Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
Chap 50


__ADS_3

Didalam kamarnya, malam itu Angga terus membayangkan, dan berfikir.


Sebenarnya apa yang dia hindari? Apakah Devan? Apakah dia marah? apakah dia kesal? apakah dia merasa tertipu dan diperkosa? Merasakan semua yang dia alami selama ini? Namun, bukankah Devan selama ini selalu disisinya? Bukankah pria itu selalu maju dibarisan depan saat dia terancam? Lalu apa yang dia cari dengan bersembunyi seperti ini?


Jujur saja Angga pun merasa rindu. Angga pun merasa sayang. Dulu dia pergi hanya ingin menenangkan diri. Tapi, bukankah ini terlalu lama untuk menenangkan diri? Dia sudah sangat lama disana.


Mungkin, sebaiknya aku kembali.. pikir Angga,


*Tapi, apa yang akan aku lakukan jika kembali? Apakah, mas Devan masih akan menerimaku? Tidak! Setelah anakku lahir, aku harus mencari kerja untuk menghidupinya.


Selama ini aku sudah sangat merepotkan Yo il. dan Adik-adikku dikampung. Terakhir mereka bilang aku terlalu banyak mengirimi mereka. Apakah itu Kamu mas Devan*? Angga menghela nafas panjangnya.


"Aku akan mengunjungi mereka dulu. Tapi perutku... Apa yang harus aku katakan pada mereka nanti?" gumam Angga menutup wajahnya.


Pagi-pagi sekali, Angga menyelinap keluar dari Vila Yo il. Dengan hanya membawa beberapa pakaian agar tak ada yang curiga. Angga menumpang pick up sayuran yang melintas ke pasar.


Sesampainya dipasar, Angga mencari angkutan umum. Dan melakukan perjalanan ke kampung halamannya dengan bus Mira. Angga menatap keluar jendela. menunggu angkutan itu penuh.


Hidung Angga mengernyit, membaui aroma parfum yang menurutnya terlalu menyengat. Pengguna parfum itu pas duduk dibelakang Angga. Benar-benar membuatnya tak nyaman.


Tak berapa lama, bus antar kota itu mulai bergerak. Angga merasa sedikit lega, setidaknya dia sudah keluar dari kota itu tanpa halangan apapun. Perjalanan ke kampung halaman Angga memakan waktu setidaknya 6jam perjalanan. Sesampainya diterminal waktu menunjukan setengah hari.


Angga bergegas mencari makan. Saat Angga makan di sebuah warung, ia membaui lagi aroma yang sama dengan yang dibis. Angga tolah toleh.


Benar saja pria itu duduk agak jauh dari Angga.


"Aaahhh,, dia juga makan disini rupanya." gumamnya.


Angga mencermati tubuh orang itu. sedikit berisi. dan pria itu sangat berkeringat. Tibuhnya dibungkus dengan pakaian tebal. Melihatnya saja, Angga sudah kegerahan.


Seusai makan, Angga mencegat ojek pengkolan, memintanya untuk diantar ke rumah bibinya, kebetulan tidak begitu jauh dari terminal.


Tepat didepan rumah sederhana Angga turun dari motor abang ojek. Setelah membayar, Angga melangkahkan kakinya memasuki teras.

__ADS_1


Angga menarik nafasnya dalam-dalam saat hendak mengetuk dan mengucap salam pintu dibuka dari dalam.


Hening sesaat. Angga mematung, begitupun dengan wanita paruh baya didepannya. Dia hanya menatap wajah Angga dengan raut wajah yang sulit diartikan. Namun sedetik kemudian, air mata nya meleleh.


"Angga?"sebut Wanita itu. dia adalah bibi Angga. Antara sedih dan bahagia, dia menatap Angga menyeluruh. melihat keponakannya yang katanya merantau itu terlihat berisi, apa lagi dibagian perutnya, sungguh sangat mengagetkannya.


"Angga!"tangis bibi nya,"Kamu beneran Angga kan!?" meraba tubuh Angga dengan tubuh bergetar dan wajah sendu, menahan airmatanya.


Angga mengangguk pelan, dia juga sama harunya bertemu dengan sang bibi. Mereka berpelukan sesaat.


"Ada apa dengan mu nak?"tanya bibi,melepas pelukannya, kemudian menatap perut Angga.


"Ayo! Masuk dulu,"tuntun bibi membawa Angga masuk kedalam ruang tamu,


"Ane! Juna!" panggil bibi sedikit berteriak.


"ada apa bi?" tanya Ane datang dengan tergopoh-gopoh. Tapi lalu matanya melebar, melihat siapa yang kini ada di ruang tamu. Dia menutup mulutnya dengan tangannya.


"Mbak Angga!" serunya tak percaya.


"Embaakk Anggaaaaaa...." seruu Ane berhambur memeluk kakaknya.


Suasana mengharu, mau tak mau airmata jatuh juga. Angga menangis memeluk tubuh adiknya yang mulai beranjak dewasa itu. Bibi pun ikut mengharu biru.


Tak lama, munculah adik lelakinya dari dalam rumah. Juna. Dia juga tertegun. kaget, melihat kakaknya tiba-tiba ada dihadapannya kini.


"Mbak Angga!" lirih Juna mematung ditempatnya berdiri.


Angga dan Ane melepas pelukan, kini giliran Angga memeluk adik lelakinya itu.


"Adek embak yang paling ganteng, udah besar rupanya..."lirih Angga dengan suara bergetar.


Setelah mengharu biru dengan pertemuan mereka, dan hari semakin malam, Angga merebahkan diri diatas kasurnya. Dia mengusap perutnya. Terlintas sesaat dalam pikirannya tentang Devan.

__ADS_1


"Apa yang papamu lakukan, nak?"lirih Angga pelan, menyeka lelehan dipipinya.


Angga memaksakan dirinya untuk memejamkan matanya. Membenahi tidurnya senyaman mungkin, agar dia dan bayinya bisa benar-benar mendapatkan waktu tidur yang berkualitas.


waktu bergulir malam semakin pekat dan larut, pintu rumah bibi Angga di ketuk.


"Siapa pak? Yang malam-malam begini bertamu?" tanya bibi Angga heran.


"Entah buk! Biar bapak lihat dulu." paman Angga bersungut keluar kamarnya,


Perlahan bibi dan paman Angga menyalakan lampu ruang tamu dan membuka pintu rumah. Mereka tertegun.


###


Ciiitt cccuuuuiiiitttt...


Suara burung yang bersenandung dipagi hari, mengantar sinar mentari yang menelusup melalui celah-celah ventilasi dan jendela. Masuk menerpa wajah Angga.


Mata Angga mengerjap, melihat sekeliling..


"Aaahhh,, aku dirumah bibi sekarang." gumam Angga lirih. Dia menarik sudut bibirnya.


Tangan Angga menyentuh benda kerat diperutnya, Angga melirik perutnya. Ada tangan disana. Mata Angga melebar.


Tak mungkin ini tangan adikku, warnanya terlalu pucat. Lalu milik siapa? Siapa yang beerani bahkan dirumah bibi dan pamanku? batin Angga berang


___€€€___


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.

__ADS_1


Salam___


😊


__ADS_2