
Devan membaringkan Angga di sofa. Dia menatap gadis yang masih terlelap itu.
"Maafkan aku."lirihnya.
1jam kemudian.
Angga mengerjap-ngerjapkan matanya. Melihat sekeliling dan menyesuaikan cahaya. Angga melihat Devan duduk di sofa tak jauh darinya dengan sebuah buku ditangannya. Sontak membuat Angga terduduk.
"Kau sudah bangun?"Devan menutup bukunya, menatap lekat padanya yang masih terlihat bingung.
"Maaf Tuan, Saya ketiduran."Dengan cepat Angga bangun dan berdiri.
"Tak apa." Devan ikut berdiri."Buatkan aku makan. Aku lapar." berpindah ke sofa yang tadinya Angga tiduri.
"A, Maaf Tuan. Akan segera saya buatkan." Angga berlari memuju dapur.
Haaaa... kenapa aku malah tertidur. Bodoh! Sambil mengetuk kepalanya.
Angga mendekati kulkas, membukanya.
Waah,, sudah rapi. semua sudah dia masukkan dalam kulkas ternyata. Baik sekali majikanku itu. Angga merasa terharu.
Baiklah tuan. Akan kumasakkan asam manis yang paling enak. Angga bertekat dengan mengepalkan tangan didepan dadanya dan mengangguk yakin.
Angga mulai membersihkan udang. Menyiapkan bumbu dan memasak. Bau harum masakan Angga mengugah hidung Devan yang terbaring disofa tamu menonton tv.
Devan berjalan perlahan, mendekati dapur.
"Heemm... Wangi sekali."
Angga menoleh. "Sebentar lagi Tuan."
Devan mendekat. melihat sampai mana Angga memasak. Gadis itu sedang memindahkan asam manis nya ke piring. Dia tersenyum sekilas melihat Tuannya yang terlihat antusias dengan masakannya.
"Duduklah dimeja makan. Akan saya antarkan kesana."
Devan mengangguk. menarik kursi dan duduk. Angga menyusul dengan udang asam manisnya.
Setelah mengambilkan Devan makannya. Angga melangkah pergi.
"Temani aku makan." pinta Devan menahan tangan Angga.
"Baiklah."
"Duduk."
Angga menarik kursi dan duduk. Menunggui Devan makan.
"Kamu nggak makan?"
"Saya masih kenyang."
Devan terkekeh. "Kamu sudah menghabiskan berporsi-porsi tadi."melanjutkan makan.
Tuan Devan baik sekali. Angga teringat dia besok harus sudah pergi dari kos. Bagaimana reaksinya jika aku minta gaji dibayar dimuka? Apa aku terlalu tidak tau diri? Sudahlah. coba saja. Aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana.
"Tuan Devan."
"Heemm."
"Bolehkah saya meminta gaji saya hari ini?"
Devan menatap Angga, menghentikan makannya. "Aaa.. tidak bisa ya?" gumam Angga lemas.
"Kenapa?"
"Ya?"
"Kenapa kamu mau minta gaji dimuka? Kalau alasanmu tepat, akan kupertimbangkan."
"Sebenarnya, Saya harus keluar dari kos saya besok. Dan saya butuh uang untuk membayar kos yang baru. karena itu.."
"Kamu sudah dapat tempat kos yang baru?"
"Belum. Setelah pulang kerja. Saya akan mencarinya."
"Kalau begitu tinggal saja disini."
"Yaaa?" Kaget tak menyangka malah akan disuruh tinggal diapartemen majikannya.
"Tinggal disini. Masih ada kamar kosong disana." Devan melanjutkan makannya."Kamu bisa menggunakannya. Lebih mudah begitu. Kamu juga tidak perlu bolak-balik."
"Aaa.. Tapi Saya merasa tak enak. Tak bisakah anda memberi saya gaji dimuka saja? Anda sudah sangat baik pada saya."
"Tak apa. Terima saja kebaikan ku kali ini. Tinggallah disini."
"Jika saya tinggal disini saya akan menyusahkan anda."
"Tidak. sudah banyak ART yang menginap kan?"
"Yaah, tapi hanya kita berdua di apartemen ini. Bagaimana jika nanti malah di grebek warga."
Devan tergelak."Belum pernah ada warga yang menggrebek apartemen. Kamu nggak usah kuwatir.
