Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
51. Kabur


__ADS_3

“Aku akan membawa Lea pergi dari Jeju besok pagi.”


Juan menutup telepon dari Hae Su.


“Ada seorang lelaki yang mencari tahu tentang Lea dan keluarganya.”


Mengingat ucapan Hae Su, ekspresi wajah Juan berubah gelap. “Bagaimana bisa... ini tidak mungkin!” gumamnya.


~♤~


“Seharian ini dia mengamuk, kita sampai kualahan menghadapi Sara. Tuan Lee Dae Hyun ... haruskah Anda melakukan ini?” ucap dokter yang menangani Sara. “Aku takut sesuatu terjadi pada calon bayinya.”


“Ini demi kebaikan semua, jika dia masih mengamuk dan tak bisa dikendalikan ... tambah saja dosis obat penenangnya. Selama dia tenang dan mau menurut, mungkin aku akan bicara dengannya nanti.”


Paginya di pulau Jeju.


Sebelum pergi menemui Lea sesuai dengan janji semalam, Lian menyelesaikan pekerjaannya secara Online.


Sibuk dengan laptop, melakukan Zoom dengan beberapa rekan kerjanya.


Dreet!


Saking sibuknya, Lian tak menyadari ada panggilan masuk dari Lea.


Di sisi lain, Lea sedang berada di kamar mandi. Bersembunyi saat menghubungi Lian karena Juan ternya sudah berada di sana.


“Lea? Cepatlah keluar kita tidak ada waktu lagi!’


Tok, tok, tok!


Juan mengetuk pintu kamar mandi.


Panik, Lea menutup panggilan sebelum Lian mengangkat teleponnya. “I–iya aku akan segera keluar.”


“Apa yang sedang kau lakukan, kita harus segera bersiap-siap.”


“Tapi, Juan. Kenapa tiba-tiba mendadak?”


“Bukankah ini yang kau inginkan? Kau bilang kau ingin keluar dari Jeju?” Tatapan Juan pagi itu membuat Lea bertanya-tanya.


Sebelumnya tak pernah Lea melihat sorot matanya yang tajam penuh arti.


“Katakan padaku, kenapa baru sekarang?’


“Tidak ada yang perlu aku jelaskan padamu Lea,” sahut Juan.


“Ke mana kita akan pergi?” Lea semakin khawatir karena Juan terlihat begitu gelisah. Mondar-mandir menyiapkan barang-barang milik Lea.


“Ke mana pun asal bukan di Seoul!”


“Kenapa?”


“Kenapa susahnya kau menurut Lea? Ini yang terbaik untukmu.”


“Tapi kau membuatku bingung! Di saat aku meminta ikut denganmu, kau sama sekali tidak mengizinkan. Sekarang kau tiba-tiba mengajakku pergi tapi ... ke mana kalau bukan ke Seoul?”

__ADS_1


“Kita akan keluar negeri!” sahut Juan.


“Tidak!” Lea menyambar tas dari tangan Juan. “Kau ingin aku tinggal di negara asing? Tidak lagi Juan. Cukup di sini aku hidup seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Bagaimana nanti jika aku tinggal di luar negeri. Tak ada yang aku kenal bahkan tak ada seorang pun yang mengenaliku, bagaimana bisa aku menjalani hidup seperti itu!”


“Itu jauh lebih baik untukmu! Hiduplah di suatu tempat di mana tak seorang pun mengenal dirimu!” Napas Juan memburu, emosinya mulai tak bisa dikendalikan.


Lea terdiam, terpaku sesaat. Tatapan matanya tak pernah lepas dari Juan. “Katakan ... apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”


Deg!


Dadanya berdesir tak karuan, setengah mati Juan berusaha keras mengendalikan diri. “Kita tidak ada waktu lagi, pesawat sebentar lagi tinggal landas. Masuk ke mobil, aku akan mengurus sisanya.”


“Tidak!”


“LEA!!” sahut Juan, matanya memerah menahan emosi. Juan tak bisa lagi menahan diri. “Lakukan saja perintahku, atau aku akan memaksa dan menyeretmu ke mobil!”


Lea tak bisa menolak, kali ini dia sangat ketakutan. Hanya bisa diam, melangkah penuh keraguan menuju mobil sembari mengusap matanya yang basah.


“Lea kau baik-baik saja?” Hae Su menyapa.


“Aku harap ini bukan pertemuan terakhir Kita, Hae Su. Terima kasih untuk semuanya.” Lea berucap tanpa menatap mata Hae Su.


“Tuan?” Hae Su membantu Juan membawa koper dan memasukkannya ke mobil.


