Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
48. Foto


__ADS_3

“Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” sapa Lee Dae Hyun kepada Park Juan.


Mereka bertemu setelah sama-sama menghadiri sebuah pertemuan.


“Kabarku baik.” Juan memberi hormat menundukkan kepala dengan ekspresi wajah dingin.


“Aku sampai lupa belum mengucapkan terima kasih padamu karena telah menjadi perwakilan di perusahaan meski hanya beberapa pekan.”


Juan hanya diam, sampai akhirnya memilih pergi tanpa menanggapi ucapan Lee Dae Hyun. “Maaf, saya masih banyak pekerjaan. Permisi.”


“Tunggu!” sahutnya.


Langkah Juan terhenti, menunggu Lee Dae Hyun melanjutkan ucapannya tanpa menoleh ke belakang.


“Aku rasa kau benar-benar menepati janjimu. Tetapi ingat ... jika sampai menimbulkan masalah ke depannya, maka kau tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk menolongnya. Jadi pastikan jangan sampai dia muncul di hadapanku!” Lee Dae Hyun kemudian melangkah pergi.


Entah apa yang mereka bicarakan, tapi bisa dipastikan kalau itu adalah hal serius. Raut wajah Park Juan semakin gelap. Hanya bisa diam, menggertakkan gigi menahan emosi. Kedua tangan mengepal kuat sampai terlihat putih di setiap ruasnya.


~♤~


“Halo, Tuan?” Hae Su, lelaki yang selalu menemani Lea terlihat sedang menghubungi seseorang.


“Baik, Tuan. Saya akan menghubungi Anda nanti.”


Setelah mematikan panggilan, Hae Su mengunjungi rumah Lea.


Sementara saat itu, kondisi rumah Lea sangat berantakan. Bekas putih terigu bercampur air menyebar di mana-mana.


Smooch~


Cup~


Slurup~


Smooch~


Lea tak bisa menolak permainan bibirnya, Lian teramat pandai membuat dirinya terlena.


Ciuman terhenti sesaat.


“Lidah?” pinta Lian dengan suara lembut.


Uhm~ Lea menurut, membuka mulutnya lebih lebar lalu menjulurkan sedikit lidahnya.


Lian menyesapnya lembut, secara bergantian menghisab bibir lalu lidahnya secara bergantian.


Ugh! Rintih Lea, merasa kesakitan. Dia yakin bibirnya mulai bengkak.


Ini bukan perasaan aneh, Lian yakin rasa ini sangat familiar. “Aneh ... mereka dua orang yang berbeda tapi kenapa?” batinnya.


Ceklek! Suara pintu dibuka dari luar.


“Lea?” Hae Su berdiri di tengah pintu, pandangannya menyapu sekitar mencari keberadaan Lea.


“Astaga, kenapa di sini sangat berantakan?” Hae Su mengurungkan niatnya masuk ke dalam.


Beruntung dia tak melihat apa yang terjadi di rumah itu karena terhalang meja.


Mendengar suara Hae Su, Lea refleks mendorong dada Lian hingga ciuman terhenti. Segera dia beranjak berdiri, memasang senyum panik. “Hae Su?”


“Lea, apa yang terjadi di sini?”


“Jangan masuk!” sahut Lea, menggunakan dua tangan mengarah ke Hae Su sebagai tanda agar tetap berdiri di tempat.


“Aku akan membantumu membersihkan rumah ini.”


“Tidak perlu, aku akan menyelesaikannya sendiri. Keluarlah ... lebih baik katakan pada mereka kalau makan siang kali ini akan sedikit terlambat.” Lea sangat panik, sesekali melirik ke bawah di mana Lian masih berada di tempat semula.


“Kau yakin kau bisa mengurus semua ini sendiri?”


“Uhm!” Lea mengangguk cepat. “Aku akan segera menyelesaikan semuanya sendiri. Pergilah!”


“Oke.” Hae Su melangkah pergi.


Setelah pintu tertutup, Lea membiarkan dirinya jatuh duduk di lantai. “Huh! Hampir saja. Bagaimana jika dia melihat Lian ada di sini?” batin Lea.


“Maaf ...,” ucap Lian seketika. “ Aku tidak bermaksud menciummu ... itu semua terjadi begitu saja.”


