
Ack! Hah ... ngh~
“Kenapa, sakit?” Suara Lian terdengar berat. Dadanya yang kekar dan basah mengurung Gia dalam dekapan.
Mmh~ Gia menggeleng pelan.
Beruntung perut Gia belum membesar sehingga posisi terungkap saat ber–cinta masih sangat aman.
Dorongan yang semakin sering dan kuat membuat Gia menjerit penuh kenikmatan. Kedua kaki terangkat saat tempo hentakan semakin cepat. Perut bagian terdalam serasa di tusuk, menimbulkan rasa gatal di seluruh tubuh. Pikirannya pecah, fokusnya hanya tertuju pada setiap sentuhan yang Lian berikan.
Melihat rambut Gia dari belakang membuat Lian ingin menjambak dan menarik kepalanya sampai mendongak saat hentakan panggulnya semakin cepat, tapi Lian tak tega melakukan itu.
Akhirnya dia memeluknya dari belakang, tubuh mereka saling menempel menyalurkan hawa panas melewati permukaan kulit.
Basah, licin dan panas.
Ngh~ hak!
Aahh! Ah!
Seprei sangat berantakan, dihujam rasa nikmat yang tiada tara berulang-ulang kali membuat Gia harus mencengkeram seprei sebagai pelampiasan.
Ugh~ uh!
Suara lenguhan Lian sangat berat, menandakan pelepasan lahar panas untuk kedua kalinya semakin dekat.
Dadanya terasa berat, posisinya yang berada di bawah mengharuskan Gia menahan berat beban tubuh Lian di tambah lagi dengan dekapan kedua tangan yang melingkar di dada serta leher nyaris membuat Gia sesak.
Belum lagi wajah Lian yang sengaja dibenamkan di leher, membuat gerakan tubuh Gia sangat terbatas.
Pelukan semakin kuat saat Lian hampir mencapai puncak.
Ugh! Huh ... ugh~ ngh~ ngh! Hah, hah, hah ....
Lian mendaratkan gigitan di lehernya tepat saat lahar panar keluar memenuhi perut Gia.
Ack! Jeritnya tertahan, merasakan kenikmatan bercampur sakit di bagian leher.
Hentakan mulai melambat, lenguhan mulai melemah. Lian menggeser tubuhnya berbaring di sisi ranjang. Mengatur tempo napas.
Perhatiannya teralihkan ke sang istri yang masih di posisi semula. Menatap punggung penuh dengan tanda merah akibat ulahnya.
Sepertinya Gia sangat kelelahan, tak sadar sampai tertidur pulas setelah pergulatannya dengan Lian dua kali malam itu.
Lian beranjak dari ranjang, pergi ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian, dia keluar membawa handuk basah dan sebuah cawan berisi air hangat untuk membersihkan tubuh istrinya.
“Gia?” ucapnya lirih. Meletakkan cawan di atas nakas. Mengubah posisi tidur istrinya, agar mudah ketika ingin membersihkan tubuhnya.
Ekspresi wajahnya terpaku, melihat tanda merah serta gigitan hampir memenuhi seluruh tubuh istrinya.
“Sial, benarkah aku melakukan semua ini?” batinnya. Lian mengusap wajahnya kasar.
Mulai dari wajah, perlahan turun sampai ke kaki. Perlahan mulai membersihkan permukaan kulit istrinya dengan handuk basah. Tak ada satu pun yang terlewatkan.
Hanya saja, dia sempat terkejut melihat bekas gigitan terbanyak berada di sela paha bagian dalam. Di keduanya kanan dan kiri, jelas terlihat bentuk gigi dan tanda merah kehitaman.
Aaaarrggg! Ah~ hah!
Suara lenguhan Gia kembali menggema di telinga kala dirinya mencercap bahkan menghisap habis Mrs.V milik Gia.
“Aku pasti sudah gila!” Setelah selesai, Lian menutup tubuhnya dengan selimut.
Ngh–
Langkahnya terhenti di ambang pintu kamar mandi, menoleh menatap Gia. Melihat istrinya mulai gelisah, Lian segera menghampiri setelah mengembalikan handuk ke tempat semula.
Setelah naik ke ranjang, Lian tak langsung berbaring. Sejenak duduk, sengaja menunggu reaksi Gia akan seperti apa setelah dirinya berada di sana.
Seperti yang dibayangkan, Gia mencari keberadaan suaminya dalam mata terpejam.
Melalui aroma feromon milik sang suami, dengan sendirinya Gia kembali terlelap dengan posisi meringkuk tepat di sisi Lian.
