
Tangan Devan terangkat, semakin dekat dan menyentuh pipinya. Angga membuka matanya. Devan dengan lembut mengusap pipi Angga. Pria itu tersenyum menatap netra Angga.
"Jangan menangis, Maafkan aku ya." ucap Devan lembut."Aku tak bisa menjagamu dengan benar. Kamu masih saja mengalami hal berat sendiri."
Dengan lembut Devan mengusap pipi Angga, menghapus air matanya yang mengalir..
"Lain kali ceritakan padaku. Jangan menanggungnya sendiri." sambung Devan menatap Angga dengan mata bersalah dan sesal.
"Maaf."Angga menundukkan kepala.
"Kenapa minta maaf? Kamu tidak bersalah. Aku yang justru sering menyakitimu." Devan mengangkat dagu Angga dengan jarinya.
"Apa kamu begitu tidak percaya padaku? Heem?" Devan menatap intens wajah Angga.
Membingkai wajah Angga dengan kedua tangannya. Wajah Devan perlahan mendekat, melummaat bibir mungil Angga, perlahan dan lembut. Menyusuri rongga mulutnya. Devan melepas pangutannya. Dengan keras Devan menelan ludahnya.
"Maafkan atas kejadian sebelumnya. Aku tidak berfikir jernih." ucap Devan menyesal.
Devan memeluk hangat istrinya. mengusap kepala Angga dengan lembut. Mengecup punca kepalanya beberapa kali. Banyak sesal menyusup dihatinya.
Pintu lift terbuka lebar, Devan menuntun Angga kembali kerumahnya. Mereka duduk bersisihan diruang utama. Devan mengembalikan slide foto yang dia bawa pada Angga.
Gadis itu memandangi foto itu. Diam sesaat,
"Yo Il sepupumu kan?" suara Angga akhirnya memecah kesunyian diantara mereka berdua.
"Benar."
"Kenapa Mas Devan bisa begitu...." Angga tidak meneruskan kalimatnya.
"Dia pernah berselingkuh dengan Mona, saat wanita itu masih menjadi kekasihku."jelas Devan jujur, mengulik lagi masa lalunya yang membuat dia sakit hati.
Angga menatap Devan lekat.
"Hanya karena itukah Mas Devan membencinya?"
"Aku..." Devan menghela nafas beratnya...
"Bukankah kalian bersaudara?" tanya Angga penasaran menatap mata Devan mencari kebenaran disana, "Bagaimana bisa membenci saudara hanya karena wanita?"
"Kamu nggak ngerti Angga, mereka menghianatiku. melakukan semua itu dibelakangku. Apa kamu pikir aku bisa memaafkannya?" tutur Devan sedikit kesal, dia merasa Angga malah seperti menyalahkan dirinya.
"Mereka orang-orang yang sangat aku percaya, bisa bisanya menghianatiku. Aku tak bisa memaafkan mereka. Mereka menyakitiku terlalu dalam." jelas Devan lagi dengan wajah sendu.
"Kenapa tidak? Kenapa tidak bisa memaafkan? kenapa harus menjadikannya dendam?" tanya Angga menatap manik mata Devan dengan mata bulatnya.
"Angga!"pekik Devan.
__ADS_1
"Cobalah berdamai dengan hatimu, lalu maafkan mereka. Dengan begitu hati menjadi lebih damai. Tak akan ada curiga lagi pada orang baru yang masuk kedalam hidupmu." ucap Angga panjang,
"Sangat melelahkan seperti ini kan, Mas Devan." lanjut Angga lagi, "Aku tak tau apapun, tiba-tiba saja kamu marah padaku hanya karena aku bertegur sapa dengan Yo il. Setauku Yo il adalah sepupumu. Apakah itu salah?"
Devan terdiam. Dia mencerna setiap kata yang Angga ucapkan.
Mungkin memang benar, dia harus berdamai dengan hatinya. Mungkin memang benar dia harus memaafkan. Mungkin dia sudah terlalu sibuk membenci hingga lupa rasanya mencintai. Saat cinta itu datang, dia malah menyakitinya dengan dalih luka lama. Bukankah itu terlalu tidak adil bagi seseorang yang tidak tau apa-apa? seperti Angga?
Devan mengecup kening Angga."Kamu benar, sepertinya aku harus mulai melupakan yang lalu dan menatap masa depan. Menatapmu."
Devan mengulas senyum, dia menyentuh pipi Angga, mencium bibirnya dengan lembut, menyesap dan menyatukan lidahnya sesaat. Hingga dia melepas panggutannya.