Lea hanya diam, mendengar ucapannya. “Bodoh! Kenapa juga aku menurut saat dia menciumku tadi?” batinnya.


“Apa temanmu itu akan mengatakan pada kekasihmu tentang hal ini jika melihat kita berciuman?”

__ADS_1


“Entah ... maaf, tapi bisakah kau pergi? Aku akan membersihkan tempat ini sendiri dan menyiapkan makan siang untuk para pekerja.”


Deg!


Lian bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Lea. Seperti sebuah penyesalan besar karena membiarkan ciuman itu terjadi.


“Apa yang kau bayangkan saat menciumku?” pertanyaan Lea membuat Lian terpaku.


Entah bagaimana dia harus menanggapi pertanyaannya.


“Aku mendengar beberapa kali kau memanggilku dengan nama Gia. Itu nama istrimu, bukan?”


Lian tertunduk, merasa bersalah.


“Apa kau membayangkan wajahnya saat menciumku tadi? Seberapa miripnya aku dengan istrimu?”


Hening sesaat. Nyatanya memang sejak awal kedekatan mereka, Lian selalu menganggap bahwa Lea adalah Gia, istrinya. “Maaf.”


“Aku mengerti.” Lea merasa sakit hati tapi sadar bahwa apa yang telah dia lakukan juga menyakiti hati kekasihnya. “Kembalilah, aku akan membereskan tempat ini.”


“Aku akan kembali setelah membantumu membereskan semuanya.”


“Tidak perlu,” sahut Lea. “Aku bisa melakukannya sendiri, pergilah sebelum Hae Su kembali dan melihatmu berada di sini.”


“Lea ....”


“Aku mohon pergilah!” pinta Lea dengan suara lembut.


~♤~


“Bodoh!” umpat Lian. Meremas rambutnya kasar sebelum menjatuhkan diri ke ranjang menatap langit-langit. “Gia ... maaf. Apa yang sudah aku lakukan?”


Dreeeet!


Mendengar ponselnya di atas nakas bergetar, Lian beranjak duduk.


Melihat pesan masuk dari nomor asing, Lian segera membacanya.


“Ini aku, Lea. Maaf sebelumnya karena telah lancang meminta nomor pada pegawaimu. Aku hanya ingin mengatakan kalau sepertinya sore ini aku tidak bisa menemanimu pergi. Kalau kau tidak keberatan aku akan meminta Hae Su untuk membawamu keliling Jeju.” Isi pesan dari Lea.


Merasa buang-buang waktu dengan membalas pesan, Lian memilih langsung menghubungi nomornya.


Tut!


“Ya, halo?” Suara Lea sangat lirih, jelas terdengar ragu saat menjawab panggilan dari Lian.


“Mengenai rencana kita sore ini ... aku tidak masalah jika kau tidak bisa menemaniku, aku mengerti kau pasti memiliki banyak pekerjaan. Untuk temanmu, tidak perlu repot-repot. Mungkin aku akan menunda untuk keliling Jeju.”


“Baiklah, aku akan bilang pada Hae Su.”


Lian terpaku ketika mendengar suar bising dari ujung ponsel. Entah apa yang terjadi, tapi dia sangat yakin jika sesuatu terjadi kepada Lea.


“Lea apa yang terjadi?”


“Maaf aku tutup dulu teleponnya!”


Tut!


Setelah menjauhkan ponsel dari telinga, Lian menatap layarnya sesaat. “Apa yang terjadi?” gumamnya.


~♤~


“Apa yang kalian inginkan!” Hae Su terkejut melihat beberapa orang merusak ke rumah Lea.


“Kita tidak ada urusan denganmu!” sahut salah satu dari mereka.


“Cepat bayar royalti 50% dari hasil yang kau dapatkan menjadi juru masak untuk pekerja di proyek resort itu. Aku yakin kau pasti mendapatkan banyak penghasilan dari sana!”


“Punya hak apa kau meminta royalti 50% dari Lea! Ini termasuk pungli, kan?” Hae Su tak terima.


“Biarkan saja, aku akan membayar berapa pun yang dia minta agar segera pergi dari sini.”


“Tidak bisa, Lea! Ini sangat jelas ... mereka hanya ingin memanfaatkanmu mencari uang agar mabuk-mabukan. Hai, kau pikir aku tidak tahu?”


