
"Ibu?!"
Angga dan wanita paruh baya itu menoleh kearah yang sama. Devan berdiri tak jauh dari sana dengan wajah sedikit terkejut melihat wanita yang berdiri didepan pintu rumahnya.
Didalam ruang tamu Devan dan Ibunya duduk berhadapan. Ada sedikit ketegangan disana. Angga datang dengan membawa 2 cangkir teh dan dua potong kue. Meletakkannya di atas meja. membaginya pada ibu dan Devan.
Angga akan beranjak pergi. Namun tangan nya di tahan oleh Devan. Angga menoleh.
"Kamu disini saja."
Angga tersentak menunjuk dirinya sendiri.
Aku? Disini? Untuk apa?
Devan menariknya hingga jatuh terduduk disamping Devan.
"Bagaimana ibu bisa tau aku tinggal disini?" Devan mulai membuka suara.
"Kenapa kamu menanyakan hal yang sudah jelas kamu tau jawabannya?" Ibu mengambil cangkir tehnya.
"Siapa dia?"ibu menyeruput teh.
"Kekasihku."
Uuhuuukkk... uuhuukk...
Ibu tersedak teh, dan Angga tersedak ludahnya sendiri.
Kedua wanita itu menatap Devan. Ibuk masih terbatuk karena tersiksa sehabis tersedak tadi. Sementara Angga menatap penuh tanya pada Devan.
Apa yang Tuan Devan pikirkan? Kenapa bicara sembarangan pada ibunya? Bagaimana jika beliau menganggapnya serius?
Sudut Bibir Devan sedikit terangkat, melihat reaksi kedua wanita itu. Namun sebisa mungkin dia tutupi.
"Dev...." ibu menggeram.
Angga mulai gelagapan, dia menggeleng dan mengangkat tangannya menyangkal. Wajahnya menunjukan ketidak setujuan. mencoba menjelaskan.
"Tidak nyonya, saya bu uuummm..."
Devan sudah membungkam mulut Angga dengan bibirnya.
Aaaa, apa yang tuan Devan lakukan?
Ibu pun ikut terlonjak kaget melihat anak bungsunya yang mencium wanita tepat didepan wajahnya. Ibu semakin menggeram.
"Kali ini bantulah aku Angga." bisik Devan lirih. melepas Angga yang sudah kehabisan nafas. Diusapnya bibir Angga dengan lembut.
Ibu masih menggeram melihat kedua orang yang berbuat tidak senonoh itu didepannya. Ibu menatap tajam pada Angga, membuat gadis itu mengkerut. Devan menggenggam tangan Angga.
"Siapa namamu?"
"A-angga putri nyonya."takut-takut.
"Siapa ayahmu? Siapa keluargamu? Dari mana asalmu?"berondong ibu mengintimidasi.
"Sa-saya yatim nyonya. Sa-saya dari desa X"
Ibu menggeram. Beralih menatap anaknya.
"Devan!"mendelik pada anaknya.
"Apa-apaan ini?"pekik ibu nya, "Kamu kabur dari rumah dan tinggal dengan gadis tidak jelas ini?"
"Aku tidak kabur bu! Aku diusir ayah. Ingat?"tenang mendengar berondongan ibunya.
"Ibu sedang mengusahakan kepulanganmu! Kenapa kamu malah semakin menjadi?"bentak ibu semakin meninggi.
"Tidak perlu Bu. Aku akan pulang bila sudah waktunya." Devan semakin mengeratkan genggamannya.
"Devan!"
"Untuk apa ibu kemari?"
"Ibu merindukan anak bungsu ibu."dengan muka ditekuk.
"Hahahhahah..." Devan tergelak, membuat kedua wanita diruangan itu melihat padanya.
Ibu melihat dengan tatapan protes tak suka, sementara Angga menatap dengan penuh tanya dan bingung.
"Jangan mengada-ada bu. Kenapa ibu kemari?"
"Ck! Kenapa kamu putus dari Mona?"Ibu yang sudah ketahuan niatnya itu akhirnya bersuara. "Apa karena gadis desa ini?"menatap merendahkan Angga.
"Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Tanya saja pada Mona, Dia yang harusnya menjelaskan kenapa aku memilih meninggalkannya."Jelas Devan tegas.
