
"Uugghh.... kepalaku rasanya pusing." keluh Manis lirih.
Manis menggeliat diatas tempat tidurnya. Mengerjap dan melihat sekeliling.
"Looh?" Manis kebingungan,"Aku dimana?"
Manis menoleh, saat tangannya merasa menyentuh benda keras disampingnya.
Tuan Yo Il! Manis membekap mulutnya sendiri.
Kenapa dia ada disini? batinnya mulai panik.
Manis duduk terbangun, melihat dibawah selimutnya.
Astaga! kemana semua bajuku? Kenapa aku telanjang, dan dia juga? Manis memegangi kepalanya frustasi.
Tidak mungkin kami melakukannya kan? pikir Manis makin panik.
Sekilas Manis teringat, setelah berciuman di teras luar dengan Yoil samar-samar mereka masuk kedalam kamar Yoil. Kembali berciuman dan berhubungan intim. Dan mereka tak melakukannya hanya sekali. Hingga membuat bangun sesiang ini.
Ini gila! bagaimana ini bisa terjadi. Kami bahkan melakukannya tiga kali. tiga kali?! Apa aku sudah gila!?
Manis menatap Yo Il yang masih terbaring.
Sebaiknya aku kabur saja, sebelum dia bangun dan menuduhku macam-macam.
Manis bangun dan melangkah, namun kakinya terasa sangat lemas hingga tubuhnya merosot.
"Aaahh..!"
Yo il bangun mengangkat tubuh Manis kembali ke tempat tidur.
"Tubuhmu masih lemah, Istirahatlah!" ucap Yo il melangkah ke kamar mandi.
Manis meringkuk. membungkus tubuhnya dengan selimut.
Begitu saja? Tuan ? Benar-benar hanya begitu saja? Tidakkah dia merasa bersalah sudah mengambil keperawananku? Ck ! sungguh terlalu. geram Manis dalam hati.
###
Manis duduk di meja makan dengan canggung. Melirik pada Yo il yang asyik dengan ponselnya. Manis membuang nafasnya kasar. Yo Il meliriknya sekilas.
"Kenapa kau ini?"
Apa? kenapa? setelah kejadian semalam dan hanya kenapa?hellooo?? apakah kamu orang? batin Manis jengkel.
"EHEEEMMM."dehem Manis
"Malam tadi......"
Mata Yo il melebar. giginya menggeretak, wajah nya berubah jadi marah.
Apa? kenapa reaksinya begitu? Apa dia marah karena aku mau membahasnya? Apa-apaan ini? Harusnya aku yang marah. geram Manis dalam hati.
Yo il masih menatap layar hpnya. Dia lalu melakukan panggilan telpon.
"Apa itu benar? Katakan yang jelas!"
Tangan Yo il mengepal kuat, mendengarkan seseorang disebrang sana berbicara .
BRAAAAKKKK!
__ADS_1
Yo il menggebrak meja.
Apa? kenapa ini? batin Manis panik
Yo Il berdiri. dan membangting telponnya.
"Sialann!!" umpatnya.
Ya ampun!! kenapa dia tiba-tiba marah? batin Manis begidig.
"Ayo kembali ke kota."ujar Yo il dengan dingin.
Didalam mobil hanya ada keheningan. Baik yo il maupun Manis tidak ada yang bersuara. Manis tentu sangat penasaran tapi dia juga tau suasana hati Yo il sedang tak baik.
"Kenapa kamu diam saja?"tanya Yo il memwcah kebisuan diantara mereka.
"Kupikir tuan sedang tak ingin diajak bicara."
Yo il tersenyum kecut.
"Bicaralah. Aku butuh hiburan."
"Apa yang bisa kukatakan untuk menghiburmu tuan? Aku tak pandai menghibur."
Yo il mengulas senyum.
"Aku bukan pelawak juga jadi tak tau cara membuat seseorang tertawa."ucap Manis lagi. "Tapi, bila tuan ingin aku bicara, Aku akan bicara, yaahh, dianggap sebagai radio rusak pun tak apa."
"Mmmm.. bagaimana kalau aku menceritakan apa yang kami temui di mal kemarin? Bla...bla... bla..."
Sekarang dia malah mengoceh seperti burung beo. Sepertinya aku sudah salah memintanya bicara. batin Yo il menggaruk kepalanya.
