Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
32. Terluka


__ADS_3

“Dengar, aku pernah berada di posisimu. Aku hargai keputusanmu untuk menggugurkan janin itu tapi ... aku harap kau bisa berpikir dua kali sebelum meminum pilnya.”


Gia keluar dari toko, menyimpan botol obat di saku mantel yang dia kenakan. “Apakah aku sudah gila?”


Dreeeet!


Gia tersadar dari lamunan saat ponselnya bergetar. Mendapat panggilan dari Lian.


Sesaat menatap nama Oh Lian di layar sebelum mengangkat panggilannya.


“Halo, Presdir?”


“Di mana kau?” Suara berat Lian terdengar di ujung ponsel.


“Aku, aku baru saja jalan-jalan keluar mencari udara segar.”


“Kau pikir kau sedang di mana? Kita berada di negara orang, kau tidak tahu kejahatan apa yang bisa mengintaimu saat ini.”


“Cukup peduli padaku sebagai seorang pegawai, Presdir. Kita hanya atasan dan bawahan.”


Hening, Gia yakin jika saat ini Lian sedang berusaha meredam emosi setelah mendengar ucapannya.


“Cepat kembali, Sara ingin mengajakmu makan malam. Kita berada di lantai bawah menunggumu.”


Tuuut! Panggilan terputus.


Huuft! “Bisa-bisanya ... aaaah! Ya Tuhan, aku ingin menyerah. Kenapa ingin bahagia saja rasanya sulit?”


Sesampainya di hotel, Gia langsung menuju ke restoran.


“Gia, hai. Kemarilah.” Sara melambaikan tangannya.


“Maaf, aku membuatmu menunggu lama.” Raut wajahnya muram, Gia hilang semangat.


“Lupakan, aku tahu kau pasti jenuh. Ayo duduk ... aku sudah menyiapkan makanan khusus untukmu. Malam ini aku yang traktir.” Sara meminta pelayan untuk membawa keluar makanan yang sudah dipesan untuk Gia.


“Terima kasih, tapi kau tidak perlu repot seperti ini.”


“Sekali-kali tidak apa, kan?”


Mereka menikmati makan malam bersama. Masing-masing ketiganya tak ada yang bisa menikmati makan malamnya dengan baik.


Semua tampak canggung dan gelisah. Begitu juga dengan Sara, keningnya berkerut disertai ekspresi gugup tak seperti biasa.


Ghm! “Kenapa, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya Sara.


Lian hanya melirik sekilas lalu mengalihkan pandangan ke yang lain.


“Tidak, semuanya baik-baik saja,” jawab Gia.

__ADS_1


Dreeet!


“Maaf, aku harus mengangkat panggilan ini.” Lian menjauh menjawab panggilan dari Tuan Lee.


Sementara di meja hanya tinggal mereka berdua.


“Uhm, Gia ... boleh aku bertanya sesuatu padamu?”


Deg!


Gia berdebar kencang, dadanya serasa mau meledak bahkan Sara juga belum melemparkan pertanyaan.


“E, uhm ... tentu.”


“Apa Lian selalu merepotkanmu saat di kantor? Aku sempat melihat kalian cekcok beberapa kali. Tapi ... kenapa aku sangat yakin kalau Lian sangat bergantung padamu.”


“Apakah Sara Lee cemburu padaku? Atau jangan-jangan dia mengetahui hubungan di antara kami?” gumam Gia dalam hati. Pikirannya penuh dengan berbagai macam opini. “Bergantung, maksudmu?”


“Selamat malam ledies, apa aku mengganggu waktu kalian?” sapa seorang lelaki dewasa, mungkin seumuran dengan Lian tapi lebih tua sedikit. Tiba-tiba datang di tengah pembicaraan.


“Apa yang kau lakukan di sini?” sahut Sara.


Gia terdiam, melihat interaksi di antara mereka. “Apa ini, apakah mereka saling mengenal?” Gia menatap keduanya secara bergantian.


“Sara, ikut denganku!” Lelaki itu menarik lengannya.


Gia mulai panik ketika keributan terjadi, berharap Lian akan segera kembali menyelamatkan Sara. “Tuan, lepaskan tangannya! Kenapa kau sangat kasar ... aku bisa saja memanggil sekuriti untuk mengusirmu!”


“Anak kecil dilarang ikut campur!”


“Lepas!” geram Sara.


“Presdir, kenapa dia lama sekali?” Gia mencari keberadaannya tapi Lian entah pergi ke mana. “Di mana lelaki itu?”


“Sara, ikut denganku sekarang atau kau ingin aku membuat kerusuhan di sini?” ancamnya.


“Sial, aku akan ikut denganmu. Tapi lepaskan dulu tanganku!” Sara menepis kasar tangannya, sampai tanpa sengaja mengenai wajah Gia.


Au!


“Oh, Gia ... maaf. Itu pasti sakit.” Sara merasa bersalah.