"Jika ibu kemari karena Mona. Sebaiknya ibu menyerah. Aku tidak akan menikah dengan Mona, seperti ayah yang tidak pernah merestui kami. Kini Aku mulai mengerti maksudnya."tegas Devan lagi."Ibu pulanglah! sia-sia jika ibu tetap berada disini. Sebentar lagi kami juga akan pergi."
Ibu menggeram."Deevaaannn!!"
"Pulanglah bu!"
"Jadi kamu mengusir ibu sekarang?"
"Kami akan pergi."balas Devan berdiri dari duduknya, "Aku tidak ingin meninggalkan ibu disini sendirian."
"Ayo sayang! Kenapa kamu belum mengganti bajumu?"ucap Devan menatap lembut, menarik Angga hingga berdiri. Melangkah menuju kamar Angga. "Apa kamu ingin aku yang mengganti bajumu?"
Apaa??
"Devaaann!"
__ADS_1
Devan menggandeng Angga yang terbengong itu masuk kekamar gadis itu. lalu menutup pintunya tanpa memperdulikan suara pekikan ibunya.
"Maaf!" Devan menangkupkan kedua tangannya didepan wajahnya. "Maaf, bisakah kamu membantuku kali ini?"dengan tatapan memohon.
"Tapi kenapa....."
"Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang gantilah bajumu."
"Tapi..."
"Aku nggak akan mengintip." Mengangkat kedua jarinya membentu huruf V.
Devan berbalik menghadap pintu memunggungi Angga dan menutup matanya.
"Cepatlah ganti sebelum ibu mendobrak pintu ini."dengan nada panik.
Angga jadi ikutan panik. dengan cepat Angga mengganti celana pendeknya dengan celana kain yang lebih panjang. memakai jaket menutupi kausnya.
"sudah."
"Sudah?" Devan berbalik dan melihat Angga."Apa kamu tak punya pakaian lain?"
"Maaf Tuan."
Devan mengangkat tangannya."Aku potong gajimu." Devan menggeram.
"Maaf Mas Devan."panik
"Tidak jadi kupotong." geli melihat Angga panik."Kamu tak punya pakaian lain?"
"Maaf Mas Devan, aku memang tak punya."dengan muka memerah.
Devan membuang nafasnya. "Baiklah. Ayo keluar."
Menarik tangan Angga keluar kamar menuju pintu keluar. Devan menghentikan langkahnya di ruang tamu. Ibu masih duduk disana dengan cangkir teh ditangannya.
"Kami akan keluar. Jika ibu mau pulang, pintu itu sudah akan terkunci otomatis. Selamat menikmati teh ibu."Devan melangkah, Angga membungkukkan tubuhnya kearah ibu memberi hormat dan salam. Hingga dia terseret oleh tangan dan langkah Devan.
Ibu hanya tersenyum sinis menatap keduanya.
______
Devan dan Angga sudah di dalam mobil membelah jalanan ibu kota. Devan fokus menyetir. Angga meliriknya.
"Mas Devan..."ragu-ragu.
Devan tak bergeming.
"Mas Devan....." masih ragu-ragu dengan suara lebih keras.
"Aku mendengarkan."
"Kenapa apa?"
"Kamu bilang akan menjelaskan."
"Aahh... masalah ibu? Kita cari makan dulu. Aku lapar."ucap Devan masih fokus menyetir."Gara-gara ibu kita terlewat makan siang."
Angga terdiam. Dia memang sudah lapar sebenarnya.
"Kamu mau makan apa?"
"Aku ikut mas Devan saja."
Devan tersenyum lucu. menyentuh perut Angga, membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget.
"Kecil, kamu mau makan apa?"
Hening.
"Kecil? Kamu lapar kan? Ayo makan apapun yang kamu suka."mengelus perut Angga.
Angga menggulum bibirnya menahan senyum.
"Aku ingin yang segar-segar tuan."menirukan suara anak kecil.
"Heemmm.. Karena kamu yang menyebut tuan aku maafkan. lain kali jangan diulangi ya." menarik tangannya.
"Iya." menirukan suara bayi.
"Baiklah, ayo kita cari yang segar-segar."Seru Devan bersemangat.
Mereka berhenti disebuah restoran yang menyediakan soto.
"Mau Soto?"
Angga menggeleng. Devan kembali melajukan mobilnya. dan berhenti di depan warung bakso.
"Mau bakso?"
