Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
chap 28


__ADS_3

Angga berjalan mengelilingi swalayan, sesekali dia melirik Devan yang sedang mendorong kereta belanja. Angga menghela nafas beratnya.


Bagaimana caraku agar bisa kabur dan tak ketahuan Mas Devan. - Pikir Angga mengetuk-ngetuk bibirnya.


"Ini udah habis belum?" tanya Devan menunjukkan sebuah box susu bergambar wanita hamil.


"Masih."


"Banyak?"


"Ada satu box."


"Ya udah skalian aja buat stok." Devan mengambil beberapa box.


"Ng... Mas, aku cari camilan dulu di rak sebelah sana ya." ucap Angga sambil melangkah cepat.


"Okey" Devan mengikuti."Jangan cepat-cepat!" larang Devan kuwatir, mengingat istrinya itu sedang hamil.


Angga menoleh. Ya am, Apa mas Devan ngikutin? Duhh, gimana aku mau mlipir ke ATM kalau kek gini? Pikir Angga panik masih dengan berjalan cepat.


"Ya udahlah ke rak camilan dulu."gumam Angga melipir kearah lorong cemilan.


"Cepet banget sih jalannya?" protes Devan menyusul.


"Ahahah.. masa?" cicit Angga canggung.


"kamu tu lagi hamil. Jangan berlarian." Devan berjalan menjajari Angga.


"iyaaa.."sahut Angga lemas.


Angga bersungut mengambil beberapa camilan lalu memasukkannya kedalam kereta dorong.


"Apa lagi?"tanya Devan.


Bukannya menjawab, Angga malah balik bertanya,


"Mas Devan nggak ada mau beli apa gitu?"


"Nggak! Kamu kenapa sih gelisah dari tadi?"tanya Devan kesal melihat tingkah Angga yang seolah ingin kabur darinya. Ingin menjauhkan diri darinya.


"Ng, itu...." Angga memainkan jarinya.


"Apaaa?"


"Ada yang mau aku ambil. Tapi mas Devan disini aja ya?"ucap Angga ragu-ragu. Otaknya berfikir keras untuk alasannya.


"Emang kamu mau beli apa?"


"Ya itu...." Angga masih memainkan jarinya.


"Apa?"Devan mulai tak sabar.


"Pakaian dalam." bisik Angga dengan wajah malu-malu. Mau bagaimana lagi, sepertinya ini jurus terakhir agar bisa lepas sebentar dari pengawasan Devan.


"Ooohh... baiklah."ucap Devan dengan sedikit senyuman diwajahnya.


Berhasil kah? batin Angga bertanya.


"Ayo!"Ajak Devan berjalan mendahului dengan semangat.


Apa? Ayo? Apa mas Devan bercanda? Ayo maksudnya dia mau ikut gitu? Apa dia sudah nggak peka lagi? pikir Angga makin gelisah. Sepertinya jurus pamungkasnya tidak berhasil dengan baik.


"Mas, Mas Devan mau ikut?"tanya Angga menyusul langkah Devan.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Yaahh,, Aku malu" bisik Angga.


Devan tersenyum jenaka."Haahhahah..."


"Aku sudah melihatmu luar dalam. Apa lagi yang kamu malui? Lagipula aku sudah tau ukurannya. Aku bisa membantumu memilih." lanjut Devan menaik turunkan alisnya.


BLUUUUSSSHHHH!!!


Seketika Angga berhenti.


Astagaaaa!!! Apa dia begitu sangat tidak sensitif? sangat tidak peka? Dengan lugasnya bilang tau ukuran dan membantu memilih? Apa mas Devan sudah tidak punya malu? batin Angga tak habis pikir. Tanpa sadar dia tertinggal langkah.


"Aku harus gimana lagi?"gumam Angga gelisah tak tentu.


"Tunggu mungkin aku bisa pakai cara itu."gumamnya lagi.


Angga mendekati Devan menyamakan langkah.


"Mas, aku ke toilet dulu ya."pamit Angga meminta ijin. Devan menatapnya curiga."Udah nggak tahan nih mas Devan."


"Ok. aku bayar ini dulu nanti aku nyusul."


Berhasil? yeeess!


Angga berjalan cepat menjauh mwndpat sinyal hijau dari Devan.


"Jangan berlarian, sayang!"seru Devan kawatir.


"Ya"


Angga berjalan cepat menuju ATM center begitu Devan sudah tak terlihat lagi. Angga langsung memasuki box mesin ATM. Dengan hati berdebar, Angga mengecek nominal yang ada di rekeningnya.


