
WAAAAAA~
Devan terlonjak dari tempat tidurnya. Dadanya naik turun, nafasnya tak beraturan. keringatnya bercucuran, Mata Devan menyapu setiap sudut ruangan.
Cuma mimpi!! Jadi itu cuma mimpi? Tapi kenapa terasa nyata sekali?
Devan bernafas lega. Devan melihat jam 3.30 pagi.
Ya ampun!!
Devan menjatuhkan tubuhnya lagi kepembaringan. mencoba memejamkan matanya lagi, namun tak bisa.
Sudahlah! Aku bangun saja. mungkin sedikit air hangat bisa membuatku tidur.
Devan beranjak keluar dari kamarnya. seluruh ruangan hanya remang karena pencahayaan yang pedar. Hampir seluruh lampu dimatikan.
KLOTAK KLOTAK KLOTAK
Suara apa itu?
Devan mendengar suara mencurigakan didapur. Dengan mengendap-ngendap Devan mendekat. Dia meraih stik golf yang kebetulan tersandar dipinggiran tembok tak jauh dari kamarnya.
Devan masih mengendap, dengan hati-hati dia mendekati suara yang berasal tak jauh dari Dapur.
KLOTAK KLOTAK KLOTAK
Devan memasuki area dapur, tak ada siapapun disana. Hanya ada keremangan. Devan berjalan mengitari Meja beton yang ada ditengah Dapur. tempat biasa Angga memasak.
KLOTAK KLOTAK
Devan mengangkat stik golf nya. Bersiap memukul apapun yang ada dibalik meja kompor itu.
"Aaaa..."
Devan terlonjak kaget, Sesuatu menubruknya secara tiba-tiba hingga terjungkal kebelakang. Dia ditindih benda yang cukup berat namun empuk itu.
"Angga? Kaukah itu?"
"Aaaa.... Maaf Tuan!" Angga bangun dari atas tubuh majikannya yang dia tindih.
Angga terduduk tepat dipangkuan Devan diantara kedua kakinya.
"Apa yang kamu lakuin tengah malam begini?" Devan bangun terduduk wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. "Aku pikir maling tadi."
"Maaf, saya lapar tuan."
"Hei!" Devan menunjuk dengan jarinya,
"Maaf. Aku lupa." melirik tuannya.
Keduanya terdiam, hanya suara halus nafas hangat mereka yang bersahutan.
Ya Ampun. Dia manis sekali dari dekat. Bahkan bibir mungilnya terlihat lembut dengan jarak sedekat ini membuat ku ingin....
Jantung Devan berdegup dua kali lebih cepat.
Tuan Devan, dilihat dari dekat dia jauh lebih tampan. Wajah Angga sudah memerah, jantung berpacu dengan cepat, menggedor rongga dadanya.
Tangan Devan melingkar di tubuh Angga. Membuat gadis itu tersadar dan sesegera mungkin bangun dari pangkuan majikannya. Padahal Devan sudah bersiap menciumnya.
"Ma-maaf Tuan. Saya tidak bermaksud berlama-lama dipangkuan anda tuan." dengan muka memerah.
Devan ikut berdiri menarik sudut bibirnya.
"Hei! Kamu beneran mau dipotong gaji ya?"
"Tidak, tidak Mas Devan."
Devan tersenyum tipis."Apa yang kamu makan?" mengambil sebutir nasi yang tertinggal di samping bibir Angga, lalu memakannya.
Angga sedikit terlonjak kaget. wajahnya sudah bersemu merah.
"Itu..."
Devan berjalan mendekati samping meja dimana Angga tadi sempat bersembunyi dan makan.
Dilantai, ada sebuah panci berisi nasi dan campuran sayur , telur dan entah apa.
__ADS_1
"Apa ini?" Devan mengambil panci itu mengaduk-aduk isi panci yang masih cukup banyak tersisa makanan.
"Itu.. bibibab."
Devan menoleh seolah meminta penjelasan.
"Itu masakan korea, hampir sama dengan nasi campur. Mas Devan tidak tau?"
Devan menggeleng.
"Cobalah."
Devan terdiam melihat panci ditangannya.
"Aa, maaf. Akan ku buatkan yang baru." sadar jika makanan dipanci bekasnya.
"Tidak usah." cegah Devan menarik tangan Angga.
"Ini masih banyak. kenapa tadi mau kamu tinggalkan?"
"Aku, mau mengambil bubuk cabe."Angga menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya.
Devan melangkah ke arah meja makan. Lalu menoleh,
"Ayoo!" menarik tangan Angga yang masih diam mematung.
Angga dan Devan sudah duduk berhadapan dimeja makan. Dengan panci berisi bibibab didepannya Angga memakan dengan lahap.
Devan hanya memperhatikannya.
