
Angga membuka matanya, menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Dia menghela nafasnya, lalu bangun terduduk dan menggantungkan kakinya dibibir ranjang.
"Sepertinya Mas Devan punya trauma dihianati. Karena itu dia sangat kasar tadi, tapi jika begitu bukankah justru akan membuat pasangannya pergi?"lirih Angga dengan sorot mata sedih.
Angga menyentuh dadanya dan memejamkan matanya.
"Rasanya masih sakit mas Devan."lirihnya, "Haruskah aku memaafkanmu?" ingatan akan perlakuan kasar Devan tadi membuat airmatanya menetes lagi.
Drŕrtttt...
Ponsel Angga berbunyi. Angga meraih hpnya diatas nakas. pesan dari nomor tanpa nama. Angga membukanya.
("apa kamu baik-baik saja?- Yo il")
Angga menghela nafasnya,
Kenapa dia menghubungiku? Apa dia kuwatir karena kejadian tadi?
Angga kembali menghela nafasnya. Angga letakkan kembali ponselnya. Kini ponselnya berubah jadi berdering. Angga mengambil lagi hp nya, panggilan telp dari yo il. Angga terdiam sejenak, lalu mengangkatnya.
"Hallo?"
("Apa kamu baik-baik saja?")suara han Yo Il.
"Heemmm... iya."
("Kenapa suaramu lemas? Apa Devan menyakitimu?")Suara Yo il terdengar cemas.
"Aku baik-baik saja."
Sunyi. Tak ada suara dari salah satu dari mereka.
"Aku tutup telponnya ya."
("Tunggu, jika kamu mendapat kesulitan, kamu bisa mencariku ")
"Baiklah."
("Tidurlah yang nyenak. selamat malam.")
"Heemm.."
Panggilan berakhir. Angga sedikit bernafas lega.
"Aku harus menjaga jarak dari Yo Il agar mas Devan tidak salah paham lagi." gumam Angga.
Angga kembali merebahkan diri ranjangnya. Ia mencoba tidur kembali, namun matanya tak mau terlelap. Angga juga mencoba berbagai macam posisi, namun masih belum juga mau terlelap.
Angga duduk terbangun. Dia kelimpungan, bingung sendiri kenapa masih juga belum mau terlelap. Angga menatap pada perutnya yang sudah mulai membuncit. Dia mengelus perutnya.
"Kecilku, kenapa tak mau tidur?"
"Kenapa terus membuat ibu gelisah?"
"Apa kamu kangen papamu?"
"Kamu ingin tidur dengannya?"
Angga menghela nafas panjangnya, ia mengusap-usap lagi perutnya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, setelah itu tidur dan jangan buat ibu gelisah. Heeem?"
Angga beranjak dari ranjangnya, berjalan perlahan menuju dapur. Angga membuka tempat penyimpanan. Mulutnya mengerucut, tak ada yang membuatnya berselera. Lalu beralih membuka pintu kulkas.
Ada beberapa buah. Angga mengambilnya, mengupas dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Dia lalu duduk di meja makan, menikmati buahnya.
Setelah semua buah habis. Angga kembali mengelus perut.
"Kecilku jangan buat ibu gelisah lagi ya. Kita tidur."
Angga berjalan menuju kamarnya, Angga menatap pintu kamar Devan yang tertutup. Angga berhenti sejenak. Menatap perutnya.
"Jangan minta ibu masuk kesana. Itu menyakiti ibu. Heeemm?"
Angga mengusap perutnya, dia melangkah pasti kekamarnya. Angga berhenti lagi. Dia berbalik menatap lagi pintu kamar Devan. Angga mengusap perutnya.
__ADS_1
"Ibu mohon, jangan seperti ini sayang."
Entah kenapa Angga terus ingin memasuki kamar Devan. Sampai dia ingin menangis saja. Mungkin si baby boy ingin tidur bersama ayahnya, seperti malam-malam sebelumnya.
Angga terus melawan keinginannya, namun semakin dia berusaha, keinginan itu semakin besar. Sepertinya dia memang harus masuk kesana.
Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Angga berjalan mendekati pintu kamar Devan. Dengan hati-hati, Angga membukanya.
"Kali ini saja, tapi kamu jangan menyulitkan ibu. heemm?" bisik Angga mengelus perutnya.
