Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
chap 24


__ADS_3

Siang itu terik sangat. Matahari seolah mengajak kulit berkelahi, hingga menimbulkan warna yang dihindari para wanita negeri ini.


Namun itu tak berlaku pada Angga, gadis manis yang sedang hamil itu dengan riangnya berjalan mengitari danau buatan tak jauh dari apartemen tempatnya tinggal. Dibelakangnya, mengikuti seorang pria tampan yang tak melepas pandangannya dari gadis ceria itu.


"Aku belum pernah kemari. Tempat ini bagus. Terima kasih sudah mengajakku kemari." ucap Angga berbalik dan berjalan mundur.


"Perhatikan langkahmu." Ucap Steve.


"Yo il, mmmm boleh aku memanggilmu Han Yo Il?" tanya Angga lembut.


Steve mengulas senyum.


"Kenapa?" kini balik Yoil yang bertanya.


"Aku suka nama Han Yo Il. Bagus."


"Bagaimana dengan orangnya, apa kamu suka juga?" mengerling nakal.


Angga tergelak.


"Aku suka semuanyaa.....aaaaaa.." kaki Angga tergriler batu kecil, hingga keseimbangannya hilang, beruntung Steve sigap menangkap punggung gadis itu. Hingga Angga selamat dari jatuhnya.


Mereka saling tatap sebentar, jantung Han Yo il serasa mau meledak, nafas hangatnya menerpa wajah Angga. Hingga Angga tersenyum lebar.


"Hahahhaha..... kenapa wajahmu lucu sekali?" ucapnya melihat wajah Steve yang kwatir sekaligus bersemu merah karena beradu tatap dengan Angga.


Steve membantu Angga tegak berdiri diatas kakinya, dan sedikit salah tingkah.


Aku bisa salah tingkah seperti ini padahal aku seorang pemain. batinnya heran membuatnya tersenyum geli.


Angga meraba perutnya.


"Kenapa?" Yo Il bertanya dengan gurat cemas.


"Sepertinya dia lapar." menatap Yo il dengan cengiran.


"Ayo makan. ada resto disebelah danau." ajak Yo il.


"Mmmm, jauh kah?"


"Lumayan. kamu capek."


Angga mengangguk pelan.


"naiklah." Yo il berjongkok didepan Angga.


Gadis itu menatap punggung Yo il. "aku jalan saja."


"kamu bilang capek. cepat naik."


"Nggak papa." berjalan melewati samping Yo il.


"Naiklah." kembali berjongkok di depan Angga.


"Tidak usah." kembali berjalan melewati samping Yo il.


"Ayolah." menyusul dan kembali berjongkok.


"Tidak." tegas Angga. lengannya ditahan oleh tangan Yo il.

__ADS_1


"Kamu tau, apa yang kita lakukan ini terlihat lucu buat orang lain yang melihat."


"Karena itu hentikanlah Yo il."


"Kamu yang hentikan. Cepat naik." berbalik kembali menyodorkan punggungnya pada Angga.


Angga menatap punggung kokoh Yo Il, Ia menggigit bibir bawahnya.


"Ayolah! posisi ini sangat tidak mengenakkan."


"Aku sedang hamil."


"Aku akan berhati-hati agar perutmu tidak tergencet."ujar Yo il."Ayo naik."


Angga akhirnya naik keatas punggung Yo Il juga. Pria itu lalu menggendongnya, dan berjalan perlahan dengan menahan senyuman.


Dalam gendongan punggung Yo il, membuat Angga kembali teringat saat dia dan Devan berjalan ke curug. Dia juga menggendongnya seperti ini. Angga tersenyum kecil karenanya.


Hingga akhirnya mereka sampai di restoran yang Yo Il maksud. Yo Il menurunkan Angga dengan hati-hati, lalu menggandengnya ke meja terdekat, dan memesan makanan.


Seusai makan siang, Yo il juga menemani Angga kembali ke apartemennya di lantai 9.


"Terima kasih sudah menemaniku hari ini." ucap Angga dengan senyum tulus.


"Aku juga senang hari ini, jika butuh teman lagi, Call me!" mengerling nakal.


Angga tergelak. "Baiklah."


Terdiam, "Aku masuk ya." tersenyum


"Iya masuklah." membalas senyuman Angga.


Angga membuka pintu rumahnya, dan melambaikan tangan.


Angga berjalan memasuki ruang utama, disana Bik Biyan terlihat pucat dan kuwatir.


"Nona Angga. anda pulang? Dari mana saja? saya sangat cemas." ucapnya lirih.


"Maaf Bi Biyan, aku hanya jalan-jalan sebentar ditaman. Bosan di dalam terus."


"Astaga Nona, seharusnya anda bilang sama bibi, jadi bibi tidak kuwatir." ucapnya mengelus dada.


"Maaf bi. Sungguh maafkan Angga." balas Angga menyesal, dia memeluk Bi biyan.


"Bibi baru mau keluar mencari non." masih terlihat cemas.


"Maaf bi."


"Tadi tuan Devan menelpon. menanyakan keadaan nona. tapi nona Angga tak ada."


"Benarkah?" wajah Angga berubah panik. Dia tadi memang tak membawa hp nya karena lupa.


"Aku kekamar dulu ya bi."


"Iya non, nona Angga sudah makan? biar bi biyan siapkan."


"Sudah bi." balas Angga cepat lalu berjalan kekamar.


Angga mengecek hpnya. benar saja ada puluhan notif di layar pipih itu dan semua dari Devan.

__ADS_1


Tak lama, benda itu bergetar lalu berdering. Panggilan vidio Call dari Devan. Dengan segera Angga mengangkatnya.


"Mas......."


"KAMU KEMANA AJA?? KENAPA HP DITINGGAL DAN PERGI NGGAK PAMIT?" suara dan wajah Devan sangat marah dan terselip kekawatiran disana.


"Ma-maaf Mas Devan." lirih Angga merasa bersalah, dia jadi sedih sudah membuat suaminya kuwatir dan marah.


"Ma-maaf. ma-maafkan aku mas."isak Angga.


"Kenapa menangis?"


"Maaf sudah membuatmu marah.." balas Angga, kenapa hormon kehamilan ini membuatku gampang menangis?


"Aku nggak marah Angga.. Aku hanya kuwatir, tadi aku menelponmu, aku sudah sampai tujuan, tapi kamu tak ada. Tentu saja aku kuwatir."


"Maaf."


"Jangan lakukan lagi."


"Huuumm.."


"Hapus air matamu untukku. Aku tak bisa melakukannya dari sini"


Angga mengusap pipi.


"Bagaimana si kecil? Apa dia rewel?"


Angga menggeleng.


"Baguslah. Besok-besok jika mau keluar ajaklah Bi biyan."


"Iya."


"Aku mau lanjut kerja. Kamu jangan lupa makan dan istirahat, heeemm?"


Angga mengangguk.


"Aku tutup telponnya."


Panggilan berakhir, Angga meletakkan ponselnya di dada.


Mas Devan sangat mengkhawatirkanku, seharusnya aku tak keluyuran sendiri. Tapi, aku memang tak sendiri. aku bersama Yo il sepupunya bukan? pikir Angga.


Telpon Angga berdering lagi,


Mas Devan?


Angga melihat layar ponselnya, nomor tak dikenal. Walau ragu, Angga mengangkatnya juga.


"Halloo?"


kukasih lagi visualnya Han Yo Il 😊



_____€€€€€_____


Readers ku terlovers kira-kira siapa yang menelpon Angga ya?

__ADS_1


Semangatin othor donk biar up terus, Like dan komen..


thank You.___


__ADS_2