
“Halo, Tuan Lee. Segera temui Nyonya Luciella. Katakan padanya untuk segera melengkapi berkas yang aku minta,” ucap Lian kepada Lee yang berada di seberang sana.
Gia masih duduk lemas di ranjang, menatap bingung kearah Lian yang berdiri di samping jendela. “Berkas apa yang dia bicarakan?” batin Gia.
“Sampaikan juga pada Nyonya Luciella, aku akan menikahi putrinya di Milan. Malam ini!” Tepat saat kalimat terakhir terucap, Lian menoleh menatap Gia.
Deg!
“Me–menikah?” gumam Gia. “Tunggu, Presdir?”
“Kau sudah mendengar semuanya, kan?” Lian memutus panggilan, mendekati Gia. “Aku akan menyiapkan semuanya, kau hanya perlu mempersiapkan dirimu.”
“Entah mengapa rasanya sangat aneh, seharusnya aku bahagia, kan?” ucap Gia dalam hati. “Tapi ... kenapa ekspresi Lian bisa seperti itu.”
“Aku akan keluar sebentar, jika butuh sesuatu kau bisa menghubungi aku.” Lian melangkah menuju pintu.
“Presdir, tunggu!” seru Gia.
“Kenapa?” Lian menoleh.
“Presdir ... apa kau terpaksa melakukan ini? Maksudku, kau menikahiku karena terpaksa?” Gia tak yakin, tapi melihat reaksi Lian setelah mengetahui dirinya hamil membuatnya ragu.
Bukankah lelaki itu mencintainya? Lalu kenapa seolah terluka mengetahui Gia mengandung anaknya?
Setelah diam sesaat, Lian mengatakan kalimat yang membuat Gia semakin kebingungan. “Kau akan tahu nanti.” Suaranya berat, membuat kesan dingin. Bukan seperti Lian yang dia kenal semalam.
~♤~
“Dokter sudah memberimu ijin pulang.”
Infus telah di lepas dari tangannya. Gia beranjak turun dari ranjang. “Bagaimana dengan pertemuanmu?”
“Aku sudah meminta Tuan Lee untuk mengurs semuanya.” Jangankan suara, intonasi bicaranya terasa dingin.
“Maaf, aku mengacaukan semuanya.”
Lian hanya diam, membawa barang-barang Gia yang sudah rapi dalam satu tas. “Ayo.”
Lelaki itu bahkan berjalan begitu saja keluar dari ruangan tanpa peduli Gia yang tertinggal di belakang.
Melihat punggung Lian dari belakang menimbulkan tanda tanya semakin besar.
~♤~
“Kau ingin makan sesuatu sebelum kita ke butik?” tanya Lian, mereka dalam perjalanan.
Tak ada yang berubah, sikapnya dingin. Seolah tak peduli. Beberapa kali dia bicara tanpa menatap Gia.
“Aku tidak lapar.” Gia tertunduk. Biasanya, Lian paling tanggap jika sesuatu mengganggu pikirannya. Tetapi kali ini, Gia benar-benar kehilangan semua itu.
__ADS_1
“Oke, kalau begitu kita pergi ke gereja sekarang. Semua orang sudah menunggu.”
Gia terpaku, dalam benaknya orang yang dimaksud adalah keluarga terdekat. Tapi setibanya di sana, Gia tak melihat satu orang yang dia kenal.
Hanya ada beberapa orang yang akan membantunya untuk makeup serta ganti baju.
Dalam satu ruangan yang sama, Lian tengah bersiap mengenakan tuxedo. Seorang perempuan membantunya mengikat rompi bagian belakang. Berdiri di depan cermin, Lian menatap bayangan Gia yang terpantul di sana.
Fokusnya tertuju pada Gia yang terus melamun. “Kenapa ... atau mungkin, kaulah di sini yang keberatan dengan pernikahan ini?” batin Lian. “Tidak, Gia. Aku tidak akan membiarkanmu mencelakai calon anakku lagi. Pernikahan ini akan membuatmu berada dalam pengawasanku selama 24 jam.”
“Sudah selesai,” ucap seorang perempuan yang baru saja selesai membantu Gia memakai gaun.
“Terima kasih.”
“Ya Tuhan ... pengantin wanitanya sangat cantik.” Seorang perempuan satunya lagi yang baru saja membantu Gia menghampiri Lian. “Anda juga sangat tampan, Tuan. Kalian berdua sama-sama beruntung, semoga pernikahan kalian diberkahi putra dan putri yang tampan dan cantik.”
“Terima kasih untuk bantuannya.”
“Sama-sama, Tuan. Sebentar lagi upacara pemberkatan pernikahan kalian akan dimulai. Ajak pengantin wanitamu ke altar.” Perempuan itu tersenyum.
“Baik, aku akan menemui pengantinku terlebih dulu.” Lian melangkah, mendekati Gia.
Deg, deg, deg!
Dadanya berdebar melihat Lian menghampiri dirinya. Gia gugup, meremas gaun yang dia kenakan. Terus menunduk tak berani menatap Lian.
Gia masih tertunduk, bahkan karena sikap Lian yang berbeda membuat Gia ragu, takut untuk berucap. “P–Presdir ... bolehlah aku bertanya sesuatu?”
