringas, menarik lengan Gia hingga jatuh di atas ranjang.
Ah!
Kedua tangan Lian menekan pinggangnya menarik kaki Gia, pahanya dipaksa membuka. Lian mengurung tubuhnya di bawah kungkungan. Posisi Lian sedikit naik saat memasukkan milikinya.
Swhop!
Swhop!
Aaaaaa!
__ADS_1
Jeritan Gia tak tertahan lagi, meski telah berusaha menggigit bantal. Ah~ ngh~ “St~ stop~ aku tidak tahan ahng~” racaunya. “Gila, bagaimana bisa seperti ini ... tidak, ini memalukan. Kenapa rasanya seperri ingin buang air kecil. Tapi, sial! Ini sangat nikmat,” gumam Gia dalam hati.
Belum sepenuhnya adegan malam itu melintas kembali, Gia tersadar setelah Lian memanggil namanya beberapa kali.
“Gia?” Lian tersenyum, sangat yakin jika Gia sedang mengingat kejadian malam itu. Melihat ke mana arah pandangan Gia membuat Lian semakin yakin. “Bagaimana, jadi kau sudah mengingat semuanya?” Lian berbisik di telinga.
Ha! Gia terkejut, refleks mendorong dada Lian. Namun kekuatan tangannya yang tak sebanding dengan Lian, tentu saja tak berpengaruh apa-apa.
Lian bahkan tak bergerak sama sekali, justru semakin kuat mendorong tubuhnya mendekati Gia sampai menempel.
Deg!
Detak jantungnya semakin tak beraturan, ketika hanya setipis gaun malam bahkan basah menjadi pembatas di antara tubuh mereka.
Panas dari tubuh Lian dengan mudah menyebar, merambat ke tubuh Gia.
“Apa yang sedang kau bicarakan?”
Lian tersenyum, tangannya menyentuh pipi Gia meski gadis itu sempat menolak. Telapak tangannya yang besar bahkan mampu menggenggam leher Gia hanya dengan satu tangannya saja. “Sampai kapan kau akan bersikap pura-pura seperti ini?” Tangannya bergerak turun, menyelusuri permukaan kulit Gia yang basah dan terpaku di bahu tepat di mana bekas merah serta tanda gigitan itu berada.
Mata Gia terbelalak, lupa bahwa Lian bisa melihat tanda merah di seluruh tubuhnya. “Lalu apa yang kau inginkan sekarang?” Menepis tangan Lian kasar.
“Kau,” jawab Lian singkat dengan nada tenang.
Hening, tatapan Gia sangat dingin. “Apa sebenarnya yang ada di otakmu!”
“Kau mendekatiku karena ingin balas dendam, kan? Kau berhasil melakukannya ... kau berhasil membuatku sakit hati seperti yang kau rasakan dulu. Kau juga–“ ucapnya terhenti, matanya memerah saat genangan air menetes dari matanya, menyadari bahwa Lian juga merenggut kesuciannya.
Tetapi Gia tak mungkin mengatakan hal itu secara gamblang di depan Lian. “Dendammu sudah terbalaskan, lalu sekarang apa lagi yang kau inginkan?”
Lian terpaku melihat air matanya mengalir membasahi pipi. Merasa pilu karena telah menyakiti perempuan yang dia cintai.
Dengan sendirinya tangan Lian bergerak menyentuh pipi Gia, ibu jarinya mengusap lembut air matanya. Kepalanya bergerak mendekat, bersandar di kening Gia. “Harus berapa kali aku katakan padamu.” Matanya terpejam, menikmati kedekatannya dengan Gia, menghirup sepuasnya aroma wangi dari tubuhnya. “Kau ... kau yang aku inginkan!”
Kedekatan mereka membuat Lian tak mampu menahan diri untuk tidak mencium bibirnya. Kali ini Lian mencium bibirnya dengan lembut, sangat hati-hati karena tak ingin membuat Gia terluka.
Terbawa suasana, Gia tak mampu menolak. Mengikuti permainan bibir Lian yang terlatih. Meski kedua tangannya berusaha mendorong dada Lian, Gia sangat menikmati.
