
“Buka lebih lebar lagi ... aku ingin memghisap dan masuk ke dalam tubuhmu.” Lian mencubit dagunya. “Keluarkan liddahmu.”
Gia menurut, membuka bibirnya.
Secara tak sabar, Lian menyambar bibirnya. Menjambak lembut rambut Gia memaksanya menengadahkan kepala agar dirinya bisa lebih leluasa menghisap seluruh inti sari dari dalam tubuhnya.
Mmmhh~
Lian menuntun tangan Gia agar melingkar di lehernya. Kemudian menggendong tubuhnya membawa ke atas ranjang.
Perlahan dan penuh hati-hati, Lian meletakkan tubuhnya tanpa melepaskan pagutan bibir mereka.
Mmmh~
Lenguhan lolos dari mulut Gia. Terlalu menikmati apa yang Lian berikan sampai-sampai lupa bahwa dia masih kesal dan sangat kecewa dengan lelaki itu.
Dreeet!!
Mata Gia langsung terbelalak mendengar suara getaran ponselnya. Ciuman terhenti, sorot matanya tajam mengarah ke Lian. “Tidak!” rintihnya dalam hati, menarik kedua tangannya yang sempat melingkar di leher Lian. “Sara, bagaimana jika perempuan itu tiba-tiba muncul?” lanjutnya dalam hati.
“Gia?” Suara Lian sangat lembut dan berat, kecewa karena Gia menyudahi ciumannya.
“Maaf, seharusnya ini tidak boleh terjadi. Maaf!” Gia mendorong dada Lian, melompat turun dari ranjang. Melangkah cepat menuju pintu.
Ceklek, ceklek!
“Kenapa tidak bisa dibuka?” Menoleh cepat, menatap Lian. “Lian ... buka pintunya!”
Masih kecewa, miliknya pun masih tegang. Tetapi dia tak ingin memaksa Gia. Setelah turun dari ranjang, Lian mendekat. “Kau ingin pergi?”
“Terima kasih sudah merawatku, tapi aku harap ... hal ini tidak terjadi lagi.”
Lian masih belum membuka pintunya, berdiri di depan Gia menatap sayu wajahnya penuh harap. “Kenapa, apa kita tidak bisa kembali seperti beberapa waktu lalu?”
“Lian dengar,” ucap Gia terhenti. “Meskipun aku ingin, tapi aku tidak mungkin membiarkanmu mendekatiku karena Sara sedang mengandung anakmu. Aku, merasa menjadi perempuan jahat jika sampai hubunganmu dengan Sara hancur karena aku,” lanjutnya dalam hati.
“Gia?” sahut Lian, lembut.
“Tidak, aku tidak bisa.”
“Kenapa, apa kau benar-benar sangat membenciku?”
“Jika itu bisa membuatmu menjauh, maka aku akan mengiyakan pertanyaanmu,” batinnya.
“Gia, jawab aku.” Lian mulai gelisah.
“Iya, aku sangat membencimu!”
Deg!
Dada Lian serasa dipukul palu besar hingga menimbulkan rasa nyeri yang bertepi. “Oke. Tapi ... biarkan aku mengantarmu pulang. Ini sudah malam.”
Ceklek!
Lian membuka pintu, membiarkan Gia melangkah keluar.
Mereka berdua melangkah menuju pintu depan. Langkah Gia terpaku melihat sosok Juan berdiri bersandar di mobil.
“Juan?” lirihnya.
Langkah Lian ikut terpaku, melihat Park Juan sengaja menunggu Gia di depan rumahnya.
Juan tersenyum, meski marah karena Lian membawa Gia pergi tanpa memberitahu dirinya. “Gia, syukurlah ... aku senang kau baik-baik saja.” Juan hanya mendekat beberapa langkah. “Terima kasih karena sudah menjaga Gia,” ucapnya kepada Lian.
Tak ada sahutan, Lian hanya diam dengan ekspresi wajah datar.
“Gia, ayo. Aku datang menjemputmu ... kita harus pulang.” Juan mengulurkan tangannya.
