
Mata Angga membelalak melihat gambar foto cetak itu.
"Kau..." geramnya merasa sudah dimanipulasi.
"Selanjutnya aku mau lima belas juta." ucap Mona dengan seringai licik.
"Apaa??" geram Angga menatap tak percaya. Wanita ini licik sekali. Bagaimana bisa dia berbuat semacam ini? pikir Angga.
"Kamu mau aku mengirimkan foto ini?" senyum licik menghiasi wajah Mona. Dengan menunjukkan selembar foto yang lainnya.
Angga marah, dia sudah ditipu, mata gadis itu sudah memerah saking marah. Sejurus kemudian wajahnya berubah tegang skaligus panik, melihat sosok dibelakang Mona menyaut foto yang Mona pegang. Mona tersentak kaget dan menoleh.
###
Siang itu Devan dan Yo il duduk berhadapan disebuah restoran tak jauh dari apartemen Devan. Hanya ada meja dengan dua gelas kopi di antara mereka.
"Ada apa memanggilku? Tidak seperti kamu yang biasanya?" tanya Yoil santai. "Jika ini menyangkut kejadian kemarin. Kami hanya kebetulan bertemu. Jadi, jangan salah paham dan menyakitinya."
Devan tertawa kesal. Jujur saja Devan sudah sangat enggan berhubungan lagi dengan YoIl sejak dia tau Yo il menjadi pasangan selingkuh Mona. Dan kini Devan masih harus dengan terpaksa menghubunginya lagi, demi menjauhkan istrinya dari Yo il.
"Kau peduli padanya? Apa kau menyukainya?"
"Heemm... Aku akan langsung mengambilnya jika kau sampai melukainya hanya karena salah paham semacam ini. Dia gadis polos. Dia tidak licik seperti Mona....." Ucap Yo il. Matanya sedikit menyipit melihat apa yang ada jauh dibelakang Devan.
"Kaaauuu...." geram Devan tak melanjutkan ucapannya karena Yo il mengangkat tangannya.
"Sepertinya ada situasi yang mendesak diluar urusan kita yang tidak penting ini." Yo il menunjuk belakang Devan dengan kepalanya. Devan menoleh, melihat Angga dan seorang wanita berambut sebahu sedang berbincang. Yang diduga kuat wanita itu adalah Mona.
Rahang Devan mengeras, mimik mukanya merah menandakan dia sedang marah. Devan beranjak dari duduknya segera menghampiri Angga duduk, Namun Yo il menahan lengannya. Devan menoleh, melayangkan tatapan protes pada Yo Il.
"Jangan gegabah. Kita lihat bagaimana ini berkembang."Ucap Yo il.
Yo il dan Devan mengendap-ngandap mendekat kearah meja Angga dan Mona duduk. Mereka mengambil duduk dimeja tak jauh dari sana, agar bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan.
"Coba saja kirimkan. Kau tidak akan dapat apa-apa. Mas Devan tidak akan kembali padamu. Dia sudah sangat kecewa padamu. Dan satu lagi. Jika kau kirimkan foto itu, dia akan tau kau memerasku sekarang. Kau juga akan rugi." suara Angga yang Devan dan Yo il dengar. Mereka saling bertatapan.
Foto? foto apa? pikir Devan dan Yo Il bersamaan.
__ADS_1
"Baiklah." suara Mona setelah beberapa saat hening. Devan dan Yo il masih mendengarkan mereka berbincang.
"Kau puas? Berikan aku uangnya."suara Mona lagi. Devan dan Yo il kembali bertatapan. dengan pikiran dan ekspresi masing-masing.
"Aku mau menunjukkanmu sesuatu." lagi lagi suara Mona yang terdengar ditelinga keduanya.
"Kau...." kali ini suara pekikan Angga yang terdengar marah dan geram.
"Selanjutnya aku mau lima belas juta." suara Mona yang langsung membuat Devan membelalakkan matanya, tangan Devan mengepal kuat.
Apa? selanjutnya? Apa wanita ular ini sudah memeras istriku dengan sebuah foto? foto macam apa yang membuat Angga begitu takut? Apa itu dengan mu Han Yo Il? -pikir Devan geram.
