
"Menjelaskan apa? Kamu yang pergi menghilang kenapa jadi aku yang harus menjelaskan?"tanya Devan masih menatap Angga.
Angga menoleh, menatap wajah Devan dengan kekesalan, amarah,sedih, rindu, semua bercampur menjadi satu.
"Ini....."Angga menyentuh perutnya yang membuncit."perbuatanmu kan?"
Sesaat mereka saling menatap dengan pikiran dan hati masing-masing.... Menunggu ucapan apa yang akan Devan sampaikan.
"Benar."
"Kenapa?"dengan mata berkaca kaca.
"Kau mau aku berkata jujur?"
Angga mengangguk.
"Jika aku sudah bercerita apa kamu akan pergi lagi?"
Angga diam masih menatap Devan.
"Apa kamu akan pergi lagi?"tanya Devan mengulang.
Angga mengalihkan padangannya. menunduk. Devan meraih tangan Angga, lalu menciumnya.
"Ada banyak hal yang aku takutkan."ucap Devan membuka suara."Dan sekarang yang paling aku takutkan adalah kehilangan kalian. kamu sudah menghilang selama itu. Apa kamu tak rindu?"
Angga terdiam. Dia masih membisu dengan perasaan yang campur aduk.
"Tak perduli mau bagaimana masa lalu yang sudah kita lewati, bisakah kita bersama kembali? Demi anak ini?" Devan menyentuh perut Angga.
Hening.. Baik Angga maupun Devan tak satupun yang memulai berbicara. Devan menarik nafas panjang.
"Kau bertanya kenapa aku melakukannya kan?"
Angga menatap Devan yang meraih dagunya dengan tangan.
"Dulu beberapa temanku memberiku obat perangsang. Mereka sangat kurang ajar bukan?" Devan tertawa kecil.
"Dan disaat yang bersamaan aku terluka oleh sikap Mona. Oleh penghianatannya dengan Yo il."terang Devan menjelaskan."Juga beberapa orang lainnya."
"Dan, saat itu, aku melihatmu dirumah kaca. Disana....."
Devan terdiam, suaranya terdengar tercekat ditenggorokannya.
"Aku... meninggalkanmu disana setelah melakukannya. Pikiranku sangat kacau saat itu. Hingga Ayah tau perbuatanku, dan menyuruhku mencarimu untuk bertanggung jawab."
Angga tertawa kecil.
"Apa sekarang juga ayah memintamu untuk mencariku?"
"Tidak. Ini kemauan ku sendiri."
Devan mencium tangan Angga yang dia genggam.
"Kembalilah dengan ku Angga."
__ADS_1
Angga terdiam. Perasaannya masih tak menentu.
Kenapa aku masih seperti ini? padahal aku sudah cukup menenangkan diri. Bahkan selama itu. Kenapa masih terasa sakit? Kupikir memang tidak sepatutnya menyalahkan masa lalu yang penting bagaimana perasaan kami berdua sekarang. Seperti kata Yo Il.
"Ayoo kita kembali..." ucap Angga pelan. Devan tersenyum lega.
"Kerumah bibiku."
Wajah Devan kembali berubah kecewa.
"Kenapa? Apa kau benar-benar tak bisa memaafkanku?"
"Aku hanya rindu mereka. Beri aku waktu sebentar. Aku masih ingin bersama mereka."
Devan menatap penuh harap pada istrinya itu.
"Baiklah." ucap Devan akhirnya. "Aku temani."
Devan kembali memacu mobilnya ke rumah Bibi Angga. Sesampainya disana Bibi Angga hendak keluar. Baru saja mengunci pintu.
"Cepat sekali kalian kembali. Bibi pikir akan makan waktu lama."tanya bibi begitu keduanya terlihat turun dari mobil.
"Iya, hanya mengantar Juna dan Ane."balas Angga pelan."Bibi mau kemana?"
"Ke pasar. Beberapa bahan sudah habis."
"Aku ikut, Aku ingin pergi ke pasar juga."
"Tapi, kamu sedang hamil besar." sambil melirik Devan.
