Hamil Anak Siapa ?!

Hamil Anak Siapa ?!
chap 29


__ADS_3

Han Yo il menatap nanar pada pasangan yang baru saja pergi itu. Hatinya sakit, terasa sangat berdenyut keras.


Kenapa aku harus merasakan hal yang tak seharusnya. Dia milik Devan. Mau sekeras apapun aku berusaha, tetap tak kan bisa kumiliki. Tapi kenapa gadis itu terus menggangguku?


Han Yo Il melangkah dengan gontai. Kembali ketempat dimana dia menunggu ibunya tadi.


"Ada apa Yo il?" Tegur ibunya menepuk punggung anaknya.


"Tak apa, hanya bertemu teman."


"Teman? wanita atau lelaki?"


"Ibu kepo!"


"Kenapa ibu hanya ingin tau, siapa yang membuatmu lemas begini?" ucap ibunya mengamati anak satu-satunya itu."Jika pengamatan ibu tidak salah, dia pasti wanita. Dan dia sudah merebut hatimu. Ibu benar kan?"


Yo il tersenyum tipis, ibu nya sangat mengerti dia. Jika belum terlambat Yo il ingin membawa wanita yang dimaksud kehadapan ibunya. Tapi mau bagaimana, wanita itu sudah menjadi pasangan sepupunya sendiri.


______


Devan mengendarai mobilnya dengan sedikit kencang. Dia marah, Kenapa Angga harus bersama dengan Yo il? Apakah dia menghindar dan mencoba menjauh darinya karena mau bertemu dengan Yo il?


"Shiiittt!" umpat Devan memukul setir.


Angga yang sedari tadi diam karena sudah takut Devan yang terlihat marah itu, kini makin gemetar ketakutan. Apalagi Devan dengan jelas mengumpat dan memukul stirnya.


Mas Devan sepertinya marah sekali. Aku jadi takut. Aku harus gimana?


Angga meremas tangannya sendiri, Ia benar-benar takut. Walau wajah Devan selembut itu tapi jika marah aura yang dia tunjukkan sangat menyeramkan.


Hingga mobil berhenti di basemen apartemen memasuki lift pun Devan hanya diam. Angga pun masih tak berani bersuara. Angga menatap tangan Devan yang mencengkram kuat kantong belanjaan mereka tadi. Angga lalu beralih melihat wajah Devan. Ia takut tapi disaat yang bersamaan juga merasa sedih.


"Mas."


Devan melirik dengan tatapan dingin menusuk membuat Angga menciut.


Mas Devan benaran marah,apa yang harus kulakukan sekarang? dia sangat menakutkan.


Pintu lift terbuka, Devan melangkah keluar. Angga mematung, kakinya seolah tak ingin bergerak. Devan menoleh melihat kearah Angga.


"Kenapa tidak keluar?"


Tubuh Angga bergetar, sebenarnya tangannya. Dia mencengkram kuat bajunya.


"Kau mau aku menarik mu? Atau kamu mau kembali pada Yo Il?" sinis Devan menatap sadis.


Angga mendongak menatap wajah Devan dengan wajah melas.


"Tidak...."

__ADS_1


"Bagus! cepat keluar!"


Angga buru-buru mwlangkah keluar lift. mengikuti Devan yang berjalan lebih dulu, Devan membuka kunci rumahnya. Devan masuk dan diikuti oleh Angga. Begitu pintu tertutup Devan meletakkan belanjaannya begitu saja. Pria itu mencengkram lengan Angga dan mendorongnya hingga ke tembok.


"Aaaakkkhhh...." pekik Angga kesakitan, "Sakit mas Devan."


"Jelaskan padaku?" ucap Devan tajam dengan mata menyala penuh amarah."Kenapa kamu bertemu dengannya? Apa kamu berhubungan dengannya dibelakangku?"


"Ti-dak!"


"Seberapa sering kalian bertemu?"


Mas Devan menakutkan sekali jika sedang marah. Apa yang harus aku lakukan? batin Angga


"Sejauh apa hubungan ka-li-an?"


"Jawab Angga!"


Mata Devan sudah merah, rahangnya pun sudah mengeras, Devan merapatkan mulutnya menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun.


Apakah dia akan dihianati untuk kedua kalinya?


Angga sangat ketakutan netranya memejam kuat, tubuhnya gemetar hebat. Dia tak pernah melihat Devan semarah itu, apalagi sampai bertindak sekasar ini.


"Sakiiitt mass Devan...."lirihnya, tangannya sudah memerah karena dicengkram kuat oleh Devan.


Devan yang sudah terlanjur marah itu mencium dan melummaatt bibir Angga dengan bruttaal.


Mas Devan.... Maafkan aku... Aku tak bermaksud membuatmu marah. Jangan seperti ini..Kamu benar-benar membuatku takut.. batin Angga menangis.


