Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
26. Penolakan


__ADS_3

“Dasar mesum!!!”


Itulah pesan terakhir yang di kirim oleh Gia sebelum akhirnya memilih mematikan ponsel karena tak sanggup lagi menghadapi seperti apa mesumnya Lian.


Sementara Lian justru terkekeh senang karena setidaknya hubungan di antara mereka sedikit membaik.


~♤~


“Yuuhuuuuu akhirnya kau kembali kerja lagi, Gia. Aku sangat merindukanmu. Rencana akhir minggu ini ingin menjengukmu ke desa tapi dengar-dengar dari Tuan Lee kau akan kembali bekerja lagi di sini.” Jenni menyambut bahagia kembalinya Gia.


“Gara-gara kau, aku jadi suntuk di tempat kerja karena tidak ada yang bisa aku kerjai lagi.” Eichi memeluk Gia dari samping. Biasanya Eichi pasti menggoda Lian dan membuatnya cemburu tapi karena tidak ada Gia sehingga tak ada bahan candaan.


Ghm! Suara deheman seorang lelaki yang sangat tidak asing di telinga. Lian berdiri di belakang mereka bertiga, menatap kesal Eichi karena masih memeluk Gia. “Apa yang sedang kau lakukan?”


“Tuan Lee?” sapa Gia.


Lee tersenyum. “Selamat datang kembali, Nona.”


“Uhm, terima kasih.”


Perhatian Lee tertuju ke Eichi. “Eichi, Tuan Lian meminta kau menyiapkan berkas yang beliau minta.”


“Oke, semuanya sudah siap. Apa Presdir sudah datang ... aku akan mengantar ke ruangannya.”


“Beliau hari ini tidak masuk kerja karena masih harus istirahat.”


Gia tertunduk, merasa bersalah.


“Apa Presdir sakit?” Eichi pemasaran. “Kenapa dia harus istirahat ... perasaan kemarin dia juga tidak datang ke kantor,” gumam Eichi.


“Nona?” sahut Lee.


“Iya, Tuan Lee. Ada yang bisa aku bantu?”


“Tuan Lian meminta Anda mengantar berkasnya ke apartemen.”


“Aku?” Gia terkejut.


“Iya.”


“Berkas?”


“ Iya, Nona. Berkasnya ada pada Eichi, kau bisa minta padanya nanti.”


“E, tapi ... ke–kenapa harus aku?” Gia ragu.


“Karena Presdir sendiri yang meminta Anda untuk mengantar berkasnya.”


Gia terdiam, memikirkan bagaimana nanti akan bertemu dengan Lian setelah tragedi pesan semalam.


~♤~


“Bagaimana ini?” gumam Gia. Berdiri di depan pintu apartemen Lian sejak beberapa menit yang lalu.


Sementara itu di dalam, Lian tengah berdiri menikmati minuman kaleng sembari menatap layar interkom. Di mana di sana menampakkan wajah Gia yang terlihat bingung.


“Apa yang sedang dia lakukan?” Pffftt! Lian terkekeh melihat kepanikan di wajah Gia. “Apa yang membuat dia begitu takut masuk ke apartemenku?”


Lian mendekati pintu, membuka secara tak sabar hingga Gia yang ternyata juga tengah memegang hendel pintu dari luar ikut terseret.


“Astaga!”


Brugh!


Gia membentur tubuh Lian, berkas di tangan berserakan di lantai.


Bibirnya tersenyum, Lian justru sengaja memeluk pinggangnya. “Aku tahu kau sangat merindukanku,” ucapnya membuat Gia malu hingga merona.


“Maaf!” Cepat-cepat Gia melepaskan diri, menjauh. Segera membereskan lembaran kertas yang berserakan.


“Kenapa denganmu?” Lian membantu merapikan berkasnya. “Kau terlihat sangat panik.”


“Tidak, itu hanya perasaanmu, Presdir.”


Mereka berjalan menuju meja. Lian membuka kulkas, mengambil satu minuman kaleng. Setelah membuka, Lian memberikan minuman itu pada Gia.


“Minumlah, kau pasti haus.”


“Tidak perlu, aku datang untuk mengantar ini. Aku harus kembali ke kantor sekarang.”

__ADS_1


“Siapa yang mengizinkanmu kembali ke kantor,” sahut Lian.


“Maaf, Presdir. Tapi aku banyak pekerjaan.”


“Aku akan menyuruh orang untuk mengurus pekerjaanmu nanti.”


“Tapi itu tanggung jawabku!” Gia tak terima, dia takut Lian akan melakukan sesuatu padanya.


“Lalu bagaimana denganku?” Kedua alisnya terangkat. “Bukankah kau harus bertanggung jawab mengurusku sekarang, karena aku sakit setelah makan sup pedas yang kau siapkan.”


