
Dadanya bergemuruh, Gia menahan rasa kecewa yang teramat besar bercampur penyesalan. Meski begitu bukankah ini terlalu berlebihan? “Manajer ... kau mempermainkanku?”
Pfftt! “Serius kau bertanya seperti itu?” Ghm! “Sebenarnya aku masih belum puas bermain-main denganmu ... tapi sayangnya kau sudah menyerah. Padahal aku sudah membayangkan kau akan memohon sampai menangis untuk hubungan kita.”
“Sebenarnya aku masih belum puas bermain-main denganmu ... tapi sayangnya kau sudah menyerah. Padahal aku sudah membayangkan kau akan memohon sampai menangis untuk hubungan kita.” Kalimat yang sebelumnya tak pernah dia bayangkan itu keluar dari mulut Oh Lian.
Gia semakin tak percaya mendengarnya. “Manajer, kau–“
“Oh ya ... dan satu hal lagi. Aku tidak mempermainkanmu. Aku tidak memanfaatkanmu untuk menjadi pesuruhku, yang ada kau justru sangat menikmati apa yang aku lakukan padamu.”
Kedua tangannya mengepal kuat, Gia menahan amarah yang nyaris meluap. Tak ingin semakin sakit, Gia akhirnya memilih pergi dari apartemen.
“Stop manajer!” Gia beranjak berdiri dari kursi. “Untuk kesalahan yang dulu pernah aku perbuat, aku benar-benar minta maaf. Dan kau juga sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dengan membalasku ... jadi aku harap cukup sampai di sini. Untuk ke depannya aku mohon, kita tidak perlu lagi saling menyapa dan anggap kalau semua ini tidak pernah terjadi.” Kepalanya menunduk sebagai rasa hormat. “Saya permisi, manajer.” Gia melangkah melewati Oh Lian, tepat saat itu air matanya menetes begitu saja.
“Apa yang kau tangisi Gia? Lelaki itu tidak pantas untuk kau tangisi,” gumamnya dalam hati. “Tidak, aku tidak menangis untuk Oh Lian! Aku menangis karena merasa sedih dengan diriku sendiri. Aku sedih atas kebodohanku. Aku sedih karena terlalu mudah percaya dengan ucapannya.”
Ting!
Gia melangkah masuk ke dalam lift, seketika saja kedua kakinya lemas tak mampu menopang berat tubuhnya.
Brugh!
Membiarkan tubuhnya jatuh duduk, Gia menangis dalam diam. Membuat dadanya semakin sesak hingga memanas.
Sementara itu di sisi lain, Oh Lian masih duduk di sofa. Bersandar dengan kepala menengadah menatap langit-langit.
“Bukankah ini yang kau inginkan? Lalu ... kenapa kau menyesali semua yang telah kau ucapkan?” ucapnya dalam hati, matanya terpejam membayangkan ekspresi kesedihan di wajah Gia ketika perempuan itu meninggalkan apartemennya. “Sial!”
~♤~
“Apa! Kau ingin mengundurkan diri?” Jenni terkejut mendengar pengakuan sahabatnya. “Kau sudah gila, Gi?”
“Aku sudah memikirkannya, aku ingin kembali ke kampung halamanku.”
“Aneh, apa-apaan ini?” sahut Eichi. “Kau dan manajer sudah janjian ya?”
“Kau ini bicara apa?” sahut Jenni.
Gia melirik kesal setelah Eichi membahas lelaki itu.
“Jadi kau belum dengar kalau manajer juga mengundurkan diri hari ini?” jelas Eichi.
“Ha, benarkah?” Jenni tak percaya.
__ADS_1
Gia hanya diam, memikirkan apa yang sedang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini. “Kenapa manajer mengundurkan diri?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku juga dengar Presdir kita terdahulu jatuh sakit beberapa hari yang lalu. Dan hari ini kita kedatangan Presdir baru.”
“Benarkah?” Jenni penasaran. “Apa dia masih muda? Aku yakin pengganti Presdir yang dulu adalah putranya ... aku berharap dia jauh lebih tampan dari manajer. Haha ....”
Ghm! Dehem seorang lelaki, sengaja membuat mereka yang sedang bergosip kembali ke meja masing-masing.
“Selamat pagi,” sapa lelaki itu.
Gia terpaku melihat keberadaan Tuan Lee di sana. “Dia ... bukankah–“
“Hari ini kita kedatangan Presdir baru. Karena Presdir lama sedang kurang sehat maka untuk ke depannya perusahaan ini akan diambil alih oleh putra dari Presdir.” Lee menoleh. “Tuan, silakan.”
Semuanya terkejut tanpa terkecuali ketika melihat Oh Lian masuk dan memperkenalkan diri.
“Ha, ma–manajer?”
“Bukankah itu manajer?”
“Benar ... jadi sekarang dia adalah Presdir?”
