
Devan mendorong kasar wanita yang menciumnya itu. Seketika dia merasa jijik mengusap mulutnya.
"Siapa yang mengijinkanmu masuk? Atau kau menerobos masuk?"
"Dev... Ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba dingin padaku?"
Devan tertawa lucu.
"Bukankah kau seharusnya sudah tau?"
"Aku tidak tau. Aku tak melakukan kesalahan. Katakan padaku apa yang salah. agar aku bisa memperbaikinya. Dan mari kita kembali seperti dulu Dev."
"Aku tidak tertarik. Aku sudah punya istri. Jadi jangan mimpi untuk kembali padaku."
"Kau tidak mencintainya. Aku tau semua itu hanya untuk menggangguku. benarkan?" Mona kembali mendekat dan bergelayut di leher Devan.
Devan memalingkan wajahnya muak.
"Menjauhlah! Kau membuatku jijik." Devan melepas tangan Mona dan menghempasnya.
Devan berjalan menuju meja kerjanya,
"Pergilah dengan kakimu sendiri, sebelum seseorang menyeretmu paksa."
"Dev!"pekik Mona.
Devan mengambil telpon diatas mejanya.
"Gerald! bawa keamanan keruanganku. Ada penyusup. Lempar dia keluar." Devan membanting kasar ganggang telponnya. Dia memyibukan diri memeriksa berkas di mejanya.Tak mau terganggu oleh kehadiran Mona.
"Dev, mari kita bicara. beri aku kesempatan."pinta Mona mendekat membuat Devan sedikit gusar.
Kenapa mereka lama sekali.
Pintu dibuka Gerald muncul bersana 2 orang keamanan dibelakangnya. Gerald menggerakkan kepalanya. isyarat untuk segera menyeret Mona keluar.
Melihat itu membuat Mona panik dan gusar.
"Dev aku mohon. setidaknya katakan apa salahku?"Mona meraung, "Dev pliss."mengangkupkan tangan didepan dada memohon.
Devan tak bergeming. Dia masih melihat kearah kertas-kertas ditangannya. Seolah tak menganggap keberadaan Mona. Hingga wanita itu dipaksa keluar.
Gerald berdiri didepan ruangan Devan, dibelakanngnya Mona yang sedang mencoba meloloskan diri dari cengkraman 2 bodyguard.
"lepaskan aku."
__ADS_1
"Lepaskan!"perintah Gerald pada dua bodyguard.
Mereka melepaskan.
"Kalian semua!"Seru Gerald membuat seluruh orang diruangan sekertariat itu berpusat padanya.
" ingat baik-baik wajah wanita ini. Jangan sampai dia memasuki gedung ini lagi. Apalagi sampai menyentuh pintu ruangan Tuan Devan. Kalian akan mendapatkan konsequensinya."lantang Gerald berucap menatap sinis wajah Mona.
"Baik Tuan."ucap seluruh orang disana.
"Kau...."pekik Mona kesal mengepalkan tangannya.
Gerald hanya tersenyum miring dengan pandangan mata merendahkan. Lalu dia berbalik memasuki ruangan Devan.
"Singkirkan dia."
Dua bodiguard mengangkat tangannya hendak memegangi Mona lagi.
"Berhenti! Aku akan pergi sendiri."geramnya melangkah menuju lift. "Aku tandai kalian semua!"dengus Mona.
______
Mona sudah berada didalam sebuah cafe tak jauh dari kediaman Shin. Didepannya duduk Ibu yang berusaha menenangkan Mona yang menangis itu. Ibu menatap prihatin.
"Bisa-bisanya Devan melakukan itu padaku Bu. huhuhuk..."tangis Mona menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya di kantor Devan, dengan di bumbui macam-macam disana sini agar makin sedap.
Mona masih menangis didepan Ibu. Tentu saja hanya airmata buaya. Mona harus mendapatkan simpati ibu berikut dengan dukungan dan kuasanya untuk membuat Devan kembali padanya.
"Aku harus bagaimana bu?"rengek Mona. "Aku sangat mencintainya."
