
Angga duduk mematung di sofa tamu ruang utama, dia menggigit kecil bibir bawahnya. Jari jemarinya terus saling meremas tanda dia sedang menenangkan diri karena tegang dan gelisah. Bagaimana tidak, ini kali kedua dia berhadapan langsung dengan Tuan James.
Pria berwajah tegas namun lembut itu, membuat Angga sedikit kesulitan bernafas. Taulah, James adalah ayah tuan sekaligus suaminya. Entah kenapa Angga masih berfikir Devan majikannya.
Satu cangkir kopi dan satu gelas jus jeruk terhidang dimeja. Setelah bi Biyan menyajikannya tadi bersama sepiring kue pukis.
"Eheeemmm..." pak James berdehem setelah netranya menjelajah ruang utama apartemen itu.
"Jadi kalian tinggal disini?"tanya nya dengan suara tegas mendominasi namun ramah.
"I-iya tuan." Angga menjawab gugup.
James tersenyum,
"Jangan memanggilku Tuan. Aku ayah Devan, itu berarti ayahmu juga."ucapnya lembut.
James mengambil cangkir kopinya, lalu menyeruput halus.
"Apa kamu sudah cek kandungan?"tanya James lagi.
"Sudah." jawab Angga singkat.
"Kapan?"
Angga menaikkan alisnya berfikir sejenak.
"Mungkin skitar 2bulan yang lalu."jawab Angga jujur.
"Berarti itu sudah lama sekali." ucap James mengerutkan alis.
James meletakkan kembali cangkir.
"Ayo!" ucapnya beranjak dari duduknya.
Angga menatapnya bingung,
"Kita ke dokter obgyn." ajaknya tanpa bisa dibantah.
"Apaa?" Angga tersentak kaget.
###
Angga dan James duduk di jog belakang mobil yang dibawa oleh supir James tadi. Mereka menuju klinik ternama dikota itu. James langsung menuju ruangan khusus tanpa mengantri. Angga hanya mengekor saja.
Begitu memasuki ruangan itu dokter obgyn sudah standby menyambut mereka. dengan senyuman tentu saja.
"Selamat datang pak James." ucap perawat dan dokter disana.
"Ini menantuku, dia ingin cek up kandungannya."jelas James menunjuk Angga yang diam mematung dibelakangnya.
"Silahkan berbaring di sini."pinta perawat disana
Angga menghela nafasnya pelan.
Seusai melakukan cek up kandungan. Mereka kembali melakukan perjalanan,
"Apa kita akan kembali ke apartemen tuan muda bungsu, tuan?" tanya pak sopir melirik melalui kaca tengah.
"Kamu mau kemana Angga?"James menoleh bertanya pada Angga.
"Mmm... saya tidak ingin kemana-mana."
"Kenapa?"tanya James penasaran.
"Itu....."
Dering ponsel James memotong ucapan Angga.
"Sebentar."James mengambil ponselnya, Alisnya berkerut melihat siapa yang memanggil. Lalu kembali menoleh melihat Angga.
__ADS_1
"Apa kamu bilang pada suamimu jika pergi denganku?" tanya-nya.
Angga menjawab dengan anggukan kecil.
"Ada apa Dev?"begitu menempelkan gawainya ditelinga.
"Kemana Ayah membawanya?"Suara Devan disebrang sana.
"Hanya cek up kandungan. kenapa kamu tak membawanya cek up Dev." gerutu James kesal."Apa kamu tak peduli dengan anakmu?"tanya James dengan nada sedikit jengkel.
Seketika Angga menoleh dengan wajah penuh tanya.
"Maaf, aku berencana membawanya begitu kembali."ucap Devan dibalik speaker gawai pak James.
"Banyak alasan! Harusnya sebelum pergi cek up dulu."gerutu James menyerang.
"Baiklah ayah. biarkan aku bicara dengannya."
James memberikan gawainya pada Angga. Angga menerima lalu menempelkannya dipipi.
"Iya Mas Devan."
"Aku belum memberi ijin kenapa sudah keluar saja dengan Ayah."
"Aaa.. maaf."
Devan menghela nafasnya.
"Bagaimana hasilnya?"
"Bagus."
"Bagus itu bagaimana?"
"Semuanya sesuai dengan usia kehamilan. Kami sangat sehat."
"Nanti tunjukan padaku foto USG nya."
"Fotonya dibawa ayahmu." bisik Angga.
