
Lian semakin terkejut, melihat Gia membawa sebuah amplop yang tak asing. Lian yakin itu adalah amplop dari rumah sakit.
Niat hati ingin tak peduli seperti janjinya tapi bertemu dengan Gia di rumah sakit khusus kendungan bukankah itu sangat aneh?
“Tidak, k–kenapa aku harus bertemu dengan mereka di saat yang tidak tepat?” batin Gia. Meremas kertas dari dokter.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Pandangannya menyelidik, membuat Gia waspada.
“Pertanyaan macam apa itu?” sahut Sara. “Jelas dia datang ke sini pasti karena periksa.”
“Tapi–“
“Tempat ini bukan untuk periksa wanita hamil saja, kan? Kelainan lain di bagian rahim dan bagian kewanitaan lainnya juga bisa periksa di sini,” jelas Sara. “Kau ingat, dulu aku juga periksa di sini waktu menstruasiku tidak rutin.”
“Maaf, tapi sepertinya aku harus segera pergi.”
“Gia, tunggu!” seru Sara.
“Iya?”
“Kau pulang sendiri?”
“Uhm.” Gia menganggukkan kepala.
“Kalau begitu biarkan Lian mengantarmu pulang, ini sudah malam. Tidak bagus untuk seorang perempuan bepergian sendiri di malam hari.”
Gia melirik sekilas ke Lian. “Tapi–“
“Jangan menolak, lagi pula kau ini karyawan di perusahaan milik Lian. Sudah semestinya kau menjadi tanggung jawabnya, kan?”
Gia dan Lian hanya saling melempar pandang.
“Terima kasih, tapi kalian tidak perlu repot. Lagi pula kau juga membutuhkan Presdir di sampingmu.”
Hahahah .... Sara tertawa. “Santai saja, aku bisa menghubungi sopirku nanti saat pemeriksaan sudah selesai.”
“Tapi–“ Lagi-lagi ucapan Gia terhenti.
“Lian, ayo antar Gia pulang. Pastikan dia sampai di rumah dengan selamat.” Sara mengangkat kedua alisnya.
Tanpa membantah, Lian menuruti ucapan Sara. Berjalan menuju pintu tanpa berucap sepatah kata pun.
“Pergilah, jangan pedulikan aku.” Sara melambaikan tangannya.
“Apa yang sudah aku lakukan pada Sara? Dia tak seburuk yang aku bayangkan,” batin Gia. “Dia bahkan merelakan Lian mengantarku pulang.” Langkah Gia terhenti di lobi rumah sakit. “Kenapa aku merasa menjadi orang paling jahat di antara mereka. Apa yang harus aku lakukan?”
Tin!
Suara klakson mobil milik Lian mengejutkan Gia, membuatnya sadar dari lamunan.
“Masuklah, aku akan mengantarmu pulang,” ucap Lian dengan nada datar setelah membuka pintu.
“E, terima kasih, Presdir.”
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan di antara mereka, hening.
Tak bisa diungkiri bahwa Gia merasa ada yang hilang karena biasanya Lian selalu berulah menggoda dan membuatnya merona.
“Jika kau melepaskan tanganku ... maka aku akan berhenti mengejarmu.”
Ucapan Lian selalu melintas di benaknya.
“Sepertinya ... dia benar-benar menepati janjinya,” ucap Gia dalam hati.
__ADS_1
“Kau sudah makan?” tanya Lian seketika.
Gia terkejut, dadanya tiba-tiba berdebar kencang tak karuan.
“Jangan salah sangka, anggap saja ini tawaran dari atasanmu.”
Kenyataannya memang benar bahwa Lian adalah atasannya di tempat kerja.
“Tapi, maaf ... aku sedang tidak nafsu makan.” Gia sangat gugup.
“Oh.”
Jawaban Lian membuat Gia speechless. “Oh? Hanya itu?” batin Gia. “Tidak, lagi pula apa yang aku harapkan. Bodoh!”
Mungkin jika hubungan mereka baik, Lian akan memaksa dirinya untuk makan meski hilang selera.
Mobil berhenti di lampu merah.
Klotak!
Tanpa sengaja ponsel Gia jatuh tepat di sisi pertengahan. “Maaf.” Mengambil ponselnya.
Bersamaan dengan itu, Lian hendak mengambil sesuatu dari sana. Tapi tanpa sengaja tangan Lian justru menyentuh tangan Gia.
Deg!
Hening, tak ada satu pun dari mereka yang menghindar. Kedua tangan itu masih bersentuhan di sana.
Sangat canggung, bahkan perhatian keduanya tertuju ke depan. Tak ada satu dari mereka yang menoleh.
Sampai akhirnya, Gia sadar lalu menarik tangannya. “Maaf.” Meremas tangannya gelisah. “Aneh, kenapa denganku? Kenapa aku bisa merasa sangat tenang dan nyaman saat tangan kami bersentuhan,” batin Gia.
