Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
7. Misterius


__ADS_3

Mmmh~


Suara rintihan kecil yang keluar dari mulut Gia menyadarkan Jung Lian. Matanya terbelalak menyadari dengan apa yang baru saja dia lakukan kepada Gia yang mabuk.


“Ma–manajer ... menyebalkan! Ka– hmm kau meny–menyebalkan!” gumam Gia. Setelahnya kembali pingsan.


Oh Lian tertawa kecil melihat tingkahnya yang lucu saat tidur. Tanpa menunggu lama Oh Lian mengemudikan mobilnya.


Karena tak tahu di mana Gia tinggal, Oh Lian akhirnya membawa gadis itu pulang ke apartemennya.


Menjelang pagi hari, Gia terbangun dan menemukan dirinya di ruangan yang asing.


“Ah, kepalaku ....” Gia beranjak bangun dari ranjang lalu duduk. “Di mana ini?” gumamnya. Mencium aroma tak asing, wangi maskulin yang begitu kental membuat Gia yakin kalau kamar itu milik seorang lelaki. “Astaga!” Gia teringat kejadian semalam. “Tidak, ini tidak mungkin.”


Kejadian saat dirinya mabuk lalu meracau tentang manajernya barunya dan berakhir dengan ingatan ketika Oh Lian mencium bibirnya di mobil.


“Tidak mungkin!” Tangannya bergerak menyentuh bibir. “Aku yakin manajer semalam menciumku!” Meski sama-sama tapi Gia yakin bahwa lelaki yang dia lihat semalam saat mencium bibirnya adalah Oh Lian. “Ah bagaimana ini!” Mengacak-acak rambutnya frustasi. “Eh, apa-apaan ini?” Gia baru tersadar kalau ternyata dia telah berganti baju, mengenakan kemeja putih milik Oh Lian yang sangat kebesaran. “Apa yang sebenarnya terjadi!!”


Gia melompat turun dari ranjang, berlari keluar kamar menuju pantri setelah mendengar suara bising di sana.


“Baik Tuan, saya akan menyiapkan semuanya. Semoga Anda nyaman bekerja di tempat baru.” Seorang lelaki mengenakan setelan jas rapi menundukkan kepala, meletakkan sebuah map di meja makan.


“MANAJEEERRR, APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU SEMALA–am ....” Gia berseru dari luar pantri, ketika kakinya sampai di ambang pintu suaranya langsung melemah setelah melihat Oh Lian tengah berbincang dengan seorang lelaki di sana. Ekspresi wajahnya terpaku, terkejut kedua lelaki itu menatap kearahnya. “E, ma–maaf.” Gia terbata, malu.


Cepat-cepat Oh Lian mengambil map dari meja lalu menggunakannya untuk menutupi wajah lelaki di sampingnya. Dari ekspresi wajah Oh Lian terlihat jelas dia tak suka lelaki yang kerap disapa Lee itu melihat Gia.


Sementara saat itu Gia kebetulan hanya mengenakan kemeja putih miliknya tanpa bawahan sehingga bagian pahanya terpampang jelas.


Putih bersih tanpa cela, tentu saja Oh Lian tak ingin Lee melihat paha Gia yang terekspose. Bahkan dia dibuat menelan saliva saat melihatnya. Sementara dirinya bisa melihat Gia secara bebas.


Masih dalam keadaan menutup wajah Lee menggunakan map, Oh Lian kemudian berucap. Ghm! “Tuan Lee, jika kau sudah selesai ... kau bisa pergi.”


“Baik Tuan.”


Ghm!” Dehem Oh Lian mengandung arti.


Seolah tahu apa arti dari dehemnya, Lee kemudian mengambil alih map dari tangan Oh Lian. Melangkah keluar perlahan dari pantri sembari menutup wajahnya menggunakan map tersebut.


“Kenapa dengannya?” batin Gia, sejak tadi dia tak menyadari jika pahanya terpampang jelas. Gia justru berjalan mendekati Oh Lian.


“Kau sudah bangun?” Oh Lian mengambil segelas ramuan yang telah dia siapkan sejak tadi. Tangannya terulur menarik kursi. “Duduklah!” perintahnya. Itu hanya akal-akalan Oh Lian agar terbebas dari pemandangan yang membuatnya merona. Dengan begitu paha Gia akan tertutup meja di bawah sana.

__ADS_1


“Apa ini?” Gia mengambil gelas berisi ramuan.


“Untuk menetralisir sisa alkohol di perutmu.”


“Jadi benarkah aku semalam mabuk, oh ya manajer ... kau yang mengganti pakaianku?” Mulai mencercap minuman yang menurutnya aneh rasanya.


“Menurutmu siapa lagi?” Oh Lian melirik, tapi ujung matanya tak bisa lepas dari paha Gia yang terkadang mengintip dari balik meja. Ghm! Dehemnya menetralkan perasaan.


“Kau ... membuka–“ Pipi Gia merona, membayangkan Oh Lian melepas semua pakaiannya semalam.


“Tenang saja, sekalipun kau telanjang bulat ... aku tidak tertarik denganmu.” Oh Lian mengambil secangkir kopi. Merubah posisi berdirinya membelakangi meja lalu bersandar di sana tepat di samping Gia. “Aku memiliki kriteria sendiri untuk diajak kencan.”


Ekspresi Gia langsung berubah. “Aku bertanya apa kenapa kau jawabnya ke mana-mana. Lagi pula siapa yang bertanya seperti apa kriteria perempuan yang kau suka!” Gia kesal.


“Karena wajahmu saat ini memperlihatkan jelas bahwa kau menuduhku kalau aku berbuat sesuatu pada dirimu semalam saat kau mabuk.”