"Apa?"
"Fotonya dibawa Ayahmu." setengah berbisik.
"Apa? Aku nggak dengar."
Angga menarik nafas dalam, melirik lagi pria setengah baya disebelahnya yang masih menatap lurus kedepan.
"Fotonya dibawa ayahmu." suara Angga agak kencang, kesal sebenarnya Devan dari tadi tidak dengar ia berbisik, padahal dia sudah merasa tak enak hati pada James.
James merungkai senyum mendengar kejujuran Angga.
"Katakan padanya nanti aku yang akan kirimkan fotonya." ucapnya geli.
Angga mengangguk malu.
"Mas Devan, ayahmu bilang nanti beliau yang akan mengirimnya sendiri."
"Apa? Kenapa tidak kamu saja? Itu kan foto bayi kita bukan punya ayah. suruh dia buat sendiri kalau mau."
Wajah Angga merona merah mendengarnya, walau ada sedikit terbersit rasa bersalah, karena itu bukan anak Devan.
"Kamu katakan saja sendiri." ucapnya malu langsung menutup telponnya.
Angga menyerahkan gawai itu pada James yang menerima dengan dengan senyuman.
"Kemana kita akan pergi? Yakin kamu mau pulang saja?"tanya-nya pada Angga.
Angga mengangguk kecil.
__ADS_1
"Padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan sore ini."
Mata Angga berbinar, sebenarnya dia sangat ingin jalan-jalan. Namun tadi Devan sudah marah pada karena keluar tanpa ijin dan mensilent gawainya.
Tentu saja dia tak ingin membuat Devan marah lagi.
"Sepertinya kamu bersemangat. Ayo jalan-jalan." ucap James melirik Angga yang terlihat bimbang itu.
"Tapi...."
"Kamu takut Devan akan marah?"
Angga mengangguk kecil. James tersemyum kecil.
"Aku yang akan meminta ijinnya. Bagaimana?"
"Benarkah?" dengan mata berbinar.
"Hahahha... tentu saja. Dia pasti mengijinkan."mengulas senyum. "Kamu mau kemana?"
James dan Angga akhirnya berkeliling ke sebuah taman kota yang selalu ramai disore hari. Ada banyak penjaja makanan. Juga beberapa atraksi dari pengamen jalanan.
Aku bahagia hari ini, jalan-jalan bersama Yo il. Lalu sekarang kencan dengan ayah mertua. batinnya berceloteh.
Semoga nyonya tidak marah. Sudut bibirnya turin seketika. Benar! bagaimana bila nyonya marah.
Seketika wajahnya berubah pucat.. Memikirkan Nyonya cory yang marah karena kini dia malah bersama suaminya.
Ibu pasti akan berfikir aku benar-benar wanita penggoda. air mukanya berubah jadi sedih.
"Kenapa berwajah begitu?" tanya James saat mereka sudah didalam mobil untuk pulang. "Tadi kamu masih terlihat senang."
"Ayah."Sebut Angga, "Bagaimana jika nyonya marah?"
"Siapa nyonya?"
"Istri anda."
James tergelak.
"Dia memang begitu. tak usah dipikirkan. jika dia berbuat tidak baik padamu, bilang padaku aku akan memarahinya nanti."
Ucapan James tentu membuat Angga senang sekaligus merasa tak enak.
"Jangan terlalu dipikirkan! sikap Cory membuat Ayah tak enak padamu. Kamu juga menantuku. Tapi dia malah bersikap kekanakan seperti itu, sebenarnya aku malu. Maafkan dia Angga."
"Ibu hanya kuawatir. Saya mengerti."
"Kamu sangat perhatian. Aku senang Devan menikah denganmu."
Angga mengulas senyum.
"Angga, Maaf aku hanya bisa mengantarmu sampai lobi. Kamu bisa naik sendiri kan?" ucap James begitu sampai dilobi apartemen anaknya.
"Uuumm...." mengangguk.
"Baiklah. ini jajananmu." menyerahkan beberapa kantong jajanan yang tadi mereka beli.
"Terima kasih Ayah."
James berlalu...
Angga berjalan menuju lift. Menunggu pintu lift terbuka.
"Waaahh... hebat sekali kamu!" Suara yang membuat Angga menoleh.
____€€€____
Kasih like dan komennya donk readers. biar othor ini semangat up. 😢😢😢
__ADS_1
^^Thank You.___^^