
Pagi itu Angga yang bosan sendirian dirumah, mencoba keluar dan ingin berjalan-jalan ditaman. Devan saat itu sudah bekerja. Angga berjalan kearah lift, Terlihat seorang pria yang memasuki pintu lift yang terbuka, Angga sedikit berlari, agar dia bisa ikut masuk kesana.
"Tunggu! Tunggu!" teriak Angga merangsek masuk kedalam lift.
Seorang pria terlihat memahan pintu lift dengan tangannya.
"Terima kasih." ucap Angga dengan senyum dan melihat kearah pria itu, yang dibalas senyuman juga.
DEG!
Dia tampan sekali. batin Angga
Pria itu menekan tombol lantai dasar.
"Berkediplah! Nanti matamu kering." ucapnya
Angga terlonjak kaget, Malu ketahuan menatap pria asing itu lama, dan memundurkan langkahnya. Pria itu tersenyum lucu. melihat lama pada Angga, membuat gadis itu menundukkan kepalanya salah tingkah.
Kenapa dia balik menatapku? Apa dia sedang membalasku? pikir Angga yang masih melihat dari sudut matanya.
"Hei!"
Angga mematung. Dia menyapaku? Kenapa aku malah jadi deg-deg an begini? batin Angga
"Angga."
Angga terkejut menegakkan kepalanya,
Dia tau namaku? Apa tadi dia memanggilku? pikirnya reflek.
Pria itu tersenyum ramah pada Angga yang terlihat terkejut.
"Ap-apa anda baru saja memanggilku? Anda mengenal saya?" Angga memberanikan diri bertanya.
"Heemm.." pria itu mengangguk."Kamu nggak ingat padaku?"
Wajah Angga terlihat penuh tanya. mencoba membuka memori diotaknya, namun tak menemukan apapun dikepalanya. Tak mungkin dia tak mengingat pria setampan itu bukan? walau mereka hanya berpapasan tak mungkin dia tak ingat.
"Sepertinya kamu lupa, Mau bagaimana lagi, kita baru bertemu 2 kali."
"benarkah?"
"heem"
"Tapi anda tau nama saya."
"Pakai aku kamu saja. lebih akrab. Heemm?"
"Bagaimana kamu bisa tau namaku?" alih alih menjawab, Angga malah melontarkan pertanyaan pada Pria itu.
Pria itu tertawa lucu.
"Tak biasanya ada wanita yang tak mengingatku setelah pertemuan pertama, Ah, padahal kita sudah bertemu 2 kali."sesal pria itu sedikit kecewa.
"Aku juga merasa begitu, kenapa ingatanku buruk untuk pria setampan kamu."
Pria itu tergelak.
"Hahahha.. Coba aku beri kamu petunjuk. Mmm mansion Shin. Rumah besar."
Angga masih memasang tampang penuh tanya.
"Masih belum dapat ya?"pria itu kembali berfikir."Mmm,, bagaimana dengan Devan?"
Wajah Angga terlihat berubah namun masih terlihat bingung. Tapi dia tau, orang ini pasti berhubungan dengan suaminya.
"Kamu mengenalnya?"
"Aku sepupunya. Kita pernah bertemu di mansion Shin."
Walau begitu wajah angga masih terlihat bingung.
__ADS_1
Ting!
pintu lift terbuka. Mereka keluar bersama.
"Sepertinya kita harus berpisah. Terima kasih sudah menyapaku." pamit Angga lalu memulai langkahnya.
"Tunggu!"menahan tangan Angga."Kamu mau kemana"
"Jalan-jalan ketaman."
"Aku ikut."
"Apa kamu tidak punya urusan atau semacamnya?"
"Urusanku tidak begitu penting."asal menjawab"aku lebih tertarik menemani wanita cantik jalan-jalan." mengedipkan sebelah matanya.
"aaaahh yaa" balas Angga malas.
Sepertinya pria ini suka menggoda wanita menggunakan ketampanannya. Menyebalkan.batin Angga sedikit kesal hilang sudah rasanya tadi.
Angga melangkah lebih dulu.
"Apa kamu sudah mulai mengingatku?"mengikuti langkah Angga.
"Maaf, tidak." jawab Angga acuh tanpa menghentikan langkahnya, "Sepertinya otak ku menghianatiku tak bisa mengingat pria sepertimu."
"Kalau begitu kita berkenalan lagi."mengulurkan tangannya."Han Yo Il."
Angga menjabat tangannya dengan wajah yang terlihat bingung.
"kenapa namamu seperti orang korea?"
"Ayahku orang korea. Ibuku adik dari paman James. Ayah Devan."