Angga bersungut mendekati ranjang, dimana disana Devan terlelap.
Sepertinya Mas Devan sudah terlelap. Aku akan tidur disampingnya demi si kecil. Besok pagi-pagi sekali aku akan bangun dan pergi sebelum Mas Devan bangun. -Batin Angga berencana.
Angga merangkak menaiki ranjang dengan perlahan berharap Devan tidak terbangun. Angga mengambil posisi ternyaman untuk nya dan sikecil dalam perutnya. Angga menelusup menghadap Devan, melingkarkan tangan pria itu diperutnya. Agar kecilnya merasakan sudah berada ditempat yang dia inginkan.
Angga tersenyum kecil menatap wajah Devan yang tenang dalam mimpinya.
Wajahnya begitu lembut dan tenang. Kenapa jika marah dia jadi semenakutkan itu.- batin Angga menatap sendu pada suaminya.
Angga memejamkan matanya. Dadanya kembali berdenyut mengingat bagaimana Devan mengigiti benda kenyalnya bergantian. Sangat kasar. Air matanya menitik hingga akhirnya dia terlelap juga.
###
Devan mengerjap membuka mata. Ada sesuatu yang lain yang dia rasakan. Devan mengulas senyum mendapati Istrinya terlelap didepannya. Devan menyentuh lembut bibir Angga, berpindah ke matanya yang terpejam.
Angga melenguh, gegas Devan memejamkan matanya lagi, pura-pura tertidur. Angga mengerjap, membuka matanya. Angga melihat kearah jam diatas nakas.
Pukul Setengah lima pagi. Angga menatap wajah Devan yang terpejam itu. Angga bangun dan beranjak. Dia harus segera meninggalkan kamar Devan sebelum si empunya bangun.
Begitu pintu ditutup, mata Devan langsung terbuka. Devan mengulas senyum.
Sepertinya dia tidak semarah itu padaku. Ini melegakan. -batin Devan.
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Devan duduk di meja makan. Dengan hidangan sarapan pagi yang disiapkan oleh Bi Biyan. Devan melirik pintu kamar Angga yang tertutup rapat. Devan beranjak mendekati pintu itu. Tangannya terangkat, mengambang sebelum dia sempat mengetuk. Devan urungkan.
Devan kembali lagi kemeja makan. Menatap menu sarapannya yang tidak membuatnya berseleran. Devan menarik nafas lalu membuangnya. Dia mulai sarapannya tanpa Angga. Dia pikir mungkin Angga masih ta mau melihatnya. Hingga dia masih mengurung diri dikamarnya. Dan memilih pergi dari kamar sebelum Devan bangun.
###
Didalam kamar Angga, duduk dan bersandar di kepala ranjang. Angga menatap lemas ponsel. Disana ada sebuah pesan dari Mona yang menanyakan apakah uang yang dia minta itu sudah ada atau belum. Dia menginginkannya siang ini.
("berikan aku nomor rekeningmu.")
Pesan dikirim. Tak lama Angga mendapat balasan.
("Apa kau gila? Aku mau cash.")
Angga menghela nafasnya lagi.
Bagaimana caraku keluar? Bagaimana jika mas Devan tidak pergi kerja? Atau, bagaimana caraku mengelabui bi Biyan? Haaaaahhh... ini memusingkan sekali. Pikir Angga menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya.
Beberapa jam kemudian, Angga melongok keluar kamarnya melalui celah pintu. Melihat apakah Devan sudah berangkat kerja atau belum. Angga tak melihat suaminya itu. Angga bersungut keluar kamar.
Angga melihat Bi Biyan di dapur. Angga menyapanya.
"Selamat pagi Bi," Sapanya mendekat.
Bi Biyan menoleh. "Pagi Nona Angga. Saya siapkan dulu sarapan untukmu."
"Iya. Makasih." Angga duduk di meja makan, dia celingukan mencari Devan.
"Mas Devan?"
"Tuan Devan sudah berangkat kerja Nona Angga."
"Aaahh, itu melegakan." ucap Angga menatap sup jagung yang baru saja diletakkan bi Biyan dengan telur dadar dan usus goreng.
"Makasih Bi Biyan." ucapnya. "Bi Biyan udah sarapan?"
