
Setelah kepergian Devan dan Pak James ke ruang kerjanya, tinggalah Angga dan Ibu Cory disana. Suasana sangat canggung. Mereka hanya duduk diam diam tanpa kata. Nyonya Cory terpaku pada tv layar datar didepan nya. sementara Angga menggigit bibirnya, melirik perlahan pada ibu mertuanya yang terkesan cuek.
Angga memang tak berharap banyak, mengingat memang dia sudah taua sejak awal bahwa nyonya Cory tidak menyukainya. Angga menghela nafasnya. Lalu dia berranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?"suara ketus ibu terdengar sampai ketelinganya.
"Saya, mau istirahat nyonya. Sepertinya, saya sangat lelah."
"Jangan panggil aku nyonya lagi. Panggil ibu, aku tak mau suami dan anakku marah gara-gara kamu memanggilku begitu."ujar Cory masih ketus. Tanpa dia menoleh sedikitpun pada Angga. Dia masih tetap fokus pada layar datar yang dari tadi dia lihat itu.
"Baik."
Angga melangkahkan kaki menjauh dari ruang keluarga. Dia melewati ruang kerja pak James. Saat itu dia berpapasan dengan seorang pelayan yang membawa baki dengan dua cengkir kopi disana.
"Apa kamu akan membawanya ke ruang kerja Ayah?" tanya Angga mencegat pelayan itu.
"Iya nona Angga." jawab sang pelayan wanita.
"Boleh aku yang membawanya saja?"tanya Angga agak sungkan.
"Tentu saja Nona."pelayan itu mengangsurkan bakinya dan angga menerimanya.
"Terima kasih." ucap Angga.
Pelayan itu kembali ke arah dia muncul tadi. Sementara Angga berjalan mendekati ruang kerja ayah mertuanya.
Angga akan mengetuk. Namun, ternyata pintu itu sedikit terbuka. Angga meletakkan baki pada meja disamping pintu masuk, Angga memegang handlenya dan hendak mendorong lebih lebar. Namun gerakannya terhenti.
Tubuhnya menolak untuk bergerak lagi. Apa yang harus dilakukan lagi? Angga mendengar dan mengetahui apa yang selama ini disembunyikan. Angga menutup mulutnya, matanya terbuka lebar. Semburat kekecewaan tergambar jelas diwajahnya. Tubuh Angga seketika melemas.
Apa maksudnya? Apa selama ini memang Mas Devan pelakunya? Pantas saja dia baik padaku. Dengan polosnya percaya semua kebaikan Mas Devan. Semua karena desakan dari ayahnya. pikir Angga,
Kakinya melangkah mundur pelahan. Dadanya serasa naik turun dengan nafas cepat yang terus memburu. Air mata Angga terjatuh begitu saja. Perlahan dia meninggalkan tempat itu. Pergi entah kemana, asal menjauh saja dari tempat terkutuk itu.
_____
Devan tertegun. Dia kembali berbalik dan menatap ayahnya.
"Ayah, ada seseorang yang mencuri dengar didepan ruangan ini. Cek cctv!" serunya dengan wajah gelisah.
"Apaa??" pak James tersentak, gegas dia membuka sambungan CCTV di komputernya, mengecek tepat di depan ruangannya.
Devan mendekat, ikut serius memperhatikan layar datar itu.
DEG!
Jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Angga!"
Devan memburu keluar dari ruang kerja Ayahnya, tanpa memperdulikan Ayahnya yang menyeru padanya.
__ADS_1
"Devan! Kembali! Jangan gegabah!"seru Pak James memanggil anaknya."Devan!"
Merasa panggilannya diabaikan James segera mengecek kemana arah Angga pergi, wanita itu terpatau melalui CCTV telah keluar dari rumah utama.
James mengambil hp nya menghubungi beberapa orang.
"Segera kerahkan anak buahmu mencari menantuku! Akan kukirimkan fotonya. Harusnya dia belum pergi jauh dari Mansion!" perintahnya pada seseorang di sambungan telponnya.
###
Siang itu Yo il mengecek jam ditangannya. Dia yang sedang membaca dokumen rahasia perusahaan merasa bosan. Ditatapnya Yunho yang masih setia menemaninya, atau mungkin lebih tepatnya mengawasinya.