Hmm! Perhatian Lian teralihkan ke jari-jemari Gia di bawah sana, jelas terlihat sangat gugup. Saling meremas.
“Pernikahan ini ... sangat penting untukku. Apakah ibu dan adikku tidak akan datang?”
Ppffftt! “Penting? Aku tidak menyangka kata itu keluar dari mulutmu. Bagaimana bisa perempuan yang berniat menghabisi nyawa anaknya sendiri menganggap bahwa pernikahan itu penting?” gumamnya dalam hati. “Dengar, kita berada jauh bermil-mil kilometer dari rumahmu. Membutuhkan waktu lebih dari 10 jam untuk sampai di sini. Sementara aku tidak bisa lagi menunggu. Dengan atau tanpa kehadiran ibu dan adikmu ... kita akan tetap menikah.”
Ini kali pertamanya bagi Gia melihat ekspresi mengerikan di wajah Lian. Pernikahan bukankah hubungan yang akan membawa kita menuju ke kebahagiaan? Lantas kenapa Gia justru merasa ketakutan?
Hening, di dalam gedung yang akan digunakan untuk upacara pernikahan mereka pun sangat sepi. Hanya ada dua orang di sana, satu saksi dan satu lagi akan pemimpin pernikahan mereka.
“Silakan,” ucap lelaki itu meminta kepada dua mempelai untuk naik ke altar.
Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat mereka menjadi sepasang suami istri.
Tiba saatnya Lian mengeluarkan sebuah kotak berisi sepasang cincin, masing-masing memakaikannya secara bergantian.
“Mempelai lelaki dipersilakan mencium wanitanya.”
Gia sangat gugup, membayangkan Lian akan mencium bibirnya. Namun ternyata Lian hanya mengecup kening, itu pun sekilas.
“Apakah ada yang salah? Atau aku telah membuat Lian marah? Kenapa sikapnya sangat berubah?” Pikiran Gia penuh dengan pertanyaan. Biasanya, Lian paling semangat dalam hal berciuman. Tapi kali ini terasa aneh, sepertinya Lian sangat tidak tertarik untuk menyentuh dirinya.
__ADS_1
“Kenapa kau menangis?” tanya Lian.
“Maaf.” Mengusap matanya yang basah. “Seharusnya tidak seperti ini, pasti ada yang salah. Kenapa perasaanku sangat sedih, bukankah ini seharusnya menjadi hari kebahagiaanku?”
~♤~
Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, tak ada percakapan di antara mereka.
Melihat ekspresi serius di wajah Lian membuat Gia tak berani memulai pembicaraan.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka masuk ke dalam. Berdiri berjauhan, Lian seakan sengaja membuat jarak di antara mereka.
Gia merindukan sikap Lian yang sembrono, tiba-tiba menciumnya, tiba-tiba memeluknya dari belakang bahkan kejadian di lift beberapa kali saat Lian menggodanya membuat Gia merindu. “Aku tidak bisa diam, aku ingin tahu kenapa Lian kadi seperti ini,” gumamnya dalam hati.
“Aku sudah meminta pegawai hotel untuk memindah semua barang-barangmu ke kamarku,” ucap Lian, memecah keheningan.
“Tapi–“
“Kenapa, kau keberatan kita tinggal sekamar? Bukankah kita sekarang suami istri?” Lian melirik sekilas.
Deg!
Gia terkejut, dadanya berdesir perih melihat lirikan matanya. Menggambarkan sebuah kemarahan tertahan yang belum pernah Gia lihat. “Aku pasti salah lihat, Lian tidak mungkin menatapku seperti itu.”
Ting!
Lift terbuka, Lian keluar tanpa peduli pada Gia.
“Sampai kapan kau akan di sana?” ucap Lian melihat Gia masih berdiri mematung di dalam lift.
Cepat-cepat Gia melangkah keluar, mengejar ketertinggalan.
Setelah membuka pintu, Lian melepas dasi, membuang tuxedo ke kursi. “Kenapa kau berdiri di sana, jangan bilang kau menunggu perintah dariku untuk duduk di sofa!”
Canggung, Gia kemudian duduk di sofa ketika Lian melangkah ke sisi lain. Mengambil sesuatu dari laci nakas.
“Bacalah dan pahami isinya.” Lian meletakkan map di atas meja. Memberi waktu kepada Gia membaca isi berkas tersebut. Sementara dirinya sibuk menyalakan roko, menikmati setiap hembusan asap putih di pintu yang menghubungkannya ke koridor.
Deg, deg, deg!
Seperti mimpi di siang bolong, dadanya seakan dihantam palu besar hingga menimbulkan rasa nyeri tak terkira. Membaca isi berkasnya membuat mata Gia berkaca. “Apa maksud isi dari berkas ini?” Air mata menetes begitu saja membasahi pipi.
Lian menoleh. “Kau masih belum paham? Padahal aku sudah menulis jelas di sana.”
“Tapi ....”
“Haruskah aku mengatakan lebih jelas lagi?” Lian terdiam sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kita akan bercerai setelah bayi ini lahir.”
__ADS_1