Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
11. Tawaran


__ADS_3

“Kenapa? Kau ingin kita melanjutkannya di mobil?”


Deg! Jantung Gia serasa mau meledak.


“Secepat itu?” batinnya.


Pffttt! “Aku hanya bercanda.” Oh Lian mengakhiri dengan kecupan di kening. “Turunlah dan kembali ke meja terlebih dulu, jangan buat Eichi khawatir.”


“Itu karena dirimu!” batin Gia, melangkah turun dari pangkuan kemudian keluar dari toilet.


Sementara itu Oh Lian masih di sana, keluar dari toilet lalu menatap bayangan diri cermin. Setelah menyiram wajah dengan air, Oh Lian tersenyum tipis. Entah apa yang dia pikirkan saat itu.


~♤~


“Astagaaa kau lama sekali di toilet, Gia! Aku pikir kau pingsan.”


“Mana ada, aku baik-baik saja. Kau bisa lihat, kan?”


“Tunggu, Gia ... kenapa dengan bibirmu. Merah dan besar. Kau digigit semut?”


Uhuk! Gia terbatuk mendengar pertanyaannya.


Ghm! Dari arah belakang Oh Lian sengaja berdehem.


“Ah, itu hanya perasaanmu saja. Aku merasa bibirku baik-baik saja kok.”


“Tapi–“


“Apa yang sedang kalian bicarakan? Ayo aku akan mengabtar kalian pulang,” sahut Oh Lian.


“Tunggu manajer, aku harus bayar dulu makanan ini.” Eichi hendak menuju ke kasir.


“Lupakan, aku sudah membayarnya.”


“Ha, serius manajer?”


“Kau pikir aku bercanda? Ayo.”


Gia dan Eichi menunggu di depan caffe, sementara Oh Lian sedang mengambil mobil.


“Hei, apa yang terjadi di toilet tadi?”


Gia membulatkan mata. “Kau ini bicara apa? Memangnya apa yang terjadi?”


Ghm! “Ayolah, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu.” Eichi terus menggoda.


“Aku tidak menyembunyikan apa pun.”


“Uhmmm, terus kenapa bibirmu bisa merah dan bengkak seperti itu? Aku tidak percaya kalau tidak terjadi apa pun di toilet.” Eichi mendekat lalu berbisik di telinga Gia. “Aku melihat kau berada di toilet bersama manajer tadi.”


“Haaaa!!”


Ssssttth! Eichi menutup bibir Gia dengan tangannya. “Jangan teriak Giaa! Tenang saja ... rahasiamu aman di tanganku. Katakan apa yang manajer lakukan padamu di dalam toilet tadi?”


“Tunggu, Eichi dari mana kau tahu–“


Eichi menyipitkan matanya. “Kau pikir aku bodoh! Suaramu terdengar keras tadi ... lagi pula aku juga sempat melihat kakimu. Hahahaha ....”


“Hah! Menyebalkan. Kenapa kau harus melihatnya, aku kan jadi malu.”


“Rencanaku berhasil, kan?” Hahaha .... Eichi tertawa puas.


“Rencana, rencana apaan?”


“Rencana membuat kau dan manajer semakin dekat. Hahaha ....”


Tiiiin!


Klakson mobil Oh Lian menghentikan pembicaraan mereka.


Oh Lian turun dari mobil lalu membuka pintu depan. “Please ...,” ucapnya pada Gia.


Pipinya merona, Gia kemudian masuk ke mobil.


“Kau!” ucap Oh Lian tertuju pada Eichi. Matanya tajam seperti busur panah. “Duduk di belakang!”

__ADS_1


“Siap!”


Dalam perjalanan menuju ke rumah Eichi, suasana di kabin mobil terasa hening. Terlihat jelas Eichi menahan senyum melihat gelagat mereka berdua yang duduk di depan. Ghm! Dehemnya mencairkan suasana.


Pipi Gia semakin merona, terlihat jelas canggung dan kaku.


“Kau yang duduk di belakang, kau tinggal di daerah mana?” ucap Oh Lian.


“Oh, aku turun di mini market depan saja manajer. Kebetulan ada sesuatu yang ingin aku beli.”