Hening, entah harus bagaimana Gia menyikapi ajakan Juan. Sementara Lian berada tepat di sampingnya.
Sedikit gerakan di kaki Gia membuat Lian melirik, refleks menyahut jari jemari Gia.
__ADS_1
Deg!
“Apa yang harus aku lakukan?” batin Gia. Di depan sana, Juan menunggu uluran tangan sementara Lian menahannya agar tak pergi.
“Jika kau melepaskan tanganku ... aku tidak akan lagi mengejarmu,” ucap Lian.
Tanpa menoleh, Gia langsung melepas tangan Lian. Melangkah mendekati Juan menyambut uluran tangannya.
Juan tersenyum. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”
Menikmati rasa sakit yang semakin kuat, Lian hanya bisa diam menatap kepergian Gia yang lebih memilih pergi dengan Juan.
~♡~
Juan tak berucap sepatah kata pun. Sengaja menunggu Gia menjelaskan sendiri karena tak ingin membuat suasana semakin canggung.
“Maaf,” ucap Gia memulai pembicaraan.
“Untuk?” Juan masih fokus ke jalan.
“Karena tiba-tiba menghilang dari pesta, kau pasti khawatir.”
Juan tersenyum, meraih tangan Gia menggenggamnya erat. “Jika kau menyesal, maka jangan lakukan hal itu lagi.”
Merasa tidak nyaman tangan digenggam oleh Juan tapi tidak enak hati ingin melepaskan genggamannya. “E, maksudmu?”
“Jika kau menyesal karena telah membuatku khawatir, berjanjilah kau tidak akan melakukan hal itu lagi.”
“Tapi–“
“Gia berkencanlah denganku!” sahut Juan. “Aku merasa tidak punya kekuatan untuk melarangmu saat ini, tapi ... jika kau ingin berkencan denganku, aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Aku akan menebus kesalahan yang telah lalu.” Juan menepikan mobilnya.
“Sungguh aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun setelah dirimu. Aku sudah membuktikan pada ibuku kalau aku bisa mengurus perusahaan. Dan kini saatnya aku kembali menjemputmu, kembalilah padaku ... Gia.”
Ucapan Juan selalu melintas di benaknya. Bahkan di tempat kerja pagi itu. Namun, pertemuannya dengan Lian mampu membuat bayangan Juan menghilang.
Ting!
Suara pintu lift terbuka, langkah Gia terpaku saat ingin masuk ke dalam lift karena melihat Lian berdiri di dalam sana.
“Oh, maaf.” Gia kemudian melangkah masuk. Berdiri tepat di depan Lian.
Beruntung lift tidak terlalu ramai, sehingga Gia bisa memberi jarak di antara mereka.
“Jika kau melepas genggamanku ... maka aku tidak akan mengejarmu lagi.”
Ucapan Lian semalam mengusik pikirannya. Gia tidak yakin jika Lian akan memenuhi janjinya tapi pagi itu semuanya terbukti.
Biasanya, Lian akan selalu mengganggu saat di dalam lift. Dengan mengecup ujung kepalanya lalu memeluk perutnya dari belakang dan berbisik di telinga tapi kini tak satu pun dari sebagian banyak peristiwa yang sering terjadi di dalam lift terulang.
Benar-benar dingin, suasana sangat canggung.
Melihat bayangan wajah Lian yang terpantul di dinding Lift, membuat Gia yakin bahwa Lian benar-benar menepati janjinya.
“Kenapa, kenapa aku merasa sedih?” batin Gia.
Ting!
Pintu lift terbuka, sebagian pegawai keluar dan hanya tersisa mereka berdua.
Gia tak beranjak pergi, masih berdiri di depan Lian. Sangat gugup, gelisah kalau-kalau Lian mengganggunya.
Tetapi, sampai di lantai atas pun tak ada yang terjadi.
Ting!
Pintu lift terbuka, Gia terkejut Lian melangkah melewati dirinya begitu saja dari belakang. Lelaki itu bahkan tak menoleh kearahnya.
~♡~
“Gia kau baik-baik saja?” Eichi membawa beberapa berkas, meletakkan di atas mejanya.
