
Angga terduduk lemas didalam mobil, tangannya mengenggam Sebuah foto USG.
Habislah sudah sekarang. Tuan tau jika aku hamil. Dia pasti memecatku. Dia pasti merasa tertipu. Bagaimana ini?
Air mata Angga luruh. Dia biarkan saja membasahi pipinya.
Devan hanya terdiam. Dia fokus menyetir. Hingga mereka sampai diapartemen. Memasuki lift. Mereka masih saling diam. Angga terlihat gusar. semua hal buruk terus beraliweran dikepalanya.
Tuan pasti akan memecatku. Mungkin setelah ini dia akan mengusirku. Apa yang harus aku lakukan? Aku akan tinggal dimana? Aku akan mencari kerja apa? Tidak mungkin ada yang akan mau memperkerjakan wanita hamil. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Angga kembali terisak kecil. Devan meliriknya. Ingin rasanya dia memeluk tubuh itu. Namun dia tau posisinya. Devan tak ingin lepas kontrol seperti sebelumnya. Dia juga tak tau apa yang gadis itu pikirkan.
Saat memasuki rumah Devan masih belum mengatakan apapun. Membuat Angga semakin gusar.
Devan melangkah ke kamar Angga membuka pintunya. Membuat Angga terus membayangkan dirinya diusir.
"Istirahatlah. Kamu pasti lelah."
Angga tersentak. Dia sedikit kaget. Dia pikir Tuannya akan mengusirnya, tapi ini dia malah menyuruhnya beristirahat.
Angga menatap penuh. tanya.
"Jika butuh apa-apa, kamu bisa memanggilku."
"Tuan saya...."
Seolah tau apa yang akann diucapkan Angga, Devan tersenyum.
"Selamat ya, atas kehamilanmu. Kamu harus menjaganya dengan baik."menutup pintu.
Angga terbengong dikamarnya.
Apa yang baru saja tuan katakan? Kenapa dia malah memberi selamat?
Angga sudah membaringkan tubuhnya diranjang. Saat suara ketukan dipintu dia dengar.
__ADS_1
"Sebentar." beranjak dari ranjang dan berjalan kepintu.
CEKLEK.
Wajah tampan Devan sudah ada didepan pintu yang terbuka, tersenyum dengan ramah. Membuat jantung Angga berdetak lebih cepat.
Apa ini pengaruh hormon?
"Makan malam sudah siap. Keluarlah."Ajak Devan membuat Angga merasa tak enak.
Devan yang majikannya. malah dia yang membuat makan malam. Sementara dia enak-enakan tidur dikamar.
"Maaf tuan. Seharusnya saya yang.."
"Sudahlah. Ayo keluar." menarik tangan Angga.
Angga melirik tangannya yang digandeng Devan. Membuat wajahnya bersemu merah. Jantungnya semakin kencang menggedor dadanya.
Kenapa denganku ini?
Devan menarik kursi untuk Angga duduk. Malam itu mereka makan bersama dalam satu. meja yang sama.
Devan tersenyum.
"Ini hanya sisi kemanusiaanku. Jangan terlalu dipikirkan."
Angga sedikit tersentil.
Benar! Tuan Devan memang orang yang baik. Dia pasti memperlakukan semua orang sama baiknya.
_______
Keesokan paginya Angga mengalami morning sicknes. Ia memuntahkan isi perutnya di kloset kamar mandi. Devan yang terbangun melihat Angga yang masih muntah. Menatap iba diambang pintu.
Maafkan aku. kamu sampai menderita begini.
__ADS_1
Devan memijit tengkuk Angga.
"Sudah lebih baik?"
"Maaf tuan."
"Tidak apa."menuntun Angga keluar dari kamar mandi.
Angga duduk lemas di sofa. Devan datang dengan segelas wedang jahe hangat. mengangsurkannya ketangan Angga.
"Ini bisa meredakan mual."
Angga menyeruputnya.
Tuan, kenapa anda baik sekali.
Air mata Angga meleleh. dia mengharu memiliki majikan yang baik seperti Devan. Dia merasa beruntung.
"Aku ngantor hari ini. jika butuh apapun. kamu bisa menghubungiku." Devan meletakkan nomor hp nya di meja.
"Dan jangan terlalu memaksakan diri. Istirahat saja jika merasa lemas atau tak kuat. Heeemm?"ucap Devan lembut.
"Baik Tuan." menjawab lemas."selamat bekerja."
Devan meninggalkan Angga dirumah. Sebenarnya dia cemas meninggalkan wanita yang sedang hamil muda itu sendirian dirumah. Tapi dia juga harus bekerja. Ada meting penting dengan beberapa klien dan mitranya.
Sesampainya di lobi perusahaan nya, Devan disambut oleh ratusan karyawannya. Dia berjalan dengan wibawanya di ikuti oleh Gerald asistennya.
Mereka memasuki lift. Kebetulan hanya mereka berdua didalam sana.
"Dia sudah tinggal di apartemenku. Siapkan berkas pernikahan kami."
"Siap tuan." Gerald mencatatnya dalam notes. "Anda yakin akan menikahi gadis itu?"
"Heemm... Ayah tidak mengijinkanku pulang sebelum menikahinya."ucap Devan tanpa melihat asistennya.
__ADS_1
"Kau tau bagaimana Ayah. Dan kau juga melihat semarah apa dia kemarin kan?"sambung Devan lagi.
"Baik tuan. Akan segera saya urus."