Tak lama Oh Liah menghentikan mobilnya.


“Terima kasih manajer untuk makanan dan tumpangannya. Gia, sampai jumpa hari Senin di kantor. Bye.”


“Bye Eichi, hati-hati.” Gia melambaikan tangannya.


“Tunggu di sini sebentar, ada sesuatu yang harus aku beli.” Oh Lian kemudian turun.


“Iya manajer.”


Saat di minimarket ternyata Oh Lian menemui Eichi yang tengah sibuk memilih stok belanjaan. “Eh, manajer ... kau ingin beli rameon juga?”


“Aku ke sini hanya karena ingin memperingatkanmu!” Tatapan Oh Lian berubah tajam.


“Apa?”


“Jangan terlalu dekat dengan Gia dan jangan menyentuhnya secara berlebihan.” Ternyata Oh Lian melihat interaksi mereka berdua saat di depan caffe.


“Hahaha ... tenang manajer.”


“Akan lebih baik jika kau diam dan pura-pura tidak mengetahui apa pun!”


Bukan Eichi jika dia langsung ketakutan mendengar ucapan Oh Lian yang seperti ancaman. Dia justru semakin senang menggoda Oh Lian. “Siap! Aku akan tutup mulut.”


Tak lama setelah itu Oh Lian keluar dari mini market.


Tok tok tok! Setelah mengetuk pintu mobil, Oh Lian kemudian membukanya.


“Manajer, apa yang sedang kau lakukan?” Gia terkejut melihat Oh Lian tunduk di samping mobil.


“He?” Gia kebingungan.


“Gia, perlihatkan kakimu padaku,” perintah Oh Lian lembut.


Setelah melepas sabuk pengaman, Gia mengeluarkan kedua kakinya namun posisinya masih duduk di kursi mobil. “Manajer apa yang ingin kau lakukan?” Gia semakin bingung melihat Oh Lian melepas sepatunya.


“Apa kau hobi mengenakan sepatu tanpa kaos kaki?” Oh Lian ternyata menyadari kalau kaki Gia bagian belakang lecet.


“Oh, tadi ... aku tergesa-tergesa. Tapi aku baik-baik saja.”


Tak peduli ucapan Gia, Oh Lian langsung memasang plester di kedua kakinya.


Meski hal sepele tapi itu mampu membuat Gia berdebar.


Oh Lian mengangkat wajahnya menatap Gia yang posisinya jauh lebih tinggi. “Selesai, besok-besok kalau ingin olah raga aku tidak akan membiarkanmu memakai sepatu tanpa kaos kaki.” Oh Lian tersenyum manis.


Setelahnya mengangkat kedua kaki Gia ke dalam mobil, punggungnya sampai membungkuk saat membantu mengenakan kembali sabuk pengamannya.


Kepalanya menoleh, menatap wajah Gia yang begitu dekat. “Bagaimana ... ingin melanjutkan yang tadi?”


“He? Maksud–,” ucapnya terhenti.


Oh Lian mencium bibirnya sekilas tapi sampai membuat bibirnya basah karena Oh Lian sempat melum.matnya. “Ini maksudku. Kau ingin melanjutkannya?” Ujung bibirnya terangkat.


“Astaga, manajer! Kenapa kau semakin terang-terangan,” batin Gia, sepanjang hari itu dia dibuat berdebar tak karuan.


“Aku hanya bercanda, aku akan mengantarmu pulang.”


Oh Lian mengemudikan mobilnya perlahan.


“Kau suka mendengarkan lagu?” Tangan Oh Lian sibuk menyalakan musik.


“Apa saja, aku suka asalkan enak di dengar.”


Oh Lian memutar musik yang pernah viral pada jamannya.

__ADS_1


“Lagu ini?” batin Gia setelah mendengar lagu lama itu diputar. “Tidak, ini pasti kebetulan. Tapi ... dari semua lagu kenapa manajer memutar lagu ini?” Ingatan Gia di bawa kembali saat dia masih duduk di bangku sekolah.


“Kenapa, kau tidak menyukai lagu ini?” sahut Oh Lian.


“Tidak, aku sangat menyukainya.”