Ghm! Gia berdehem gugup. Sialnya Lian sakit memang karena dirinya.


“Oke, kau bisa membuatkanku sarapan? Aku harus minum obat.” Setelah berucap, Lian melangkah pergi menuju ke taman belakang.


Huuft! “Menyebalkan!” umpat Gia dalam hati.


Meski kesal, Gia tetap melayani Lian. Selain karena tigas, dia juga merasa bersalah telah membuat Lian sakit.


“Apa yang kau masak?” Datang secara tiba-tiba, masih mengenakan handuk yang hanya menutupi pinggang ke bawah, Lian memeluk Gia dari belakang.


“Astaga Presdir!” Gia terkejut, hendak menghindar dengan mendorong dada Lian tapi lelaki itu sama sekali tak memberinya kesempatan. “Presdir, lepas!”


“Tidak mau!” Lian masih memeluknya dari belakang, menyimpan wajah di pertengahan antara leher dan bahu. Membiarkan kemeja yang dikenakan Gia ikut basah karena air sisa mandi. “Aku merindukanmu,” ucapnya lirih. Menghirup aroma wangi tubuhnya.


“Presdir, aku di sini sedang bekerja. Kenapa kau melakukan ini padaku?” Memutar tubuhnya, menghadap Lian. “Bukankah kita sudah sepakat kalau tidak akan saling mengenal lagi?”


Perlahan Lian melepaskan pelukannya. Menatap lekat Gia. “Itu keinginanmu, tidak berlaku untukku.”


Kesal, merasa percuma berdebat dengan Lian. Gia kemudian menyiapkan makanan untuk Lian.


“Kenapa kau tidak memintaku bertanggung jawab atas apa yang terjadi malam itu?” Ucapan Lian membuat Gia terpaku sesaat.


“Tanggung jawab untuk apa?”


“Untuk malam yang kita lalui bersama.”


“Lucu, kau ingin bertanggung jawab karena telah meniduriku malam itu? Sementara kekasihmu saat ini sedang hamil?” gumam Gia dalam hati. “Makananmu sudah siap.” Gia mengalihkan pembicaraan. Meletakkan piring ke meja, melepas celemek.


“Kau mau ke mana?” Tatapan Lian menajam.


“Makanan Anda sudah siap, Presdir. Saya harus kembali ke kantor. Permisi!” Mengambil tas, melangkah menuju pintu.


“Presdir!” geram Gia. Menatap tajam mata Lian yang jauh lebih tinggi. Napasnya memburu, menahan kesal. Tapi sialnya penampilan Lian yang bertelanjang dada ditambah rambut berantakan dan basar menutupi mata membuat Gia merona. Seketika, memalingkan wajah karena tak ingin menjadi semakin lemah.


“Lihat aku!” Satu tangannya bertahan di tembok tepat di samping kepala Gia, satunya lagi masih mencengkeram lengannya. “Gia!” geramnya.


Patuh, Gia mengalihkan pandangannya ke Lian. Tatapan kesal, sorot mata tajam yang mampu membuat Lian terdiam.


“Kau masih membenciku?”


“Ya! Bukan hanya masih ... tapi sangat-sangat membencimu Presdir!” Hah, hah .... Gia menghela napas kasar. “Aku kembali karena ingin menyelesaikan masa kerjaku, jadi aku mohon ... berhenti menggangguku. Begitu juga sebaliknya!” Gia menepis tangan Lian kasar, melangkah keluar dari apartemen.


Lian hanya diam, masih di tempat semula. Mencerna ucapan Gia yang membuatnya semakin menggebu ingin mengejarnya. Ekspresi yang semula datar langsung berubah semringah tapi penuh misteri. Cih! “Kau pikir, ucapanmu mampu mempengaruhi pikiranku?” Perhatian Oh Lian beralih ke pintu. “Tidak, Gia. Kau justru semakin membuatku bersemangat ingin membuatmu kembali padaku.”


~♤~


“Yeeeee, lanjuuutttt! Kita nyanyi sampai besok pagi!” seru Jenni.


Mereka bertiga menghabiskan waktu di tempat karaoke, kebetulan besok juga hari libur.


“Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” Eichi mendekati Gia yang tengah melamun. Membiarkan Jenni asyik dengan sendirinya.


“Tidak apa, aku hanya sedang tidak mood.” Gia memijat keningnya.


“Bagaimana hubunganmu dengan Presdir?”


“Jangan membicarakan lelaki itu lagi!” sahut Gia kesal.


“Kenapa, bukankah hubungan kalian baik-baik saja sebelumnya?” Eichi penasaran.