“Kurang ajar!”


Brak!


Mereka lagi-lagi menghancurkan apa pun yang ada.


Bugh!

__ADS_1


“Hentikan!” seru Lea saat salah satu dari mereka menyerang Hae Su. “Lepas!” Berusaha membantu Hae Su dari cengkeraman.


“Menyingkir kau!” Mendorong Lea hingga jatuh tersungkur.


Kedua dari mereka mencengkeram tangan Hae Su sementara satu paling kuat di antara yang lain mulai memukuli perutnya.


Bugh, bugh, bugh!


Ah!


“Hentikan! Aku akan membayar berapa pun yang kalian minta, tapi lepaskan dia!”


Hae Su tak berdaya, wajahnya lebam. Dibiarkan tak berdaya di lantai.


Lea mengambil uang, menghitung sesuai dengan jumlah yang mereka minta tapi yang ada semua uang Lea dirampas.


“Kelamaan!”


“Kembalikan! Kenapa kau mengambil semuanya ... aku juga membutuhkan uang itu!”


Cih! “Aku yakin kau pasti akan mendapatkan lagi besok. Jadi tidak masalah ‘kan jika aku mengambil semua ini!”


“Tapi–“


Bugh!


Hae Su mendapat tendangan lagi di bagian perut sebagai bentuk hukuman karena Lea melawan. Hal itu membuat Lea tak bisa menolak keinginan mereka.


“Ayo kita pergi!”


Brak!


Lea terkejut saat mereka membanting pintu.


“Hae Su, kau baik-baik saja?”


Vrooom ....


Ciiit! Mobil yang ditumpangi Lian berhenti di depan rumah Lea.


Melihat semuanya berantakan, Lian segera turun dari mobil.


“Apa yang terjadi?” gumamnya. Melangkah masuk memastikan keadaan. “Lea?” Lian terkejut melihat keadaan di sana jauh lebih parah.


Lea tengah menangis dengan menahan kepala Hae Su dalam pangkuan. Sepertinya luka di tubuh Hae Su lumayan parah.


Hiks! “Lian ....


“Apa yang terjadi?” Lian mendekat, menatap wajah Lea dengan lekat. Melihat tangisnya sampai membasahi pipi, Lian bisa merasakan sakit yang tak mampu dijelaskan tepat di bagian dada paling terdalam.


Hiks .... “Tolong, Lian tolong Hae Su ... bawa dia ke rumah sakit.”


“Iya, kita bawa dia ke rumah sakit, oke. Tenanglah, jangan menangis.” Lian mengusap lembut pipinya yang basah.


~♤~


“Tubuh Pasien mengalami syok, setelah istirahat beberapa hari dia akan segera pulih,” jelas dokter.


Lea bersyukur setelah mendengar penjelasan dokter.


“Kau sudah merasa tenang sekarang?” ucap Lian lembut. “Jangan menangis lagi, Hae Su pasti baik-baik saja.” Mengusap ujung kepalanya.


“Maaf sudah merepotkanmu.”


“Tidak perlu meminta maaf, aku senang jika kau melibatkan diriku dalam setiap masalah yang kau hadapi?”


Lea terdiam sesaat, mengangkat wajahnya menatap Lian. “Kenapa kau melakukan ini? Kita baru saja kenal beberapa hari lalu ... kenapa kau sebaik ini padaku?”


Lian mengalihkan perhatian kearah lain menghindari tatapan Lea. Ghm! “Aku ....


“Apa aku mengingatkanmu pada mendiang istrimu?”


Lian menoleh, menatap penuh keraguan pada Lea. “Lea–“


“Katakan jika memang dugaanku benar, jangan biarkan aku salah sangka dengan sikapmu.”


Setelah terdiam sesaat, Lian mengambil ponsel. Meski dia tak memiliki foto istrinya, tapi beruntung dulu Eichi sering sekali mengirimkan foto Gia sebagai laporan saat mereka tidak sedang bersama.


“Kau bisa melihatnya sendiri.” Lian memberikan ponselnya.


Deg!

__ADS_1


Betapa terkejut Lea melihat wajah perempuan di foto itu benar-benar sangat mirip dengannya. “Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana bisa semirip ini?”


__ADS_2