
“Oh Lian, apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Gia membulatkan mata setelah mendengar suara Sara Lee menggema di telinga.
Perlahan Oh Lian menegakkan punggungnya. Beruntung mereka berdiri membelakangi pintu, sehingga tubuh Lian bisa menghalangi Gia dari penglihatan Sara.
Matanya tertuju ke jari Gia yang tengah meremas gelisah. Oh Lian tersenyum, menikmati kepanikan yang sedang dirasakan oleh Gia. “Aku sedang membuat kopi, pergilah ke ruanganku terlebih dulu ... aku akan menyusul.”
“Cepatlah, jangan terlalu lama.” Sara menutup pintunya.
Gia mengambil napas lega. “Sial, sebelumnya aku selalu bekerja dengan nyaman. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?” gumamnya dalam hati.
“Berhenti mengumpat.” Lian mengusap ujung kepalanya kemudian melangkah pergi.
“Kenapa aku harus bertemu dengan manajer? Dia telah memorak-porandakan perasaanku!”
~♤~
Sebelum menemui Sara, Oh Lian sempat berpapasan dengan Tuan Oh di lorong.
“Tunggu!” seru Lian menghentikan langkahnya.
“Kau bicara denganku, manajer?”
“Di sini hanya ada kita berdua ... lalu kau pikir saat ini sedang bicara dengan siapa?”
“Uhm, manajer ... ada yang bisa aku bantu?”
“Dengarkan aku Tuan Oh, aku tahu apa yang kau lakukan di belakangku. Berhati-hatilah dengan apa yang sedang kau lakukan. Mungkin kau bisa membodohi Gia ... tapi tidak denganku. Aku bisa melihat semua yang telah kau lakukan. Sekali lagi aku peringatkan, jangan macam-macam dengan data perusahaan ini. Camkan itu!” Oh Lian melangkah pergi.
“Hah, sial! Dia pikir dia siapa berani mengancamku. Kita lihat ... siapa yang akan terlebih dulu dikeluarkan dari perusahaan ini! Cih!”
~♤~
“Kenapa lagi?” tanya Oh Lian, menarik kursi lalu duduk di sana.
Wajah Sara merengut, muram sejak sampai di tempat itu. “Aku akan keluar dari rumahmu!”
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa seperti terus ... sementara waktu aku akan pindah ke hotel.”
“Aku tidak mengizinkanmu!” sahut Lian.
“Kalau begitu bisakah kau fokus padaku? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau beberapa hari ini menghabiskan waktumu dengan wanita itu?”
“Sara Lee?”
“Dengar, hari ini kita ada janji bertemu–“
“Aku ingat!” sahut Oh Lian memotong pembicaraan.
__ADS_1
“Kalau kau ingat seharusnya kau tetap fokus padaku, kenapa tiba-tiba mengurusi kehidupannya? Kau berencana membawa perempuan itu pindah ke apartemenmu, bukan?”
“Sara rendahkan suaramu!” geram Lian. “Bagaimanapun juga kau tetap prioritasku saat ini.”
“Ingat Lian, kalau sampai kau menelantarkanku ... aku janji akan membuat perusahaanmu ini hancur.” Sara tak bisa menahan tangis, ketakutan akan sesuatu jika Lian memilih tak peduli lagi dengannya.
Oh Lian beranjak berdiri, menghampiri Sara lalu memeluknya. “Tenangkan dirimu, aku tidak mungkin meninggalkanmu.”
Menjelang sore, Gia tengah bersiap-siap untuk pulang.
“Apa yang mereka lakukan di dalam? Sejak tadi aku tidak melihat salah satu dari mereka keluar.” Perhatian Gia tertuju ke pintu ruang kerja milik Oh Lian.
Tak lama, pintu terbuka. Oh Lian dan Sara Lee melangkah keluar bersamaan.
Gia terdiam menatap kepergian mereka berdua, meski sempat sekilas melihat Oh Lian melirik kearahnya. Gia lebih tertarik ke tangan Oh Lian yang melingkar di pinggang Sara Lee.
Hah! Menghela napas panjang, Gia menyandarkan punggung ke kursi.
“Pulanglah ke apartemenku dan tunggu aku di sana.”
Ucapan Oh Lian melintas di benaknya. “Haruskah aku memenuhi keinginannya?”
Dreeet!
Gia mengambil ponselnya yang bergetar, membuka pesan masuk dari Oh Lian.
“XXXXXX ... pasword apartemenku. Tunggu aku pulang.” Isi pesan itu.