“Terima kasih selama ini sudah menjaga Lea dengan baik.” Juan mengeluarkan segepok uang yang diberikan kepada Hae Su. “Ini untukmu, terima kasih karena selama ini kau bisa di andalkan.”


“Tuan akan pergi?”


“Hmm, kami pergi dulu.”


~♤~


Dreeet!


Setelah ke sekian akhirnya Lian melirik ke layar ponsel yang menyala. Bibirnya tersenyum meyakini bahwa ada notif masuk dari Lea.


Senyumnya semakin lebar mendapati bahwa dugaannya benar. Namun dalam sekejap senyumnya menghilang setelah membaca isi pesannya.


“Lian, saat kau membaca pesan ini mungkin aku sudah berada di bandara. Kekasihku berencana membawaku pindah ke luar negeri.”


Deg!


Dadanya serasa mau meledak, jika Lian tak pergi sekarang mungkin dia tak akan mendapatkan kesempatan lagi bertemu dengan Lea.


Secepat mungkin Lian melompat dari ranjang, melempar laptop seperti barang tak berguna begitu saja.


Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara.


Saat mobil berhenti di lampu merah, Lian mencoba menghubungi nomornya tapi panggilan darinya di tolak oleh Lea.


“Kenapa?” tanya kebingungan. Setelah ingat jika Lea sedang bersama kekasihnya, Lian berinisiatif mengirim pesan.


“Di mana posisimu?” Lebih sialnya lagi pesan itu sudah tak terkirim, dapat dipastikan jika Lea telah mematikan ponselnya.


Sial!!! Umpat Lian, membuang ponsel ke kursi di sampingnya.

__ADS_1


Cccciiiittt!!!


Akhirnya Lian sampai di bandara. Segera berlari mencari ke pintu mana pun yang memungkinkan dirinya bertemu dengan Lea.


“Di mana dia?”


Sementara itu di sisi lain. Lea duduknya mulai tak tenang.


“Bagaimana ini? Aku tidak ingin meninggalkan Korea. Aku tidak bisa hidup di negara asing. Aku bahkan tak tahu apa pun saat ini,” batin Lea.


“Mau minum?” Juan mengulurkan sebotol minuman kaleng.


Lea menggelengkan kepala. “Tidak. Juan ... aku harus ke toilet sebentar.”


Juan terdiam sesaat, tatapannya penuh curiga. “Kau pasti panik membayangkan akan naik pesawat, pergilah ... aku akan menunggumu di sini.”


Lea beranjak berdiri, langkahnya terhenti saat Juan memanggilnya.


“Lea!”


“Iya?” Menoleh, ekspresi wajahnya sangat terkejut.


“Jangan lama-lama.”


“Oh, baiklah.” Langkahnya cepat menuju ke toilet. Saat berada di dalam, Lea tak melakukan apa pun kecuali mondar-mandir di depan wastafel. “Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini?” Setelah ingat, segera Lea mengambil ponselnya tapi tapi naas batrenya habis saat itu.


“Astaga!”


Ceklek!


Eh! Lea terkejut setengah mati saat seseorang membuka pintu. Namun seketika itu juga muncul ide untuk melarikan diri dari bandara.


Masa bodoh ke mana dia harus mencari perlindungan, Lea terus berlari sembari sesekali waspada ke sekitar.


Entah ke mana arah tujuannya yang terpenting dia harus aman terlebih dulu dari Juan.


“Please, Please ....” gumam Lea, langkahnya semakin cepat takut Juan akan curiga karena dirinya tak kunjung kembali.


Di sisi yang berlawanan Lian pun tengah berlari, perhatiannya mengarah ke sekitar mencari sosok Lea. “Lea, Lea ... di mana dirimu.”


PANGGILAN KEPADA ....


Sampai saat itu juga, Lea belum kembali dari toilet. Juan mulai panik, beranjak pergi mencari Lea di toilet.


“Lea!” serunya, tak peduli toilet perempuan, Juan tetap menerobos masuk ke dalam. “Sial!” umpatnya, melihat toilet kosong tak ada seorang pun di sana. “LEA!!”


Samar-samar Lea mendengar teriakan Juan. Larinya semakin cepat, mencari tempat bersembunyi.


Hah, hah, hah ....


“Maaf, Juan.” Lea bertekuk lutut di sebuah lorong, memejamkan mengatur napasnya yang memburu.


“Lea?”


Deg!

__ADS_1


Kepalanya terangkat, Lea terkejut setengah mati melihat lelaki itu berdiri disana.


__ADS_2