Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
36. Akhir Dari Perdebatan


__ADS_3

“Haruskah aku mengatakan lebih jelas lagi?” Lian terdiam sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kita akan bercerai setelah bayi ini lahir.”


“Kenapa?” Gia terkejut.


“Kenapa?” Lian mengulangi ucapannya. “Kau bertanya seolah-olah pernikahan ini sangat penting bagimu. Bukankah semuanya sudah jelas ... setelah melahirkan anak itu, aku akan menandatangani surat cerai untukmu. Sehingga kau bisa bebas dan kembali menemui Park Juan!”


“Bagaimana kau bisa mengatakan hal semudah itu? Apa sebenarnya yang ada di otakmu, Presdir?” Napasnya memburu, Gia tak bisa lagi menahan diri.


Setelah membuang sisa rokok, Lian melangkah masuk. Mengambil sesuatu dari laci nakas yang berada tepat di samping ranjang. “Bagaimana kau akan menjelaskan padaku mengenai obat ini?” Meletakkan botol tersebut di atas meja, tepat di depan Gia.


“Bagaimana Presdir bisa mendapatkan obat ini?” batin Gia.


“Kau tidak perlu pusing memikirkan dari mana aku mendapatkan obat ini. Yang pasti ... aku menemukan botol ini di kamarmu.” Tatapan Lian menajam.


“Iya, aku memang membelinya. Aku sengaja membeli obat itu, tapi aku tidak meminum obatnya,” jelas Gia.


“Kenapa kau membeli obat ini?” Suara Lian semakin dalam, penuh rasa kekecewaan yang teramat.


“Karena aku bingung pada saat itu. Aku pikir kau akan menikahi Sara. Laku bagaimana denganku?”


Pffttt! Lian terkekeh mendengar penjelasan dari Gia. “Sebejjat itukah aku dimatamu? Kau pikir ketika aku menghamili kekasihku aku akan berhubungan dengan perempuan lain? Jika apa yang kau pikirkan adalah benar, katakanlah Sara adalah kekasihku ... aku tidak mungkin mendekatimu, Gia!”


“Aku tidak tahu, aku benar-benar bingung saat itu karena kau tidak pernah menjelaskan bahwa Sara Lee bukan kekasihmu.”


“Karena bagiku itu bukan hal yang penting, perasaanmu padaku itulah yang terpenting bagiku. Aku tidak habis pikir denganmu. Sepertinya aku terlalu buruk di pikiranmu, Gia. Kau takut aku tidak akan bertanggung jawab? Kau takut aku akan lari? Aku bahkan pernah menawarkan diriku padamu, sampai merendahkan diri ... tapi kau lebih memilih pergi dengan Juan malam itu.” Ucapannya terhenti sejenak, Lian menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku baru sadar, sebaik apa pun perlakuanku sepertinya aku terlihat buruk di matamu.”


“Tidak, bukan seperti itu,” sahut Gia. “Aku benar-benar bingung saat itu dan lagi ... obat itu, aku benar-benar tidak meminumnya.”


“Aku tanya padamu, Gia. Jika aku tidak mengatakan bahwa Sara adalah keponakanku ... apa kau akan tetap menggugurrkan bayi itu?”


Hening, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


“Gia, apa kau akan benar-benar merampas kehidupan dari anakku?” geram Lian.


Matanya memerah, berkaca. Air menetes membasahi pipi saat Gia memejamkan mata. “Maaf.”


Lian menghela napas panjang. “Apakah aku bisa mengatakan jika kau benar-benar membenciku ... sampai-sampai kau ingin membunuh darah dagingku?”


“Tidak! Aku harus bilang berapa kali padamu, aku tidak meminum obat itu.”


“Lalu bagaimana kau menjelaskan semua ini!” Lian melempar lembaran kertas hasil pemeriksaan dari dokter.


Gia terkejut atas perlakuan kasar dari Lian. Kertas mengenai wajahnya. Cepat-cepat Gia meraih kertas sebelum jatuh ke lantai. “A–apa ini?”


“Kau tidak buta, kan? Aku yakin kau bisa membacanya sendiri.” Lian melangkah ke sisi lain, membuka almari mengambil kemeja hitam.


Saat Gia sibuk membaca tulisan di kertas, Lian tengah melepas kemeja putih yang dia kenakan lalu menggantinya dengan yang baru.


“Tidak, ini tidak mungkin. Aku benar-benar tidak meminum obat itu.” Ingatan Gia terhenti sampai saat dia menunggu Lian berbincang dengan seseorang melalui ponsel malam itu. “Aku yakin setelah itu aku tidak terbangun dari tidurku, tapi bagaimana bisa hasil tes darah ini mengatakan yang berbeda?” Pikiran Gia dipenuhi dengan berbagai banyak pertanyaan.