Gia menghabiskan waktu untuk melihat sekeliling, hingga bingung dan akhirnya memutuskan untuk memasak apa pun yang ada di pantry.
Tanpa terasa Gia sudah berada di sana hampir dua jam. Setelah hidangan ke tiga selesai, dia mendengar suara tombol pintu apartemen berbunyi.
Tit, tit, tit ....
Oh Lian membuka pintunya dari luar.
Gia berlari, sengaja berdiri di pintu menunggu. Napasnya memburu, tak sabar ingin segera melihat wajah Oh Lian. Layaknya seorang istri yang tengah menunggu kepulangan sang suami.
Ceklek!
Pintu terbuka, langkah Oh Lian terpaku di ambang pintu setelah melihat Gia berdiri tepat di depannya.
Deg!
Gia memang cantik, tapi kali ini levelnya sungguh sangat berbeda. Parasnya yang ayu, rambut diikat dan sedikit berantakan ditambah kening basah sisa keringat setelah sibuk di pantri belum lagi kemeja putih yang dikenakan sedikit berantakan.
Satu kancing kemeja bagian atas yang terbuka membuat sedikit bagian dadanya terlihat, itu menambah kesan seksy tersendiri yang tak mampu Lian jabarkan.
Sungguh di luar nalar, ini pertama kali dia pulang kerja dan disambut oleh seorang perempuan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Seolah rasa lelah dan beban berat di kedua bahunya langsung menghilang setelah melihat Gia menyambut kepulangannya.
__ADS_1
Brugh!
Oh Lian membiarkan koper kecil terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai. Kakinya bergerak melangkah mendekat, menghamburkan tubuhnya membentur Gia.
Ugh!
Gia terkejut, tubuhnya tersentak karena mendapat serangan secara tiba-tiba. Tak bisa bergerak menghindar, kedua tangan Oh Lian mencengkeram leher dan punggungnya.
Seolah melampiaskan rasa rindu, Lian mencium bibir Gia sepuasnya. Seperti menemukan oase di gurun pasir, Lian menyesap seluruh inti sari dalam tubuh Gia melewati bibirnya.
Smooch~
Mmh~
Cup~
Ngh~
“M–man ngh~ man–najer mmh~ tunggu!” Gia mendorong dadanya hingga ciuman terlepas.
Hah, hah, hah!
Napas mereka beradu, Lian menyandarkan kepala di kening Gia. “Kenapa? Hah ....” Napas mereka masih memburu. Terlihat seberapa besar hasrat Lian saat terpaksa menghentikan ciumannya.
“Mm, tidak ... maksudku a–aku sudah menyiapkan makanan untukmu.” Gia terus menunduk, menghindari tatapan Lian.
“Makanan?” tanya Lian lembut.
“Hmm.” Gia mengangguk.
“Kau memasak untukku?” Bibirnya tersenyum tipis.
“Uhm, aku tidak tahu apa yang kau sukai ... jadi aku memasak apa pun yang ada di pantry.”
“Wooow!” Lian masih mencerna suasana hatinya saat ini. Setelah merasa excited dengan penyambutan Gia kini dia mendengar bahwa perempuan itu telah menyiapkan makan malam untuknya semakin membuat Lian terkejut. Tak mampu lagi berkata.
“Maaf,” sahut Gia.
“Kenapa kau meminta maaf?” bisik Lian. Bahunya masih merendah, membungkuk di atas tubuh Gia yang posisinya masih tersudut tak bisa bergerak karena Lian mengurungnya di dinding tepat belakang pintu.
“Aku takut kau marah karena aku menyentuh barang-barangmu dan menggunakan pantry tanpa seizin darimu.”
“Bagaimana mungkin aku memarahimu karena hal sepele seperti itu?” Lian meraih tangan tangannya, menuntun telapak tangan Gia menyentuh dadanya yang keras.
Deg!
Gia bisa merasakan detak jantungnya yang tak beraturan, sama seperti apa yang sedang dia rasakan. Hawa panas terasa menguar dari tubuh Lian. Menyebar merembet ke tubuh Gia melewati sentuhan tangannya.
“Kau bebas melakukan apa pun di sini, kau bisa menyentuh apa pun yang kau mau.”
Ucapan Lian semakin membuat Gia menggila, merasa jantungnya bekerja dua kali lipat sampai darahnya memanas hingga membuat pipinya merah.
__ADS_1
Kepalanya bergerak mendekat, nyaris mencium bibirnya tapi Lian ternyata melewatinya begitu saja lalu berbisik di telinga. “Semua ini milikmu. Lakukan apa pun yang mau ... bahkan tubuh ini, sepenuhnya miliimu.”