Angga menggeleng. Devan melajukan lagi mobilnya dan berhenti didepan warung sop buntut.
"Mau sop buntut?"
Angga menggeleng lagi. Devan melajukan lagi mobilnya. Angga melihat didepan ada penjual es kelapa muda disamping nya ada gerobak tekwan(Makanan palembang. seger loh)
"Itu saja." Angga menunjuk.
Mobil berhenti dan terparkir sempurna, Angga keluar di ikuti Devan.
"Klamutnya pak." pesan Angga duduk di tikar yang digelar dibawah pohon beringin. Devan yang mengikuti dibelakang mengangkat 1 jarinya.
__ADS_1
Sangat sejuk siang menjelang sore itu. Disana ada sebuah lapangan yang dipakai oleh beberapa anak-anak main sepeda dan bola. Devan duduk disamping Angga.
"Ah, aku belum pesan tekwan."beranjak dari duduknya.
"Biar aku saja." cegah Devan berdiri mendahului,
Setelah memesan, Devan kembali duduk disamping Angga. satu buah kelapa muda datang dengan 2 sedotan dan satu sendok.
"Kok cuma satu?"
"Kongsian."
"Kurang Mas Devan."
"Ya udah. Nanti kamu yang bayar."
Angga mengerucutkan bibirnya."Aku kan tak punya uang."menggerutu.
membuat Devan gemas, dicubitnya bibir Angga yang mengerucut itu.
"Aaaaa..."
"Hahahaha..." Devan tergelak.
"Cepat minum katamu mau yang seger-seger."
Angga menyedot klamutnya.
"Aahh... segarnya."
Abang tukang tekwan datang dengan semangkuk tekwan. Angga menatap bingung.
"Kok cuma satu?"
"Kongsian."jawab Devan enteng. menyeruput klamut yang sama.
"Mas Devan nggak punya uang?"
"Hmm.. aku nggak bawa uang cash."
Angga mangguk-mangguk mengerti. Akhirnya mereka makan semangkuk tekwan berdua. meminum Klamut sebuah berdua.
"Tadi pagi mas Devan bilang mau pulang agak malam. Kenapa sekarang malah disini?"
"Sudah ada yang membantuku menyelesaikan pekerjaan." memakan tekwan.
"Hmmm.. begitu. Mas Devan berhutang penjelasan padaku."bergantian memakan tekwan dimangkuk yang sama.
"Hemm. tentang ibu ya?"
Angga menggangguk.
"Sebenarnya, aku mempunyai seorang kekasih, sekarang sudah jadi mantan. Ibu sangat menyukainya. tapi berbeda dengan ayahku. dia tidak merestui kami sejak awal kami jadian."
Angga manggut-manggut memakan tekwannya hingga habis.
"Masih lapar." gumam Angga pelan, namun Devan mendengarnya.
"Bang! tekwannya satu lagi."seru Devan.
Angga menatapnya bertanya.
"Apa?" protes Devan.
"katanya nggak bawa uang cash."
"Aku memang nggak bawa." (Sebenarnya itu hanya alasan Devan saja agar bisa makan semangkuk berdua.)
"kok pesen lagi?"
"katanya masih lapar."
Kok malah muter-muter gini sih? Ah, sudahlah. Terserah Tuan saja.
"Apa dia bernama Mona itu, Mas Devan." Devan mengangguk.
"Dia menghianatiku. Jadi aku memutuskan hubungan kami."
"Begitu saja?"
"kamu mengharapkan cerita yang bagaimana?"
Tak mungkin aku bercerita sampai dimana aku memperkosamu kan?
"Karena itu bantu aku membuat Ibu menyerah. heemm?"
"Bagaimana caranya?" Devan tersenyum
Akhirnya mereka menambah 3mangkuk lagi dengan makan semangkuk berdua. dan satu buah kelapa muda lagi, masih kongsian.
Dilain tempat dalam sebuah mansion dipinggiran pantai. Dalam ruang kerja, Seorang pria sedang menyaksikan rekaman CCTV di rumah besarnya. Tak lama pintu diketuk.
"Masuk."
Seorang pria lebih muda masuk dan menunduk memberi hormat.
"Sudah kamu temukan?"
"Sudah Tuan besar."Menyerahkan Sebuah tablet ketangan pria yang masih duduk dikursinya menatap pada layar CCTV.
Pria itu tersenyum tipis..
__ADS_1