"Tidak apa kan?"
"Aku antar kalian ke pasar."jawab Devan singkat.
"Aku ingin naik angkot saja." ucap Angga cepat.
"Kenapa? lebih aman naik mobil. kamu juga nggak perlu berdesakan."tukas bibi Angga kuwatir.
"Tak apa bibi, lagi pula dulu aku pernah melihat ada ibu-ibu hamil besar naik angkot."
"Yaahh... bibi juga tau." ucap Bibi Angga pasrah."baiklah, ayo."
"Aku akan mengikuti dibelakang. jika ada apa-apa."
Benar saja Devan memang ngikuti dibelakang, selama Angga dan bibinya naik angkot. Devan membawa mobilnya dibelakang dengan jarak aman dan menyesuaikan kecepatan.
Sesampainya dipasar Angga dan bibi memilih beberapa sayut dan daging. Devan memgikuti mereka, dia tak mau terjadi hal-hal yang buruk pada Istrinya. Devan ingin menjadi suami siaga.
"Bibi aku ingin makan seafood, dimana bisa dapat udang dan lopster?"tanya Angga bersemangat.
"Kalau lobster susah ceri disini."terang bibi, "tapi kalau udang dan cumi masih ada yang jual."
"Hmmm..."
"Kamu mau lobster? Atau mau diganti kepiting saja?"tanya Bibi mengingat-ingat ada stand yang menjual kepiting juga.
__ADS_1
"Ok. Dimana? Apa dipasar ini juga?"
"Ada pasar tersendiri. kita coba kalau kamu mau. tapi tidak bisa dengan angkot. minta antar menantu."ucap bibii menunjuk Devan.
Angga meliriknya sekilas. dan beradu tatap dengan Devan.
"Kamu mau apa?"tanya Devan, menangkap sinyal Angga.
"Hanya masakan seafood, bibi bilang ada pasar tersendiri. tapi tak ada angkot."
"Aku antar. mau sekarang atau nanti?"
Angga beralih menatap bibi.
"Kita komplitin bumbunya dulu, setelah itu ke pasar ikan."ucap Bibi yang mengerti maksud Angga.
Setelah memilih beberapa bumbu dan sayur pendukung. Mereka menuju ke pasar ikan. Angga dan bibi duduk di jog belakang. Sementata Devan menyetir didepan.
Sesampainya dipasar ikan, Devan memilih menunggu di depan pasar sambil merokok. Sedangkan Bibi dan Angga berkeliling.
"Aku tunggu setengah jam disini."ucap Devan kala itu sambil menyalakan rokoknya.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan, Bibi dan Angga menghampiri Devan.
"Sudah?"tanya Devan sedikit ragu. "Ini belum ada tiga puluh menit."
"Kami sudah dapat semuanya. Buat apa menunggu selama ini?" bibi balik bertanya sambil mengayunkan kakinya menuju parkiran mobil.
Mobil meluncur kwmbali kerumah. Angga yang kelelahan tertidur dijog belakang bersama bibi. Saat sampai dihalaman rumah, ada mobil lain yang terparkir.
"mobil siapa itu?"gumam bibi celingukan."Angga...." bibi hendak membangunkan Angga.
"Tidak usah dibangunkan bi, biar aku saja yang membawanya kekamar. dia terlihat kelelahan."
"Baiklah kalau begitu." Bibi Angga turun dari mobil, dengan membawa sebagian belanjaan karena berat dan banyak.
"Sisanya biar saya bawa nanti setelah membawa Angga masuk bi."
Bibi Angga menyambutnya dengan senyuman.
Devan menggotong Angga yang masih tertidur membawanya hingga keteras, sampai Devan tertegun melihat siapa yang kini duduk di kursi teras, dengan senyuman khas miliknya.
"Kau!"pekik Bibi terkejut dengan kehadiran orang itu, wajah bibi terlihat sangat marah.
"Mau apa kau disini?"sentaknya.
____€€€____
Hmmm.. Siapa ya, kira-kira orang itu? kenapa Bibi Angga bisa sangat marah?
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