“Aku akan memberimu waktu untuk menenangkan diri dan mulai berpikir bahwa apa yang telah kau lakukan itu salah. Kau membuatku kecewa!” Lian berdiri santai, tangannya sibuk mengancingkan kedua lengannya secara bergantian.

__ADS_1


“Presdir aku berkata jujur! Aku tidak meminum obat itu!”


“Lalu bagaimana caranya kau menjelaskan tentang hasil tes darahmu itu jika memang kau tidak meminum obatnya!” Geram, marah, kesal bercampur amarah, Lian mengambil botol obatnya dari meja lalu melempar keluar melalui pintu yang menghubungkan ke koridor.


Deg, deg, deg!


Dadanya berdebar kencang ketakutan, Gia tak pernah melihat Lian semarah itu.


Lian mendekat, membungkuk saat menarik dagu Gia secara kasar. “Dengar! Kali ini kau tidak akan bisa lepas. Aku akan terus mengawasi setiap gerak-gerikmu ... aku tidak akan membiarkanmu melukai calon anakku lagi!” Matanya menajam, terasa sampai menusuk jantung.


“Pres–dir?” Suaranya terbata, Gia sangat ketakutan.


“Jangan gunakan air mata atau kesedihanmu di depanku. Percuma, aku tidak akan goyah. Selama kau masih terikat dengan pernikahan ini ... bersikaplah baik, menurut dan patuh. Aku ingin anakku lahir dengan keadaan sehat.” Meski marah, Lian tak menolak jika beberapa kali bibir merah Gia di depan mata sangat menggoda.


Mungkin Jika hubungan mereka baik, entah sudah berbentuk seperti apa bibirnya. Bisa dipastikan Lian akan menyesap habis sampai tak tersisa tanpa melewatkan setiap inci dari tubuhnya.


“Aku pastikan akan memberikan yang terbaik untuk darah dagingku, jadi manfaatkan selagi kau bisa menikmati apa yang aku berikan padamu.” Lian melepaskan dagunya. “Kau tidak akan bisa keluar dari kamar ini, jadi ... bersikaplah baik dan jangan membuat kamar ini berantakan.”


“Ke mana kau akan pergi?” sahut Gia, khawatir setelah melihat Lian melangkah menuju pintu.


“Itu bukan urusanmu, cukup fokus dengan bayiku di dalam perutmu dan ingat ... jangan buat kekacauan!” Lian membuka pintu, melangkah pergi.


~♤~


Malam pertama yang sangat buruk.


Matanya sembab setelah menangis berjam-jam di kamar mandi. Gia mengenakan piama, melangkah menuju tempat tidur.


Gia bahkan tak menemukan ponselnya. “Jangan bilang kalau Lian menyita ponselku? Oh, ya ampun ... kenapa semuanya jadi rumit?”


Setelah mengeringkan rambut, Gia mencoba berbaring. Matanya terpejam tapi tak bisa terlelap. “Aku harus tidur, aku harus tidur,” racaunya.


Segala upaya dia lakukan, namun percuma. Gia tak bisa tidur. Akhirnya memutus bangun dan duduk di tepi ranjang. Perhatiannya tertuju pada kemeja putih milik Lian yang tergeletak di sofa.


Gia teringat, beberapa kali tak bisa tidur nyenyak dan selalu gelisah. Tetapi mencium aroma wangi dari tubuh Lian membuat pikirannya tenang.


Beranjak dari ranjang, mengambil kemeja Lian lalu membawanya ke dekapan. Gia tak kembali ke ranjang dan memilih duduk di sofa memeluk kemeja suaminya.


Aroma wangi tubuh Lian menguar tercium bebas, menyelusup ke rongga dada memenuhi pikiran. Aroma wangi sang suami membawa ketenangan tiada duanya. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang. Gia tak bisa lagi menahan, membiarkan tubuhnya berbaring di sofa.


Sementara itu di sisi lain, setelah menemui rekan kerjanya, Lian tak langsung kembali ke kamar. Memilih mendatangi mini bar yang terdapat di lantai paling atas hotel tempatnya singgah untuk menghabiskan waktu. Mencairkan pikirannya yang kusut.


“Silakan, Tuan.” Seorang bar tender meletakkan gelas berisi minuman. Mengingat Gia sedang hamil, Lian tak ingin mabuk berat. Meski begitu minuman yang dia pesan mengandung sepersekian alkohol.


“Hai, tampan. Kau datang sendirian?” Seorang wanita seksi mendatangi Lian. Merangkul manja, bergelayut sengaja menempelkan dadanya membuat Lian risi.


