
("Apa kamu sudah tidur?")
Sebuah pesan singkat dari nomor Han Yo Il. Angga menatap layar hpnya lama. Angga yang saat itu berada didapur, menghela nafasnya panjang, dia lalu mengetik balasan.
"Ada apa Yo Il?"
Pesan dikirim.
("Besok, bisakah kita bertemu?")
Angga mengetik balasan.
"Aku akan ijin pada Mas Devan dulu."
Pesan diterima.
("Jangan!
Jangan sampai dia tau. Dia membenciku nanti malah dia marah padamu jika minta ijin")
Angga mengetik balasan lagi.
"Tapi aku tak mau dia salah paham lagi."
Lama Steve tidak membalasnya.
("Besok, aku akan datang ke apartemenmu saja.")
("Jadi kamu tak perlu minta ijin.")
Angga membacanya, ada sedikit ganjalan dihati. lalu dia mengetik lagi
"Baiklah."
Angga meletakkan lagi hpnya. Angga kembali membuat seblak. Malam ini Angga ingin makan seblak.
Saat ini waktu menunjukan pukul sepuluh malam. Angga masih saja berkutat dengan seblaknya. beberapa menit kemudian, aroma khas seblak menguar memenuhi dapur. Sedap sekali.
Angga memindahkan seblaknya ke piring, dan membawanya ke meja makan. Dengan lahab Angga menyantapnya,
UHUUKK.. UHUUKK... UUHUUKK...
Angga terbatuk-batuk karena saking pedasnya. Tangan Devan menepuk-nepuk punggungnya. Entah datang dari mana pria itu, tiba-tiba saja muncul. Devan mengangsurkan segelas air putih padanya. Dengan segera Angga meneguknya hingga habis.
Angga mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
"Terima kasih Mas Devan." Angga meletakkan gelas kosong itu ke meja.
"Heeemmm...." Devan mengambil duduk didepan Angga. dia lalu mengambil seblak sesendok dan memakannya.
"Uuummmmpp.... Uhuukk.. uhuukkk..." Devan langsung lari ke wastafel dapur dan memuntahkan semua seblak yang termakan olehnya. Mulut Devan serasa terbakar. Devan mengambil segelas air putih dan langsung menenggak habis minuman itu.
"Haaaaa.... pedes banget." keluhnya,
__ADS_1
Devan melirik Angga yang asyik makan seblak dimeja makan. Dengan segera Devan berlari mendekat dan mengambil seblak itu. Angga yang sedang lahap-lahap nya menyantap seblak mendelik.
"Mas Devan apaaan sihh.. Balikin mass,," rengek Angga berdiri merebut piring seblaknya yang sudah abis separuh itu.
"Nggak!" Devan mengangkat tinggi-tinggi dan menjauhkannya dari jangkauan Angga.
"Maass, balikiin!" rengek Angga lagi, rasanya sangat marah, kesal jengkel. Angga mau makan seblak itu.
"Balikin Mass.!"
"Enggak ya enggak!"tegas Devan menahan tubuh Angga."Ini tu pedes banget tau. kasihan kecil kamu."
"aku mau makan itu. Aku mau makan itu. mau itu mas Devan!" rengek Angga lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Enggak Angga. Ini kepedesan! Kalau aku bilang nggak ya enggak." tegas Devan lagi."Nurut sama suami!"
Mata Angga kembali berair. Dan turun dari genangannya tanpa permisi.
"Aku mau itu mas!" Isak Angga memegangi perutnya dan duduk lemas di meja makan.
Devan menatap sedih pada Angga. Kenapa malah Angga menangis? Ini hanya seblak, apa sebegitu berharganya seblak ini? Apa sebegitu inginnya kah dia makan seblak sepedas ini? apakah ini keinginan Kecil?
Perlahan Devan luluh dan meletakkan kembali piring di atas meja. Angga yang tersedu menatap piring itu dan Devan bergantian.
"Apa kecil yang menginginkannya?" tanya Devan pasrah.
"Apa ini pengaruh hormon? kenapa cengeng banget?" lanjut nya lagi mencubit gemas pipi Angga.
"perlahan aja makannya." ucap Devan. "Nggak akan kuambil lagi kok."
Devan mengeluarkan hp nya dan berkonsultasi dengan dokter kandungan yang dia kenal. Menurut dokter untuk wanita hamil memang tidak ada pantangan, hanya di usahakan untuk tidak berlebihan. karena yang berlebihan itu tidak baik.