Gia terdiam, menghabiskan sisa minumannya. “Aku tidak menuduh! Tapi menyebalkan sekali ucapannya,” gumam Gia dalam hati.


“Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu, mandilah ... setelah ini kita harus pergi meeting.”


“Kenapa aku? Ini ‘kan hari libur.” Gia protes.


“Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau hari ini kau banyak pekerjaan semalam?”


“Kau bilang aku menyebalkan!” Oh Lian berbisik di telinga.


Gia terkejut, menoleh cepat hingga nyaris membuat bibir mereka bersentuhan. “A–aku tidak mengatakan apa-pun!”


Punggungnya kembali tegap, Oh Lian menunduk menatap wajah Gia yang jauh lebih rendah. “Kau mengatakannya semalam.” Ujung bibirnya terangkat, Oh Lian tersenyum tipis.


“S–semalam?” Ingatan Gia kembali dibawa saat samar-samar melihat wajah Oh Lian mendekat dan mencium bibirnya. “Ak–aku tidak mengatakan itu, tapi ... aku ingat saat manajer–“ ucapannya terhenti, Gia tak melanjutkan ucapannya karena kalimat yang akan dia ucapkan membuatnya malu. Ya Gia ingin bertanya mengenai ciuman semalam dan berharap itu hanya mimpi. Tanpa sadar Gia sejak tadi menyentuh bibirnya. Pikirannya di bawa melayang jauh membayangkan bibir Oh Lian yang berada di depan mata menyentuh bibirnya lembut.


“Kenapa dengan semalam?” sahut Oh Lian membuyarkan lamunan.


“E, tidak. Tidak ada. Lupakan manajer.”


Mata Oh Lian bergerak turun menatap bibir Gia. “Kenapa dengan bibirmu?”


Gia tersentak, segera beranjak dari kursi. “Terima kasih karena sudah menjagaku semalam.” Gia berlari kecil menuju pintu.


Perhatian Oh Lian tak bisa lepas dari kaki mungil Gia yang menggoda. “Tunggu!

__ADS_1


Langkahnya terhenti di ambang pintu menunggu Oh Lian berucap tanpa menoleh ke belakang. “Kenapa manajer?”


“Ingatlah untuk selalu berpakaian rapi saat keluar dari kamar.”


“Aku mengenakan pakaian rap–“ ucapnya terputus ketika menundukkan kepala dan melihat pahanya terekspose jelas. Tanpa melanjutkan kalimatnya yang belum selesai, Gia berlari masuk ke dalam kamar.


Oh Lian terkekeh melihat sikapnya. Tubuhnya terpaku mengingat kejadian semalam saat dirinya dengan sadar mencium bibir Gia. “Bodoh!”


~♤~


“Tuan Oh, kenapa Anda ada di sini? Bukankah ini hari libur.”


Segera Tuan Oh merapikan berkasnya di meja setelah Gia datang. “Kau tahu ... semua ini karenamu! Kau yang membuatku lembur karena kau salah memasukkan data. Kalau sampai Presdir tahu aku juga yang kena marah!” Tuan Oh marah, mengumpat kalimat kasar kearah Gia.


“Tapi, bukankah kemarin Tuan Oh yang memintaku memasukkan data tersebut? Aku juga sudah memeriksanya berkali-kali sebelum mengirim ke emailmu.”


“Kau melawan? Kalau aku bilang salah ya salah. Mana mungkin aku atasanmu melakukan kesalahan seperti ini? Jika sampai Presdir tahu aku juga yang kena marah. Memangnya kau mau bertanggung jawab, hah!” Suara Tuan Oh semakin keras.


Oh Lian yang berada di ruang kerjanya sampai mendengar. Hanya saja dia memilih diam dan mengamati dari kejauhan. Menikmati kopinya.


“6 tahun kau bekerja di sini tapi kau masih seperti ini saja. Itu membuktikan kalau kau tidak mampu menangani semua pekerjaanmu. Kau payah! Seharusnya kau sudah dipecat sejak dulu!”


Selama meeting Gia tak bisa fokus, pikirannya bingung karena merasa bersalah kepada Tuan Oh. Hingga meeting selesai pun dia masih terus melamun.


“Kau lapar? Ikutlah denganku kita makan siang bersama.” Oh Lian berucap sembari melangkah keluar dari ruangan.


“Maaf manajer, tapi aku tidak lapar ... aku harus segera pulang.”


“Tunggu!” Oh Lian meraih tangannya. “Kau tidak diizinkan pulang sebelum makan!” Oh Lian tahu jelas kenapa sejak tadi Gia selalu murung.”


Terpaksa Gia pun ikut bersama Oh Lian pergi ke sebuah caffe.


Semua pesanan sudah tertata rapi di meja, tapi Gia masih saja melamun.


“Kau mau makan sendiri atau aku yang menyuapi?” sahut Oh Lian.


“Uhm, aku bisa makan sendiri.” Gia terdiam melihat Oh Lian mengambil kacang polong dari piringnya. Itu sangat membuatnya terkejut karena dia sama sekali tidak menyukai makanan itu. “Manajer, da–dari mana kau ....”


“Aku pikir tidak masalah mengambil kacang polongmu. Aku sangat menyukai kacang polong. Kenapa, kau marah kacang polongmu aku ambil?” Kedua alisnya terangkat. OH Lian sibuk memakan kacang polong dari piring Gia.


“Aneh, ini suatu kebetulan atau ... tidak. Tidak mungkin manajer tahu kalau aku tidak menyukai kacang polong. Tapi ... kenapa ini seperti bukan kebetulan semata?” batin Gia.

__ADS_1


Oh Lian sibuk menikmati makanan tapi sorot matanya selalu tertuju ke Gia. “Gia ... Gia Luciella, apa kau mengingat sesuatu?” batin Oh Lian.


__ADS_2