Angga terlonjak kaget, dia menutup mulutnya dengan tangan. Angga memastikan lagi dengan menghitung jumlah Enol dibelakang angka satu itu.


"Kenapa nominalnya bisa sama dengan yang diminta Nona itu?" gumamnya, "Kebetulan yang mengerikan sekali." Angga mengulang menghitung enol dibelakang Angka.


Suara seorang pria yang mengagetkannya, suara yang cukup dia kenal, membuat Angga reflek menoleh. Mencari tau siapa orang yang berani masuk ke box yang sudah terisi.


"Hai" sapa Yo Il mengangkat tangannya.


"Yo il." sebut Angga terkejut."Apa yang kamu lakukan disini?"


"Tadi aku liat kamu masuk sini, jadi...." Steve mengulas senyuman membuat Angga sedikit bersemu merah.


Dia tampan sekali. batin Angga terpesona. Namun dia tak boleh terlena, Angga berbalik, ia memencet tombol hendak melakukan transaksi.


"Hei! kamu tak bisa transaksi sebanyak itu disini." ucap Steve memperhatikan apa yang Angga lakukan.


"Benarkah?" tanya Angga sangsi, dia menoleh.


"Kamu harus melakukannya dibank. Atau transfer aja." jelas Yo il pada Angga.


Angga lesu. Aku sudah kesulitan untuk bisa lepas dari pengawasan Mas Devan. Gimana nih? Tak mungkin aku ke bank. pikir Angga.


"Kenapa nggak transfer aja?"tanya Yo il penasaran.


Angga melirik Steve. Matanya masih menunggu penjelasan lain.


"Lebih aman dan lebih mudah dari pada tarik tunai."


"Benarkah?"


"Heeem."


Angga akhirnya mengakhiri transaksinya dan menyimpan kembali kartunya. Dia keluar dari box mesin atm. Steve mengikuti.

__ADS_1


"Kamu kok ikut keluar? nggak transaksi didalam?"


"Nggak." jawab Steve singkat. "Pinjam hp mu."


"Untuk apa?" Angga mengeluarkan ponselnya dari tas dan menyerahkannya pada Han Yo Il.


Yo il menghubungi nomor ponselnya sendiri, begitu merasakan ada getaran di saku jaket sportnya dia kembalikan lagi hp Angga.


"Itu nomorku."


Angga sedikit canggung menerima kembali Hpnya.


"Aaahh.. yaaa.."


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Berbelanja."


"Sendiri?"


"Tidak. tadi aku sama mas..." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Angga terasa ditarik oleh seseorang.


Angga menoleh. Devan sudah memeluk pinggangnya, menatap dingin pada Steve. Tatapan permusuhan.


Kenapa mas devan menatap Yo il dengan tatapan seperti memusuhi? Bukankah mereka bersaudara? pikir Angga bingung.


"Apa yang kau lakukan dengannya?" Devan mengeratkan pelukannya seolah takut miliknya akan dibawa pergi."Apa yang kamu lakukan dengannya istriku?"


"Aaa.. kami bertemu di depan toilet tadi."


"Apa kau sedang membohongiku? Toilet ada disebelah sana." Devan menunjuk arah yang berlawanan.


"Aaa... bukan begitu..."


"Kenapa kamu begitu berlebihan? Apa kamu tak lihat dia sangat kesakitan kamu peluk seerat itu?"tegur steve tak nyaman melihat Devan yang seolah begitu protektif karenanya.


Bila mau jujur Steve ingin membawa Angga lepas dari Devan melihat pria itu memeluk Angga se erat itu, ditambah Angga terlihat sangat terganggu. Namun, bila dia lakukan mungkin Anggalah yang nanti akan mendapat masalah.


"Itu bukan urusanmu!"ucap Devan dingin.


"Ayoo!" Devan menarik tangan Angga.


"Jangan terlalu menggenggam seseorang terlalu erat Dev, dia akan kabur."


Devan berhenti sesaat, lalu mengambil langkah lebar dan menjauh dengam menyeret Angga yang terseog mengikuti langkah.


"Mas!"


"Mas Devan!"


Kenapa mas Devan marah? Bukankah mereka bersaudara? kenapa dia begitu marah melihat Yoil bersamaku?


Angga teringat lagi, foto-foto yang Mona kirimkan padanya.


Bagaimana jika Mas Devan melihat foto-foto itu? Ya Tuhan.....


____€€€______


Readers kuh, dukung othor ya,


Like dan komen


terimakasih


Salam

__ADS_1


😊😚


__ADS_2