
Dibelahan wilayah yang lain, diwaktu yang berbeda.
Han Yo Il pagi ini baru keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang melilit dipinggangnya. Yo Il memasuki ruang ganti kamarnya. Memilih dan memakai jas kerja. Yo il menatap pantulan diri di cermin ruang ganti. Lalu tersenyum sembari menyemprotkan parfum ditubuhnya. Pria itu mengedipkan matanya.
"Sempurna." gumamnya.
Han Yo il keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga dan duduk di meja makan. Disana sudah ada mama dan papanya.
"Pagi anak mama." sambut ibunya tersenyum melihat anak lelakinya pagi-pagi setampan itu sudah siap untuk bekerja bukan keluyuran.
"Pagi bunda." balas Yo il asal mencomot roti panggang di meja.
Sementara Ayah Yo il mendengus pelan.
"Aku dengar kau kemarin keluyuran?"
"Itu dijam pribadiku ayah, sebaiknya tidak usah ikut campur." tegas Yo il to the point. Mengunyah sarapannya.
"Heeehh, Hari ini jangan mengecewakan aku. Meeting kali ini kau yang pimpin. Aku mau lihat seberapa jauh perkembanganmu."
"Baiklah." balas Yo il cuek.
"Di meja makan, jangan membahas masalah pekerjaan."sela ibu Yo il
"Jadi sayangku, kamu mau kuta membahas masalah apa? Menu makan pagi yang sudah jelas dibuat oleh koki?"tanya ayah Yo il menggoda iatrinya."Atau kamu ingin membahas membuat adik baru untuk Yo Il?"
UUUHHHHUUUUUKKKK.. UUUUHHHUUUKKKKK..
Ibu dan Yo Il tersedak bersamaan. Yo il mengambil minum lalu meneguknya, sementara ibu Yo il memilih menepuk dadanya.
"Su-a-mi-kuuuhh!"geram nya.
"Dari pada begitu, kenapa tidak membicarakan pasangan Yo Il. Bukankah sudah waktunya dia memiliki pasangan?"ucap Ibu menatap Yo Il. "Bukankan sudah waktunya dia berhenti bermain-main?"
"Aku tidak berminat ibu." tegas Yo Il mengusap bibirnya."Aku pergi. Yunho sudah menunggu didepan."pamit Yo Il beranjak dan melangkah pergi.
Ibu Yo Il menghela nafasnya.
"Sepertinya, dia juga terikat pada gadis itu."lirihnya menatap suaminya.
"Biarkan saja. Tidak usah terlalu terburu. Biarkan dia menemukan jalannya sendiri. Kita hanya perlu mengawasi sayang."
Haaaaaaahhhhh..
Ibu Yo il menghela nafas panjang.
###
Yo Il duduk di dijog depan menatap keluar jendela.
"Kau sudah menyelidiki gadis itu?"
"Gadis yang mana?"
"Kau tau maksudku, jangan pura-pura bodoh."
"Tentu saja tuan. Laporannya akan saya serahkan di kantor nanti."
__ADS_1
Yo Il menghela nafasnya.
"Kau sudah menempatkan orang diskitar rumahnya?"
"Sudah."jawab Yunho masih berfokus pada jalanan."Anda tenang saja tuan. Lakukan tugas anda. jika sudah selesai, anda bisa segera menemui nona Manis yang sangat anda rindui."
Yo Il mendengus.
"Aku potong gajimu."
"Terima kasih tuan." tersenyum palsu.
Han Yo Il memulai aktifitasnya hari ini dengan fokus pada pekerjaannya. Mencoba seserius mungkin dengan apa yang dia kerjakan. Ditambah lagi dengan Ayahnya hari ini. Sebenarnya Yo Il cukup kesal, melakukan hal yang tidak dia minati. Ayahnya terlalu memaksa. Mau bagaimana lagi, dia anak satu-satunya. Hanya dia yang diharapkan keluarga.
Flash back
Diruangan Ayah Yo il
BRRRAAAKKKK!
Tangan Ayah Yo il menggebrak meja. Sementara anaknya duduk santai diatas kursi.
"Kau!"sentak Ayahnya."Jangan membuatku kecewa! Kenapa kau tak bisa melakukan hal dengan benar!"
"Kenapa ayah kesal, dan marah marah. Sejak awal aku sudah bilang tidak berminat. kenapa memaksaku?"
"Kau! Kenapa aku bisa punya anak tidak berguna sepertimu?" sentak Ayah yo il lagi."aku sudah tua, jika bukan kamu siapa lagi penerusku?"
