
Devan duduk disofa tunggu ruang VIP disebuah butik ternama. Tak lama Angga keluar dengan baju terusan berwarna peace selutut yang bagian pinggang ke bawah melebar dan mengembang.
Devan menatapnya, tanganya memutar, mengisyaratkan Angga untuk berputar. Angga menurut, memutar tubuhnya. berhenti lagi menghadap Devan.
Pria itu tersenyum. mengangkat jempol dan meluruskan telunjuknya, mengisyaratkan Angga untuk kembali keruang ganti.
Angga masuk keruang ganti, beberapa saat kemudian gadis itu keluar lagi. Dengan memakai baju yang sedikit longgar dengan celana panjang. Membuatnya terlihat seperti ABG.
Devan tersenyum menatapnya. mengangkat kedua tangan hingga kekepalanya membentuk Love. Senyumnya melebar.
Beberapa kali mereka melakukan itu, Angga yang mencoba beberapa baju, dan Devan menilainya.
Setelah mendapat baju-baju itu, Devan dan Angga keluar dari butik dengan menenteng beberapa papper bag. Angga sudah mengenakan baju baru, baju terusan berwarna krem sepanjang atas lutut dengan bagian bawah yang mengembang.
"Tuan, Aahh, Mas Devan."
"Heemmm."
"Ini semua untuk aku?"
"Heem."
"Apa ini tidak terlalu banyak?"
Devan menghentikan langkahnya. berbalik menatap Angga.
"Benar! Ini memang terlalu banyak."
Angga mulai kuwatir. "Bagaimana kalau sebagian kita kembalikan?"
"Apa?" kaget.
"Aah,Tidak!" Devan menggelengkan kepalanya."Ini tidak geratis."
"Iya. aku melihatmu membayarnya tadi."
Devan menutup matanya dan menekuk wajahnya mendengar ucapan Angga yang tidak mengerti maksudnya.
"Ini tidak geratis, dan kamu harus membayarnya nanti."mulai berjalan lagi.
"Tapi aku tak punya uang, Mas Devan."
"Aku tau."menganggukkan kepalanya.
"Apa ini potong gaji?"
"Kita bicarakan dirumah. okey?"
Sesampainya mereka di apartemen, ibu sudah tidak ada.
"Bagus." Devan meletakkan bawaan nya diatas meja ruang utama. Dia menjatuhkan tubuhnya disofa.
"Haaaahh.. melelahkan sekali."
Angga yang sejak masuk rumah tadi tak terlihat, kini datang dengan membawa minuman dingin. Duduk disamping Devan dan membantunya minum. Setelah habis setengah gelas. Angga meletakkan minuman itu diatas meja. Disamping paper bag yang banyak dan menumpuk itu.
Devan melirik Angga. gadis itu memalingkan wajahnya. Devan tersenyum.
"Lihat kemari."
Angga tak bergeming.
"Hei! lihat kemari."
Devan meraih dagu Angga. memaksa gadis itu melihat kearahnya.
"Kalau lawan bicaramu bersuara. Lihatlah wajahnya." tersenyum menggoda.
Angga melihat wajah Devan. Senyum pria itu semakin melebar.
"Nah, benar begitu."
Angga sudah bersemu merah.
"Menikahlah denganku."
Mata Angga membulat. Appaa?
Devan tergelak..
__ADS_1
Apa? Kenapa tuan Devan tertawa seperti itu apa dia sedang mempermainkanku?
wajah Angga semakin memerah, antara malu dan marah. Gadis itu berdiri hendak melangkah pergi. Dengan cepat Devan menarik tangannya. Hingga Angga terduduk dipangkuan Devan. Tangan Devan mengunci tubuhnya memeluk Angga dari belakang.
"Tuan."mencoba meloloskan diri.
"Hei"
"Mas Devan...." pasrah.
Devan tersenyum lebar.
Kamu menggemaskan banget
"Kamu harus membayar utang mu, juga kamu sudah berjanji akan membantuku bukan?"
Apaa? Utang apa lagi? Janji apa? Aku pernah menjanjikan apa?
"membantuku membuat ibu menyerah. Menikahlah denganku Angga, dengan begitu Ibu akan menyerah."
"Tuan..."
"Aku potong gajimu."
"Maaf..."
"Kamu akan menikah denganku?"
"Mas Devan." Lirih Angga bersuara.
"Heemm.." meletakkan dagunya dipundak Angga.
"Pernikahan, bukan untuk main-main."
"Aku tau. Karena itu aku memintamu."
Angga menatap Devan dari samping. mencoba mencari kesungguhan dan kejelasan disana.