"Apa kamu selalu makan tengah malam begini?"
"Heemm.. Sejak aku punya sikecil di dalam tubuhku, entah kenapa aku sering lapar di jam segini." menjawab dengan mulut penuh.
"Heemm.. Saat masih di kos juga?"
"Uu'uum."
"Apa yang kamu makan disana?"
"Maaf."
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Sepertinya enak. Coba." Devan merebut sendok ditangan Angga. mengambil sesendok bibibab dan memakannya.
"ini enak."menyerahkan kembali sendoknya pada Angga.
Angga tersenyum senang masakannya di puji enak. Angga mengaduk-aduk bibibabnya.
"Apa kecilmu rewel jika malam begini?"Devan memperhatikan angga yang menyuap sesendok bibibab ke mulutnya.
"tidak."
Devan merebut sendok Angga, dan bergantian memakan bibibab.
"Benarlah? Sepertinya kamu cukup sayang pada kecilmu itu."
"Tentu saja. Dia sudah menjadi bagian dari hidupku. Tidak mungkin aku tidak menyayanginya."
Devan tersenyum tipis.
"Orang bejat itu yang bersalah. Dia yang seha...."
"Aah, sudah. jangan membicarakannya." potong Devan ngeri. Dia jadi teringat lagi akan mimpinya tadi.
Mereka mengobrol sambil terus memakan bibibab dengan sendok yang sama secara bergantian. Hingga pagi menjelang.
"Aku nanti mungkin pulang telat. Akan aku kabari nanti." ucap Devan sambil memakai jasnya.
"Baik."
"O iya. kemarin aku memintamu mengatur rak buku ku. apa sudah kamu lakukan?"
"Kapan?"
"kemarin, lewat pesan wasap."
__ADS_1
"Aahh.. maaf quotaku habis. Jadi belum aku sentuh. Nanti akan aku kerjakan."
"Hmm.. jadi kamu kehabisan quota, pantas tidak ada pesan masuk darimu." bergumam pelan.
"Apa? Kamu mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Tidak ada."
"Hubungi aku jika kamu butuh apapun."
"Aku tidak punya quota Mas Devan. Nanti aku kebawah cari quota."
"Nggak usah. Aku transfer aja." Devan mengeluarkan hpnya. Memijitnya beberapa kali.
"Sudah masuk. Kamu nggak perlu beli quota lagi."
"Maaf merepotkanmu."
"Aku nggak repot. hanya pencet-pencet."ucap Devan santai."Aku pergi dulu."
"Heemm. Hati-hati dijalan. Selamat bekerja."
Angga menutup pintu. matanya melihat berkeliling dalam apartemen tuannya.
"Waktunya bersih-bersih."
______
Devan memasuki gedung kantornya dengan hati riang. Dia terus berdendang, entah lagu apa yang dia nyanyikan, hingga membuat Gerald asistennya bingung.
ada apa dengan tuan Devan? Pagi ini dia terlihat senang sekali. Membuat aku ngeri saja. batin Gerald begidik.
"Oiya. Apa berkasnya sudah siap?"
"Berkas yang mana Tuan?"
"Yang aku minta kemarin."
"Aah, berkas pernikahan maksudnya? Sudah tuan."
"Kapan tanggal nya?"
"Lusa tuan."
"Hmm.. Lusa ya?"Devan terlihat berfikir. "Baiklah akan ku sesuaikan. Jam berapa?"
Di apartemen Devan. Di dalam ruang kerja Devan
Angga melihat notif di hp nya. Dia mencoba mencari pesan yang Devan bilang tadi pagi.
Katanya aku harus menyusun buku. Semua buku sudah tersusun rapi. apa dia minta aku mengatur sesuai abjad ya? Atau bagaimana sih? Hmmm.. kenapa pesan yang dia maksud tak ada? apa aku tanya lagi saja?
Angga mengetik
//Mas Devan, bisakah kamu kirim ulang permintaanmu mengatur buku itu sepertinya pesanmu terhapus.//pesan dikirim
Tak lama balasan datang.
//Tidak usah. siapkan saja untuk aku makan siang. Aku pulang sebentar lagi.//Devan.
Angga terkejut.
"Apa? ini sudah jam 11 siang. apa yang bisa kumasak? kenapa baru mengabari sekarang?"gerutu Angga keluar dari ruang kerja Devan.
Di dapur Angga membuat yang gampang dan cepat saja. Telur dadar dan nasi goreng.
Terdengar suara bel pintu depan. Angga bergegas membuka pintu. Seorang wanita paruh baya berdiri disana.
"Anda siapa?"
"Ini benar apartemen Devan kan?"wanita itu mencoba memastikan.
Angga mengangguk.
"Dan kamu siapa?"Tanya wanita itu.
"Saya..."
__ADS_1