
Hah, hah, hah ....
Lian melepaskan bibirnya, menyatukan kening mereka. Membiarkan napas saling bersahutan sebelum akhirnya mereka keluar dari ruang ganti.
Ibu jarinya mengusap lembut bibir Gia yang basah. “Ingat untuk selalu membawa lipsgose–mu ke mana pun.”
Matanya membulat, Gia terkejut. Itu artinya, Lian pasti akan menciumnya sesuka hati di mana pun sesuka hati.
Dari butik perjalanan menuju ke tempat tujuan lumayan lama.
Saat sampai, Gia disuguhi dengan pemandangan mewah memanjakan mata.
Kapal pesiar telah menunggu di ujung sana. “Presdir ... ini acara apa?”
“Pertemuan dengan Tuan Frederik. Ini agenda kita ke 3 di Milan.”
Ekspresi wajah Gia langsung berubah. “Oh, aku pikir dia sengaja mengajakku kemari karena hadiah pernikahan,” batin Gia. “Lagi pula kenapa aku bisa berpikir sejauh itu ... sampai detik ini pun Presdir juga masih marah padaku,” lanjutnya dalam hati.
“Sampai kapan kau akan duduk di sana dan membuatku menunggu?” Lian telah berdiri di luar, membuka pintu mobil menunggu Gia turun.
“Eh, kapan dia turun?” Gia bahkan tak sadar. “Maaf.”
“Kau terlalu banyak minta maaf!”
“Ma– iya, iya.”
“Ingat, meski kita sudah menikah ... kau akan tetap bertanggung jawab untuk semua pekerjaanmu.”
“Iya, lagi pula siapa yang berharap lebih diperlakukan baik layaknya seorang istri?” gumam Gia. “Lagi pula kalau di pikir-pikir seharusnya aku juga berhak marah karena dia mempermainkanku kemarin. Tapi ... entah kenapa akhir-akhir ini aku sangat ingin selalu dekat dengannya?”
“Kau masih ingin membuatku menunggu?” seru Lian, langkahnya terhenti saat sadar Gia masih berada di tempat semula. Berdiri di samping mobil.
“Iya-iya, maaf.” Gia berlari mengejar ketertinggalan, tanpa peduli gaun yang dia kenakan sangat ketat di bagian bawah meski terdapat belahan tapi itu lumayan sulit baginya untuk bergerak.
Srak!
“Aduh!”
Kakinya tersandung, nyaris jatuh. Beruntung Lian berdiri tepat di depannya sehingga refleks menangkap tubuh Gia dalam pelukan.
Hampir saja Gia tersungkur ke jalan.
Lian terkejut setengah mati. “Ceroboh! Kau bukan anak kecil lagi yang harus diceramahi, kan?”
“Maaf.”
Lian menghela napas panjang, melegakan dadanya. “Maaf lagi? Hah, perhatikan langkahmu ... aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayiku!”
Gia tertunduk, menyesal. Biasanya jika Lian marah dia pasti akan melawan tapi entah kenapa kali ini Gia lebih diam dan mudah sedih. “Kenapa galak sekali? Bisa, ‘kan bicara pelan-pelan?”
~♤~
“Selamat datang Tuan Lian,” sapa Tuan Frederik, pemilik pesta.
“Tuan Frederik, terima kasih atas undangannya.”
“Jangan sungkan, aku justru senang karena kau jauh-jauh datang ke Milan.” Ujung matanya melirik ke Gia yang berdiri di samping Lian. “Oh, lihatlah ... siapa perempuan cantik ini?”
Lian menoleh. “Dia ... Gia Luciella. Perkenalkan, dia sekretarisku.”
Senyum Gia sangat getir. “Sekretaris?” Menganggukkan kepala sebelum membalas uluran tangan dari Frederik. “Salam kenal, saya Gia Luciella.”
“Hmm, kau pandai mencari seseorang untuk bekerja di sampingmu, Lian. Hahahha ... sekretarismu sangat cantik.”
__ADS_1
“Terima kasih atas sanjunganmu.” Berbeda dengan Gia, senyum Lian lebih mengembang. Tapi sorot matanya tajam, penuh kecemburuan.
