
“LEA!!” seru Juan saat berhasil menemukan Lea. Langkahnya cepat menyusul ketertinggalan tapi beruntung gerombolan orang membuat Juan kehilangan jejaknya. “Sial!”
Sementara itu Lea terus berlari semakin jauh. Dadanya berdebar tak karuan mengira Juan berhasil menangkap dirinya.
Perhatiannya menyapu sekitar, memastikan keadaan untuk mencari tempat persembunyian. Saking paniknya, Lea tak sadar jika keberadaan Lian tak jauh dari dirinya.
“Lea?” Ekspresi wajah Lian langsung cerah, tapi berubah dalam sekejap ketika melihat perempuan itu berlari ketakutan seperti dikejar oleh seseorang.
Hah, hah, hah! Gia menghela napas setelah berlari, mencari teman nyaman untuk bersembunyi.
“Lea?”
Deg!
Dadanya nyaris meledak, terkejut melihat Lian berdiri di depan mata.
“Lian?” Lea beranjak berdiri, menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Lian.
Lian sempat terpaku sebelum akhirnya membalas pelukan Lea. “Kau baik-baik saja?”
Uhm! Mengangguk cepat, tubuhnya bergetar ketakutan.
“Kenapa denganmu?”
“Aku harus pergi dari sini, atau dia akan mengejarku dan membawaku pergi ke luar negeri.
Ssshhhhht! “Tenangkan dirimu.”
“Tidak, Lian! Aku harus pergi, aku harus pergi.” Lea hendak berlari tapi Lian menahan lengannya.
“Tunggu, Lea. Ke mana kau akan pergi?”
“Ke mana pun asal jangan di sini, aku harus pergi. Lepas Lian!”
“Oke, oke tapi kau tidak bisa pergi sendirian. Aku akan membawamu pergi dari sini tapi janji kau harus tenang dulu.” Lian mencoba menenangkan meski Lea sangat panik dan tak mudah dikendalikan.
“Tapi–“
Ssssshhhhh! “Tenangkan dirimu.” Kedua tangan Lian merangkup pipinya. Menghubungkan kening mereka berharap bisa menyerap segala keresahan dan kepanikan Lea. “Kau harus tenang, Oke. Kita akan pergi dari sini aku janji tapi tenangkan dirimu,” ucap Lian dengan lembut.
Akhirnya Lea mulai tenang, setelah itu menuruti semua ucapan Lian.
“Kau sudah merasa baikkan?” ucap Lian lembut.
Uhm! Lea menganggukkan kepala.
“Aku tanya, kau ingin pergi dari sini? Keluar dari bandar?”
Uhm! Lagi-lagi Lea mengangguk cepat. “Aku harus keluar dari bandara, aku harus sembunyi. Aku tidak ingin pindah ke tempat yang aku tidak ketahui. Aku tidak ingin lagi menjadi asing di tempat baru lagi.”
“Oke, Baiklah. Kalau begitu dengar ... jawab pertanyaanku. Kau ingin pergi ke mana sekarang?”
Lea terdiam, menatap mata Lian penuh kebingungan. “A–aku tidak tahu.”
__ADS_1
“Kalau kau ingin pergi tapi kau tidak tahu ke mana ... maukah kau ikut denganku?” Terdiam sesaat, menatap ekspresi khawatir di wajah Lea. “Tenang, keberadaanmu aman bersamaku. Aku akan menjagamu dengan baik sampai kau menemukan tempat baru yang membuatmu nyaman.”
Pada akhirnya Lea mengangguk pelan.
~♤~
“Sementara kau bisa tinggal di sini.” Lian membawa Lea tinggal di hotel tempat biasa dia menginap saat berada di Jeju. “Jika kau keberatan aku akan meminta orang untuk mencarikan–,” ucapnya terputus.
“Tidak, tidak perlu. Ini lebih dari cukup. Mungkin aku sebentar di sini. Maaf kalau aku terlalu banyak merepotkanmu.”
“Kau tidak perlu meminta maaf, aku justru senang kau mau tinggal di sini.”
“Maksudmu?”
“E, uhm ... maksudku kau bisa tinggal di sini semaumu. Sampai kapan pun kau mau.”
“Tidak, itu tidak mungkin. Karena–,”
“Aku akan memaksa jika kau menolak,” sahut Lian memotong pembicaraan. “Kau lapar? Aku akan memesan makanan untukmu. Lebih baik kau bersihkan dirimu dulu.”
Hening, Lea mulai bingung karena semua pakaiannya ada di dalam koper yang dibawa Juan. “Uhm, baiklah.”
Lain memesan beberapa makanan dari hotel untuk di kirim ke dalam kamar. Sementara dirinya kini berada di balkon menikmati beberapa batang roko.
Ceklek!
Lea keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Uhuk! Uhuk! Terbatuk karena asap rokok.
“Uhm, terima kasih.” Mengambil alih kaos dari tangan Lian.
Sementara itu Lian terpaku, perhatiannya tertuju ke rambut Lea yang tergerai basah.
Ghm! Dehem Lea membuyarkan lamunan Lian.
