Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
43. Akhir


__ADS_3

Tuuuut ....


Pffft! Lian terkekeh, menjauhkan ponsel dari telinga. “Dia tidak mengangkat panggilan dariku.”


“Maaf, tadi Nyonya juga sempat mengancam kalau beliau tidak mau dan minum sebelum melihat Anda.”


“Benarkah dia berkata seperti itu?”


Lee menganggukkan kepala.


“Baiklah, aku akan mengurusnya nanti. Apakah ayah ada di kamarnya?”


“Iya, Tuan. Beliau sedang membaca buku. Tadi siang, Tuan Lee Dae Hyun datang untuk menjenguk.”


Lian terdiam sesaat. “Aku mengerti, pergilah ... aku akan menemui ayah.”


~♤~


Tok, tok, tok!


Ceklek!


“Aku pikir kau sudah lupa dengan Ayahmu,” sahut Tuan Oh tanpa menatap wajah anaknya. “Di mana istrimu?”


“Uhm, dia ... di rumah ibu mertua.”


“Kau ini bodoh atau apa!” Tuan Oh beranjak berdiri. Memukuli Lian seperti anak kecil. “Kenapa kau tidak membawa kembali istrimu ... kenapa kau menikah diam-diam di Manila, kau membuat ayah malu. Sebagai orang yang terpandang seharusnya pernikahanmu dilakukan secara meriah. Dasar berandal!”


Ah! Aduh! “Ayah hentikan! Aku melakukan itu karena ingin memastikan sesuatu.”


“Ayah sudah mendengar semuanya dari Tuan Lee dan juga pamanmu.”


Ekspresi Lian berubah serius. “Paman Lee Dae Hyun? Apa yang dia katakan?”


“Selain membicarakan perihal bisnis ... dia juga mengatakan pada Ayah kalau dia menemukan obat aneh di tas putrinya. Kebetulan saat itu kau meminta Tuan Lee untuk memeriksa kandungan obat, bukan? Ayah menceritakan hal itu pada pamanmu ... lalu dia teringat dengan obat yang sama yang dimiliki Lee Sara. Awalnya dia pikir Sara akan menggunakan obat itu untuk menggugurrkan kandungannya, tapi sepertinya dia menggunakan itu untuk istrimu.”


Deg!


“S–sara?” Lian terpaku, tidak pernah mengira sebelumnya jika keponakan yang paling dia sayangi akan berbuat hal sejahat itu. “Tidak, Sara tidak mungkin melakukan itu.” Matanya merah, berkaca. Antara sedih dan semosi menjadi satu. Segera Lian mengambil ponsel untuk menghubungi Sara.


Pantas saja, akhir-akhir ini Sara tak pernah menghubungi dirinya sejak malam di restoran itu. Bahkan sampai saat ini Lian tak mendengar kabar tentang Sara.


Lian menjauh ke sisi lain, sibuk dengan ponselnya. “Tidak!” gumamnya. “Sara, angkat!” Lian menggeram.


“Percuma,” sahut Tuan Oh. “Suaminya membawa Sara pergi ke Luar Negeri. Pamanmu yang memberitahu Ayah tadi.”


“Paman ... Lee Dae Hyun!” Lian meres ponselnya.


“Tenangkan dirimu, kau baru saja menemui dokter. Ingatlah apa yang dikatakan dokter Cha padamu. Lee Dae Hyun akan mengurus Sara. Kau lebih fokus saja pada istrimu.”


Deg!


Perhatian Lian tertuju ke jam yang melingkar di tangan. “Gia?” Akhirnya sadar, telah meninggalkan Gia sampai tengah malam. “Sial!” umpatnya setelah ingat bahwa Gia tak bisa tidur tanpa dirinya.


“Mau ke mana kau, ini sudah tengah malam.”


“Menjemput istriku!” Lian berlari keluar menuju mobilnya.


Tuan Oh tersenyum senang. “Akhirnya ... setelah sekian tahun putraku menemukan kehidupannya.”


~♤~


Tuuuuttt!


Berkali-kali Lian menghubungi Gia, tapi tak ada jawaban. Mobil yang dia kendarai melesat kencang menuju ke desa.


Sementara di sisi lain, Gia tak bisa tidur. Gelisah mencari apa pun untuk bisa membuatnya tidur. Kamarnya berantakan, penuh dengan kemeja milik Lian tapi tak satu pun bisa membantunya terlelap.


