Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 37


__ADS_3

Malam itu begitu pekat, sepekat harapan ditolak sama gebetan. Haaaeeehhh.....


Yo il berjalan menyusuri jalanan dekat taman, hingga dia melewati sebuah jembatan merah yang cukup panjang.



Jembatan itu cukup sepi karena sudah cukup malam. Beberapa meter didepannya Yo il melihat seorang gadis muda berseragam sekolah menengah atas berdiri ditepian jembatan. Tangannya memegang pembatas.


Dalam hati Yo il, bertanya Apalah yang bocah ini lakukan malam malam begini. Yo il memelankan langkahnya, sambil memperhatikan gadis itu.


Gadis itu bergerak menaikkan kakinya ke pembatas seolah hendak melewati pagar pembatas.


"Hei! Apa apaan dia? Apa dia mau bunuh diri?" gumam Yo il mengambil ancang-ancang.


Memang tubuh gadis itu sudah mencondong di atas pembatas jembatan setinggi 100cm itu. Menyadari gadis itu akan melompat, secepat kilat Yo il bergerak dan menyambarnya. Menjauhkan gadis itu dari pembatas jembatan.


"Lepaskan! Dasar idiot! Apa yang kau lakukan?" jerit gadis itu kesal.


Yo il yang jengkel di sebut idiot langsung menghempas tubuh gadis itu ke aspal.


Sialan! udah ditolongin malah ngatain idiot?


Punggung gadis itu terasa sakit,


"Aaauuuu....." pekiknya,


"Kaaauuu...!!"Sentak gadis itu lagi menatap marah Yo il. Namun sepersekian detik wajahnya langsung berubah.


"Kakak! Kau tampan sekali!" ucapnya kagum dengan mata berbinar.


Yo il memutar matanya malas.


"Kau menyebutku idiot?" serunya mengertak.


"Aaa.. tidak kakak.... tentu saja tidak! tadi hanya reflekku saja." seru gadis itu dengan senyum tanpa dosanya.


"Aku bukan kakakmu!"


"Kalau begitu, boleh adek panggil sayang?"


Yo il merasa jijik seketika. Benar-benar bikin mual. Sudahlah, kutinggalkan saja dia.


"Kakak? Mau kemana? Aku ikut!" berlari mengikuti Yo il.


"Pulang! Apa kau tak punya rumah?"


"Tidak!"


"Apa?" Yo il berhenti dan menatap pada gadis itu."Apa ini modus baru penipuan?"


"Apa?"


"Aaaahhh... Aku tau! Apa kau wanita malam yang menunggu pelanggan?" Nada bicara Yo il semakin merendahkan.


"Apa?"


"Kau bahkan menggunakan seragam sma. Wajahmu bahkan sangat imut. Cocok sekali."lanjut Yo il dengan pandangan merendahkan menatap gadis itu menyeluruh.


"Mulut kakak pedas sekali! Apa kakak habis makan cabe?" kesal gadis itu tak terima.


"Hanya tampan sedikit saja bicaranya kasar sekali! Ahh sudahlah. Aku sampai lupa dengan barangku tadi, lebih baik aku ambil saja. Kenapa aku malah mengintili Om om."gumam gadis SMA itu.


Gadis itu berbalik dan kembali ketempatnya semula. yo il yang merasa kesal itu hanya meliriknya. Namun dia terkejut, gadis itu kembali menaiki pembatas jembatan dan langsung terjun bebas kesungai.


Yo il tercengang, segera dia memdekati pembatas jembatan melihat ke bawah. Entah sedang apa gadis itu tapi terlihat kesulitan dan butuh bantuan.


Tanpa babibu, Yo il ikut melompat..


BYYYUUUUURRR...


Yo il meraih gadis itu dan membawanya ketepian sungai.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan haahh?" sentak Yo il kesal. Gadis itu sama kesal. menatap Yo il. tanpa mengatakan apapun dia melangkah pergi. dia membawa sebuah tas, yang tadi tidak dibawanya.


"Hey! bocah!" Yo il menyusul."Berhenti!"


Gadis itu terus berjalan tidak perduli dengan teriakan Yo il.


"Berhenti bocah!" sentak Yo il menahan lengan gadis itu.


"Apa Om?"


"Om?" tanya Yo il dengan nada penekanan.


"Apa Om suka pada ku? kenapa mengikuti? apa ini penipuan jenis baru?" berondong gadis itu membalik kata-kata milik Yo il tadi.


Yo il tertawa jengkel tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa apaan bocah ini pikirnya.


Yo il melepaskan tangannya. persetan dengan bocah ini.


Gadis itu berlari menjauh dari Yo il. Sementara Yo il menyentak nafas nya kasar.


_____


Malam itu di apartemen Devan.



Angga duduk di bathtube menghadap keluar dinding kaca. Devan dengan telaten menggosok punggung Angga dengan spon khusus.


"Sayang."panggil Devan sambil menggosok pelan punggung Angga.


"Heemmm..." dehem Angga menikmati gosokan Devan.


"Mulai hari ini bisakah kamu lebih percaya padaku?"


Angga terdiam. dia lalu menoleh.


"Ada apa Mas Devan?"


"Selama ini kamu tak pernah terbuka padaku."


Devan merasa kesal. Angga bahkan melupakan apa yang sudah dia lakukan.


