
Yo Il melongok kearah Manis dan Andreas pergi, dengan senyum kecil diwajahnya.
"Baiklah, apa rencanaku selanjutnya?"guman Yo Il menyeruput jus mangga nya.
BIIIUUUUUUURRRRRRDDDDD....
Jus mangga itu menyembur dari mulutnya,
"Sialan! apa yang dia taruh dalam jus manggaku?"gerutu Yo il menatap jengkel pada gelas ditangannya lalu beralih ke arah Manis menghilang.
"Assyyyiiinn..!"
###
Andreas membawa Manis ke komplek kamar para pelayan. Kebetulan Manis tak memiliki roommate. Jdi dia tinggal sendiri dikamar paling pojok itu.
"Disini kamar mu Manis."ucap Andreas membuka pintu kamarnya.
"Ok. Kamar nya tidak terlalu berdebu. Biar aku bersihkan sendiri." Manis memandang berkeliling.
"Baju kerjamu ada didalam lemari."Pak Andreas menunjuk lemari disisi sebelah kiri.
"Baik. terima kasih."
"Jika butuh atau ada pertanyaan lain kau bisa keruangan ujung komplek ini." lanjut pak Andreas menunjuk sisi kanannya.
"Iya pak Andreas."
Manis membersihkan kamar itu, tak butuh waktu lama karena kamar itu hanya sedikit berdebu. Manis memasang seprai saat pintu kamarnya diketuk.
TOKTOKTOK
Manis menoleh ke pintu kamarnya, Han Yo Il berdiri diambang pintu yang terbuka.
"Sudah selesai?"
"Sudah! Tinggal merapikan sprai nya. Ada apa tuan Muda?"Tanyanya sedikit malas.
"Pakai baju kerjamu dan datang kekamarku." ucap Yo il sambil berlalu.
Manis terbengong.
"Apa-apaan dia ini? Aku tak tau dimana letak kamarnya."gerutu Manis menyelesaikan memasang sprai.
Manis berjalan menuju ruang berkumpul para pelayan diujung komplek itu. Dia sudah mengenakan. pakaian kerjanya.
Didalam ruangan itu hanya ada beberapa orang saja. dan juga pak Andreas.
"Ada apa Manis?"tanya Pak Andreas mendekat.
"Aaaa... tuan muda menyuruhke ke kamarnya. saya tidaak tau dimana kamarnya." ucap Manis agak ragu menatap canggung para pelayan yang ada diruangan itu.
"Aku kenalkan dulu pada kalian." pak Andreas mwngenalkan Manis pada tiga orang pelayan disana.
Setelah berbasa basi dengan para pelayan disana, Pak Andreas membawa Manis ke kamar Han Yo Il.
"Ini kamarnya."
__ADS_1
"Terima Kasih pak Andreas."
TOKTOKTOK
pak Andreas mengetuk pinttu, lalu membukanya. Kamar itu kosong, tak ada siapapun disana.
"Tuan Muda?" pak Andreas melangkah masuk. Manis mengikuti dari belakang.
Beberapa langkah Pak Andreas masuk kekamar Yo Il suara pintu kamar mandi dibuka. Yo il dengan balutan handuk dipinggangnya menatap pada dua orang yang memasuki kamarnya.
"Kau sudah datang?"melihat ke arah Manis. lalu berjalan ke ruang ganti.
"Barang-barangmu ada di meja. Ambilah dan kembali ke kamarmu."
Apa? Hanya itu? Jadi aku disuruh ganti baju pelayan dan capek-capek datang kesini hanya untuk itu? kenapa tadi pas mengetuk pintu kamarku nggak skalian bawa. Geram Manis dalam hati.
Manis mendekati meja yang ditunjuk Yo il mengambil perangkat sekolahnya lalu pergi dengan terus bergedumel.
Blam!
Suara pintu ditutup, Yo Il mengintip dari balik pintu ruang ganti yang dia buka sedikit. Dia mengulas senyum.
Wajah kesalnya itu lucu sekali....xixixi...