"santai saja ayah, kenapa buru-buru kau masih hidup kan ayah." ujar Yo il santai."Atau mungkin ayah bisa mempertimbangkan membuat adik untukku. aku tidak keberatan."
"Apaa?" Anak kurang ajar!" Ayah kembali menggebrak meja dan menggeretkan gigi saking kesalnya.
Mendengar ucapan Yunho, Ayah Yoil sedikit menenang. Memang benar. Dia harus mengontrol emosinya, dan menjaga image yang sudah dia bangun sejak dulu.
Huuuffff!
"Baiklah Yo il."ucap Ayah Yo il duduk di kursi kebesarannya."Aku tidak akan memaksamu. Kau tidak perlu menjadi penerusku. tapi, ada syaratnya."
Yo Il yang merasa mendapat angin segar itu, menegakkan kepala. Menunjukan ketertarikan.
"Lahirkan anak untuk penerusku. Kau harus beri aku seorang cucu agar agar aku tak mengejarmu!"
"Apaa?" Yo il tersentak kaget, "Permintaan macam apa ini? Aku tak mungkin bisa melahirkan anak! Apa otak ayah sudah rusak?!" kesal Yo il mendengar permintaan ayahnya itu.
"Aku tidak perduli! Aku mau seorang cucu! Terserah bagaimana kau mendapatkannya."ujar Ayah Yo il dengan dingin menusuk."Jika kau tak menyediakan aku penerus sebagai pengantimu."
"Dalam satu bulan ini. Semua fasilitas dan aksesmu akan dibatasi! Selamat menjadi gelandangan!"
"A-apa? Ancaman macama apa ini?" Yo il tidak terima.
"Yunho, singkirkan bedebah ini!"
"Baik tuan."
Flash back Off.
Yo il menendang meja didepannya dengan kesal mengingat apa yang ayahnya katakan beberapa hari lalu.
__ADS_1
Sekarang saja dia sudah membatasi akses dan kebebasanku. Bagaimana aku bisa mendapatkan bayi dalam satu bulan ini? Ayah sudah tidak waras! pikirnya.
Yo il sepertinya terlalu tenggelam dalam pikiranya hingga tidak menyadari, jika dia sedang memimpin rapat karyawan. Tindakannya barusan membuat para hadirin disana gemetar ketakutan.
Apa salahku!? batin pria yang sedang mempresentasi didepan gemetaran.
Entah apa yang dipikirkan tuan Muda, tapi sudah membuat suasana disini menjadi setegang ini. batin Yunho tetap dengan senyuman melihat atmosfir di ruangan itu menjadi suram dan mendung.
Pikiran Yo il masih berkelana.
"Dia! Dia adalah pacarku!" suara dan adegan saat bertemu kembali dengan Manis kemarin. terngiang ditelinga Yo il.
Yo Il menghela nafasnya.
Bagaimana keadaannya sekarang? batin Yo Il.
Metting karyawan telah usai, Yo il berjalan di lorong di ikuti oleh Yunho.
"Hey, asisten!" seru Yo Il.
"Iya tuan muda."
"Bagaimana dengan gadis itu?"
"Maksud anda Nona Manis?"
"Hemmm.."
"Hari ini belum ada kabar yang siknifikan."
"Huuuuuuhhh..."
Yo il kembali melakukan aktifitasnya. Mengunjungi beberapa tempat dan melakukan pendataan. Namun entah rasa bersalah atau kasihan, pikirannya terus terpaut pada gadis malang bernama Manis itu. Bagaimana bisa anak yang bahkan belum lulus sekolah itu dipaksa menikah dengan pria tua yang bahkan lebih tua dari ayahnya.
Yunho yang sudah peka akan apa yang dipikirkan dan dikhawatirkan tuan Muda nya itu melihat jam.
"Tuan muda, sudah waktunya pulang."ucap Yunho. "Bagaimana jika kita melihat keadaan nona Manis, saya dengar hari ini ada acara disana."
"Benarkah?"Sedikit menoleh kearah Yunho."Baiklah ayo kesana!"
Yunho tersenyum tipis.
Mobil hitam itu terparkir didepan halaman rumah Manis. saat itu terjadi keributan. Manis ditarik oleh ayahnya keluar rumah.
"Apa-apaan ini?"gumam Yo il kesal.
"Nona Manis hari ini akan dikirim ke bos rentenir untuk dinikahan sebagai pengganti hutang ayahnya."
"APAA??"
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