
Devan mengguyur tubuhnya dibawah shower kamar mandi di dalam kamarnya.
Dengan masih memakai pakaian lengkapnya. Hawa panas didalam dirinya harus dipadamkan. Sekelebat bayangan wajah Angga mengganggu pikirannya. Wajah yang seolah kehilangan roh nya itu. Amarahnya muncul, Devan marah pada dirinya sendiri. Pria itu menambah kekuatan air yang mengguyurnya.
Hampir satu setengah jam lamanya Devan didalam kamar mandi, dan keluar dengan lilitan handuk dipingggangnya.
Devan berjalan ke kamar ganti, memakai kaus hijau tua dengan celana panjang berwarna putih. Devan keluar dari kamarnya, berjalan menuju dapur. Angga sedang memasak disana. Menyiapkan makan malam.
Mata mereka bertemu pandang. Angga langsung menundukkan wajahnya, begitupun Devan, yang memalingkan wajahnya.
Kenapa jadi salah tingkah begini? batin Angga dan Devan
Devan duduk di meja makan yang berada tak jauh dari dapur. memangku wajahnya melihat Angga sibuk memotong sesuatu.
"Aaaaa...."
Devan berdiri dengan cemas berjalan cepat menghampiri Angga. melihat tangannya yang berdarah. Gadis itu terlihat memencet jari yang mengeluarkan darah itu.
Devan mengambil tangan Angga dan memasukkan jari yang berdarah itu kemulutnya. Tanpa sengaja mata mereka bertemu kembali. Membuat keduanya salah tingkah lagi. Angga menarik tangannya.
"La-lain kali berhati-hatilah." Devan mengalihkan pandangannya sembarangan.
"I-iya." Angga menunduk.
"A-aku ambilkan plester luka." Devan berlalu mengambil plester luka dan kembali lagi, Dengan hati-hati Devan memasangkan plester itu di luka Angga.
Mata mereka kembali beradu. Keduanya langsung mengalihkan pandangan. Devan kembali duduk dimeja makan. Angga juga kembali dengan aktifitasnya.
Malam itu mereka makan dengan tenang, tanpa percakapan apapun. Hanya kecanggungan yang menyelimuti mereka. Hingga malam semakin larut, dan masing-masing berada dibawah selimut dan memejamkan mata.
Keesokan paginya, Angga mengalami muntah morning sick hebat, hingga dia lemas. Devan pun sampai frustasi melihatnya, karena dia tak bisa berbuat banyak.
"Kita kedokter saja."ajak Devan panik."Tidak. Kamu pasti lemas. Akan kupanggilkan dokter saja."
Dengan panik Devan berlari kekamarnya,menghubungi dokter keluarga.
"Sebentar lagi dokter Evan kemari. bersabarlah." melihat Angga yang susah payah keluar dari kamar mandi. Devan langsung membopongnya kembali kekamar. Membaringkan Angga dengan hati-hati. Devan hendak menegakkan punggungnya, namun bajunya digenggam kuat Angga.
"Jangan pergi."pintanya lirih."Temani aku."
Devan terdiam mematung,menatap pilu gadis didepannya.
Angga tersadar dari tidurnya, dia merasakan sesuatu yang hangat disampingnya.
Hmm, guling ini hangat sekali. Wangi lagi.batin Angga tanpa membuka matanya.
Angga terus mendekatkan tubuhnya pada gulingnya. dengan mata tertutup. memeluk erat.
__ADS_1
Disini sangat nyaman. batinnya lagi. Tunggu. Angga merasakan sesuatu yang aneh dengan gulingnya. Angga mulai meraba gulingnya. menyusuri setiap jengkalnya. Angga tersadar itu bukan guling. Gadis itu membuka matanya.
Ini? Dada bidang milik siapa? batin angga mendoangakkan kepala. tangan itu juga melingkar ditubuhnya.
Mas Devan! batiin Angga langsung duduk bangun. melihat sekeliling. Ini kamarku. apa yang mas Devan lakukan dikamarku?
Angga melihat tangan kirinya yang terpasang selang infus.
Kenapa?
"kamu udah bangun?"
Angga menoleh kearah Devan yang terlihat membuka sebelah matanya, mengerjap dan mengusapnya.