“Dengar Eichi, hah entahlah ... dari mana aku harus bercerita. Tapi asal kau tahu, Presdir memiliki seorang kekasih dan sekarang kekasihnya sedang hamil.”


Eichi terdiam sesaat. “Demi apa!”


“Demi dewa!” sahut Gia.


Hahahahahha .... Eichi tertawa terbahak-bahak.


“Hei, ayooo kemarilah. Kita bersenang-senang. Kenapa kalian mengobrol berdua di sana!” Jenni mulai mabuk.

__ADS_1


Eichi meninggalkan Gia dan bergabung dengan Jenni. Menyanyi bersama.


Pintu terbuka dari luar, Gia menoleh saat Park Juan masuk ke dalam.


“Juan?”


“Hei, bagaimana kabarmu?” Park Juan duduk di sampingnya.


Dari kejauhan, Eichi mengawasi. Mengambil ponsel untuk mengabadikan momen kedekatan mereka. Tak lupa Eichi lalu mengirim foto mereka ke Lian.


Di apartemen, Lian ternyata sedang berada di tempat gym.


Sibuk mengangkat beban berat, mencari keringat untuk mengalihkan pikirannya dari Gia. Tetapi ponselnya yang bergetar merusak konsentrasi.


Dreeet!


Lian mengambil ponselnya, memeriksa pesan masuk dari Eichi.


Matanya terbelalak melihat foto Gia berduaan dengan Juan di tempat gelap, ruangan karaoke.


Niat hati tak ingin peduli dengan foto tersebut tapi pikirannya semakin dibuat tak karuan.


Sial! Umpatnya, meremas ponsel sembari melangkah pergi.


Lian bahkan tak peduli dengan penampilannya yang masih mengenakan pakaian olah raga. Hanya menggunakan jaket dan penutup kepala dia mengemudikan mobilnya menuju tempat di mana Gia berada.


“Awasi dia, jika sampai lelaki itu berani menyentuh Gia segera hubungi aku!” Isi pesan dari Lian untuk Eichi.


Lian sebenarnya ingin sekali masuk dan menyeret Gia keluar dari tempat itu tapi dia yakin hal itu akan membuat Gia semakin membenci dirinya.


Akhirnya Lian memilih keluar dari mobil, menikmati rokok sambil bersandar di sana. Penampilannya membuat semua kaum hawa tak bisa berpaling. Meski hanya mengenakan celana trening serta jaket dengan rambut yang basah karena keringat membuatnya semakin terlihat tampan. Lumayan lama, sampai tidak sadar Lian telah menghabiskan satu bungkus rokok.


Hah! “Sial, berapa lama lagi aku harus menunggu.” Jika bukan karena Gia, Lian tak sudi membuang waktu untuk menunggu.


Lian terpaku saat melihat Gia dan gengnya keluar dari tempat karaoke, tak lupa Park Juan yang mendapat perhatian khusus dari Lian.


“Daaah, sampai bertemu Senin depan,” seru Jenni.


Park Juan membuka pintu mobil. “Silakan, aku akan mengantarmu pulang.”


Ragu, tapi Gia akhirnya masuk ke dalam mobil.


Eichi pada saat itu menyadari keberadaan Lian, tapi mendapat kode dari atasannya yang jauh di sana dengan jari yang di letakkan di bibir.


Ssssht! Lian mengingat Eichi agar tetap diam.


Vrooooom!


Tak lama mobil yang dikendarai Park Juan melaju menuju ke jalan raya.


Oh Lian mengikuti dari belakang sampai ke rumah, tempat tinggal Gia.


Sengaja tak menemui, Lian hanya diam duduk di dalam mobil mengawasi.


Park Juan membuka pintu mobil, mempersilakan Gia turun. “Kau yakin tidak apa-apa aku tinggal sendiri?” Juan merasa tak tega meninggalkan Gia dalam keadaan murung.


“Uhm, aku baik-baik saja. Kau pulanglah.”


“Tapi, kau sejak tadi selalu murung. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini.”


“Juan, aku baik-baik saja. Sungguh.”


“Apa ini mengenai Lian?” tanya Juan penasaran.


Gia hanya diam.


“Apa yang dia lakukan padamu?”


“Tidak ada, aku ... hanya terlalu berharap padanya.” Lesu, Gia kehilangan semangat.


“Gia.” Juan meraih tangannya. “Lupakan Lian ....”


“He?”


“Lupakan lelaki itu dan kembalilah padaku.” Juan menarik tangan Gia, lalu mencium bibirnya.


Deg!


Di ujung jalan sana, Lian hanya bisa diam menyaksikan pemandangan yang sangat menyakitkan dari dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2