
“Salah, semua laporanmu salah dan harus di revisi sekarang!” Jung Lian melempar map ke meja.
“Tapi manajer, aku sudah merevisi ini ke empat kalinya.” Gia tak terima karena sebelumnya dia telah diminta memeriksa laporannya berkali-kali.
“Kalau aku meminta revisi itu berarti ada yang salah. Revisi sekarang!”
Hah! “Menyebalkan, kenapa dia harus menjadi menjejerku sih?” gumam Gia.
“Kau mengumpat?” sahut Oh Lian.
“Tidak!” Setelah mengambil map di atas meja, Gia lalu melangkah keluar.
“Kenapa dengan wajahmu, akhir-akhir ini kau terlihat kusut sekali.” Jenni memberikan sebotol minuman.
“Itu semua karena manajer baru, menyebalkan. Dia moodnya mudah berubah seperti itu. Kadang dia baik kadang menyebalkan. Apa aku terlihat bodoh Jen?”
“Mungkin kau memang bodoh di mata manajer.”
“Sial! Kenapa kau juga ikut-ikutan menyebalkan!”
~♤~
“Revisi lagi!”
Entah ke berapa kalinya Gia dibuat keluar masuk ruangan Oh Lian. Sampai rasanya ingin menyerah.
“Menyebalkaaaaaaan! Kenapa harus aku ....” Gia melampiaskan kemarahannya di rooftop. “Banyak pegawai di sini tapi kenapa aku lagi, aku lagi!” Tangannya meremas rambut gemas. Melampiaskan rasa kesalnya.
“Manajer, terima kasih atas traktiran makan siangnya.” Suara seorang pegawai di bawah sana tepatnya di halaman lobi menarik perhatian Gia.
“Sama-sama, anggap saja ini bonus karena kerjamu bagus.”
“Waah, aku juga mau dong kapan-kapan di traktir manajer,” sahut yang lainnya.
“Lihatlah, dia bisa tersenyum dengan pegawai lain tapi kenapa denganku selalu ketus dan galak?” gumam Gia.
“Bisa jadi manajer memperlakukanmu seperti itu karena dia tertarik denganmu?” sahut seseorang dari arah belakang.
“S–siapa yang bicara itu?” Gia menoleh. “Eichi?”
“Aku yakin manajer tertarik denganmu.” Eichi adalah pegawai lelaki dari jepang yang dipindah tugaskan di Korea.
“Kenapa kau bisa mengatakan hal itu? Bagaimana mungkin manajer menyukaiku, hah ... yang ada dia justru menyiksaku.”
“Tapi apa kau sadar kalau memang itu cara manajer untuk menarik perhatianmu. Seperti yang kau bilang tadi, kalau cara manajer Lian memperlakukanmu dengan pegawai lainnya sangat berbeda ... apa kau tidak menyadari itu?”
“Itu tidak mungkin!” Gia mengelak.
Mereka terus berbincang di rooftop tanpa sadar di bawah sana Lian tengah mengawasi mereka berdua.
~♤~
“Sial sekali aku hari ini, yang lain sudah pulang aku masih mengerjakan tugas.”
“Kau harus tetap semangat!” Eichi tiba-tiba muncul dari belakang meletakkan sebotol minuman di meja kerja Gia.
“Eichi, ini untukku? Terima kasih.”
__ADS_1
“Sama-sama.” Tangannya mengusap lembut rambut Gia. “Oh ya, hari minggu biasanya kau lari pagi ke taman kota, kan?”
“Eh dari mana kau tahu?”
“Aku sempat melihatmu beberapa kali, uhm ... apa kau keberatan jika aku bergabung besok?”
“Ah serius, ini pasti akan sangat menyenangkan.”
“Baiklah aku duluan, sampai bertemu besok pagi.” Eichi melangkah keluar.
“Apa-apaan ini, kau ada janji dengan Eichi?” sahut Jenni.
“Jen, kau masih di sini? Aku pikir kau sudah pulang.”
“Baru juga mau pulang ... sejak kapan kau dekat dengan Eichi?”
“Sejak tadi siang, kenapa? Cemburu yaaa cieeee.”
“Idih, cemburu sama Eichi ... mana ada. Sudahlah aku pulang dulu. Selamat menikmati hari lemburmu.” Jenni melangkah pergi
“Menyebalkan! Oh iya ini ‘kan malam minggu ya ampun nasib jomblo sampai lupa kalau ini malam minggu. Baguslah sepertinya aku memang harus sibuk dengan pekerjaan.”
Pukul setengah sepuluh malam, Gia akhirnya tertidur di meja kerja saking lelahnya.
Oh Lian baru saja keluar dari ruangan. Langkahnya terhenti melihat Gia tertidur pulas di meja. Bibirnya tersenyum tipis, mendekati Gia. “Maaf, aku membuatmu terlalu bekerja keras.” Oh Lian sampai membungkuk ketika mematikan komputer milik Gia yang masih menyala.
Gia menyadari bahwa ada seseorang yang datang mendekat, aroma wangi maskulin milik Oh Lian tercium sampai terbawa mimpi. “Wangi, ini pasti wangi manajer Oh,” gumamnya dalam lelap.