"Aaaahhh.. begitu."Angga manggut-manggut. "Aku memanggilmu apa? Han Yo Il?"
"Call me steve."jawab pria itu
"Thats my name." lanjutnya lagi melihat wajah bingung Angga,"Nama lainku."
"Okey Steve."
Steve melihat Angga menyeluruh dari samping. Melihat gadis itu lebih berisi dari pertama mereka bertemu. Terutama bagian perutnya.
"Kamu terlihat lebih berisi Ang."
Angga tertawa kecil.
"Tentu saja, aku sedang hamil." Jawab Angga jujur dengan senyum diwajahnya.
Wajah Steve berubah.
"Apaaa?"
Angga menoleh, melihat wajah terkejut dari pria itu.
"Be-ra-pa bulan?"
"Dua" Angga mengangkat kedua jarinya di ikuti sudut bibirnya yang tertarik keatas, membuat wajahnya semakin manis.
Steve semakin terkejut. Wajahnya terlihat menegang dan memerah. membuat Angga merasa sedikit was-was.
"A-ada apa?"
"Tidak."melempar wajah dan pandangannya kearah lain. Namun wajah tegangnya masih ada disana. Tangan nya yang tersembunyi dibalik punggungnya mengepal kuat.
Mereka berbincang sambil menyusuri taman di apartemen itu.
"Apa kamu juga tinggal disini?" tanya Angga melihat skitar taman yang indah itu.
"Tidak."
"Lalu? Apa yang kamu lakukan disini?" beralih menatap Steve.
__ADS_1
"Aku hanya berkunjung kerumah teman."
"Benarkah? Sepagi ini?"
Steve menghentikan langkahnya. menatap pada Angga.
"Berkat itu aku bisa bertemu lagi denganmu."ucap Steve dengan senyum tipisnya."Jika tidak aku pasti melewatkan bertemu dengan gadis secantik kamu."
"Ahahahaa..... Kamu membuat ku meleleh." dengan wajah datar.
"Tidak mempan ya?" tersenyum lagi.
"Aku belum sarapan kamu mau temani?"Tawar Steve lagi.
"Aku sudah."
"Temani aku."
Angga terlihat berfikir. melihat jam tangannya.
"Baiklah. tapi aku tak bisa lama."
"Okey"
Steve dan Angga duduk disebuah cafe tak jauh dari taman. mereka memilih duduk di bangku yang berada diluar cafe.
Sambil menikmati sarapan mereka melihat sekitar, air mancur dan kolam, taman bunga yang berderet-deret dan orang yang berlalu lalang.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Dev?"
"Kamu tanyakan saja padanya."
"Kamu yang ada didepanku. kenapa tak kamu jawab saja. Jawabannya pasti sama kan?"
"Yah, tapi bisa memberi persepsi yang berbeda..."
"Hahaha... Kalian memiliki rahasia ya?" selidik Steve tanpa memberi tekanan. Senyum nya selalu bisa membuat siapa saja meleleh.
________
Ditempat yang berbeda,
Mona sekali lagi menemui Devan di kantornya. Dia memaksa masuk ke dalam ruangan Devan saat pria itu sedang keluar.
"Nona! Anda tidak di ijinkan masuk." cegah salah satu sekertaris Devan menghalangi langkah Mona tepat didepan pintu.
"Kamu tidak tau siapa aku?" tantang Mona.
"Tapi Tuan Devan sudah memperingatkan kami untuk tidak membiarkan siapapun masuk."
Dengan wajah kesal.
"Aku sudah membuat janji dengannya."
"Tuan sedang tidak ada di ruangannya."
"Dia menyuruhku menunggu." ucap Mona tegas, sekertaris itu terlihat ragu.
"Huuuhh... Aku akan menghubunginya. Akan kukatakan sekertaris barunya membuat masalah dengan kekasih tuannya." ancam Mona.
"Maaf. Baiklah Nona. silahkan masuk."
Mona melenggang.
"Huuh.. untung saja sibodoh itu percaya." gumam Mona kesal.
Mona mendudukkan diri di sofa. menunggu Devan masuk kembali keruangannya. setengah jam kemudian, pintu dibuka Mona berdiri.
Tampak Devan sudah memasuki ruangannya. Pria itu terlihat kaget. Wajahnya sudah memerah karena marah, dia hendak kembali keluar, namun Mona dengan cepat menubruk dan mencium bibir Devan. Mona mengunci tubuh Dev hingga kepintu. Melummat dan membelit lidah pria yang masih terkejut itu.
Ayooo Mona, buat dia mengingat kembali rasa itu. Buat dia jatuh lagi kedalam gengamanmu.
_______
__ADS_1
Visual steve alias Han Yo Il