Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
18. Si Culun


__ADS_3

Ngh~


Mmh~


Gia sama sekali tak diberi kesempatan untuk bernapas.


Lian mencium bibirnya puas, mendorong tubuh Gia hingga terjatuh ke sofa dan membuat tubuhnya terbaring di bawah kungkungan Lian.


Tak ada kesempatan untuk bernapas, tak ada sela untuk menghindar.


Fufufuuuuuuuuuu!!!


Hingga akhirnya suara dari pantry yang berasal dari teko karena air telah mendidih membuat Lian menghentikan ciumannya.


Sontak mereka berdua menoleh ke pantry, sumber suara itu berasal.


“Suara apa itu?” tanya Lian.


“Manajer awas!” Gia spontan mendorong Lian dari atas tubuhnya hingga membentur sisi sofa yang lain.


Gia berlari menuju pantry lalu mematikan kompornya. “Huuuft! Hampir saja.”


Deg!


Jantungnya berdegup kencang ketika Lian memeluk tubuhnya dari belakang. “Manajer?”


“Sebentar saja.” Lian memendam wajahnya di pertengahan antara leher dan bahu Gia.


Menuruti keinginan Lian, Gia akhirnya diam. Membiarkan Lian memeluk dirinya.


“Sabun apa yang kau pakai?” tanya Lian.


“Kenapa?”


“Baumu sangat wangi.” Lian mengendus bahunya lalu beralih ke leher menuju telinga.


Jelas apa yang dilakukan Lian membuat Gia merinding. “Manajer hentikan.” Suaranya lirih, diikuti gerakan tubuhnya memutar. Berbalik menghadap Oh Lian.


Bibirnya tersenyum, Oh Lian menatap lekat matanya. “Kenapa?” tanya lembut.


“Kau ... kau membuatku geli,” ucap Gia terbata.


Senyumnya semakin lebar. Lian perlahan mendekatkan wajahnya. Saat hendak mencium bibir Gia, seketika saja perempuan itu menghindar.


“Manajer, makanannya keburu dingin.”


Pfffttt! Lian terkekeh, menyadari kalau Gia sedang berusaha mengalihkan perhatiannya. Melihat Gia melangkah menuju meja, dia pun mengikutinya. “Apa yang kau masak untukku?” Menarik kursi lalu duduk berseberangan dengan Gia.


“Apa pun yang ada di pantry,” jawab Gia, tangannya sibuk menyiapkan piring dan di isi berbagai jenis makanan. “Silakan.” Meletakkan piring di depan Lian.

__ADS_1


“Uhmmm ....” Lian menatap sekilas piringnya lalu beralih ke Gia.


“Kenapa?”


“Sepertinya ini akan semakin lezat jika langsung memakannya dari tanganmu.”


“Manajer kau–“


“Kenapa, kau keberatan jika aku memintamu menyuapiku?” Lian tersenyum, tatapannya lekat nan menggoda.


Gia mengambil napas panjang. Tak bisa menolak, dia pun akhirnya menyuapi Lian.


Lian membuka mulut, matanya menyipit karena tersenyum penuh kemenangan. “Uhm, ini lezat. Bagaimana kalau kau menyuapiku setiap hari?”


“Masih ada Sara yang bisa menyuapimu.”


“Kenapa kau selalu membawa Sara setiap kali kita sedang berdua?”


“Karena aku merasa tidak tenang.” Gia mulai murung.


“Lalu? Bagaimana caranya agar kau bisa tenang?” Lian menyangga dagu di atas meja dengan tangannya.


“Manajer harus memilih.”


“Memilih?”


“Ya, aku ... atau Sara?” Gia membuat pembicaraan semakin serius.


“Manajer, ini bukan lelucon? Aku tahu aku pendatang baru dalam kehidupanmu. Tapi ... apakah kita akan selalu seperti ini?”


“Apa maksudmu?”


“Katakan padaku, manajer. Sara atau aku!” Gia tiba-tiba membuat suasana semakin tegang.


“Gia apa sebenarnya yang kau inginkan?”


Gia masih bungkam, memikirkan semua kalimat yang ada di otaknya.


“Gia, jangan diam. Adakah sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?”


“Manajer aku ingin kejelasan hubungan kita!” ucap Gia seketika tanpa ragu.


Oh Lian terdiam, tatapannya berubah kosong. “Apa yang kau bicarakan?”


“Beberapa kali aku sudah mengakui perasaanku padamu, tapi aku sama sekali tak pernah mendengar jawabanmu. Semula aku menerima hubungan kita yang tidak jelas ini ... meski aku mengenyampingkan rasa cemburuku setiap kali kau bersama Sara Lee. Tapi jujur, kali ini aku sudah tidak bisa menahannya lagi.”