"Saya hanya merasa tak enak jika anda kesusahan karena saya tinggal disini."
Devan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Nanti biar kusuruh orang membantu mengemas barangmu di kos."
"Aa.. tidak usah tuan. Saya bisa mengemas sendiri." tolak Angga cepat.
"Apa aku saja yang membantumu mengemas barang?"
"Aaa.. tidak Tuan. Saya bisa mengemasnya sendiri."
"Baiklah, setelah ini kamu bisa pulang. Dan kemasi barangmu."Lanjut Devan,"Dan masalah gajimu itu. Akan kuberikan bila sudah waktunya."
"Baiklah Tuan."
_____
Angga berjalan di baseman apartemen. Menuju motornya. Saat melewati pos ceking ada Devan disana. Angga sedikit heran apa yang majikannya lakukan disana.
"Kamu bawa motor?"
"Iya tuan."
"Itu motormu?"
"Bukan tuan." jawab angga jujur."Ini motor inventaris kantor penyalurku."
"Kembali ke kantor. Aku akan mengikutimu dari belakang." Devan memutuskan."Kembalikan motor itu. Kita ke kos dengan mobilku."
Angga terlihat kaget dan bingung.
"Kamu mau mengemas barangmu kan? Tidak mungkin membawanya dengan motor kemari."Devan sedikit memaksa."Tunggu aku ambil mobilku dulu."berlari ke arah baseman.
Angga menghela nafasnya. menunggu sejenak. terlihat mobil Merah menyala keluar dari baseman. Mengklaksonya 2kali.
Angga melajukan motornya. diikuti mobil merah Devan. 10Menit perjalanan, mereka sampai di kantor. Angga masuk dan menyerahkan motor beserta kuncinya. Lalu dia keluar dimana Devan menunggu.
Angga sudah masuk kedalam mobil.
"Dimana arah kosmu?"
Angga menyebutkan arah kosnya. 5menit kemudian Mobil merah itu berhenti didepan sebuah kos. Devan melihat sekeliling.
"Saya masuk sebentar tuan."pamit Angga keluar dari mobil.
Angga berjalan masuk area kos. Devan mengikuti. Angga menoleh.
"Tuan. Anda tak perlu ikut."
"Aku bantu mengemas." Masih melanjutkan langkah.
Angga pasrah saja. Toh meski dilarang Majikannya itu tetap keras kepala.
"Maaf Tuan kamar saya berantakan dan sempit."mempersilahkan Majikanya masuk kekamarnya. Sebenarnya kamar itu rapi dan minimalis.
"Tidak apa. Kita hanya mengemas barang." masuk kedalam kamar. "mana saja barangmu?"
Setelah selesai mengemas barang, Mereka masuk lagi ke mobil. kembali ke apartemen Devan.
______
Cekleekk..
Pintu kamar dibuka. Lampu dihidupkan. Devan masuk dengan tas besar ditangannya. Dia letakkan disamping pintu.
"Buatlah dirimu senyaman mungkin disini Angga." ucapnya setelah Angga juga memasuki kamar itu.
"Terima kasih Tuan. Anda sungguh sangat baik. Semoga rejeki anda lancar dan seluruh urusan anda dimudahkan."
Devan tersenyum,"Terima masih doa nya." Menyentuh lembut pipi Angga.
Hangatnya tangan Tuan. batin Angga. Sehangat tatapannya sekarang.
"Aku keluar dulu." pamitnya, "Setelah kamu selesai buatkan aku kopi. Aku ada di ruang kerjaku."
"Baik tuan." Angga mengangguk.
"Jangan buru-buru. Kalau kamu sudah selesai saja."Devan menutup pintu.
Angga membuang nafasnya.
Tuan Devan baik sekali. Aku harus membalasnya suatu saat nanti.
Angga menata pakaiannya dilemari. setelah semua selesai, Angga berjalan kedapur. Membuat kopi dan mengantarnya ke ruang kerja Majikannya.
Toktoktok.
Ceklek.Pintu dibuka.
"Kamu sudah selesai?"
"Iya Tuan." melangkah masuk. meletakan kopi dimeja kerja Devan.
"Terima kasih."
"Tidak. Saya yang berterimakasih tuan."
Devan tersenyum tipis.
"Istirahatlah. Aku akan lama disini. panggil aku jika makan malam tiba."
__ADS_1
"Baik tuan."
