
Yo il menarik paksa Manis keluar dari mobil.
"Om! Apa kau tak bisa bersikap lembut?"protes Manis marah mencoba meloloskan diri.
"MANIS!" suara lantang dari ayahnya yang keluar dari dalam rumah.
"Sialan! Sekarang mana bisa kabur!" gumam Manis mencoba melepaskan cengkraman Yo il.
"KEMARI KAU BOCAH KEPARAT!!" seru pria itu dengan intonasi tinggi. Berjalan mendekat.
"BERANINYA KAU KABUR DAN KEMBALI SELARUT INI?"
Manis masih mencoba melepaskan diri dari Yo il.
"ANAK KEPARAT! KEMARI KAU. TIDAK TAU BERTERIMA KASIH!" lantang ayah Manis berucap sambil menarik tangan Manis.
"Lepaskan aku! Kau yang tidak tau berterima kasih, sudah mengambil rumah ibuku, dan sekarang mau menjualku?" balas Manis sengit."Manusia macam apa kau?"
"HAHAHHAHAHA...." ayah Manis tertawa lantang, saat dia berhenti tertawa wajahnya berubah garang, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan hendak memukulnya. Tangannya melayang, tertahan oleh tangan Yo il.
Ayah Manis menatap nyalang pada pria yang menghentikan pukulannya itu.
"KAAAUUUU!!" Geram Ayah Manis, "Berani sekali kau ikut campur."
"Mari kita bicarakan baik-baik." ucap Yo il tenang.
Ayah Manis menatap pria berwajah oriental itu. Lalu melirik mobil dibelakangnya.
Sepertinya dia orang asing yang kaya. Mungkin aku bisa mendapatkan uang darinya. pikir ayah Manis tersenyum licik.
"Baiklah!" Ayah Manis menarik tangannya. "Masuk kedalam rumah." sambungnya berbalik dan berjalan memasuki rumah. sesekali menoleh kebelakang memastikan Yo il dan Manis mengikuti langkahnya.
"Yunho! siapkan berkas perjanjian." ucap Yo il melangkah mengikuti ayah Manis.
"Baik Tuan."
Manis hanya terbengong, bingung harus bagaimana lagi, mencoba melepaskan diri dari cengkraman Yo Il jelas mustahil.
Berkas perjanjian apa maksudnya? Apa dia bermaksud menuntutku? Aaahh, sialan!
Yo Il Duduk diruang tamu sederhana, dengan ayah Manis yang duduk di hadapannya. Menatap tajam pada Yo il. Sementara Manis ditarik oleh ibu tirinya masuk kedalam kamar dan menguncinya.
"Silahkan diminum." Ibu tiri Manis menyajikan dua cangkir kopi dimeja lalu duduk disamping suaminya. Yo il hanya tersenyum tipis tanpa menjawab ataupun menyentuhnya.
"Kau pacar anakku?" tanya Ayah Manis dengan penekanan.
"Anak mu yanga mana? Apa kau punya anak?"
"Apa?"ayah manis menggebrak meja."kurang ajar sekali kau setelah membawa lari anakku, dan sekarang berkata begitu!"
Yo Il masih duduk tenang menatap dingin pada pria yang membentaknya.
"Aku tidak membawanya lari!"
"Kau masih berani mengelak?"bentak ayah Manis. "Gara-gara kau! Pak bambang marah besar! Dia menuntut kami!"
"Itu bukan urusanku."
"Kau!!!" menunjuk kasar pada Yo il
"Apa kau tidak malu? Menjualnya pada pria seumuranmu?"ujar Yo Il datar.
"Itu bukan urusanmu!"Sentak Ayah Manis lantang menggebrak meja lagi."kau harus mengganti rugi,Jika bukan karena kau membawa kabur Manis kami, kami tak akan menanggung semua ini!"
Yo il terkekeh.
__ADS_1
"Beri aku Lima juta."ucap Ayah Manis,"Setelah itu aku kan melepaskanmu."
Yo il tergelak.
"Apa kau sedang mencoba memerasku?" tanya Yo il frontal.
"Apa? Serahkan lima juta pada kami kalau kau ingin keluar dari sini tanpa terluka." ancam Ayah Manis dengan mata mendelik.
"Dalam mimpimu!"sahut Yo Il datar.
Yo il berdiri dan melangkah pergi. Namun dengan ayah Manis secepat kilat menutup pintu sebelum Yo Il benar-benar melangkah keluar.
BRRAAAKKKK!
"Kau mau kabur haaa??"
Yo il menghela nafas panjangnya.
"Minggir!"
"Kalau kau sudah membayar ganti rugi kami."
"Buka pintunya."
"Dalam mimpi mu!"