"Apa kamu sudah amnesia haaa?" Devan yang kesal menunjuk nunjuk kening Angga dengan jarinya.


"Sakit Mas, Nanti aku jadi bodoh gimana?"


"Kamu udah bodoh!"


Angga merengut.


"Buktinya beberapa kejadian baru-baru ini! Kamu sering ditindas dan sedikitpun kamu tak pernah ngatakannya padaku. Itu membuatku kesal."


Angga sedikit mengkeret, dia tau Devan mengungkit masalah Mona dan Ibu yang beberapa kali mendatanginya.


"Itu, aku tak ingin mas Devan jadi durhaka pada ibu."


"Aarrrggg... Ya ampuunn... Dia memang ibuku, tapi bukan berarti bisa mengatur dengan siapa aku menikah. Lagi pula ayah tidak setuju. Ayah lebih suka denganmu." terang Devan.


"Kenapa?"


"Kenapa? Apa nya yang kenapa?"


"kenapa ayah tidak suka dengan Mona? padahal ibu sangat mendukungnya, dan Mas Devan...."


Devan menunjuk wajah Angga dengan jarinya membuat Angga tak melanjutkan kalimatnya.


"Mona bukan wanita baik-baik. Ayah orang yang sangat berhati hati. Ayah menyelidiki Mona saat tau kami berpacaran."cerita Devan kembali melanjutkan mengosok punggung istrinya yang sempat terjeda tadi.


"Apa beliau tau jika Mona dan Yo il bersama?"


"Heemmm...." Dehem Devan mengiyakan."Ayah tau wanita itu hanya ingin uangku saja. Ayah juga tau jika Mona sering keluar masuk hotel dengan pria lain."

__ADS_1


"Aaaaahh.... begitu."


"Karena itu, ingat semua orang mendukungmu. Apapun perlakuan buruk yang kamu terima katakan padaku. terbukalah padaku. heemmm?"


"Aku tidak mau ada kejadian kamu diperas lagi."Sambunh Devan lagi.


Angga menundukkan kepalanya, Devan memegang dagu Angga dan mendongakan wajah Angga.


"Dengar!" ucap Devan menatap bola mata Angga."Jangan sembunyikan apapun dariku. Jangan bermain dibelakangku, dan jangan memikul bebanmu sendiri. Heemmm?"


Angga terdiam menatap wajah Devan.


"Ayo jawab."


"Iya."lirih Angga.


Devan mendekatkan wajahnya mencium bibir Angga yang sedari tadi dia tahan untuk tak melummaaattnya. Nyatanya Bibir Angga sudah menjadi candu buatnya.


Angga membalas ciuman Devan, lidah mereka beradu dalam satu ruang yang sama. Bergulat lembut dalam waktu yang lama. Devan melepas pangutannya. Tanpa membuat jarak, hanya beberapa inci saja.


Nafas hangat Devan menerpa wajah Angga.


"Bisakah kamu yang memulai?"


"A-apa?" Angga memundurkan tubuhnya untuk bisa menatap wajah Devan. Namun Pria itu menahan lengannya menarik kembali agar semakin dekat.


"rayu aku."


Wajah Angga memerah. Dia tak tau, harus merayu bagaimana?


"A-apa maksud mas Devan?"


"Selalu aku yang memulainya." ucap Devan, "Sekarang aku ingin kamu yang memulainya."


Wajah Angga semakin memerah bahkan kini sampai ketelinga.


"Kamu juga menginginkanya kan?" ucap Devan lembut."Ayoo, rayu aku."


"A-aku..... ti-dak bi-sa..."


Devan mengulas senyum.


"Aku ajari kamu, lain kali praktekkan pada ku ya."


"Aaaaaa......" Wajah memerah Angga semakin terlihat jelas membuat Devan semakin gemas.


Devan menarik tubuh Angga semakin mendekat padanya. sementara dia sendiri memundurkan langkahnya hingga terpentok tembok.


Devan menarik tubuh Angga memutar tubuhnya, berganti mengunci Angga ditembok. Mengangkat dagunya dan melummaaatt bibir lembutnya mengganti ludah dan bergulat lidah dengan Angga.


Mass Devaann sangat bersemangat, ciumannya membuatku sesak nafas. batin Angga.


Devan melepas pangutannya, membiarkan Angga mengganti oksigen diparu-parunya. Devan memegang kedua tangan Angga dan menyatukannya mengenggamnya dengan satu tangan.


Devan kembali mencium Angga dengan rakusnya. Setelah puas mengobrak abrik rongga mulut istrinya, bibir Devan bergeser kebawah, menghisap leher Angga dan membuat tanda kepemilikan disana.


"Manis...." gumam Devan menyusuri kulit leher Angga dengan bibir, bergeser kebawah lagi hingga kedada atas Angga.


"Aaaa... Mas Dev-an...." lirih Angga dengan nafas tersengal dan wajah merahnya. Menikmati kevupan bibir Devan disekujur tubuhnya.


Angga menggigit bibir bawahnya, saat rasa geli dan sengatan menjalar di tubuhnya. Saat dengan nakalnya Devan menggulum......


___€€€___


Readers, lanjut menggulum nggak? menggulum apa siihh??😣


kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.

__ADS_1


Salam___


😊


__ADS_2