Bola matanya bergerak mengarah ke tangan Frederik yang enggan melepaskan tangan istrinya. “Gia, bisakah kau mengambilkan minuman untukku? Tolong.” Senyumnya semakin lebar saat berucap, tapi matanya menajam ketika menatap Gia.
Itu adalah upaya Lian agar tangan istrinya segera lepas dari genggaman Fredik.
“Baik, Presdir. Kau ingin minum apa?”
“Apa saja, yang paling terenak menurutmu.”
Gia melangkah pergi, menuju deretan meja penuh dengan sajian makanan dan minuman.
“Waah ... aku cemburu denganmu, Tuan Lian. Jika kau masih memiliki stok perempuan seperti sekretarismu ... kau bisa kirimkan padaku. Aku pasti akan sangat tersanjung.”
Hahahah ....
Tawa mereka terdengar sampai Gia menoleh. Saat kembali, dia membawa dua gelas berisi minuman di tangan.
“Presdir, silakan.”
“Terima kasih.” Mengambil alih gelas berisi Wine dari tangan Gia.
“Smoothie?” sahut Frederik setelah melihat minuman yang di pilih oleh Gia. “Kenapa kau tidak mencoba Wine di sini? Aku sengaja memilih Wine terbaik untuk menjamu para tamu.”
Tidak mungkin Gia meminum Wine, karena sadar ada nyawa di dalam perutnya. “Terima kasih atas tawarannya, tapi ... saya tidak biasa minum Wine.” Menolak dengan sopan.
Frederik mengambil segelas Wine dari atas nampan yang di bawa oleh pelayan. “Silakan, aku tidak mungkin membiarkan tamuku pulang tanpa mencicipi Wine terbaik pilihanku.”
Gia ragu, meski tangannya sudah terangkat. Beruntung Lian mengambil alih gelas dari Frederik.
“Maaf, Tuan Frederik. Sepertinya aku lupa memberitahu padamu kalau Gia masih harus mengurus banyak pekerjaan. Jadi, dia tidak boleh mabuk.”
“Oh, maaf. Aku mengerti. Baiklah ... silakan nikmati waktu kalian. Jangan lupa, tepat jam 10 nanti akan ada pesta kembang api. Jangan lewatkan, aku yakin kalian akan menyukainya.”
~♤~
Uhm! Gia mengangguk patuh, meski takut Lian pergi menemui rekan kerjanya. “Presdir ....” Gia menarik ujung jasnya.
“Kenapa?” Lian menoleh.
“Ja–jangan lama-lama.”
Melihat ekspresi ketakutan di wajah Gia membuat Lian semakin bersemangat. “Kau takut?”
“Di sini terlalu banyak orang, aku ... aku takut jauh darimu.” Suaranya lirih, pipinya merona.
Lian membungkuk, berbisik di telinga. “Kalau begitu, kau harus menurut. Tetaplah di sini sampai aku kembali.” Lian mengakhiri ucapan dengan sebuah kecupan di pipi sebelum melangkah pergi.
“Aneh, aku hampir tidak mengenali Presdir. Kenapa sikapnya berubah-ubah setiap saat?” Batin Gia. “Kadang lembut, kadang galak dan sangat menyebalkan.”
Lumayan lama Gia menunggu. Semakin lama angin terasa dingin membuat Gia menggigil kedinginan.
“Di mana Presdir, kenapa lama sekali?” Perhatiannya teralihkan ke sekitar. Mulai mencari keberadaan Lian tapi ternyata suaminya itu sedang berbincang dengan beberapa orang asing.
Dua lelaki tinggi, memiliki postur tubuh seperti Lian dan satu lagi seorang perempuan. Penampilannya sangat seksi, meski mengenakan mantel bulu, gaun yang dia kenakan terdapat belahan di tengah dada memperlihatkan belahan hingga gundukan kembar seolah nyaris keluar karena tekanan b-ra.
Pembicaraan mereka sepertinya sangat seru, Lian tertawa senang. Tawa yang tak pernah diperlihatkan di depan Gia.
Deg!
Dadanya berdesir nyeri, melihat perempuan itu menyentuh dada suaminya. Tak berhenti di sana, sikapnya pun sangat jelas kalau perempuan itu sangat tertarik dengan Lian.