“E, maaf. Aku akan keluar selagi kau mengganti pakaianmu.” Lian mengambil sebatang rokok sebelum keluar ke koridor. Jarak yang tak terlalu jauh, bahkan dari sana dia visa melihat Lea sedang mengganti pakaian meski kadang korden yang terkena angin sekilas menghalangi.
Meski berusaha fokus ke depan, perhatian Lian selalu memaksa untuk melirik kearah Lea.
Sampai pada akhirnya dia tak bisa menahan diri, Lian menolehkan sedikit kepalanya. Melirik Lea yang tengah sibuk membuka kancing baju.
Terlihat permukaan kulit putih bersih mulus terpampang di depan mata. Namun ada satu bagian di sana yang menarik perhatian Lian.
Bekas luka jahitan sepanjang kurang lebih 10 cm berada di pinggang Lea. Meski tak tampak jelas, tapi Lian yakin itu seperti bekas luka tusukan.
Tak sampai di situ, ketika Lea berhasil melepas bajunya, terlihat jelas bra hitam yang menyangga kedua dadanya. ****! Umpat Lian ketika miliknya menegang di waktu yang tidak tepat.
“Uhmm, aku sudah selesai ... kau bisa masuk.” Lea gelisah, meremas ujung kaos karena malu.
“Duduklah, aku akan membantu mengeringkan rambutmu.” Menarik kursi di depan meja kaca.
“Aku bisa melakukannya sendiri.”
“Tapi aku ingin melakukannya untukmu, duduklah.” Lian mengambil hairdryer lalu menyalakannya.
__ADS_1
Lea duduk di kursi, menatap bayangan wajah di cermin. Gugup tak karuan padahal Lian hanya ingin membantu mengeringkan rambutnya.
Wwwuuurrrrrrr!!!
Lian mulai dari bagian belakang. Tapi sialnya bayangan wajah Lea di cermin lebih menarik perhatian.
Sesekali dia melirik ke kaca sampai akhirnya mata mereka bertemu dan saling memandang di cermin.
Ghm! “Sebentar lagi makanan datang, kau bisa istirahat dan menikmati makan malammu.”
“Eh, kau ingin pergi?”
Melihat ekspresi khawatir di tinggal pergi dirinya, sejenak Lian terpaku. Ghm! “Mungkin, aku akan keluar sebentar mencari pakaian untukmu.”
“Kau akan meninggalkanku sendiri?” Refleks Lea meraih tangan Lian. Memutar kepala sampai mendongak saat menatap wajah Lian penuh khawatir karena tak mau di tinggal sendiri.
Deg!
Lian terpaku, menatap wajah Lea di bawah sana. Wajahnya polos, bibirnya basah di tambah tetesan air dari rambut membuat Lian tak karuan.
Hairdryer terlepas dari tangan, kini kedua tangan Lian beralih merangkup pipi Lea. Mendekatkan wajah, menautkan kening mereka hingga bahunya membungkuk.
Memenuhi dadanya yang kosong dengan aroma Lea dari sisa-sisa mandi. Lian menggertakkan gigi menahan diri agar tak melahap Lea habis-habisan.
“Apa yang harus aku lakukan padamu?” gumam Lian, saking dekatnya posisi wajah mereka hingga bibir nyaris bersentuhan.
“Lian!” Tangan Lea terangkat, menyentuh tangan Lian yang masih bertahan di pipi. Seperti sebuah peringatan, seolah Lea tahu kalau Lian tak tahan setiap kali melihat dirinya.
“Yes, I Know ... aku tidak akan melampaui batasku lagi.” Perlahan matanya terbuka, menatap mata Lea yang begitu dekat.
Napas mereka saling bersahutan, membaur diudara menyapu wajah.
Glek!
Terdengar jelas suara Lian saat menelan saliva. “Lea ...,” bisik Lian. “Bagaimana jika aku tidak bisa menahan diri dan melewati batas yang sudah kubuat di antara kita?”
Lea hanya bisa diam, fokusnya teralihkan ke aroma kofein dan sisa rokok dari mulut Lian. “Bukan aku yang membuat batas itu, tapi kau ... kau sendiri yang membuatnya.”
Matanya sedikit membulat, ucapan Lea seperti sebuah lampu kuning baginya. Itu artinya jika Lian melewati batas maka Lea tak akan merasa keberatan. Tetapi saat kepalanya semakin dekat, ingin mencium bibir Lea tiba-tiba suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian.
Tok, tok, tok!
Wajah mereka merah merona, Lian menjauh membuka pintu.
“Makan malam sudah datang, kau bisa makan ... aku akan membersihkan tubuhku dulu.”
Lea menganggukkan kepala.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Lian mandi, saat dia keluar langkahnya langsung terpaku melihat Lea sibuk menyisihkan kacang polong dari makanannya.
Deg!
Dadanya berdebar kencang tak karuan, seperti nyaris melompat melihat kebiasaan Lea sangat mirip dengan istrinya. “Lea ... kenapa kau menyingkirkan kacang polongnya?”
__ADS_1