"kenapa mas Devan tidur disini?"
Devan bangun terduduk. menatap Angga dengan muka bantalnya.
"Kamu nggak ingat kalau kamu tadi narik aku tidur disampingmu?"
Angga terkejut. Mulutnya melongo, matanya semakin membola.
"Benarkah?"antusias tak percaya.
"Heemm.." Devan mengangguk.
Angga menyentuh kedua pipinya yang memerah karena malu.
Devan menggaruk kepalanya,
"Kamu beneran nggak ingat apapun?"
Angga mengangguk cepat.
"Tadi pagi kamu ngalamin morning sicknes. terus aku panggilin dokter."ucap Devan turun dari ranjang. "makanya kamu di infus. Kamu lemah banget tadi."
Angga masih melongo tak percaya. Angga melihat jam. Mulutnya makin membulat,
Jam 12 siang? Apa aku tidur selama itu?
"aku harus membuat makan siang"sambil hendak berlari
"Hei infusnya"Devan menarik tangan Angga hingga membuat gadis itu terjatuh dipelukan Devan. Sesaat mereka saling bersitatap sampai keduanya tersadar dan saling menjauh. menimbulkan suasana canggung.
"A-aku akan ke dapur." ucap Angga akhirnya.
"Jangan! biar aku saja. kamu masih terpasang infus. Dan kurasa kamu masih butuh istirahat." cegah Devan cepat.
"Tidak apa-apa Mas Devan." Angga menarik tiang infusnya.
__ADS_1
"Jangan bandel!"Devan menahan tiang Infus Angga.
"Biar aku aja mas! aku sudah kuat kok."
"Jangan!"
"ini udah kerjaanku"
Mereka berdua berakhir tarik menarik infus dan saling melontarkan kalimat kalimat bantahan. Hingga diputuskan, mereka masak berdua.
"Aku sudah memanggil perawat agar infusmu dilepas." ucap Devan yang sedang memotong sosis.
"Aaaa. yaaah." Angga juga sedang memotong wortel dan lobak.
Hening sesaat.
"Mmmm... Mas Devan."
"Heemm?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena sudah sangat baik padaku."
"Itu karena memang sudah kewajibanku."
"Kamu majikan yang baik."
Devan terdiam sesaat dari aktifitasnya memotong sosis.
"Bukan!" ucap Devan, "Aku suamimu."
Angga menoleh, melihat Devan yang juga menatap lekat padanya. Mata mereka saling bertubrukan, namun tak satupun dari mereka yang ingin berpaling.
Devan memangkas jarak, menangkup wajah Angga dan menciumnya, sepertinya hasrat dalam dirinya belum sepenuhnya padam. Devan melummatt, membelit lidah Angga, menghisap habis saliva dimulut Angga.
Angga menutup matanya, mulai menikmati sentuhan lembut lidah Devan. Perlahan Angga menggerakkan bibirnya, ikut bergulat dan berbelit dengan lidah Devan.
Dia membalasku!
Devan semakin memperdalam ciumannya. Mengeser setiap benda yang ada diatas meja, mengangkat tubuh Angga dan mendudukkan nya disana dengan masih memangut bibirnya. Cukup lama mereka saling berbelit lidah. Hingga dengan berat hati Devan melepas bibir lembut Angga, karena mendengar suara perut Angga yang mulai mendemo.
Devan tersenyum geli. Suara perut Angga benar-benar tak bisa diajak kompromi. Gadis itu tertunduk malu. Devan mengangkat dagu Angga dengan jarinya, menyesap sekali lagi bibir lembut itu.
"Diamlah disini. Biar aku yang masak untukmu."Ucap Devan sambil mengusap bibir Angga yang basah.
"Tapi aku..."
__ADS_1
"Ssstttt..." jari Devan sudah menempel dibibir Angga."Nurut ya. Diam disini. Nanti kamu bakal ketagihan dengan masakanku."dengan senyum menggoda diwajahnya.
Angga menatap Devan dengan menggigit bibirnya, dia ragu dan merasa tak nyaman. Dia masih merasa sebagai ART Devan walau Pria itu sudah menegaskan Angga sebagai istrinya.