“Ah, ini menyebalkan!” Gia duduk di ranjang, membuang selimut. Mengenakan gaun malam warna putih tulang tanpa kardigan, dia melangkah menuju ke dapur. “Aku benar-benar lapar.”


Sibuk menyiapkan susu hangat dan camilan untuk mengiri perut. Beruntung Luciella paham jika ibu hamil pasti akan kelaparan tengah malam, belum lagi Gia sengaja tidak makan karena Lian.


Klik!


Lampu dapur tiba-tiba menyala.


“Ibuuu ... matikan lampunya.”


Tak ada sahutan, Gia masih fokus menunggu air mendidih. “Ibu, aku akan mengurus sendiri semuanya. Aku hanya membuat susu hangat, matikan saja lampunya.”


Dari arah belakang, Lian memeluk istrinya. Sengaja tak bersuara karena ingin memberi kejutan. Dan itu sangat berhasil.


Gia nyaris menjerit jika Lian tak cepat-cepat membungkam mulutnya dengan tangan.


Ssssshhh! “Ini aku,” bisiknya lembut. Lian menghadiahi kecupan di leher.


“Kau!” Gia memutar tubuhnya ke belakang bersamaan saat Lian mengangkat tubuhnya duduk di meja tepat di samping kompor yang masih menyala.


Pahanya dipaksa membuka karena Lian menempatkan diri di sela keduanya. “Aku merindukanmu.” Bibirnya mengecup dahi lalu pipi tapi saat ingin mencium bibirnya, Gia mendorong dada Lian. “Kenapa?” Lian protes.


“Kenapa kau datang? Aku tidak membutuhkanmu!” Hendak turun dari meja tapi Lian menahannya.


“Uhmm, kau marah?”


“Entah!” Bola matanya berputar malas, Gia enggan menatap wajah Lian.


Lian meraih tangan kedua tangannya, menghadiahi kecupan di punggung tangan berkali-kali.


“Kau pikir akan mendapatkan maaf dariku setelah mencium tanganku?” sahut Gia.

__ADS_1


“Maaf ... aku tidak peduli kau akan memaafkanku atau tidak. Tapi ... aku meminta maaf untuk segalanya.”


Gia terdiam, menatap wajah sendu dan mata merah sang suami. “Apa yang terjadi?”


Hmmm .... “Tidak ada, aku hanya merindukanmu.”


Fufuuuuuu! Suara teko, tanda air telah mendidih.


“Awas, airnya sudah mendidih.”


Lian lagi-lagi menahan tubuh Gia. “Biarkan aku yang mengurus. Kau duduk saja di sini. Oke?”


Setelah mematikan kompor, Lian membuatkan susu hangat. Tak hanya itu, dia juga membuat sesuatu untuk istrinya. Setelah melepas jas dan meletakkannya di kursi, Lian mulai sibuk sendiri.


“Apa yang sedang kau lakukan?” Gia heran melihat Lian cekatan meracik bumbu dan yang lain.


“Aku akan membuatkan makanan untukmu. Tuan Lee bilang kau mogok makan dan minum karena aku?”


“Entah!”


Pffftttt!


“Jangan membuatku gemas dengan sikapmu, Gia. Aku belum selesai membuat makanan untukmu. Jika kau menghancurkan pertahananku ... aku bisa membawamu ke ranjang sekarang.”


Seolah tak mendengar ucapan suaminya, Gia lebih memilih menikmati anggur hijau yang di sampingnya.


Suara anggur hijau saat dikunyah sungguh menggoda. Luan melirik, tersenyum melihat tingkah istrinya.


Meletakkan pisau, Lian mengambil jas dari kursi untuk menutupi tubuh Gia. “Kau pasti kedinginan.” Sebelum kembali sibuk dengan perbumbuan, Lian sempat menyambar mulut Gia. Mengambil alih anggur yang baru saja dilahap.


Gia membulatkan mata, terkejut.


“Terima kasih untuk anggurnya. Tetap berada di tempatmu sampai aku mengizinkanmu turun.”


Setelah beberapa menit, makanan pun jadi. Lian meletakkannya di meja. Kembali menghampiri Gia, mengangkat tubuhnya.”


“Ayo.”


“Aku bisa jalan sendiri!”