“Aku pikir kau punya mata dan bisa melihat,” jawab Lian ketus.


“Uuh, pikiranmu sedang suntuk ya. Ikutlah denganku ... aku memiliki beberapa teman cantik untuk mengembalikan moodmu, tampan.”


“Kau bisa menjauh sedikit?” Lian melirik, menatap sinis. “Aku benci mencium aroma tubuhmu!”

__ADS_1


“Hahaha, aku menyukai lelaki dingin sepertimu. Kau tahu ... kau justru membuat semakin bersemangat.”


Lian menepis kasar tangannya dari bahu, mengeluarkan uang untuk membayar minuman. Kemudian mengeluarkan beberapa lembar lagi, meletakkannya di meja tepat di depan wanita itu. “Ini tips untukmu. Terima kasih karena sudah membuatku semakin muak!” Lian melangkah pergi


“Hah, dia bilang apa? Haha ... aku tidak menyangka masih bisa menemui lelaki dingin sepertinya. Dia benar-benar sangat langka. Hei tampan, terima kasih tipsnya.”


Ting!


Pintu lift terbuka, Lian melangkah keluar menuju kamar. Hal yang tak terduga terjadi saat itu. Lian melepas kemeja hitam yang dia kenakan lalu membuangnya sembarangan.


“Menjijikkan!” gumamnya merujuk pada aroma parfum wanita dari bar yang menempel di kemejanya.


Terpaksa, Lian malam itu kembali ke kamar tanpa kemeja alias bertellanjang dada.


Ceklek!


Pintu terbuka, rasa kesal pada wanita di bar seketika menghilang saat mencium aroma wangi.


Langkahnya terhenti, Lian menerka, mencari tahu dari mana datangnya wangi itu.


Bukan hanya aroma dari tubuhnya saja, kamar yang ditinggali oleh Lian sebelumnya kini dipenuhi aroma lain. Aroma wangi yang tak asing. Feromon kuat dari seorang alpa miliknya bercampur dengan aroma dari tubuh Gia menciptakan wangi yang sangat luar biasa.


Perhatian Lian tertuju ke tubuh mungil istrinya yang terbaring di sofa. Perlahan kakinya bergerak mendekat. “Apa yang kau lakukan dengan memeluk kemejaku?” ucapnya lirih.


Meski masih kecewa dan marah, Lian mengangkat tubuhnya membawa Gia ke ranjang.


Panas, itulah yang dirasakan Lian ketika telapak tangan Gia menyentuh dada. Lian mengambil kemeja yang terlepas dari pelukan istrinya. Menutupi sebagian tubuh Gia dengan selimut.


Tak langsung beranjak pergi, Lian sesaat menatap wajah Gia. Ekspresinya sangat berbeda ketika menatap istrinya terlelap. “Apa aku terlalu keras padamu?”


Ngh~ Lenguh Gia, seperti mencari sesuatu dalam mimpi. Tangannya meraba, terhenti saat mendapati tangan Lian.


Tak ada penolakan, Lian membiarkan Gia menarik tangannya ke dalam dekapan. “Bagaimana caranya menghilangkan rasa kecewaku padamu, Gia?” Tak lama setelah itu, Lian menarik tangannya. Melangkah menuju kamar mandi.


Hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang, bahkan masih telanjjang dada, Lian keluar dari kamar mandi.


Ugh! Ngh!


Perhatian Lian tertuju ke Gia. Tidurnya tidak nyenyak sangat gelisah. Seperti di hantui mimpi buruk, Gia terus berulah. Selimut sampai terlepas dan jatuh ke lantai.


Lian akhirnya menyadari sesuatu, matanya melirik kemeja miliknya. Di mana kemeja itu sebelumnya berada dalam dekapan sang istri.


Umh! Mmh!


Lian duduk di tepi ranjang, sengaja mendekati istrinya. Sesuai dugaan, dalam sekejap Gia tak lagi melenguh. Lian tersenyum sinis. “Apa ini? Kau hanya bisa tidur nyenyak saat berada didekat-Ku?” tebaknya.


Tetapi anehnya Gia bisa terlelap saat Lian belum kembali ke kamar.


Sekali lagi perhatian Lian tertuju pada kemeja putih miliknya. Kemeja kotor yang sebelumnya digunakan untuk pemberkatan pernikahan. “Tidak mungkin, jangan bilang kau hanya bisa tidur nyenyak jika mencium aroma tubuhku?” gumam Lian tak percaya.


Deg!

__ADS_1


Lian terkejut melihat Gia tiba-tiba meringkuk, tidur di atas pangkuan memeluk pinggangnya.


__ADS_2