Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 26


__ADS_3

"Wah, hebat sekali kamu ya?!"


Angga menoleh, seorang wanita cantik berambut hitam sebahu bertepuk tangan mendekat padanya. Wajah Angga langsung berubah tegang.


"Hari ini sudah berapa pria yang kau kencani?" sinisnya menjejari Angga.


Angga membisu, memilih menundukkan kepalanya.


"Ternyata kamu boleh juga ya?"Mona mendorong bahu Angga masuk kedalam lift yang terbuka.


"Aaaaakk..." tubuh Angga membentur dinding sebelah dalam lift.


Mona yang ikut masuk ke dalam lift memencet lantai 9. Lift bergerak, Mona melangkahkan kaki jenjangnya mendekati Angga dengan angkuhnya.


"Ternyata kamu nggak lebih baik dariku. memanfaatkan Devan juga. Dan berkencan dengan Steve." sindir Mona dengan mata liciknya.


Angga mendongak menatap Mona, dia juga kenal Steve. Ahh, tentu saja dia kekasih Devan dan steve adalah sepupunya. tak mungkin dia tak tau. begitu pikirnya.


"Kamu pandai sekali mengelabui pria-pria kaya ya?" ujar Mona lagi masih melancarkan serangannya.


"Bahkan Ayah Devan pun ikut kamu rayu." ucap Mona, wanita itu tadi juga melihat Angga yang masuk kedaallam mobil bersama pria yang pernah tak merestui cintanya itu.


"I- itu tidak benar."sanggah Angga cepat dengan wajah pucat.


"Jangan bohong! Aku punya buktinya."gertak Mona tersenyum sinis sambil menggoyangkan hp ditangannya.


"Aku akan kirimkan ini pada Ibu dan Devan." ucapnya menunjukkan foto Angga yang sedang digendong Steve.


"Apa maksudmu?"tanya Angga polos menatap nanar pada Mona.


"Apa maksudku? Kau ini bodoh ya? Mereka pasti tidak terima orang dari keluarganya bermesraan dengan pria lain. begitu foto ini sampai ke mereka, kau akan langsung dibuang. Dan tentu saja. Akulah yang akan menempati posisimu."ujar Mona lagi tersenyum licik.


"Apa?"Angga tersentak.


"Devan akan sangat membencimu." sinis Mona memprovokasi.


Mata Angga membulat, wajahnya menjadi sangat tegang dan takut. Tentu saja Mona menyadari itu. Mona akan memanfaat gadis kampung itu.


"Aku akan menyimpannya, tapi harus ada imbalan untuk itu. Kau harus melakukan sesuatu untukku." lanjut Mona licik.


"Aku tau kau sebelumnya menerima uang dari ibu. Berikan padaku!"perintahnya seketika.


"Aku tak punya uang."jujur Angga. Dia memang tak memegang sepeserpun. dulu uang itu Devan yang mengambilnya.


"Jangan bohong! Uang itu banyak. tak mungkin kan kau menghabiskannya dalam sehari?"sergah Mona mendelik pada Angga.


"Tapi aku benar-benar...." mata Angga sudah berkaca-kaca.


Mona tersenyum licik. "Aku tidak perduli. aku minta 10juta. atau foto ini aku kirimkan pada ibu dan Devan." ujarnya penuh penekanan.


"A-apa?" Angga terkejut mendengar nominal yang Mona minta. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.


"A-aku tak punya uang sebanyak itu." ucap Angga memelas.

__ADS_1


Mona terkekeh. dia meraaba tubuh Angga mencari dimana ponsel. Begitu menemukannya, Mona langsung melakukan panggilan kenomornya.


"ini nomorku. hubungi aku bila kau sudah mendapatkan uangnya."tersenyum smirk."Jangan katakan aku yang meminta. atau kau akan menerima akibatnya."


TING.


Pintu lift terbuka. Mona menarik Angga, mendorongnya keluar dari lift sementara dia tetap tinggal dan menutup pintu lift kembali ke lantai dasar. Dengan senyum licik tersungging diwajah cantiknya.


Angga terbengong didepan pintu lift. Rasanya lemas sekali.


Hp nya bergetar. Angga segera mengecek, pesan bergambar dari nomor tidak dikenal. Angga membukanya.


Matanya kembali membelalak, beberapa fotonya dikirim dari nomor itu disertai dengan kata ancaman akan mengirimkannya pada Ibu dan Devan. Tubuh Angga melemas.