Devan menahan kedua tangan Angga dengan satu tangannya, sementara yang lainnya menarik kasar kain yang menutupi tubuh Angga. Devan melepas penutupnya, hingga menyembul bola kenyal didepannya. Secepat itu Devan meremmaass, menyesaap dan menggulum dengan kasar.


"Aaaakkkkhhhh.... Mas Devan... hentikan.. sakittt....." pekik Angga memohon.


Air mata Angga meleleh, Tubuh Devan sangat kuat menekannya. Tanpa peduli Angga yang merintih dan menangis memohon agar Devan mengehentikan aktifitasnya.


"Lepaskan aku Mass.... huuhuuhuuu.... Lepaskan aku.....huuuhuuuhuu...." tangis Angga lagi.


Pelan-pelan Devan melemah, cengkramannya tak sekuat sebelummya. Devan melepaskan bola kenyal yang sedari tadi dia remmaass dan gulum. Devan menatap wajah gadis yang menangis didepannya. melihat tampilan Angga yang berantakan karena ulahnya.


Devan melepaskan cengkraman tangannya yang membekas merah disana. Tubuh angga melemas dan jatuh. Devan menangkap dalam dekapannya memeluk tubuh Angga.


Dia menyesal dan merasa bersalah.


Apa yang sudah kulakukan? maaf, maafkan aku.


Devan mengeratkan pelukannya mencoba memberi rasa aman dan nyaman yang sudah dia rengut sebelumnya.


"Maaf... Maafkan aku." sesal Devan lirih.

__ADS_1


"Maafkan aku...."


Devan memeluk lembut tubuh Angga yang masih menangis. Lama-lama dia mengangkat tubuh Angga, membawanya ke ruang utama. Devan duduk disofa dengan memangku tubuh istrinya. Devan membenahi baju Angga yang masih berantakan.


Dalam diam Devan memeluknya dan sesekali mengecup kepala Angga yang masih sesenggukan. Dia sangat menyesal, bertindak dengan emosinya.


Hening. Angga sudah lebih tenang. Dia mengangkat tubuhnya bangkit dari pangkuan suaminya. Namun secepat itu pula Devan menahannya.


"Jangan pergi. Aku minta maaf. Maafkan aku."lirih Devan meminta.


Angga masih berusaha untuk bangkit. sekuat itu pula Devan menahannya, memeluk lembut tubuh yang berontak untuk lepas.


Angga menangis lagi, Devan membawanya bersandar dibahunya.


"Maaf.. Maaf..."


Malam ini Angga tidur dikamar. Devan pun begitu, masih bergelut dengan penyesalan. Amarahnya terkikis oleh wajah sendu dan airmata Angga.


Angga bukan Mona. Dia tak akan menghianatiku.. Tidak. Jika dia sudah tenang aku akan bertanya baik-baik dan meminta maaf.


Sekelebat wajah Angga yang menangis kembali mengusiknya, terus menambah sesal dihatinya. Devan bangun dari pembaringan. Dia tak bisa tidur dan hanya memikirkan Angga. Wajah sendunya terus menghantuinya.


Devan melangkah keluar kamarnya. Devan membuka pintu kamar Angga dengan langkah pelan tanpa suara, Devan mendekati ranjang. Angga sudah tidur malam itu. Devan menatap lama pada gadis itu. Rasa sesalnya semakin besar.


Devan duduk di bibir ranjang, Mengusap wajahnya lalu menoleh.


"Maafkan aku. Aku terlalu takut kehilanganmu. Maaf, perasaan takut akan dihianati lagi membuatku kalap dan melampiaskan padamu. Maaf Angga." Lirihnya penuh sasal.


Devan mengusap pipi Angga, perlahan Devan mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir ranum milik istrinya itu. Merasakan seluruh rongga mulutnya, Devan semakin menginginkan lebih. Tubuhnya sudah reflek merangkak diatas tubuh Angga. Tangannya mulai menjelajah. Devan berhenti, mengakhiri ciumannya dan turun dari ranjang.


Apa yang sudah kau lakukan Dev. Tak bisakah lebih menahan diri?


"Maaf... Aku memang brengsek. Maaf istriku. Istriku...." Ucapan Devan semakin terdengar pilu


"..... istriku..... Aku mencintaimu... Maaf..... Sayang.." Devan melangkah keluar dari kamar Angga, sudah tak bisa dia bayangkan lagi, bila masih terus berada didalam kamar Angga bisa dipastikan dia akan lebih tak terkontrol lagi..


BLAAMM.. (suara pintu ditutup)


Angga membuka matanya, menghela nafasnya dalam....


___€€€___


Readers semangati othor donk biar lebih sering up😢😢


like dan komen ya


terima kasih.


salam____

__ADS_1


😊


__ADS_2