__ADS_1
Gia bahkan masih telan–jang, Lian belum sempat membantunya mengenakan piama.
Pada akhirnya, Lian berbaring di samping Gia. Membawa istrinya dalam dekapan. Membiarkan Gia terlelap di lengannya.
~♤~
Hari menjelang pagi, Gia terbangun dari tidurnya. Wangi, itulah aroma feromon milik suaminya yang melekat di bantal, seprei bahkan selimut, meski nyatanya saat mata terbuka, Lian sudah tak ada di sampingnya.
Wajahnya cerah, Gia tersenyum tipis meyakini bahwa Lian semalam tidur tepat di sampingnya.
“Kau sudah bangun?” Suara berat Lian mengacaukan pikiran.
Gia beranjak duduk, memakai selimut untuk menutupi dada. “Maaf, seharusnya aku bangun lebih awal darimu.” Cepat-cepat turun dari ranjang, tapi terhenti ketika rasa nyeri menyerang tubuhnya. Terlebih lagi di bagian Mrv.V dan kedua kaki.
Ah! Rintih Gia tertahan, sempat melirik ke Lian yang tengah sibuk dengan ponsel. “Jangan sampai dia tahu kalau aku kesulitan berjalan. Bisa-bisa dia pikir aku sedang mencari alasan,” batinnya.
Meski masih bergetar sisa semalam, Gia berusaha keras berdiri. “Eh!” Namun terkejut karena Lian tiba-tiba datang dan menggendong tubuhnya. “Presdir?” Gia melongo, kebingungan.
“Kalau kesulitan saat berjalan seharusnya kau beritahu aku.” Lian membawanya ke kamar mandi.
“Maaf, sudah merepotkanmu.”
“Tidak perlu minta maaf, ini semua aku lakukan untuk bayiku!” Lian menurunkan Gia, menutup pintunya.
“Hah ... ya, ya, ya, I Know, I Know! Untuk siapa lagi kalau bukan karena bayimu.” Gia terus menggerutu. “Bayimu? Ya kali ... ini juga bayiku, kan?” Gia berani berucap karena pintu sudah tertutup, jika Liana masih berada di sana, mana mungkin dia berani mengomel.
Ceklek!
Gia keluar setelah selesai mandi, masih mengenakan handuk kimono. “Baju ini untukku?” Melihat sebuah gaun hitam di atas ranjang.
“Lalu kau pikir aku yang akan menggunakannya?” Lian telah selesai mengenakan jas. “Pakai gaunmu kenapa kau melamun?”
“E, ta–tapi ....”
“Kenapa? Kau malu karena ada aku?” Lian tak percaya. “Kenapa harus malu, aku bahkan sudah merasakan semuanya!” ucapnya merujuk pada tubuh Gia. Lian mengalah, memilih keluar ke koridor menikmati rokok.
“Mau pergi ke mana sepagi ini aku harus mengenakan gaun?” gumam Gia. “Ah ya ampun, bau asap rokonya sampai tercium.” Uhuk! Uhuk! Gia sengaja batuk, bahkan suara semakin kencang.
Langkahnya terhenti melihat punggung Gia penuh dengan bekas merah dan gigitan terekspose di depan mata. Lian lupa dan salah memilih gaun untuk istrinya.
Tanpa berpikir panjang Lian melepas jas yang dia kenakan. Mengagunkannya untuk menutupi tubuh Gia.
“Eh, Presdir kenapa kau ....” Gia kebingungan saat Jas milik suaminya bertengger di kedua bahu.
“Pakai saja sampai aku memintamu untuk melepas jasnya. Ayo!” Lian mengulurkan tangannya.
Gia terdiam menatap tangan Lian.
“Apa yang sedang kau pikirkan, aku melakukan ini kare–“
“Bayimu!” sahut Gia. “Aku tahu!” kesal.
“Baguslah, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi dan kau tidak perlu salah sangka. Jangan senang dulu, aku masih marah denganmu.” Ekspresinya galak, tak ada senyum sedikit pun. “Ayo!”
Gia membalas uluran tangannya, mereka melangkah beriringan keluar dari kamar.
~♤~
Gia penasaran saat Lian menghentikan mobilnya di depan sebuah butik.
“Ayo turun.” Lian membuka pintu mobil.
Tanpa banyak bertanya, Gia pun menurut.
Lian memilih gaun yang lumayan tertutup, meski lekukan tubuhnya terlihat jelas tapi dia tak ingin bekas merah di tubuh Gia terlihat orang lain.