Oh Lian tersenyum tipis. Tangannya terulur meraih tangan Gia lalu menggenggamnya erat.


“Mimpi apa aku semalam, pagi tadi aku masih kesal dengan manajer tapi kenapa sekarang malah berakhir seperti ini. Sikap manajer juga semakin manis dan lembut,” batin Gia. “Tidak, aku pasti sedang bermimpi!”


“Tenang saja, kau tidak sedang bermimpi,” sahut Oh Lian seketika seolah bisa membaca pikiran Gia. “Gia ... apa kau tidak pernah berpikir kalau sebelumnya kita pernah bertemu?”


“Benarkah? Kapan ... kenapa aku tidak ingat sama sekali?”


Oh Lian terdiam sejenak. “Tidak ... lupakan, mungkin itu hanya perasaanku saja.”


Gia terdiam, mulai memikirkan ucapan Oh Lian.


“Kita sudah sampai.”


“Tunggu, manajer ... dari mana kau tahu tempat tinggalku? Seingatku aku belum mengatakan padamu alamat kontrakanku di mana.”


Sesaat Oh Lian terpaku sebelum akhirnya dia tersenyum. “Kau lupa kalau aku menyimpan CV_mu?” Oh Lian membantu melepas sabuk pengaman. “Ayo, aku akan mengantarmu ke dalam.”


Langkah mereka terhenti di depan pintu.


Belum sempat membuka, Gia memutar tubuhnya. “Mm, manajer ... terima kasih sudah mengantar aku pulang.”


“Jadi kau tinggal di sini?”


“Uhm.” Gia mengangguk.


Kebetulan ada beberapa kamar di sana.


“Manajer ... kau, pulangnya hati-hati.”


Oh Lian mendekat, mendesak Gia sampai tak bisa bergerak karena pintu di belakang. “Hanya itu?”


“Hm?” Gia mengangkat wajahnya menatap Oh Lian yang jauh lebih tinggi.


“Apa hanya itu saja yang ingin kau ucapkan ... apa tidak ada yang lain?” Tangannya terulur menarik dagi Gia. “Hati-hati di jalan, hanya itu?”


“Mm, sampai bertemu hari Senin di kantor ....”


“Kau tidak ingin membiarkanku masuk ke dalam?” Oh Lian mendekatkan wajahnya.


Gia merona malu, menundukkan kepala.


Pffttt! “Aku hanya bercanda,” ucapnya setelah melihat kepanikan di wajah Gia. Oh Lian lalu menghadiahkan kecupan di pipi. “Masuklah, mandi dan istirahat.”


“Baik.” Gia bernapas lega.


“Aku pergi.”


Gia membuka pintu, melangkah masuk namun dikejutkan dengan keadaan kamarnya yang berantakan.


Aaaaaaaaaaaaaaa!!!


Beruntung Oh Lian belum terlanjur jauh, setelah mendengar suara teriakannya dia langsung berlari menghampiri Gia.


“Gia?” Oh Lian menerobos masuk. “Gia apa yang terjadi?” Pandangannya tertuju pada Gia yang berdiri di ujung ruangan. “Gia kau baik-baik saja?”


“Ma–manajer?”


Setelah melihat kamar Gia berantakan, Oh Lian menghampirinya. “Kau baik-baik saja?”


“Ada yang masuk ke kamarku.” Suaranya bergetar, Gia sangat ketakutan.


“Apa ada sesuatu yang hilang?”


“Entah, aku ... aku tidak tahu manajer. Bagaimana ini?”


“Tenanglah.” Oh Lian memeluknya, mendekap erat memberikan kenyamanan. “Aku akan menyuruh Tuan Lee untuk membereskan tempat ini. Dengar ... untuk sementara kau bisa pindah ke apartemenku.” Oh Lian melepaskan pelukannya, menatap mata Gia lekat.


“Tapi, manajer ....”

__ADS_1


Kedua tangan Oh Lian merangkup pipi Gia. “Ada aku ... apa yang kau takutkan?” ucapnya setelah melihat ekspresi panik di wajah Gia. “Kau tidak keberatan ‘kan tinggal di apartemenku sampai aku menemukan pelakunya?”


__ADS_2