"Udah Nona Angga." jawab Bi biyan melangkah dengan nampan ditangannya kembali ke dapur.
"Eee,, Bi Biyan, habis ini aku akan keluar sebentar."
"Baik Nona Angga, nanti saya temani."
__ADS_1
"Aaa, tidak usah. saya bisa sendiri." Respon Angga gelagapan.
"Tapi Tuan Devan meminta untuk selalu bersama anda nona." ucap Bi Biyan.
"Aku hanya kerumah teman saja. Tidak enak jika bi Biyan ikut."
"Tapi...."
"Tolonglah Bi, nanti aku juga akan katakan padanya. Huuummm?"
Bi Biyan menatap Angga yang memohon itu. Akhirnya dia mengiyakan juga."Tapi Nona harus ijin ya pada tuan Devan."
"Heeeemmmm..." Angga mengangguk senang.
Seusai sarapan, Angga langsung pergi ke bank, megambil uang sebesar sepuluh Juta. Lalu dia janjian dengan Mona untuk bertemu disebuah restoran tak jauh dari apartemen.
Di restoran yang sudah disepakati, Angga duduk termenung dengan sebuah jus Oren di depannya. Tak lama Mona datang dan duduk didepannya.
"Kau sudah dapat uangnya?"
Angga menatap Mona. "Huuuumm."
Mona tersenyum puas.
Angga mengeluarkan amplop coklat dari tasnya dan meletakkannya diatas meja. Mona mengulurkan tangannya hendak mengambil alih amplop itu. dengan bergegas, Angga menariknya kembali.
"KAUU...." geram Mona.
"Aku mau, kamu menghapus foto itu dulu." ucap Angga memberanikan diri. Dia tau Mona pasti akan meminta lagi dan lagi jika masih memiliki foto itu. Sementara Angga untuk mendapatkan uang itu saja harus melalui hari yang seperti kemarin. Angga tak akan sanggup.
"Hahahhaha..." Mona tertawa mengejek."Jadi kau mencoba bernegosiasi denganku?"
"Dengar gadis kampung! Aku yang memiliki hak disini. Kamu tidak. Kalau aku mau, aku bisa saja mengirimkan foto ini sekarang."
"Coba saja kirimkan. Kau tidak akan dapat apa-apa. Mas Devan tidak akan kembali padamu. Dia sudah sangat kecewa padamu. Dan satu lagi. Jika kau kirimkan foto itu, dia akan tau kau memerasku sekarang. Kau juga akan rugi." kata Angga dengan suara bergetar, dia harus berani bersuara, agar dia tidak lagi mengalami hal semacam ini kedepannya.
Mona tersenyum kesal. Benar juga apa yang gadis ini katakan. Baiklah, dari pada aku tidak dapat apa-apa. pikir Mona.
"Baiklah." Mona menyetujui, tentu saja disambut oleh senyum sumringah Angga. Dia mengeluarkan hp nya dan menunjukan pada Angga dia sudah menghapus foto-foto itu.
"Kau puas? Berikan aku uangnya."
Angga menggeser amplop coklat diatas meja itu ke arah Mona. Mona tersenyum puas.
"Aku mau menunjukkanmu sesuatu." Mona mengeluarkan selembar foto cetak dan meletakkannya dimeja, kemudian mendorongnya kedepan Angga.
Mata Angga membelalak melihat gambar foto cetak itu.
"Kau..."
"Selanjutnya aku mau lima belas juta."
"Apaa??" Angga menatap tak percaya. Wanita ini licik sekali. pikir Angga.
"Kamu mau aku mengirimkan foto ini?" senyum licik menghiasi wajah Mona. Dengan menunjukkan selembar foto yang lainnya.
Angga marah, dia sudah ditipu, mata gadis itu sudah memerah saking marah, sejurus kemudian wajahnya berubah, melihat sosok dibelakang Mona menyaut foto yang Mona pegang. Mona tersentak kaget dan menoleh.
Bersambung....
____€€€____
Readers, menurut kalian siapa itu?
a. Devan
b. Steve atau han Yo Il
c. Nyonya Cory
d. tidak tau
Dukung othor ya, jangan lupa like dan komen.
Terima kasih.
__ADS_1
Salam_____
😊