“Ayo!” Lian menarik tangan Gia, membawanya masuk ke ruang ganti.
“Presdir, tunggu!” Gia terkejut, langkahnya terhenti.
“Kenapa?”
__ADS_1
“A–aku bisa melakukannya sendiri.” Pipinya merona.
“Tidak, aku akan ikut masuk bersamamu.”
Tak bisa menolak, Gia akhirnya masuk ke dalam.
Sangat canggung, meski sudah menikah tapi sikap Lian jelas membuat jarak di antara mereka.
Tubuhnya tersentak, Gia terenyak saat Lian menarik lengannya memaksa menghadap kaca.
“Presdir?” Dadanya berdebar, menatap bayangan diri di cermin. Sementara Lian berdiri tepat di belakangnya, menempel tanpa batas.
“Lihatlah,” ucap Lian melepas jas dari tubuh Gia. “Kau penasaran kenapa aku ingin kau mengganti gaunnya?”
Gugup, Gia meremas gaun yang dia kenakan. Melihat tanda merah di sebagian tubuhnya, kedua matanya langsung membulat.
“Sekarang ganti gaunmu, aku akan menunggu di luar.”
“Presdir, tunggu!” Menarik ujung jas yang dikenakan Lian seperti anak kecil yang takut di tinggal.
“Kenapa?”
“Jangan jauh-jauh.” Sikapnya seperti anak kecil, menggemaskan.
Timbul rasa ingin melahap istrinya saat itu juga tapi Lian sadar tak punya banyak waktu. “Panggil aku jika membutuhkan bantuan, aku akan berdiri di depan ruang ganti.” Lian melangkah keluar, mengangkat panggilan dari Lee. “Halo, Tuan Lee?”
Gia telah melepas gaunnya dan mengganti dengan yang baru. Gaun pilihan Lian memang tidak pernah salah. Kali ini penampilan Gia seperti orang cina.
Gaun dengan potongan kerah agak tinggi, serta memiliki lengan. Dengan begitu Lian tak perlu takut lagi bekas merahnya terekspos.
“Presdir?” Gia membuka sedikit gordennya.
Lian menyudahi panggilan dari Tuan Lee. Menoleh, menatap Gia tengah mengintip dari balik gorden. “Apa yang kau lakukan?”
“Uhm, lesretingnya ... kau bisa membantuku?”
Lian melangkah masuk, menutup gorden. Perhatiannya tertuju ke punggung Gia yang terlihat karena lesreting yang begitu panjang sampai ke panggul.
“Presdir, tolong,” pinta Gia.
Anehnya Lian merasa kalau Gia semakin menggemaskan, setiap tindakan dan tingkah istrinya benar-benar seperti anak kecil yang membutuhkan perhatian.
Gia hanya diam ketika Lian sibuk menarik lesreting belakang. Matanya tertuju ke kaca, menatap bayangan wajah suaminya. “Sangat tampan,” gumamnya.
Tangan Lian terpaku, jelas dia mendengar apa yang baru saja Gia ucapkan. Ghm! Dehemnya sengaja menetralkan suasana. “Sudah selesai, ada lagi?”
Gia memutar tubuhnya, menghadap ke Lian yang berada tepat di belakang. Saling berhadapan, sangat dekat. Gia bisa membangunkan bagian bawah sana jika terus bergerak. “Tidak, Presdir. Terima kasih.”
Lian menarik dagunya, mengangkat wajah Gia yang tertunduk. Ibu jarinya mengusap dagu runcing tapi matanya tertuju pada bibir mungil basah karena lipsglose.
Deg, deg, deg!
Dadanya berdebar kencang, wajah Gia semakin berseri. Akhir-akhirnya dia sangat menyukai sentuhan dari Lian, sekecil apa pun itu.
Tatapan nanar Lian membuat Gia bingung.
“Kau membawa lipstik?” tanyanya seketika.
“Lipstik?” Gia semakin bingung.
Hmm! Gumam Lian menanggapi pertanyaan dari Gia. Perhatiannya masih terus fokus ke bibir.
“Tidak, aku hanya membawa lipsglose.”
“Di mana kau menaruhnya, di kamar hotel?” Pertanyaan Lian seolah sedang memastikan sesuatu.
“Tidak, itu ... ada di mobil.”
“Baguslah, jadi tidak masalah jika bibirmu berantakan. Kau bisa memakai lipsglose lagi nanti.”
“Maksud, Pres– mmmh~” ucapan Gia terhenti. Matanya membulat saat Lian menyambar bibirnya tanpa permisi.
__ADS_1