Yo il menepikan mobilnya dan mengerem mendadak.
Yo il melepas sabuk pengamannya. Menarik lwngan Manis Sedangkan tangan yang satunya menekan tengkuk gadis itu. Yo Il melummaaatt habis bibir Manis yang tak henti ngoceh sedari tadi.
Mata Manis melebar, tak menyangka tuannya akan menciumnya.
"Aaaaaahhhhggggg...."
Yo il mengakhiri ciumannya. Kembali memasang sabuk pengamannya. Lalu mulai berkendara lagi. Manis masih terdiam. Wajahnya sedikit syok. kaget dengan perlakuan Yo il.
"Kau terlalu banyak bicara. Aku harus membungkammu" ucap Yo il fokus pada jalannan.
"Aku tidak akan bicara lagi."Ucap Manis menutup mulutnya.
Yo il tersenyum tipis.
_____
Dilain tempat.
Pak James meratap, setelah kepergian Angga dan Devan. Dia sangat menyayangkan, sangat menyesal.
Kenapa dulu dia begitu tergoda untuk membalas perbuatan Cory dengan memanfaatkan Ismiati. Sungguh kejam dirinya, kenapa dulu dia justru pergi? Kenapa dulu dia begitu pengecut? Meninggalkan seorang wanita muda yang tengah hamil anaknya untuk kembali pada Cory yang sudah menghianatinya itu?
Mungkinkah ini balasan untuku? Lalu kenapa tidak padaku saja? kenapa harus terjadi ada anak anakku? jerit batin Pak James
AAARRRRRRRGGGGGGHHHH......
Pak James masih berteriak histeris. Dia marah pada dirinya sendiri hingga membuat anak-anaknya itu menanggung karma yang dia buat.
__ADS_1
Bibi dan paman Angga jadi merasa iba padanya. Mereka menatap pria yang masih berguncang tubuhnya itu. Mereka hendak mendekat, namun, pria itu sudah dipapah oleh salah satu orangnya, yang lalu membawa Pak James pergi.
Dalam perjalanan kembali ke ibu kota, pak James tak hentinya menangis. Dia terus menyesali semua yang telah terjadi. Meruntuki dirinya. Memukul dada dan kepalanya.
Hingga sampailah di rumah besar. Dengan lemas Pak James memasuki rumah besar itu. Ibu Cory tertegun melihatnya.
"Ada apa ini? Suamiku? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu Cory panik. Dia memegang lengan suaminya itu.
"Aku akan keruang kerjaku." ucap Pak James lirih menampik tangan Cory.
"Jangan ganggu aku."
###
Hari berikutnya, pak James sudah menenang, dia berjalan keluar rumahnya, dia harus bekerja hari ini. tepat di depan pintu utama. Yo il berdiri dengan Manis disisinya. Menatap Pak James dengan dingin dan buas.
"Mau apa kau kemari?"
"Benarkah mereka bersaudara?"
Pak James menatap Yo il terkejud.
"Dari mana kau tau?"
"Itu tidak penting paman! Bagaimana bisa mereka bersaudara?"
"Itu seharusnya bukan urusanmu!"
"Tentu saja ini urusanku!"
"Kenapa? Kau menaruh hati padanya?"
"Iya, aku mencintai keduanya. Bagaimana paman bisa yakin jika mereka bersaudara? apakah paman sudah melakukan test?"
"Kau orang luar! tidak usah ikut campur."tegas pak James berlalu meninggalkan Yo il. Masuk kedlam mobilnya.
"Aku.... Aku pasti akan membuktikan mereka layak bersama."teriak Yo il penuh amarah.
"Aku akan mencari tau, mereka tidak bersaudara." lirih Yo il.
"Tuan!"
Yo il menoleh menatap Manis, lalu dia mengulas senyum.
"Bantu aku mendapatkan sample DNA Angga dan Devan, Nis."
Manis terdiam, dia terkejut. dia juga bingung sebenarnya apa yang trjadi?
*Apakah Mbak Angga pergi dengan saudaranya sendiri? Apakah Bayi di perut Mbak Angga bukan bayi milik Tuan, tapi milik Orang bernama Devan itu? Kenapa rasanya rumit sekali?
Kenapa tuan begitu terluka? Apakah sedalam itu Tuan mencintai mbak Angga, Hingga dia juga ikut rapuh* ? batin Manis
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