Dia berdiri tepat dibelakang Mona, wajah Angga sudah terlihat tegang dan gugup. Devan menyaut selembar foto ditangan Mona. Disana terlihat jelas foto Angga yang sedang digendong oleh Yo il. Tangan Devan mengepal kuat meremas ujung foto yang dipegangnya.
Yo il ikut berdiri dibelakang Devan. Dia menatap sendu pada Angga yang terlihat begitu kaku dan panik.
"Aku terlihat tampan disini." ucap Yo il, "Harusnya aku membopongmu bukan menggendong seperti ini. sama sekali tidak terlihat romantis." Sambung Yo il lagi.
" Harusnya kau buat kami terlihat lebih intim lagi agar orang yang melihat foto ini percaya jika kami memiliki hubungan khusus Mona." ucapnya Yo il datar dan dingin. melirik dengan tatapan sadisnya.
Mona bergidig ngeri. melihat Yo il dan Devan dibelakangnya membuat dia tak berkutik. Mona ketahuan! Segera Mona berdiri dan mencoba memberi penjelasan. Dia tak ingin kehilangan Devan.
"Jelaskan apa yang kami pikirkan Mona?"tanya Devan dingin dengan nada tegas yang mendominasi.
"A-aku...." Mona sudah tak bisa berkata-kata lagi. Dia terus memutar otaknya agar terlepas dari ini.
"Jadi berapa uang yang kau minta Mona?"tanya Yo il datar. Menatap netra Mona yang makin panik dan gugup. Wanita itu seperti mau menangis.
"Aku juga harus mendapatkan royalti, karena kau menggunakanku untuk menghasilkan uang." lagi-lagi Yo Il berucap dengan nada dingin dan datar.
Wajah Mona berubah, dia ketakutan dan yang pasti panik dan gugup. Apa lagi Yo Il terus menyerangnya dengan kata-kata kejam yang dingin menusuk itu. Yo Il lebih berbahaya dibanding Devan.
"A-aku hanya bercanda. Sungguh. Aku hanya mengertaknya, Devan tolong percayalah."rengek Mona memohon memegang tangan Devan.
Devan menyentak kasar tangan Mona. Hingga wanita itu terpental jauh.
"Jangan menyentuhku. Kau semakin membuatku jijik." Devan menatap dingin pada Mona.
__ADS_1
Devan beralih manatap Angga. Angga sudah panas dingin dan gemetar. Apa lagi tatapan Devan padanya tak terbaca, seolah Angga tak bisa membaca apa yang Devan pikirkan.
Yang Angga yakutkan sekrang adalah Devan murka dan bertindak bruttaaal seperti sebelumnya.
Devan melangkah, mendekati Angga. Manarik tangan Angga dan berjalan menjauh dari tempat itu. Angga mengikuti Devan dengan langkah terseog.
Yo il tidak menahannya. Yo il tau, jika dia lakukan itu justru akan membuat Angga semakin menderita. Dia akan menghubunginya nanti jika keadaan sudah memungkinkan. Kini satu-satunya yang harus Yo il bereskan adalah Mona.
Yo il menatap Mona dengan tatapan dingin dan sadis.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan nona Mona?"senyum manis namun sadis itu terulas diwajah Yo il.
"Sepertinya kita perlu memainkan permainan yang menyenangkan."
Wajah Mona makin gugup dan gelisah mendengar ucapan Yo il. Dia sangat ketakutan.
Dilain Pihak,
Devan masih menyeret Angga, gadis itu sudah menangis saja membayangkan kembali apa yang mungkin Devan lakukan jika sudah murka seperti ini. Dia sungguh tak sanggup lagi. Dadanya masih berdenyut sakit.
Devan dan Angga memasuki lift. Devan segera menekan tombol lantai 9. Devan melepas genggamananya, tangan Angga sudah merah akibat cengkramannya tadi. Angga mengusap tangannya yang merah ittu.
Devan menatap Angga yang meringis kesakitan dan wajah yang takut itu, juga air mata yang tak henti-hentinya mengalir.
Tangan Devan terangat. Angga memejamkan matanya, dia sangat takut akan apa yang mungkin Devan lakukan padanya.
Mas Devan pasti sangat marah, Dia pasti kecewa padaku. Haruskah aku pergi saja? aku tidak sanggup jika dia berulang kali memperlakukanku seperti ini. Aku benar-benar takut. batin Angga ketakutan.
Bersambung..
___€€€___
Readers kuh, kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