Yo il menghela nafas beratnya.
"Yunho."
"Iya tuan muda."
"Ayo kita kesekolah Manis. Aku sangat bosan."
"Baiklah tuan muda."
Yo il menatap Yunho heran, kenapa orang ini bahkan tidak mengingatkannya bahwa ini masih jam kerja? Justru langsung menyetujuinya.
Bodoh amat pikir Yo il mengambil langkah keluar dari ruangannya.
Mobil Kuning mentereng itu melesat membelah jalanan yang cukup sibuk itu. Yo il melonggarkan dasinya.
"Apa anda mau menggantinya tuan muda?" tanya Yunho masih fokus menyetir.
" Kita bisa kembali ke vila jika anda mau."
"Tidak! Itu hanya akan menyita waktu." tolak Yo il cepat.
Di tengah perjalanan menuju sekolah Manis, Yo il melihat Angga berjalan ditepian jalan besar, Yo il menoleh karena sempat terlewat.
"Yunho, putar balik."titahnya segera,
"Ada apa tuan muda."
"Putar balik kataku!" sentak Yo il tak sabar.
Yunho memutar mobilnya, sesuai instruksi dari Yo Il berhenti tepat disamping Angga yang sedang berjalan. Yo il menurunkan kaca sampingnya. Melongok menatap Angga.
"Apa yang kamu lakukan disini?"tanya Yo il menghentikan Angga.
Angga menatap Yo il dengan mata marahnya.
"Kau juga terlibat." ucap Angga geram."Kau... pergi!"
Angga melangkah lagi, Yo il membuka pintu disampingnya dan menyusul Angga. Pria itu menahan tangan Angga,
__ADS_1
"Jelaskan tentang apa ini?" tanya Yo il semakin mengeratkan genggamannya. Angga berusaha keras meloloskan diri.
"Angga!" sentaknya tak sabar."Aku bertanya padamu!"
"Rumah kaca! kau ingat?"
Wajah Yo il seketika berubah.
"Ayo! Ikut aku lebih dulu!"
"Lepaskan!"
Yo il menyeret angga dan memasukkannya dijog belakang, Yo Il pun ikut.
"Jalan!"
Yunho menjalankan mobilnya.
"Lepaskan aku Yo il! Apa mau mu?"Wajah Angga sudah berderai airmata.
"Apa yang kau ketahui? Dari mana kau tau?"tanya Yo Il serius.
"Kau penjahat! kau sama saja dengan Devan! kalian semua berkomplot!"sentak Angga mencoba meloloskan diri.
Devan tak mungkin mengatakannya. Darimana dia bisa tau. Aku yakin dia sedang kabur dari rumah. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Setelah melakukan perlawanan yang sia-sia. Akhirnya Angga terdiam juga begitu tenaganya habis. wanita itu duduk terdiam di sisi Yo il.
"Jangan berfikir aku sudah melakukan sesuatu padamu."ucap Yo il setelah Angga sedikit menenang.
"Aku hanya memindahkanmu ke sofa." ucap Yo il tegas."Aku punya bukti CCTV jika kau mau melihatnya."
Yo il mengeluarkan hp nya memencet benda pipih itu lalu menyerahkannya pada Angga. Wanita memegang hp Yo il dengan lemas dan malas. Dia menatap pada rekaman yang Yo il berikan padanya. semuanya tanpa potongan atau pun editan.
Angga membekap mulutnya. Sungguh tidak menyangka, Devan akan melakukan semua itu. Tentu saja dia sangat kecewa. Angga sangat mempercayainya, dia selalu berfikiran Devan orang yang baik yang menerima dirinya apa adanya, namun itu semua hanya desakan dari ayahnya. Terlebih Angga merasa sudah ditipu.
"Apa rencanamu sekarang?"tanya Yo il menatap Angga. Sejujurnya dia merasa iba pada gadis itu.
"Bisakah, kau menyembunyikan aku sementara ini? Aku tak ingin bertemu dengan Devan."pinta Angga dengan wajah sendunya.
____€€€_____
Heemm... kira kira Yo il mau nggak yaa?
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