Pffttt! Oh Lian terkekeh. “Ayolah Gia ... baru saja kita menikmati makan malam berdua. Kenapa jadi setegang ini?”


“Aku tidak bercanda manajer.”

__ADS_1


Sesaat Lian terdiam, tak lama dia kembali terkekeh. Pffft .... “Apa yang ingin kau dengar dariku?”


“Ini tidak lucu manajer! Aku serius saat ini,” geramnya. “Aku ingin mendengar semuanya!”


“Tentang?” tanya Lian dengan sikap dan suara tenang.


“Tentang perasaanmu padaku, tentang hubungan kita. Dan kelanjutan hubungan kita ke depannya.”


“Tunggu, Gia ... kenapa bicaramu terlalu jauh?”


“Manajer?” Gia tak percaya mendengar ucapannya.


“Kita sama-sama menikmati ini ... bukankah itu sudah lebih dari cukup? Kau menyukaiku dan aku memperlakukanmu dengan baik. Apa lagi yang kau inginkan?”


“Manajer ... apa kau tidak serius denganku?” Dadanya teramat sesak mendengar ucapan Lian.


“Serius? Hahaha ....” Lian tertawa membuat Gia semakin meradang.


“Kau menciumku, kau menolongku, kau memperlakukanku dengan sangat baik ... kau membuatku jatuh cinta padamu dengan semua sikap manismu. Manajer ....” Gia menghela napas sebelum melanjutkan kalimat yang masih menggantung. “Bukankah itu menjelaskan bahwa kau juga menyukaiku, tapi tidak bisakah kau memilih salah satu di antara kita?”


“Gia, tenanglah ... kenapa malam ini kau terlalu gegabah?”


“Karena aku cemburu melihatmu dekat dengan Sara Lee! Aku ingin kau menjauh darinya ... aku ingin kau mengakhiri hubungan kalian! Meski aku tahu aku adalah pendatang di antara kalian meski ini terdengar sangat egois, aku tidak peduli!”


“Oh sial! Aku pikir aku bisa lebih lama bersenang-senang denganmu, Gia.”


Hening, dahinya berkerut. Gia mencerna ucapan Lian yang mengandung arti. “Manajer, apa yang baru saja kau ucapkan?”


“Gia, lihat aku!” Oh Lian menatapnya lekat. “Kita sudah sejauh ini ... benarkah kau tidak mengingatku sama sekali?”


Gia semakin dibuat bingung.


“Oke, kalau begitu aku akan membantumu mengingatnya dengan cara lain.” Lian mengambil napas dalam sebelum berucap. “Jangan salah mengartikan sikap baikku, aku bersikap baik seperti ini karena tidak enak hati kepada orang yang sudah mengakui perasaannya padaku. Jadi, sekali lagi aku peringatkan ... jangan terlalu percaya diri bahwa aku memiliki perasaan yang sama padamu. Karen itu tidak akan pernah terjadi!”


Deg!


Kalimat yang baru saja diucapkan Oh Lian membawa ingatan Gia kembali ke masa silam saat mereka duduk di bangku sekolah.


“Tidak, tidak mungkin!” gumam Gia. Mengingat jelas bahwa dia pernah mengucapkan kalimat yang sama pada lelaki pendek dan culun di masa lalu.


“Gia, kau memberiku harapan palsu?” ucap lelaki pendek itu.


“Kau benar-benar membuatku muak, aku bersikap baik padamu karena aku tidak ingin kehilangan fansku. Meski kau culun, lumayanlah ... kau bisa jadi pesuruhku selama ini. Jadi, jangan bermimpi di siang bolong, karena sampai kapan pun aku tidak mungkin jatuh cinta pada murid culun seperti dirimu!”


Gia tak menyangka lelaki culun itu kini berada di depan mata dengan penampilan yang sangat berubah drastis.


Melihat ekspresi tak percaya di wajahnya, Lian kemudian berucap, “Bagaimana, kau sudah ingat?” Bibirnya mengembang hanya di salah satu ujungnya saja.


“Kau ... s–si culun itu?” ucap Gia terbata.

__ADS_1


Oh Lian beranjak dari kursi, mengambil kaca mata dari atas nakas kemudian memakainya. “Bagaimana ... jika seperti ini apakah aku terlihat sangat mirip dengan murid culun itu?”


Dadanya bergemuruh, Gia menahan rasa kecewa yang teramat besar bercampur penyesalan. Meski begitu bukankah ini terlalu berlebihan? “Manajer ... kau mempermainkanku?”


__ADS_2