"Kalau begitu, menyingkirlah!" Yo il bergerak menyingkir dari pintu. Tak lama Pintu itu terdobrak dari luar hingga pintunya terlepas.
Di luar berdiri beberapa pria berjas hitam dan juga Yunho.
"Apa anda baik-baik saja, tuan?"tanya Yunho dengan senyum manis diwajahnya.
"A-apa ini?"suara Ibu tiri Manis yang terkejut melihat daun pintu rumahnya yang terlepas dengan tubuh suaminya yang tertinpa pintu itu.
"Beri mereka uang perbaikan untuk pintu yang kau rusakkan."ucapnya sambil berlalu.
"Baik tuan."
Yunho mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan menyerahkannya pada ibu tiri Manis.
"Untuk perbaikan pintu rumah anda tuan. Lain kali bersikap ramahlah pada tamu." ucap Yunho dengan senyum mematikannya.
Lalu pria itu berbalik dan pergi menyusul Yo il. Di ikuti oleh beberapa pria berbaju hitam yang terlihat seram.
Yo il dalam perjalanan pulang kekediamannya. Dia terdiam menatap jalanan.
______
Hari yang cerah, pagi menjelang siang itu Angga membuka matanya, tubuhnya serasa begitu lemas dan berat.
"Uuuugggghhhh... Mas Devan keterlaluan." keluhnya bangun dari ranjangnya. Dengan membalut tubuhnya dengan selimut, Angga berjalan menuju kamar mandi.
Begitu selesai membersihkan diri. Angga berjalan menuju dapur. Kosong. tak ada orang disana, bahkan bi Biyan juga. Angga melirik meja makan, dia mendekat lalu membuka tudung saji. Sudah siap sarapan untuknya.
"Baiklah. aku makan saja. Aku sangat lapar." gumamnya.
Angga menikmati sarapannya yang sudah kesiangann itu.
"Sepertinya bi Biyan sedang pergi. Mas Devan juga mungkin sudah ngantor."gumamnya menghabiskan sarapannya. Lalu meletakkannya di cucian piring.
Angga berjalan keruang keluarga, duduk sejenak dan menonton tv.
"Membosankan sekali. Apa yang harus aku lakukan?" Dessaaahh Angga lemas.
Terdengar suara dering hp nya dari dalam kamar. Angga bergegas mengambilnya.
__ADS_1
"Ooohh, mas Devan." gumamnya melihat nama yang tertera dilayar.
Buru-buru Angga mengangkatnya lalu kembali duduk diruang keluarga.
"Iya Mas Devan."
"Panggil sayang!" suara Devan dari sebrang sana.
"Aaa.. iya Sayang."
"Bagus! Panggil sayang jangan lupa." suara Devan lagi."Apa kamu bosan dirumah?"
"Hmmm... tak ada orang dirumah. Bi Biyan sepertinya pergi"
"Apa kamu mau menemaniku kerja?"tanya Devan sekoyong-konyong.
"Aaa.. boleh kah?"
"Tentu saja. Aku akan kirimkan seseorang untuk menjemputmu."
Angga menutup telponnya. Dia cukup senang, bisa menghilangkan kebosanan dan melihat kantor Devan.
Selang tiga puluh menit, bel apartemennya berbunyi. Gegas Angga membukanya, seorang pria berdiri didepan pintu.
"Perkenalkan. nona Angga , saya..."
"Aku tau. Ayoo." potong Angga tak sabar mengunci pintu apartemennya. lalu berjalan mendahului.
pria itu memelengkan kepalanya.
"Baiklah."balasnya mengikuti langkah Angga menuju lift.
Tak menunggu beberapa lama, Angga sudah duduk manis didalam mobil. Melihat keluar jendela, menikmati pemandangan dengan gedung-gedung yang tinggi.
Mobil itu berhenti disebuah restoran. Angga menatap bingung.
"Bukankah Mas Devan menyuruh seseorang untuk membawaku kekantornya? kenapa malah jadi kemari? Apa mas Devan sedang ada disini?" batin Angga penuh tanya.
"Mari Nona. " ucap pria yang menjemputnya itu.
Angga mengikutinya, dan berhenti disebuah ruangan privat.
Kenapa kemari? Apakah Mas Devan ingin mengajakku makan siang dulu? batin Angga lagi.
Pria itu membuka pintu ruang privat itu bersamaan dengan dering ponselnya, Angga mengecek, dilayar tertera nama Devan.
Angga terhenyak kaget.
Mas Devan? batin Angga terkejut, dia beralih menatap pintu yang mulai terbuka itu.
Apa ini? Jadi dia bukan orang mas Devan? Lalu siapa?
___€€€___
Siapa ya? Readerkuh, kira kira yang menemui Angga diruang privat? Semoga bukan orang jahat yaa??
kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1