"Dari mana aku akan dapat uang sebanyak itu?"Gumamnya lesu hingga merosot ke lantai.


Angga berjalan memasuki rumahnya. Begitu memasuki rumahnya, ponselnya bergetar. Angga melihat,


Mas Devan? batin Angga.


Angga langsung mengeser tombol hijau.


"Hallo?"


"Bagaimana kencanmu hari ini?"


Angga terkejut. "Apa? Kencan?"


Apa mas Devan sudah tau?


"aaa... itu..."


"Apa yang kamu bawa itu? Kamu beli sesuatu?"


Yang aku bawa? Dari mana mas Devan tau aku membawa sesuatu? batin Angga melihat bawaanya lagi menatap sekeliling.


"Aaa.. ini jajanan, tadi dibelikan ayah."jawab Angga jujur.


Aaaahhh.... bagaimana jika aku minta gajiku pada mas Devan. dia bilang mau kasih, tapi ini belum waktunya.


"Mas Devan?"ragu-ragu.


"Iya?"


"Apa aku boleh minta gajiku sekarang?"


"Gaji?"


"kamu belum menggajiku saat aku masih bekerja."


Devan tergelak. "Hahaha... Kita sudah menikah. Jadi tidak ada gaji."


"Apaa??"

__ADS_1


Lalu bagaimana aku bisa dapat uang? Aku masih harus mengirim uang kerumah. pikir Angga lemas, tubuhnya merosot kelantai.


"Angga? Kamu baik-baik aja?"suara Devan terdengar cemas, bagaimana tidak, melihat tubuh Angga tiba-tiba terkulai dilantai.


"Uangmu sudah aku kirim ke rekeningmu."ucapnya akhirnya, Ia pikir mungkin saja karena masalah gaji.


"Benarkah?" Angga bersemangat.


"Apa kamu mau mengirimkannya untuk adik-adikmu?"


"Heemmm..." Angga mengangguk.


"Berikan nomor rekening mereka."


"Mmmm,, kenapa?"


"Biar aku yang tf. Aku tunggu lima menit."Devan menutup sambungan telponnya.


Aapaaa? Angga masih bingung, Devan yang melihat Angga mematung melalui CCTV itu, mengirim pesan.


//kenapa diam saja. cepat kirimkan padaku// tulisnya.


Angga yang sudah membaca pesan Devan, masih terdiam, Dia bingung. Dia merasa tak enak pada pria itu.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?"gumamnya."bukan ini yang kuharapkan."


Angga menutup wajahnya. dia sangat bingung.


"Apa yang harus kulakukan Mas Devan?"


Angga bimbang, Bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu. Pegang saja dia tak pernah apa lagi memiliki. Angga menghembuskan nafas lelah dan pasrah.


"Bagaimana jika benar, mereka marah karena foto itu?" gumam Angga menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya.


"Bukankah Yo il keluarga mereka juga?"bergumam."Keluarga?"


"Benar!" Gumamnya sedikit lebih ceria. "Yo il kan masih keluarga mereka. sepupu mas Devan, jika aku jelaskan pun, pasti Dia mengerti. Tidak mungkin aku bermesraan dengan sepupunya kan. Itu hanya salah paham." Angga mulai sedikit bersemangat.


Hp Angga kembali berdering. dia tau itu dari Devan. Angga sebenarnya masih merasa tak enak karena Devan meminta nomor rekening adiknya. Angga tak ingin memyusahkan Devan.


Sudahlah. Aku akan beralasan sudah tidur.


Dengan lemas Angga kembali kekamarnya, dia memilih tidur saja dan melupakan sejenak masalahnya. Semoga semuanya dapat dia selesaikan esok paginya.


.


.


keesokan paginya Angga membuka mata. Dia mengerjap memandang berkeliling, merasa sedikit asing dengan tempay dia terbangun pagi itu. Angga juga merasakan kehangatan dibalik punggungnya. Angga melihat perutnya. Sebuah tangan melingkar disana, gegas Angga menoleh. Wajah tidur Devan ada disana.


Hei, kenapa dia ada disini? bukankah seharusnya dia ada di luar kota? Kenapa begitu bangun, Mas Devan justru ada didepan wajahku? memelukku? Apa ini mimpi? pikir Angga sedikit bingung.


"Kau sudah bangun?" suara Devan mengagetkannya.

__ADS_1


___€€€____


__ADS_2