“Tidak apa-apa, aku tahu kau melakukannya dengan tidak sengaja.” Mencoba biasa meski rasanya berdenyut nyeri di bagian bibir.


“Astaga, bibirmu berdarah. Gia kita harus mengobati lukamu. Aku benar-benar tidak sengaja. Maaf.” Sara melirik tajam lelaki yang masih bertahan di sana. “Ini semua gara-gara dirimu, kau benar-benar menyebalkan!”


“Ikut denganku sekarang atau aku membawa gadis ini juga bersamaku!” ucapnya merujuk pada Gia.


“Kau benar-benar sudah gila! Gia, maaf sepertinya aku harus pergi dulu.”

__ADS_1


“Sara, tapi–“ ucapnya terputus, Gia khawatir terjadi sesuatu pada Sara.


Lelaki itu menyeret Sara keluar dari menuju ke lobi.


Tak lama Lian datang. “Di mana Sara?” Baru saja selesai dengan panggilannya.


“Seorang lelaki membawanya pergi secara paksa, aku yakin Sara dalam bahaya ... Presdir, kau harus menyelamatkan Sara.”


“Lelaki?” Perhatian Lian mengarah keluar. Dari balik dinding kaca yang mengelilingi restoran itu, dia bisa melihat jelas wajah lelaki yang membawa Sara Lee pergi. “Oh ....”


“Apa? Oh? Hanya Oh kau bilang?” Gia tak habis pikir. “Presdir! Kenapa kau diam saja, seorang lelaki membawa pergi kekasihmu secara paksa, kenapa kau tidak melakukan sesuatu. Kenapa kau hanya diam dan melihat dari kejauhan? Ayo cepat selamatkan Sara Lee!” Gia geram karena Lian hanya diam.


“Kau ingin aku melakukan apa? Sementara tidak ada yang bisa aku lakukan ketika yang membawanya pergi lebih berhak atas hidup Sara.” Lian berucap santai, duduk di kursi menikmati sisa minumannya.


“M–maksudmu?” Gia semakin bingung.


“Lelaki itu adalah suaminya, aku tidak memiliki hak untuk menahan Sara Lee tetap berada di sini.”


Gia terpaku, pikirannya kosong. Masih berusaha keras mencoba mencerna ucapan Lian. “Ha? Jadi ... ka–kalian berdua selingkuh?” Gia semakin tak percaya.


“Selingkuh?” Lian menatap mata Gia, lekat. “Bagaimana bisa aku selingkuh dengan keponakanku sendiri? Sara Lee ... adalah keponakanku.”


Masih tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Lian, Gia tak bisa berkata. Antara sedih atau harus bahagia mendengar ucapan Lian yang mematahkan opininya.


“Jadi, selama ini aku telah salah sangka dengan mereka berdua?” batin Gia.


“Suaminya toxic. Tak jarang mereka bertengkar hingga membuat Sara Lee pergi meninggalkan rumah.”


“Jadi, apakah itu sebabnya sampai Sara harus tinggal di rumahmu?”


“Hmm, aku pernah menawarinya untuk tinggal di apartemen. Tapi dia bilang ... dia tidak membutuh semua itu. Dia hanya ingin ada seseorang di sampingnya yang bisa mendengar keluh kesahnya setiap hari.”


“Apa suaminya tidak tahu kalau Sara sedang hamil? Kenapa dia tega berbuat sekasah itu padanya?”


Lian melirik, menatap wajah Gia. “Jadi benar waktu itu kau menguping pembicaraanku?” tebaknya dengan benar.


“Bukan seperti itu, aku secara tidak sengaja mendengarnya waktu itu.” Entah mengapa rasanya sangat lega, Gia merasa senang mendengar bahwa Sara dan Lian tidak memiliki hubungan apa pun.


Merasa beruntung karena dia belum sempat meminum obat yang bisa menggugurkan kandungannya. “Lalu, kapan momen yang tepat untuk mengatakan pada Lian jika aku tengah mengandung anaknya? Aku yakin dia masih kesal padaku karena malam itu. Mungkin ... setelah urusan di sini selesai aku akan mengakui tentang kehamilan ini.” Batin Gia.


“Kenapa dengan bibirmu?” Lian baru sadar jika Gia terluka karena posisi duduknya berada di samping Gia. Tangannya menarik dagu Gia, memastikan lukanya.


Pipinya merona, dadanya berdebar. “Uhm, tidak apa-apa. Tadi saat Sara dan suaminya bertengkar ... dia tanpa sengaja mengenai wajahku.”


“Siapa, suaminya memukulmu?” Reaksi Lian sedikit kesal. Seolah tak rela Gia terluka karena lelaki sial itu.


“Bukan, tapi ... Sara.”


Lian menghela napas panjang, melegakan dada. “Ayo, kita kembali kamar. Aku akan mengobati lukamu.” Lian mengulurkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2