__ADS_1
“Uhm, aku baik-baik saja. Kenapa?”
“Tuan Oh memintaku mengantar berkas ini padamu.”
“Tinggalkan saja di sana, aku akan mengerjakannya nanti.”
“Kau terlihat pucat, Gia. Kau yakin tidak apa-apa?” Eichi mulai khawatir.
“Uhm, sepertinya aku kurang tidur.”
“Kau ingin coklat panas, aku akan membuatkannya untukmu.”
“Tidak, Eichi. Kembali saja ke meja kerjamu. Akan membuatnya sendiri.” Gia beranjak dari kursi, melangkah menuju pantry.
Niat hati ingin membuat coklat panas tapi karena tiba-toba saja perutnya merasa tidak enak, Gia akhirnya membuat teh hangat.
“Aku juga mau teh hangatnya,” sahut Jenni. Menuju meja kecil tempat penyimpanan p3k dan keperluan lainnya.
“Teh, atau coklat panas?”
“Uhm, sepertinya coklat lebih bisa membuat moodku membaik. Boleh, kalau kau tidak keberatan.”
“Dasar.”
Hahahha .... “Eh, biasanya di sini ada pembalut untuk keperluan mendesak, apa OB lupa menyiapkan stoknya?” Jenni keluar dari pantry menemui OB yang bertugas.
Gia terpaku, waktu seakan terhenti mendengar ucapan Jenni.
Deg!
“Pembalut?” gumamnya. Meletakkan sendok yang baru saja dia gunakan untuk mengaduk teh. Gia melangkah ke sisi lain, menatap tanggalan yang terpasang di dinding pantry.
“T–tanggal berapa sekarang?” Mulai mengurutkan dari tanggal terakhir kali dia mendapat menstruasi.
Deg!
“Tidak, ini ... sudah tiga minggu lebih. Aku melewatkan datang bulanku? Bagaimana bisa?” Meski panik tak karuan, Gia mencoba tenang. “Ini hal yang lumrah, bukan?” Mencoba menenangkan diri.
Tetapi saat mengingat kejadian malam itu di penginapan, pikirannya semakin kalut. “Bagaimana ini?”
Selepas pulang kerja, Gia akhirnya memberanikan diri untuk menemui dokter kandungan. Agar semuanya lebih pasti, kalau memang tidak terjadi gangguan pada perutnya. Dan berharap hanya perubahan hormon yang membuat datang bulannya terlambat.
Tetapi hal yang dia takutkan nyatanya terjadi.
“Semuanya normal, tidak ada kelainan dalam tubuhmu,” ucap dokter menjelaskan.
“Benarkah?” Gia merasa tenang. Tangannya saling meremas di bawah meja.
“Iya, semuanya normal. Untuk seorang perempuan yang sedang mengandung sangat normal. Itu sebabnya, mulai bulan ini kau akan melewati masa datang bulanmu selama sembilan bulan ke depan.”
Deg!
“M–mengandung?” Gia terbata.
“Iya, Anda sedang hamil dua minggu.”
~♤~
Gia keluar dari ruangan dokter. Wajahnya semakin pucat. Keringat dingin terlihat di kening. Tangan meremas resep obat dari dokter untuk kehamilannya.
“Bagaimana ini, bagaimana?” gumamnya sepanjang jalan menuju resepsionis.
Di sisi lain Lian tengah bersama Sara, mengabtar perempuan itu memeriksa kandungannya.
“Masuklah, “Aku akan menunggumu di luar.”
“Baiklah. Eh ... tapi bukankah itu Gia?”
Lian terkejut bukan main saat melihat Gia berjalan keluar dari ruangan dokter.
"Gia, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Ekspresi wajah Lian kebingungan, bertanya-tanya melihat Gia keluar dari ruang periksa.
__ADS_1
Kebetulan itu bukan rumah sakit umum, di sana hanya melayani pemeriksaan kandungan.
Lian semakin terkejut, melihat Gia membawa sebuah amplop yang tak asing. Lian yakin itu adalah amplop dari rumah sakit.