Lampu hijau menyala. Sekitar 200 meter setelahnya, Lian menghentikan mobil di sebuah restoran.
Di dalam, semua makanan telah tersaji. Semua makanan pilihan Lian yang menurutnya disukai Gia ada di meja.
Tapi tak ada satu pun yang di sentuh.
“Ada makanan lain yang kau inginkan? Aku akan memesannya untukmu. Jangan sampai kau pulang dengan perut kosong, aku tidak mau di cap sebagai atasan yang buruk karena tidak memperhatikan bawahannya.”
Gia hanya diam. “Ya, seharusnya memang seperti itu,” batinnya. Gia tak bisa berharap lebih atas sikap Lian. Tetapi tiba-tiba saja perutnya mual setelah aroma semua makanan bercampur jadi satu, tercium oleh hidungnya. Huck! Sebisa mungkin Gia tak menarik perhatian Lian. “Maaf, aku permisi ke belakang sebentar.”
Langkahnya cepat menuju ke toilet.
Brak!
Hueck!
Hueck!
Hah, hah, hah!
“Astaga, kenapa seperti ini rasanya? Aku benar-benar tersiksa.”
“Usia kandunganmu memasuki minggu ke dua.” Ucapan dokter kembali membayangi pikiran.
“Apa yang harus aku lakukan?”
~♤~
Tak lama, Gia kembali ke meja. Mendapati bahwa semua makanan yang sebelumnya tersaji di sana telah menghilang.
“Kau sepertinya benar-benar tidak selera makan, jadi aku meminta pelayan membersihkan mejanya. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”
__ADS_1
Sikap Lian benar-benar sangat dingin, memang ini yang Gia inginkan tapi kenapa justru membuat hatinya terluka?
“Entah kenapa aku merasa belum siap dengan sikap Lian yang dingin seperti ini? Aku benar-benar bodoh, aku tidak tahu lagi dengan jalan pikiranku yang selalu berubah-ubah.”
~♤~
“Nota pembayaran rumah sakit bisa kau klaim, perusahaan akan menanggung semua biaya yang kau gunakan untuk berobat,” ucap Lian, mereka hampir tiba di rumah Gia.
“Uhm, iya Presdir. Aku mengerti.”
“Kita sudah sampai, turunlah.”
Setelah melepas sabuk pengaman, Gia turun dari mobil. “Terima kasih, maaf sudah merepotkanmu. Sampaikan terima kasihku pada Nona Sara.”
Tanpa menoleh, Lian berucap, “Uhm, aku akan menyampaikan ucapan terima kasihmu. Ada lagi yang ingin kau sampaikan untuknya?”
“Tidak, Presdir. Hati-hati di jalan.”
Vrrrooooommm!
Seolah tak peduli, Lian menginjak pedal gas mobilnya. Mengawasi bayangan Gia yang terpantul dari sepion. “Ini, ‘kan yang kau inginkan?” gumam Lian.
Hick, hick!
Gia menangis, kedua lututnya lemas hingga memaksa dirinya berjongkok memeluk kedua kaki. Tangisnya tak mampu dia kendalikan.
Sesak rasanya, menyadari bahwa perasaannya pada Lian masih teramat besar bahkan semakin membesar.
Tetapi Gia tak memiliki kekuatan untuk berdiri di atas penderitaan wanita lain.
Hick! “Ini salahku, salahku kenapa terlalu mudah terperdaya.” Mengusap matanya yang basah secara kasar. “Jika aku mengakui Lian adalah ayah dari anak yang sedang kukandung, Sara pasti akan sakit hati. Lalu apa yang harus aku lakukan?”
~♤~
“Gia, berkas kemarin yang aku berikan padamu sudah selesai?” tanya Eichi.
“Uhm, sudah aku berikan pada Tuah Oh.”
“Baiklah terima kasih.” Eichi melangkah pergi.
Gia baru teringat kalau hari itu belum minum obat dan vitamin untuk kandungannya. Setelah mengambil obatnya dari tas, Gia segera menuju ke pantry.
Matanya sedikit sembab sisa tangisnya semalam.
Beberapa pil sudah ada di tangan, Gia mengambil gelas menuangkan air putih.
Memasukkan semua pil ke dalam mulut kemudian meneguk airnya.
Gluk, gluk, gluk!
Hah ....
“Obat apa yang kau minum?”
Deg!
Suara berat milik Oh Lian menggema di rongga telinga.
Matanya membulat, tangannya sibuk menyimpan bungkusan obat yang ada di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam saku.
Perlahan Gia memutar tubuhnya. “P–presdir?” Suaranya gugup.
Lelaki itu berdiri santai, kedua tangan bersedekap bersandar di gawang pintu. Matanya menyipit, mengamati gerak-gerik Gia yang mencurigakan.
__ADS_1