"Ibu tau. Ibu akan melakukan sesuatu."ucap ibu lagi."Jangan kuatir. Yang perlu kamu lakukan hanya terus mencintai Devan. Sisanya biar ibu yang urus." ibu tersenyum smirk.
"Baiklah bu. Apa yang ibu rencanakan?"
"Pertama kita singkirkan wanita kampung itu."Ibu kembali tersenyum licik.
Ibu mengetuk pintu apartemen Devan tentu saja dengan Mona. Mereka akan memberi peringatan pada Angga. Mereka yakin. Gadis kampung itu pasti masih berada dirumah.
Beberapa kali ketukan tak juga ada sahutan didari dalam. Membuat mereka jengkel dan kehilangan kesabaran.
"Kemana gadis kampung itu?" gerutu ibu kesal.
"Apa kamu tak punya kartu akses Mona?"
"Tidak ibu. Ini pertama kalinya aku kemari."
__ADS_1
"Sialan."
ibu baru ingat jika Devan belum lama tinggal diapartemen itu. Karena suaminya mengusir Devan tanpa tau apa alasannya. Yang ibu tau, suaminya marah pada anak bungsunya hingga suaminya itu sampai memukul anaknya.
Sayup terdengar suara dikejauhan. Mona menarik tangan ibu untuk bersembunyi. Tak lama muncul Angga dan Steve. Mereka berhenti tepat di depan pintu apartemen Devan.
"Lihatlah bu. Kita menangkap basah tikusnya."bisik Mona.
"Tunggu bukankah itu Steve? Apa yang dilakukannya dengan gadis kampungan itu?"ibu bertanya-tanya.
"Sepertinya mereka punya hubungan. Liatlah cara mereka tertawa itu."kompor Mona lagi.
Wanita itu jadi teringat akan dirinya. dulu dia juga sempat tergoda oleh Steve. Pria tampan yang membuatnya berselingkuh dari Devan. Saat itu Mona tak tau jika Steve adalah sepupu Devan.
Mona gasak saja karena Steve sangat tampan kaya dan royal padanya. Hingga akhirnya pria itu malah justru meninggalkannya, akhirnya Mona memilih kembali Pada Devan yang tak tau perselingkuhannya itu.
Mona mengepalkan tangannya, saat melihat Steve dengan lembut menyibakkan rambut Angga kebelakang telinganya.
Sialan! Apa aku kalah lagi? Gadis kampung itu pintar sekali menggoda pria kaya. - Batin Mona kesal.
Setelah Steve pergi dan memastikan keadaqn aman, Mona Dan Ibu muncul. Angga sampai terlonjak kaget.
"Bagaimana kencan kalian? Menyenangkan?" suara ibu lantang.
"Setelah menggoda anakku sekrang kau menggoda pria lain. Tak cukup ya satu pria saja haahh?"Sentak ibu marah.
"Ti-tidak Nyonya.."
"Buka pintunya!"
Kedua orang itu terlihat duduk diatas sofa yang empuk, sementara Angga dibiarkan berdiri tertunduk.
"Tegakkan kepalamu."perintah ibu dengan tatapan mendominasi.
Angga menegakkan kepalanya. menatap takut-takut pada ibu.
"Kau lihat dia?" lanjut ibu lagi. "Hei lihat dia!"
Angga melirik Mona, lalu menunduk lagi.
"Wanita cantik ini lah yang seharusnya bersama dengan Devan. Bukan wanita kampung sepertimu!"
"Jadi kau seharusnya sadar diri dan menyingkir. Derajat kalian tidak sama. Dia Mona. Wanita cantik berpendidikan dan selevel dengan Dev. Dan lihat dirimu perempuan kampung! Kau harus tau posisimu!" ucap ibu dengan nada merendahkan.
"Jadi menyingkirlah!"
__ADS_1
"Ini peringatan pertamaku. Jika kamu masih menempel pada anakku. Aku pastikan aku akan bertindak lebih jauh." ancam Ibu. "Camkan itu."
Ibu beranjak dari duduknya, berlalu keluar apartemen Devan bersama Mona. Wanita itu melirik sinis dengan senyum menghina saat melewati Angga.