Rasanya sangat berbeda dengan sebelumnya, Lian merasa kali ini mencium Gia tanpa beban. Dia lebih menikmati. Matanya sedikit terbuka memastikan ekspresi Gia.
“Stop ... hentikan, Lian!” Gia menyudahi ciumannya.
Setelah terdiam sesaat, Lian mengambil handuk berukuran besar untuk menutupi tubuh Gia yang mulai kedinginan.
“Maaf,” ucap Lian lirih.
__ADS_1
Kepalanya terangkat, Gia menatap mata Lian. “Maaf?” Mengulangi pertanyaan dengan nada bertanya.
Tangannya terangkat, merangkup pipi Gia di sebelah kiri dan kanan. “Maaf, untuk semua apa yang telah aku lakukan padamu.”
“Jadi kau sudah merasa puas, dendammu sudah terbalaskan, bukan?”
“Gia?” Keningnya berkerut, Lian kebingungan.
“Dengar, meski aku memaafkan perbuatanmu ... bukan berarti hubungan kita jadi membaik. Aku harap sebelum terbangun besok aku sudah tidak melihatmu lagi di rumahku!” Gia membuka pintu, melangkah keluar meninggalkan Lian.
~♡~
“Lian sudah bangun?” Luciella bertanya pada Demian yang sedang menikmati sarapan.
“Belum, Bu.”
“Ya sudah, kita tinggalkan saja dia. Lagi pula ada kakakmu di rumah. Ayo, cepat ... nanti kau terlambat.”
Luciella berangkat kerja sementara Demian pergi ke sekolah.
Sementara itu, Gia baru saja terbangun. “Hah, pukul berapa ini? Ibu dan Demian pasti sudah pergi.” Gia terpaku saat mengingat kalau Lian menginap di rumahnya.
Segera dia beranjak dari ranjang mendekati jendela, memastikan kalau Lian telah pergi. “Apa-apaan ini, kenapa dia masih di sini,” gumam Gia setelah melihat mobil Lian masih terparkir di sana.
Langkahnya cepat menuju pantry, memastikan. “Di mana dia?” Tak ada siapa pun di sana. Perhatian Gia tertuju ke pintu kamar Demian.
Ceklek!
Gia melangkah masuk, melihat Lian masih terbaring di ranjang. “Hah, apa-apaan ini ... kenapa dia belum bangun juga?” Gia menghampiri. “Hei! Bangun ... kau harus segera pergi dari rumahku!”
Ungh–
Lenguh Lian, wajahnya pucat dan keningnya basah karena keringat dingin.
Gia terpaku, melihat kondisi Lian tak seperti semalam. “Tidak, aku tidak akan tertipu lagi denganmu, cepat bangun!” Gia menarik selimut, memaksa Lian beranjak dari ranjang.
“Gia ....” Suara Lian bergetar, seolah tengah menahan sakit.
“Lian?” Terkejut saat menarik lengan Lian, Gia merasakan tubuhnya sangat panas. “Kau demam?” Menggunakan punggungnya, Gia menyentuh kening dan leher Lian secara bergantian.
Hah, hah, hah ....
Napas Lian kasar, matanya merah sembab. “Gia, a–aku sekarat ....” Lian meringkuk memegangi perutnya.
“Lian, Lian ... katakan di–di bagian yang sakit?” Gia mulai panik. “Aku akan mengantarmu ke dokter, di sini ada rumah sakit meski tak secanggih di kota. Ayo bangunlah.”
__ADS_1
Wajahnya terangkat, rambutnya berantakan basah menghalangi mata. Lian tersenyum tipis melihat Gia khawatir karena dirinya. “Jika harus kesakitan seperti ini demi bisa melihatmu khawatir padaku ... a–aku rela menderita setiap hari. Gia ... ugh.” Rintih Lian. Bahkan untuk berucap, dia harus mengumpulkan tenaga serta menahan perih yang tak bertepi. “Maaf, maaf sudah membuatmu terluka ... tapi asal kau tahu, bahkan sampai detik ini ... hah, hah ... perasaanku padamu tidak pernah berubah.” Lian tak sadarkan diri.
Gia terpaku, matanya merah menahan tangis karena panik. “Lian!!!”