“Aku tidak akan membiarkan hal itu.” Lian mengecup bibirnya, menggendong Gia membawanya ke meja makan.


Gia terdiam ketika Lian tak membiarkan dirinya duduk sendiri.


“Aku akan menjadi kursimu malam ini, aku juga akan menjadi sendokmu. Tuan Lee bilang kau hanya mau makan jika aku menyuapimu.”


“Tidak! Aku tidak bilang seperti itu pada Tuan Lee!” sahut Gia.


Ssshhhhh!


“Jangan keras-keras. Ibu dan Demian bisa terbangun.”


“Sudah ada aku di sini, kau tidak butuh lagi jas. Aku penghangat alami untukmu.”


“Aku lapar!” Gia menoleh, menghindar saat Lian hendak mencium bibirnya.


“Kau masih marah?”


“Pikir saja sendiri.”


Uhmmm. “Baiklah ... lalu di mana kau menyimpan bunga yang aku kirim untukmu?”


“Bunga? Oh ... lupa, aku sudah membuangnya ke tong sampah di belakang.”


Pffffttt! Bukannya marah, Lian justru terkekeh senang.


“Apanya yang lucu?”


“Kau,” sahut Lian.


“Aku tidak sedang melucu!”


Lian mengambil garpu, memenuhi mulut Gia dengan makanan.


Brilian, dalam sekejap matanya berbinar setelah merasakan makanan yang dibuat oleh Lian.


“Enak?” Lian tersenyum, melihat ekspresi istrinya.


Gia hanya diam, tak mau mengakui. Mulutnya terus terbuka setiap Lian menyuapi.


“Sepertinya kau tidak membutuhkan pembantu di rumah untuk memasak. Karena aku senantiasa akan memasak untukmu.”


“Siapa bilang, aku butuh seseorang untuk memasak setiap pagi. Ini saja aku terpaksa memakannya karena tak ada makanan lain!”


Pfffttt! “Gia ... aku sangat senang bisa memilikimu sekarang. Kita lupakan masa lalu, meski Juan adalah cinta pertamamu ... sekarang akulah duniamu.”


Gia terdiam, menatap Lian dengan lekat. Bibirnya masih penuh dengan makanan bahkan sisa caos terlihat menempel di sekitar bibir.


“Aku minta maaf untuk semuanya, jika aku melakukan banyak dosa di masa lalu, kemarin dan beberapa jam yang lalu ... aku pastikan di kehidupan mendatang aku akan memperlakukanmu dengan baik.”


“Kau ini bicara apa ... membuatku merinding. Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu? Kau membuat selera makanku hilang.”


“Aku akan membuatmu menghabiskan makanannya, tapi katakan padaku jika kau tidak marah lagi, Gia. Jujur aku merasa bersalah ... kemarahanku selama ini karena aku takut kehilanganmu.”


“Marah? Kau yakin menanyakan hal itu padaku ... bukankah justru kau yang masih marah dan tidak percaya karena obat itu?”


“Aku percaya padamu.”


Ekspresi wajahnya terpaku, Gia tak percaya dengan apa yang Lian ucapkan.

__ADS_1


“Sara Lee ... dia yang melakukan ini padamu.”


“S–sara Lee?” Gia hampir tidak percaya tapi saat mengingat kembali terakhir bertemu dengannya di restoran, Gia baru teringat jika Sara memesan makanan khusus untuknya. “Sara? Mana mungkin ... t–tapi kenapa?”


“Aku belum tahu pasti ... tapi, ayah mengetahui semua itu dari pamanku.”


“Ayahmu?”


Hmmm. “Kita besok akan kembali ke kota. Ayah ingin bertemu denganmu.”


“Tapi–“


“Dia ingin pernikahan dirayakan.” Lian mengecup keningnya.


“Bukankah kau bilang pernikahan kita harus disembunyikan?”


“Untuk apa disembunyikan lagi, karena aku sudah tahu siapa orang yang membuatmu celaka. Sekarang kau hanya perlu fokus dengan bayi dan juga sumimu ini. Untuk Sara, aku akan mengurusnya nanti.” Tangannya mengusap lembut perut Gia.


“Tapi ... kenapa Sara melakukan semua ini?”


“Itu tidak penting lagi, Gia. Fokuslah padaku, karena kau sudah kenyang ... sekarang giliranmu memberiku makan.”