"Kamu sedang hamil. dan perutmu akan semakin membesar. Bagaimana pandangan orang padamu? dan juuga padaku yang majikanmu, aku seorang lelaki, dan kamu tinggal disini. Lalu tiba-tiba perutmu membesar. Menurutmu apa yang orang lain akan pikirkan?"
Angga terdiam, mengerti maksud Devan.
"Bantu aku Angga."
Devan tersenyum,
"Persiapkan dirimu. Lusa kita menikah."
Angga terlonjak kaget.
Aapaa?? Hei, kapan aku menyetujui?
Devan menggeser tubuh Angga. Pria itu berdiri berjalan sambil melepas bajunya memasuki kamar.
Tunggu lusa? Bukankah itu terlalu cepat?
____
Ditempat yang berbeda, Ibu Devan yang kesal menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang utama kediamannya. Tak jauh darinya duduk seorang pria yang menyeruput pelan kopi dicangkirnya. Mata pria itu menatap lurus pada layar datar yang beberapa meter ada didepannya. Melihat berita tv nasional.
"Kenapa?" suara berat keluar dari mulutnya, tangannya kembali meletakkan cangkir yang diminumnya tadi.
"Suamiku. Apa kamu tau apa yang Devan lakukan?"
"Tidak."
"Suamiku. Anakmu itu sekarang tinggal bersama seorang gadis yang tidak jelas asal usulnya, setelah dia meninggalkan rumah ini." Ibu Devan memijit kepalanya.
"Bagus."
"Suamiku!"terkejut.
Ibu mengelus dadanya mencoba bersabar akan sikap suaminya yang tak acuh itu.
"Kita sebagai orang tuanya, harusnya meluruskan dia. Devan sudah melampaui batas."Ibu kembali menyandarkan punggungnya mengurut kepala belakangnya yang terasa nyut-nyutan.
"Suamiku! Apa kamu akan membiarkannya?" bertanya karena tak mendapat reaksi yang diharapkan.
"Lusa. suruh dia kemari." pria itu berdiri,
__ADS_1
Ibu terlihat senang."Jadi Devan sudah boleh pulang?"
"Tidak." melangkah keruang kerja.
"Suamiku!" pekik Ibu.
"Aku hanya menyuruhnya kemari. Bukan pulang." tegas pria itu lagi.
"SUAMIKUU!!"
______
Lusa.
Pagi itu Devan sudah mengenakan stelan rapi. Angga juga sudah memakai kebayanya. Kedua manusia itu menatap pantulan diri dicermin.
Devan tersenyum puas. Dan Angga berwajah pias. Meski dia sudah berhias. Gadis itu menghela nafasnya.
Apa ini sudah benar? Apa yang kulakukan ini tidak salah jalan? Haaaahh.... Semoga aku tidak dikutuk...
Satu setengah jam kemudian kedua orang itu sudah menjadi pasangan suami istri. Setelah saling mengikat janji. Mereka mendapat buku Nikah masing-masing.
Devan menjatuhkan tubuhnya disofa ruang utama. Melonggarkan sedikit dasinya, matanya melirik wanita cantik yang duduk tak jauh darinya, di sisi sofa yang lain. Dengan kebaya yang melekat ditubuhnya.
"Hei! Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Kenapa dengan wajahku?"
"Kamu seperti siti nurbaya yang dipaksa menikahi datuk maringgih. Seperti itu wajahmu."
"Apa Mas Devan pernah melihat siti nubaya?"penasaran.
Devan tergelak."Belum."
"Lalu kenapa menyamakan wajahku dengannya?"protes.
"Itu hanya perumpamaan Angga."
Asisten Gerald datang melangkah mendekat dan berhenti beberapa langkah didepan Devan. Menundukkan kepalanya.
"Apa apa?"
"Tuan besar meminta anda datang ke mansion."
"Katakan padanya aku sibuk."
"Beliau meminta anda membawa istri anda juga tuan Devan."
Wajah Devan berubah. "Kau yang membocorkannya?" menatap curiga.
"Maaf. Beliau sudah tau sejak awal tuan."
Devan tergelak.
"Kenapa pak tua itu selalu seenaknya." bergumam.
"Aku mengerti. pergilah."
Devan menghela nafasnya.
"Kenapa mas Devan?" Angga penasaran.
Devaan menggosok tengkuknya.
"Ini sedikit sulit Angga."
Angga terlihat mencondongkan tubuhnya kearah Devan.
"Kita akan menemui keluargaku. Bertemu dengan ayah dan ibuku."Lanjut Devan serius."Kamu siap?"
_____
Visual Ibunya Devan ( nyonya Cori )
Visual ayah Devan ( James wiryawan Shin )
__ADS_1
Visual asisten Geraldin Kwan