Angga pamit keluar dari ruang kerja Devan.
Waktu berlalu, Angga sudah berkutat lagi didapur menyiapkan makan malam. Angga mengeluarkan ikan. bermaksud menyianginya.
Namun perutnya bergejolak. Secepat mungkin Angga berlari ke arah kamar mandi.
HUUUWEEEEEEKKKK....
HUUUUWEEEEKKK...
Angga memuntahkan isi perutnya di kloset. Tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Kamu nggak papa?" Devan sudah berada di ambang pintu kamar mandi yang terbuka.
"Tidak apa tuan."Angga mengguyur kloset dan keluar dari kamar mandi.
kembali ke dapur hendak membersihkan ikan. Tangannya sudah memegang pisau. Namun lagi-lagi perutnya bergejolak. Angga menutup mulutnya dan berlari kearah kamar mandi, berpapasan dengan Devan.
HUUUWWWEEEEEKKK
HUUUUUWWWEEEEEKKK..
Devan mengurut tengkuk Angga sesekali menepuk-nepuk punggungnya.
"Bagaimana jika kita kedokter saja?"
"Tidak usah tuan,saya baik-baik saja."
Angga mengguyur kloset. Dan secepatnya kembali kedapur.
Sepeetinya, ini gara-gara ikan itu. Aku harus. menyingkirkannya dulu. Nanti tuan curiga. Jika sampai ketahuan aku hamil, bisa-bisa aku dipecat. batin angga mengambil Ikan di tempat pencucian.
UUUGGHH.. sial. aku sudah mau muntah lagi.
Dengan cepat Angga memasukkan nya ke wadah dan melemparkannya ke kulkas.
UUUGGGHHH..
Angga melirik Devan yang berdiri tak jauh dari dapur.
Sepertinya dari tadi dia memperhatikanku batin Angga. Apa aku ketahuan?
UUUGGGHHHH.. Angga berlari lagi kekamar mandi. Kali ini Devan tidak mengikuti masuk kedalam kamar mandi. Dia hanya menunggu di ambang pintu kamar mandi.
Angga terlihat terkejut Devan berdiri menatapnya.
"Ayo ke dokter." menarik paksa tangan Angga.
"Tunggu tuan. Saya baik-baik saja." wajah Angga sudah pucat. Bagaimana ini jika sampai ketahuan?
"Tuan. Saya mohon. Saya baik-baik saja."Angga sudah menangis, Devan terus menyeretnya hingga terseog-seog. Keluar dari apartemen dan masuk kedalam Lift.
"Saya benar-benar baik-baik saja tuan."Air matanya sudah membanjir.
"Kenapa kamu menangis? Aku hanya akan membawamu kedokter."
"Saya tidak mau ke dokter."
"Kenapa?"
Angga tak menjawab. Dia hanya menangis. Devan menatapnya , cukup lama. Lalu memeluknya.
"Aku hanya akan membawamu kedokter. Apa yang kamu takutkan?"menepuk-nepuk punggug Angga.
Aku takut ketahuan aku hamil dan tuan memecatku.
Angga masih tersedu bahkan saat mereka sudah dalam perjalanan ke klinik terdekat. Devan fokus menyetir. Angga masih merengek agar tidak ke dokter.
"Tuan. Saya tidak sakit. Ayo kita kembali saja."
"Kamu muntah beberapa kali. Jelas ada yang salah dengan tubuhmu."
"Saya sangat sehat sekarang tuan."
Devan sedikit tertawa, "Apa kamu punya pobia pada dokter?" Angga semakin terlihat pucat.
"Kamu tidak perlu berwajah begitu. Dokter hanya akan memeriksamu."
Itu yang saya takutkan tuan.
Mobil berhenti. Devan keluar memutari setengah mobil dan membuka pintu disamping Angga.
"Keluar! Atau kamu mau aku menggendongmu?"
Angga keluar. Dengan takut-takut dia mengikuti langkah Devan memasuki klinik.
Setelah menunggu sesaat, mereka masuk kedalam ruang perawatan. Angga diperiksa. Dengan berkeringat dingin dan jantung berdegub kencang.
"Bagaimana keadaannya?"
"Sebaiknya anda memeriksakannya ke bagian Obgyn."
Devan melirik Angga."Baiklah. saya mengerti."dengan seberkas senyum tipis di wajahnya.
_____
__ADS_1