Angga diperbolehkan makan pedas. Hanya asal tidak sering-sering tidak masalah. toh yang diserap oleh si bayi adalah sarinya. Kalau pun makan pedas, tetap angga yang akan buang hajatnya. begitu canda sang dokter.
Devan tersenyum lega. Itu berarti tidak masalah.
Devan duduk dihadapan Angga memangku wajahnya. Memperhatikan bagaimana Angga dengan lahapnya memakan seblak, membuat Devan senang.
Seblak sudah habis, segelas Air putih pun sudah Angga minum.
"Heemmm... kenyang nya." seru Angga menyenderkan punggungnya.
Devan tersenyum mengangkat piring yang kotor dan meletakkannya di tempat pencucian.
"Sudah kan?"
Angga mengangguk."
"Kalau begitu, kita tidur."
Devan mengangkat tubuh Angga menggendongnya dan membawanya masuk kekamarnya.
"Kenapa kita kemari mas Devan. Kamarku kan disebalah sana." tanya Angga malu-malu. Devan meletakkan Angga di atas ranjang.
__ADS_1
"Sekarang ini jadi kamar kita. Skalian saja. daripada kamu menyelinap masuk kemari. lebih baik aku bawa sekalian." Devan mengerling nakal.
Devan memangutnya, melummaaat bibir Angga lembut dan perlahan. Tubuh Devan sudah berada diatas tubuh Angga. Dia bertumpu pada tangan dan dengkulnya.
Devan mengeksplor seluruh mulut Angga. Gadis itu membalasnya. Menumbuhkan gairah Devan, Satu per satu Devan membuka kancing piyama Angga, menyibaknya. Tangan Devan menjelajahi kulit Angga yang terbuka.
Bibir Devan bergeser ke ceruk leher Angga menyesap kulit Angga yang terasa sejuk dan manis. Sangat memabukkannya. Bibir Devan kembali bergerak turun hingga ke dada atas Angga. membuat tanda-tanda kemerahan dikulit mulusnya yang bersih.
Angga melenguh, Suara yang sangat indah terdengar ditelinga Devan. Perlahan bibir Devan menyusuri jalan terjal di dada Angga, melummaaatt habis warna kehitaman dikulit Angga. Suara sesapan Devan memenuhi ruangan kamar pribadinya. Tangan nakal Devan merayau kemana-mana. Lagi-lagi Angga melenguh, menikmati sentuhan lembut disekujur tubuhnya. Rasa geli dan kilatan setrum menjalari tubuhnya. Bahkan Angga merasakan denyutan dibagian tubuhnya yang lain.
Angga menggigit bibir bawahnya. Merasakan nikmat dunia yang perlahan menembus awan nan lembut. Tangannya mencengkram kuat spray ranjang kamar Devan. Suara beritme cepat saling bersautan. Getaran tangan Devan yang bertumpuk dengan tangan Angga semakin cepat.
Hingga keduanya mencapai batas antara bumi dan langit. Melayang entah dimana, terombang ambing dalam tenangnya malam. Dan akhirnya lelap dalam pelukan hangat satu sama lain.
###
Angga membuka matanya perlahan, Devan masih terlelap dengan memeluknya dari belakang. Angga berbalik memutar tubuhnya hingga menghadap Devan. Dia menatap wajah tenang Devan saat terlelap itu.
Angga menarik tangannya mengusap lembut pipi Devan. Jarinya menyentuh bibir pria yang sudah menjelajahi tubuhnya itu. Angga menarik tangan menelusupkannya dibawah pipi.
"Benarkah kamu mencintaiku?"
"Kenapa kamu mencintai gadis desa sepertiku?"lirihnya.
Perlahan wajahnya mendekat mengecup kecil bibir Devan. Kecupan kecilnya mendapat balasan, hingga dia terkejut. Devan menekan tengkuk Angga dengan tangannya memperdalam ciumannya dengan buas. Devan melahap habis bibir Angga.
Angga yang terkejut, tanpa persiapan itu sampai kehabisan nafas dibuatnya. Devan melepas pangutannya. Tersenyum lebar menatap wajah istrinya.
"Morning kiss."
Angga menatap kesal Devan. Bisa-bisanya dia pura-pura tidur dan menerkamnya disaat yang tepat. Seperti harimau yang menunggu mangsanya.
"Pagi ini dingin sekali. Aku ingin yang hangat-hangat." ucap Devan dengan cengiran diwajahnya.
"Bagaimana menurutmu?"
wajah Angga menghangat....
Bersambung...
____€€€____
Uuggghhh, apa sih yang hangat hangat tuuuuhh?😣
Readers kuh, kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1