“Kau lapar?”


“Sangat, sangat lapar.” Tatapan Lian mulai sendu penuh hasrat.


“Aku akan menyuapimu.”


“Tapi aku tidak ingin makan itu.”


“Lalu, kau ingin makan apa? Di desa jarang sekali kedai makanan buka sampai tengah malam, beda dengan di kota.”


“Siapa bilang aku ingin makan di kedai ... aku ingin makan sesuatu yang lain.” Sejak tadi perhatian Lian tak pernah lepas dari belahan dada Gia yang terlihat jelas.


Belum lagi gaun malam yang dia kenakan sangat minim, sepaha dan tak memiliki lengan.


Kepalanya tunduk, Gia menatap dadanya sendiri. “Kenapa?” Tangannya menyilang di depan dada. “Ah, jangan bilang kalau–“


“Iya, aku sangat lapar dan ingin memakan tubuhmu.” Lian menggendong tubuhnya, membawa Gia ke kamar.


“Pelan-pelan, jangan berisik. Ibu dan Demian sudah tidur. Mereka bisa terbangun.” Gia membuka pintu karena kedua tangan Lian digunakan untuk mengangkat tubuh Gia.


“Aku tidak peduli, mereka pasti paham kenapa kita berisik di tengah malam.”


“Astaga!” Gia memukul dadanya.


Lian meletakkan tubuhnya di ranjang, setelah melepas kemeja perhatiannya tertuju ke bunga yang berada di vas atas meja. “Hmmm, kau bilang sudah membuang bunganya?”


“E, entah. Aku juga tidak tahu kenapa bunga itu ada di sana. Mungkin ibu tadi sore mengambilnya dari tong sampah.”


Pffft! “Sepertinya aku tidak hanya akan memakanmu tapi ... kau juga perlu hukuman dariku.


Semalaman Gia dibuat tak berdaya, entah berapa jam mereka melakukannya. Sampai Gia lelah hingga tertidur dan akhirnya terbangun lagi, Lian belum juga mencabut miliknya dari tubuh Gia.


~♤~


“Hati di jalan, menantu. Tolong jaga dengan baik.” Luviella mengantar kepergian putrinya sebelum kembali ke kota bersama suaminya.


“Pasti. Sore atau mungkin nanti siang, Tuan Lee akan menjemput kalian. Ayah sudah menyiapkan jamuan untuk pertemuan keluarga.”


“Baiklah, Ibu dan Demian akan datang nanti.”


“Jaga dirimu, kak!” seru Demian.


“Hah ... kau ini bicara apa, kakakmu hanya kembali ke kota. Anggap saja aku sudah mulai kerja kembali. Kau pikir Kakak akan pergi jauh ke luar negeri? Jaga ibu baik-baik, oke. Hubungi Kaka nanti saat Tuan Lee menjemput kalian.”


Lian mengemudian mobilnya perlahan menyusuri jalan raya.


“Gia, dengar. Karena semua selesai ... jadi kau tidak perlu lagi bekerja.”


“Kenapa? Aku tidak punya uang untuk membayar denda penalti dari perusahaanmu.”


Hahaha ....


Lian tertawa puas. “Itu hanya akal-akalan dariku. Aku sengaja membuatnya agar kau mau kembali bekerja.”


“Kau benar-benar– ..., entahlah aku tidak habis pikir denganmu.”


“Itulah sebabnya, jika di kehidupan yang akan datang kita dipertemukan lagi ... aku akan memulainya dengan baik. Aku akan membuat kenangan pertama kali kita bertemu sangat manis. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik, ingat kata-kataku Gia.”


“Iyaaa, suamiku ... aku akan mengingatnya!”


“Suamiku?” ucap Lian mengulangi kata-katanya.


“Hmm.”


“Ulangi lagi, aku ingin mendengarnya.


“Tidak mau!”


“Ayolah .... hahahaha.”


TINTIIIIIIIIIINNNNNNNN!!!!!!!


BRAAAAK SLARAAAAAK ....


DUAAAAARRR!!!


Sebuah truk besar menabrak mobil yang mereka kendarai.

__ADS_1


Baik Gia maupun Lian tak ada yang sadarkan diri, posisi mereka terbalik. Kaca remuk dan hampir 50% mobil rusak parah.


__ADS_2