Devan menatap netra Angga dalam-dalam.
"Aku ingin mendengar ceritamu, bagaimana ini bermula?" Devan mengetuk-ngetuk foto yang Angga bawa dipangkuannya.
"Bagaimana?" tanya Angga sedikit bingung, "Bukankah kalian bersaudara?"
"Bagaimana Steve bisa sampai menggendongmu?"Devan menjelaskan apa yang sangat ingin dia ketahui.
"Aahh,, ini." mata Angga terpatik pada foto itu. Angga tersenyum kecil.
"Aku merasa kesepian saat kamu pergi bekerja, jadi aku berjalan-jalan ditaman bawah, dan kami bertemu. Yo il membawaku ke danau buatan, kami berjalan-jalan sebentar disana, lalu makan siang di restoran dekat danau. Dia menggendongku karena aku kecapekan." jelas Angga dengan singkat."Begitu saja."
"Begitu saja?" ulang Devan mencari kejujuran diwajah Angga yang polos.
Devan menggeleng. "Belum sempat."
Angga merungkai senyuman. "Terima kasih karena sudah membelaku dan tidak menuduhku lagi hari ini."
"Aaaahh, sepertinya aku harus menyelesaikan urusan dengan Mona." geram Devan mengepalkan tangannya.
"Aaa, jangan! Biarkan saja."cegah Angga cepat.
"Kenapa? Bukankah dia memerasmu?"tanya Devan penasaran."Dia sangat menyusahkanmu kan?"
"Tidak apa. Aku tak ingin ada masalah lain lagi nanti." cicit Angga pelan. "Mas Devan mau melepaskannya kan?"
Devan menatap mata Angga dengan penyesalan dan rasa bersalah.
"baiklah." ucapnya menyetujui. "Demi kamu."
Devan mengusap lagi pipi Angga menggesernya ketengkuknya dan meluummaatttt lagi bibir lembut yang manis itu. Devan semakin memperdalam ciumannya saat Angga mulai membalasnya.
Devan memeluk tubuh Angga, menikmati rasa manis bibir istrinya yang menjadi candu bagi Devan.
______
__ADS_1
Di restoran tempat kejadian perkara.
Han Yo il menatap Mona dengan pandangan jijik dan merendahkan. Mereka duduk dalam satu meja yang sama, berhadapan dengan sekat sepetak meja persegi.
"Sebenarnya aku sudah malas berurusan denganmu, Mona." ucap steve dingin.
"Tapi karena kamu menyeretku. Terpaksa aku pun harus bertindak." sambung steve lagi.
"Apa maumu?"Mona sudah panas dingin menerima tatapan membunuh dari Steve.
"Apa menurutmu?"Steve memajukan tubuhnya hingga memepet di batas meja. memangku wajahnya.
"Aku mau uang itu." ucapnya tegas dan dingin.
"Apa? beraninya kau!"
"Berikan uang itu!"
"Aku bisa membaginya denganmu."
"Aku mau semua. Atau kamu aku membawa kasus ini kepengadilan. Aku punya cukup bukti." ancam Steve, "bila itu terjadi, kamu akan kehilangan banyak. Silahkan pilih."
"Kaaauuu..." geram Mona mengepalkan tangannya.
"Jika aku jadi kamu Mona, aku tidak akan serakah dan mengembalikan uang itu."desis Steve, "Dari pada harus mendekam dipenjara dan membayar pinalti." lanjut nya tersenyum sinis.
Mona terpojok, dia marah dan kesal, juga jengkel. Tak pernah dia sangka akan begini jadinya. Steve lebih berbahaya dari pada Devan. Pria ini tak tersentuh hukum. sangat mengerikan berhadapan dengannya. Mau tak mau Mona mengeluarkan amplop coklat yang tadi Angga berikan. Lalu melemperkannya kemuka Steve.
"Ambil ini!" sentaknya."Kau puas?" Mona beranjak dari duduknya, dan berjalan menjauh dari Steve.
"Aku tak boleh kalah disini. Aku pasti akan membalasnya. lihat saja!" gumam Mona geram."Jika tidak, jangan panggil aku Mona." senyum tipis menghiasi wajahnya. sebuah rencana jahat, terlintas dikepalanya.
Steve menatap amplop coklat yang tebal itu. Dia menghela nafas beratnya.
"Kenapa kamu menanggungnya sendiri Angga?" gumam Yo Il lirih dengan sorot mata sedih.
Bersambung...
___€€€___
Readers kuh, kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