“Jadi, manajer adalah putra dari pemilik perusahaan ini?”
Semua ribut dengan opini masing-masing.
“Selamat pagi semuanya.” Oh Lian tersenyum, perhatiannya teralihkan ke Gia. Saling melempar pandang, menatap satu sama lain. “Aku rasa tidak perlu perkenalan lagi karena kita sudah saling mengenal, lanjutkan pekerjaan kalian.”
Seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya, Oh Lian melangkah begitu saja menuju ruang kerja barunya.
Sementara itu Gia masih terdiam, tak menyangka Oh Lian adalah putra dari pemilik perusahaan itu. “Pantas saja selama ini aku merasa aneh, apa lagi ketika mengunjungi anak perusahaan kemarin ... semua tunduk memberi hormat padanya.” Gia menatap surat pengunduran diri yang telah siap di atas meja.
Sebelumnya dia sangat bersemangat karena membayangkan akan bertemu Presdir lama untuk memberikan surat pengunduran diri tapi sialnya kini yang harus dia hadapi adalah Oh Lian.
Huuuft! Gia menghela napas panjang melegakan dadanya yang berdebar tak karuan. “Tidak, aku tidak boleh menyerah semudah ini. Jika aku mengundurkan diri sekarang ... Oh Lian pasti akan tertawa atas kemenangannya.”
“Hei!” bisik Eichi, menggeser kursinya mendekati Gia yang tengah melamun. “Gila, aku tidak menyangka kalau manajer kita ternyata putra dari pemilik perusahaan ini. Bagaimana?” Eichi menyenggol lengan Gia menggunakan siku. “Bagaimana perasaanmu saat mengetahui kau memiliki kekasih seorang Presdir? Haha ... aku yakin kau pasti sangat bangga.”
“Kau bisa diam! Aku sedang tidak mood membicarakan hal itu.”
“Gia, Presdir memanggilmu,” ucap salah seorang pegawai sambil berlalu pergi.
“Sial!” gumam Gia. Berat rasanya saat beranjak dari kursi tapi dia harus tetap menghadapi Oh Lian.
__ADS_1
“Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?” Eichi kebingungan.
Langkah Gia terhenti di depan pintu saat mendengar suara Sara dari dalam ruangan.
“Apa kau benar-benar sudah mengakhiri hubunganmu dengan gadis itu?” tanya Sara.
“Hmm, lebih tepatnya hubungan ini berakhir tapi tak seperti yang aku rencanakan.” Oh Lian duduk di kursi, bersandar santai.
“Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa kau menyesal sudah mempermainkannya?”
Oh Lian hanya diam, termangu memikirkan Gia.
“Lian ... aku rasa kau benar-benar jatuh cinta padanya,” sahut Sara melanjutkan pertanyaannya.
Hahaha .... “Kau pasti sudah gila. Aku bisa bertahan selama ini ... mana mungkin aku goyah hanya untuk beberapa hari ini. Tapi, ngomong-omong ... Sara apa kau baik-baik saja, kau terlihat pucat.”
“Aku kehilangan nafsu makanku beberapa hari ini ... dan rasanya mual setiap melihat makanan di meja.”
Deg!
Gia terkejut mendengar percakapan mereka. “Jangan-jangan ...,” batinnya.
“Lian, aku belum datang bulan dan seharusnya untuk bulan ini sudah satu minggu yang lalu aku melewatkannya.”
“Sara ... apa kau sudah pergi ke dokter?” Lian mulai khawatir.
“Belum, Lian ... bagaimana jika aku hamil?”
Deg!
Jantung Gia serasa mau meledak, meski hubungannya dengan Lian telah berakhir tapi Gia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa dia benar-benar sangat mencintai Oh Lian. “Hamil? Sa–ra ... mengandung anak dari Oh Lian?” gumam Gia.
“Lian, bagaimana ini?” Di dalam sana Sara sangat khawatir dan Lian mencoba menenangkan.
“Tenanglah, kita pergi dokter siang ini.”
“Aku tidak mau pergi sendiri, kau harus menemaniku.”
Suara manja Sara membuat perasaan Gia yang mendengarnya semakin tak karuan. Tangannya meremas hendel pintu sebelum mengetuk lalu membuka pintunya.
Tok, tok, tok!
Seolah tak peduli dengan apa yang baru saja dia dengar, Gia melangkah masuk ke dalam. Menundukkan kepala menyembunyikan matanya yang merah.
__ADS_1
“Gia?” batin Oh Lian. Dia lupa bahwa tadi sempat meminta pegawai lain untuk memanggil Gia ke ruangannya.
Suasana berubah tegang, Oh Lian bisa melihat raut kesedihan di wajah Gia yang selalu tertunduk. “Apa dia mendengar semua percakapanku dengan Sara? Sial kenapa ini justru mengganggu pikiranku?” batinnya.