Oh Lian terpaku, merona tak percaya dirinya masuk ke alam mimpi Gia. Punggungnya semakin membungkuk lalu berbisik tepat di telinga hingga bibirnya yang terasa dingin menyentuh daun telinga Gia. “Bangun, kau harus pulang!”
Perlahan matanya terbuka, kepalanya yang bertengger di meja sejak tadi menoleh ke atas.
Jantungnya nyaris meledak, hampir saja bibir mereka bersentuhan. Sekitar 2 inch jarak di antara bibir mereka. Hidung mereka yang mancung bahkan saling beradu, menyebarkan hawa panas saat bernapas.
“M–manajer?”
Secara cepat Oh Lian menegakkan punggungnya. Ghm! “Kau ingin menginap di sini?”
“Eh, ya ampun aku tertidur?” gumam Gia.
“Bangunlah kau harus pulang, ingat kau ada janji besok pagi dengan Eichi!”
“He, eh manajer dari mana kau–“ ucapannya terhenti karena Oh Lian melangkah pergi. “Aneh, dari mana manajer tahu kalau aku besok ada janji dengan Eichi?”
~♤~
Byuuuurr!
Gia menyiram wajah di wastafel agar kantuknya hilang. “Semoga aku tidak tertinggal bis terakhir.” Mengambil tisu, sejenak menatap diri di cermin. Perhatiannya tertuju ke bibir. “Aku yakin kemarin bukankah mimpi, tapi ... mana mungkin manajer menciumku? Jelas-jelas dia sangat membenciku ... tapi malam itu saat di mobil, aaaaargh!”
Pada akhirnya Gia memang benar-benar tertinggal bis terakhir.
“Astagaaaa! Nasib sial apa lagi yang akan menimpaku sekarang?”
Tin!
Sebuah mobil berhenti tepat di depan Gia.
__ADS_1
“Mobil siapa itu?” Gia memastikan pemiliknya. “Manajer?”
“Masuklah, aku akan mengantarmu pulang.”
“Tapi–“
“Oke baiklah kalau kau tidak mau!” sahut Oh Lian.
“Iiih menyebalkan!” Gia kesal. “MANAJER!” serunya.
Mobil pun berhenti lagi, cepat-cepat Gia masuk ke dalam lalu mengenakan sabuk pengaman. “Astaga!” batin Gia ketika sadar bahwa tadi sempat melihat keadaan bagian dalam mobil Oh Lian dari luar sebelum naik mobilnya. “Mobil ini, kacanya tembus pandang, itu artinya saat aku mengganti bajuku kemarin ... jangan bilang kalau manajer bisa melihatnya?” Gia menoleh cepat, menatap tajam Oh Lian.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Manajer katakan padaku dengan jujur ... kemarin waktu aku mengganti pakaianku, apa kau melihatnya?”
“Melihat, melihat apa?”
”Jangan pura-pura bodoh, kau pikir aku tidak tahu apa? Manajer ... jangan berlagak bodoh, kau pasti melihat semuanya.”
Oh Lian menghentikan mobilnya di lampu merah. “Lalu ... kalau aku melihat memangnya kenapa? Itu juga sudah berlalu,” jawabnya santai.
“Mana bisa begitu!” Gia menyilangkan kedua tangan di depan dada.
“Dengar, meskipun kau telanjang di depanku ... aku tidak akan tertarik denganmu.”
“Kenapa kau menyebalkan, setidaknya kau bisa meminta maaf.” Gia murung, merasa direndahkan karena tak dihargai oleh manajernya sendiri.
Oh Lian menoleh, menatap wajah malu Gia. “Maaf, itukah yang ingin kau dengar?”
Hening, Gia tak menyahut permintaannya maaf yang tak terdengar tulus. Memilih membuang pandangannya ke luar.
Tak lama mobil pun melaju lagi.
“Sial, kenapa jadi canggung seperti ini?” batin Oh Lian. Ghm! “Apa kau lapar?”
Gia masih diam, enggan menjawab bahkan sejak tadi masih menatap keluar.
“Hei, ayolah ... aku bahkan sudah meminta maaf.”
“Mungkin meminta maaf mudah bagimu, tapi setidaknya jangan merendahkanku. Aku tahu penampilanku buruk, wajahku juga tidak cantik ... tapi kenapa kau harus mengatakan hal buruk seperti itu. Meski aku bukan kriteriamu apakah pantas kau mengatakan kalimat itu kepada perempuan yang belum lama kau kenal? Apa karena kau manajer dan aku bawahanmu sehingga kau bisa berucap semaumu?”
“Gia?”
“Dengar manajer, aku pun sadar diri ... dan aku juga tidak pernah berharap kau menyukaiku. Tapi setidaknya hargai aku sebagai karyawanmu.”
Oh Lian terdiam tidak menyangka semuanya akan menjadi serumit itu.
“Berhenti di sini!” sahut Gia.
“Tapi–“
“Aku bilang berhenti di sini!” seru Gia.
Oh Lian akhirnya menepikan mobilnya.
Setelah melepas sabuk pengaman, Gia segera turun dari mobil. “Aku turun di sini saja, terima kasih atas tumpangannya.”
__ADS_1
“Gia? Gia Luciella!” Oh Lian mencoba menghentikannya tapi Gia terlanjur menghentikan taxi lalu pergi. “Sial, masalah kecil kenapa jadi rumit seperti ini?” Oh Lian menendang ban mobil depan.