_____
Di belahan wilayah yang lain. Lebih tepatnya diapartemen Devan. Malam itu Bi Biyan sudah kembali kerumahnya. Pria itu membantu Angga memasak. Angga membuat kimci, karena dia ingin memakannya. Wortel siap di potong, daun bawang juga sudah Devan siapkan. Tinggal melumuri Sawi dengan bumbu.
Saat sedang asyik dengan kegiatan memasaknya. Hape Devan berbunyi. Devan mengambil hp yang dia simpan di kamar. Panggilan dari ayahnya. Devan mengangkatnya dan kembali ke dapur.
("Besok datanglah kemari dan menginap beberapa hari disini.")suara pak James diseberang sana.
"Nggak! Kami sibuk. Aku juga masih ada pekerjaan."tolak Devan segera.
("Aku tidak perduli! Besok kalian harus datang! Selesai!")tutup pak James kemudian.
"Ayah!" pekik Devan melihat layar hp nya, sambungan sudah terputus.
"Sialan!"umpatnya melempar hp nya ke meja didepannya.
Angga menoleh, melihat suaminya yang terlihat kesal itu.
"Ada apa?"tanya Angga memperhatikan Devan yang masih mengedumel tak jelas. Sementara tangannya masih sibuk membumbui kimcinya.
"Ayah, meminta kita menginap di rumah besar besok."
"Aaaaa.... begitu?" Angga kembali mengalihkan pandangannya pada kimcinya.
"Apa kamu keberatan?" tanya Devan hati-hati.
"Aku tidak masaalah. Tapi bagaimana dengan Ibu? Mungkin beliau keberatan." ucap Angga
"Ibu... Mungkin ayah sudah mengatasinya."
"Jadi, kamu mau?"
"Tidak apa."menatap wajah suaminya sesaat, lalu kembali pada kegiatannya lgi.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya ayah rencanakan? kenapa tiba-tiba mengundang kami? batin Devan.
Malam pun berlalu, Devan dan Angga sudah tidur malam itu, dibawah selimut yang menghangatkan tubuh mereka. Namun tak lengkap rasanya bila tidak dengan memeluk pasangannya bukan?
Keesokan paginya, Angga dan Devan bersiap untuk perjalanan kerumah utama. Angga sedang memilih baju saat Devan masuk keruang ganti kamarnya.
"Apa yang sebaiknya aku pakai?"tanya Angga menempelkan satu setelan baju ditubuhnya dan melihat pantulan diri dikaca. Lalu dia berganti dengan stelan yang lain.
"Apa pun bagus untukmu."jawab Devan asal.
Angga menghela nafas beratnya.
"Seharusnya aku tak bertanya pada mu." gumam Angga sedikit jengkel.
Devan yang sedang memakai kemejanya menoleh mendengar gumaman istrinya itu, lalu dia berbalik, berjalan mendekat dan memutar tubuh Angga hingga mereka berhadapan.
"Mmmm.. biar kulihat, " Kata Devan seolah sedang berfikir, menatap tubuh Angga menyeluruh.
"Sepertinya, terusan ini cocok untukmu," ucap Devan mengambil alih dres dari tangan kiri Angga.
"Benarkah? Apa aku tidak terlalu terlihat gendut dengan memakai ini?"
"Kamu kan lagi hamil. Lagi pula pakaian ini longgar."
Angga mengangguk.
"Lagi pula aku suka warna kalem." lanjut Devan lagi.
"Baiklah! Aku pakai ini saja." bergumam pelan.
Devan sudah selesai dengan pakaiannya, menunggu Angga. Wanita itu justru hanya diam menatap pantulan diri di cermin, masih dengan gaun yang Devan pilih tadi . beberapa kali Angga menempelkannya di tubuhnya.
"Kenapa nggak di pakai, dari tadi begitu terus. Kalau nggak suka, ganti aja."
"Enggak. Ini bagus kok."
"Terus kenapa nggak dipakai?"
"Mas Devan kalau sudah selesai kenapa masih disini sih?" protes Angga cemberut.
"Kenapa memangnya?"tanya Devan tanpa beranjak."aku kan menunggumu."
"Tunggu diluar."
"Tidak mau." tolak Devan lantang, "Kenapa malah menyuruhku keluar? Kau malu?"
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1