Menyadari Gia tengah memperhatikan dirinya, Lian mencoba menghindar meski beberapa kali, perempuan seksi itu mencari kesempatan mendekat dan terus menempel.
__ADS_1
Saat menoleh, Lian bisa melihat ekspresi kecemburuan di wajah sang istri. Namun Lian hanya diam dan lebih memilih sibuk melanjutkan pembicaraan.
Duaaarrr!!!!
Suara kembang api mengalihkan perhatian, Gia memutar tubuhnya. Menghadap ke laut luas, wajahnya berubah warna sesuai kembang api yang berebut meledak di atas sana.
Dari arah belakang, kedua tangan Lian menyelusup ke sela pinggang. Memeluk erat Gia dari belakang.
Deg!
Dadanya berdebar tak karuan, rasa kesal dan cemburu seketika menghilang setelah mencium aroma feromon suminya.
Punggungnya merendah, membenamkan wajah ke leher sang istri. Lian membawa Gia dalam dekapan, mentransfer kehangatan. “Kau kedinginan?” bisiknya.
Gia tak menjawab, hanya diam menikmati pemandangan warna-warni di atas langit.
“Perempuan hamil tidak boleh marah, itu akan berpengaruh pada perkembangan janin di dalam perutmu.” Suara Lian sangat berat, seolah menahan sesuatu. Sangat terasa dari caranya memeluk tubuh Gia yang tak biasa.
“Bagaimana aku bisa mengatur moodku dengan baik, sementara hanya Presdir yang bisa membuat suasana hatiku berubah.”
Lian melepaskan pelukan, meminta Gia memutar tubuhnya bersandar pada besi dek. Mereka saling berhadapan, tak peduli keramaian manusia di sekitar yang sedang menikmati pesta kembang api.
Telapak tangannya yang besar merangkup pipi, Lian hanya ingin fokus Gia tertuju padanya. Menyatukan kening mereka. “Saat berdua seperti ini ... kau harus memanggil namaku,” bisiknya lembut. Sengaja mendekatkan mengikis jarak di antara bibir. Hingga ketika berucap, bibir mereka saling bergesekan.
Ibu jarinya menarik dagu, membuat bibir Gia terpaksa membuka. “Say my name!”
“Li–lian ....”
Cup!
Lian menghadiahi sebuah kecupan. “Lagi ....”
“Lian.” Pipinya merona.
Duaaaarrr!
Semakin malam semakin meriah, semua orang menikmati pesta.
Tak peduli di tengah lautan manusia, Lian mencium bibir Gia sepuas hati.
~♤~
Akibat ulah sang suami, Gia harus ke toilet untuk merapikan makeup. Bibirnya merah bukan karena lipstik, tapi karena perbuatan Lian.
“Dia mudah sekali membuat perasaanku berubah, sebentar-sebentar membuat moodku buruk. Tapi sedetik kemudian membuat perasaanku berbunga-bunga. Sebenarnya ... apa dia rasakan padaku?” Gia menggerutu di depan cermin, menatap penampilan dirinya yang lumayan berantakan karena Lian.
Setelah memakai lipsglose, Gia melangkah keluar dari toilet. Berjalan melewati dek kapal untuk menuju ke tempat di mana Lian menunggu.
“Gia?” Seorang lelaki memanggilnya.
Gia menoleh, menatap wajah lelaki yang berdiri di depannya. “Juan?”
Park Juan memeluk Gia tanpa permisi. “Dugaanku benar, aku sempat ragu saat melihatmu berjalan sendirian tadi.
“J–juan.” Berusaha melepaskan diri dari pelukan.
“Aku merindukanmu, mendengar kau pergi ke Milan beberapa membuatku frustasi. Beruntung kerabat dari ayah mengajakku untuk menemaninya datang menghadiri undangan di Milan. Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini.”
“Bagaimana ini ... bagaimana jika Presdir melihat Juan ada di sini?” batin Gia.
Diujung dek sana, Lian bersandar santai menikmati rokok. Menyaksikan pemandangan malam yang membuatnya kesal, meski begitu Lian berusaha tenang. “Sampai kapan kalian akan berpelukan?”
Like dan komentar kalian adalah penyemangatku 😍
__ADS_1